Food photography itu … gampang !

syailendra

Foto makanan di atas hanya diambil dengan satu lensa dan teknik pencahayaan seadanya, tidak lebih.  Jadi siapa bilang kalau hobi atau profesi ini harus bermodal besar seperti fashion atau wedding? Untuk kesekian kalinya, artikel ini akan berbagi pengalaman pribadi saya dalam bidang food photography yang sangat menyenangkan sekaligus mengenyangkan🙂 Bukankah ada satu pendapat bahwa bila anda menguasai teknik di bidang food photography maka tidak susah untuk masuk ke bidang foto yang lain. Tertarik ?

fp4

Bacaan tentang teknik jepret foto makanan sangat jarang kita dapati, setidaknya saya susah menemukannya di berbagai toko buku. Kurangnya informasi mengenai bidang fotografi makanan kemungkinan membuat bidang ini jarang diminati, apalagi oleh para fotografer pemula. Padahal salah satu kelebihannya adalah penggunaan alat yang minim. Hanya berbekal satu kamera DSLR dan satu lensa anda sudah dapat memulai bereksperimen memotret makanan. Di bawah ini beberapa tips praktis berdasarkan pengalaman pribadi dan semoga bisa berguna bagi siapa saja yang tertarik di bidang ini.

kids

The world is but a canvas to the imagination (Henry David Thoreau)

Menekan shutter kamera itu gampang, kreativitas yang sulit. Saya mengembangkan gaya foto makanan saya bukan dengan semedi dan tirakat, tapi melihat hasil foto makanan di berbagai media yang membuat ngiler. Selalu saya perhatikan komposisi, teknik pencahayaan, ruang tajam atau dept of field, sudut pengambilan, aksesoris atau ornamen pendukung dan detail2 lain yang menarik.

Jangan risaukan merek kamera antara Canon, Nikon, Sony, dan masih banyak lagi. Tidak ada kamera khusus untuk foto makanan, pemandangan, atau olah raga. Lucu kalau membaca perdebatan yang tidak berkesudahan antara keunggulan Nikon dan Canon diberbagai forum fotografi. Pada akhirnya hasil akhir yang akan menentukan bukan alatnya.  Untuk tulisan ini saya hanya akan membahas merek Canon, karena hanya itu alat yang saya punya dan tidak berarti lebih unggul dari Nikon atau merek lainnya.

canon-501.8

Lensa : Mayoritas foto makanan saya diambil dengan lensa Canon EFS 60mm/f2.8 USM Macro. Selain ringan,   lensa ini sangat fleksibel karena bisa digunakan untuk makro saat perlu foto dengan detail tinggi dan tentu saja kualitas gambar yang sangat memadai. Selain lensa tersebut, saya merekomendasikan beberapa lensa keluaran Canon seperti  lensa sakti 50mm/f1.8 yang kualitas gambarnya bisa mengalahkan lensa L series yang harganya amit2 itu.

Kalau punya anggaran lebih bisa memilih lensa Canon EF 50mm/f1.4 USM yang harganya hampir empat kali lipat dengan keunggulan bodi yang kokoh dan sistem auto fokus yang lebih halus. Lensa Canon EF 100mm/f2.8 USM Macro adalah pilihan lain yang patut dipertimbangkan karena ketajaman gambarnya. Satu lagi beli tripod yang bagus dan kokoh. Tidak wajib hukumnya tapi akan lebih memudahkan dalam mengkomposisi.

PANCIOUS

Bawa kamera kemanapun anda pergi karena objek foto makanan tersebar di mana2. Setiap makan siang dengan teman kantor atau kapan saja mengunjungi restoran sempatkan untuk memotret makanan yang disajikan. Praktek ini sangat berguna untuk terus mengasah kemampuan kita melihat detail, komposisi, dan pencahayaan. Foto pancake di atas saya ambil saat makan siang di restoran ini.

doughnut

Beli buku2 resep masakan yang di dalamnya terdapat foto makanan. Pelajari sebagai bahan perbandingan untuk nantinya mengembangkan gaya anda sendiri. Kalau perlu mulai belajar memasak, selain seksi🙂 , anda akan lebih bisa menghayati rasa makanan dan memindahkannya ke dalam hasil foto. Bukankah fotografi adalah seni memindahkan rasa suatu objek ke dalam persepsi orang yang melihatnya ?

Latar belakang atau background dan ornamen itu penting. Untuk lebih menonjolkan objek, belilah berbagai jenis kertas warna atau kertas kado yang motifnya minimalis dengan warna2 lembut, Pilih bahan yang tidak memantulkan sinar.  Foto donat di atas saya ambil dengan menggunakan kertas kado.


fourseasons


Aksesoris penunjang. Foto makanan perlu banyak pemanis agar hasilnya lebih dinamis. Untuk tempat makanan itu sendiri biasanya saya menggunakan piring putih agar warna makanan lebih menonjol. Selain piring, alat lain seperti sendok, garpu, tempat lilin aroma therapy, bunga, dan masih banyak lagi bisa digunakan sebagai aksen agar hasil foto lebih romantis🙂.

gemblong11

Life is “trying things to see if they work.” (Ray Bradbury)

Pencahayaan. Karena ini buat pemula dengan modal seadanya maka anda tidak perlu lampu studio yang mahal itu. Cukup dengan cahaya alam yang akan menjadikan warna makanan lebih natural dibandingkan dengan monolight untuk studio atau flash/speedlite. Saya memotret di pinggir jendela dengan kombinasi penchayaan samping atau dari depan. Tambahkan reflektor berupa styrofoam atau cermin sebagai fill-in. Terus coba dengan posisi pencahayaan dan fill-in yang berbeda dan bandingkan lihat hasilnya.

kamera

Pengaturan di kamera. Saya menggunakan AWB=Auto White Balance, ISO 200 maksimal 400 agar mengurangi noise, bukaan atau f/2.8 hingga 4 walau sering juga menggunakan f/1.8. Kamera di atur manual atau sesekali di AV atau aperture priority, kecepatan diusahakan minimal 1/60s untuk menghindari getaran, kecuali menggunakan tripod. JPEG atau RAW ? Saya menggunakan JPEG walau informasi yang dikandungnya lebih sedikit dibandingkan dengan RAW, namun kemajuan teknologi olah digital membuat kualitas JPEG tidak kalah dengan RAW, selain alasan praktis untuk menghemat tempat penyimpanan.

darkroom

Olah Digital. Foto saya hanya sedikit diedit dengan menggunakan auto color, auto level, curve, dan terakhir  sharpenning, selesai. Untuk urusan hardware,   saya fans berat  komputer Macintosh karena lebih senang dengan kualitas foto yang ditampilkan di layarnya, bening. Bukan artinya anda disuruh membeli komputer ini, tapi untuk investasi jangka panjang tidak salah kalau mulai melirik si Mac di toko tetangga sebelah (manasin setiap orang🙂 )

Untuk sementara sekian dulu bagi2 sedikit pengalaman ini, semoga berguna dan sangat berharap anda akan jadi food photographer yang lebih bagus dari saya. Mengapa tidak ? Salam.

Tags: , , , , , , , , ,

36 Responses to “Food photography itu … gampang !”

  1. the writer Says:

    inspiring post! especially for a young learner like me.

    sekarang ini sebetulnya lagi menimbang2 untuk membeli lensa 18-105 milik nikon untuk all-round shot🙂

    Eva thank you🙂
    18-105 mm ya ? bagus buat walk around lens, apalagi 18-200🙂

    • the writer Says:

      kalo 18-200 sih bagus, bagus banget tapi ga kuat dompetnya😀

      Emang sih🙂 , tapi kalau aku punya Nikon, mungkin hanya satu lensa ini yang akan dibeli selain Nikkor 3.5~5.6G ED VR.

  2. agoyyoga Says:

    Salah satu artikel favorit saya. Thanks untuk ilmunya Mas. Mengenai property untuk pemotretan, hal ini kerap bikin saya lapar mata kalau lagi jalan-jalan dan menemukan perabotan makan dan pernik unik. Cukup merepotkan untuk saya yang tempat tinggalnya masih berpindah-pindah dan tidak memiliki tempat penyimpanan yang luas. *curcol deh*

    Sama2 Yoga. Kalau ke toko perabotan suka gak nahan, apalagi lihat pernik lucu🙂

  3. etanol Says:

    gilaaaaaaaa mantap, ini mau saya share ke adik saya…
    perkenalkan pak, facebook adik saya : Yohan Gunawan, semoga bisa saling kenal dan sharing ttg food photography

    Silakan and thanks untuk compliment-nya.

  4. Rita bellnad Says:

    menarik sekali tony… thanks for sharing ilmunya

    Hi …. seharusnya saya lebih banyak belajar lagi nih dengan Rita yang foto2 makanannya inspiring.

    People who read this, Rita Belnad is a well known foodblogger. You must visit her blog to see her drooling pictures.

  5. indiecalista Says:

    thanx alot, pekerjaan saya sekarang ini berhubungan dengan memotret makanan, awalnya lumayan pusing juga, trus saya ingat pernah baca tentang membuat studio box dari kardus mie instant ataupun gabus, alhamdulillah lumayan bagus hasilnya… ditambah artikel dari mas, rasanya makin pede nih ngambil gambar.

    Harus pede, gak susah kan ? Selamat berkarya.

  6. Eric Bonkhz Says:

    Sekali lagi……. Top Markotop Pak Wahid!!
    bagus artikenya nih, ditunggu dong artikel buat fotografi ‘travelling’…😀

    Eric, thank you. Tunggu aja posting berikutnya ya🙂

  7. Miss Zane Says:

    Canon 50mm 1.8, usually the second lens photographers must have, recommended !
    I agree, food photography is not that hard and indeed fun !

    Cool Post !😉

    Hi Zane, thanks a lot. It’s fun indeed taking food pictures.

  8. boy Says:

    as usual, tulisannya om toni bikin saya ngiler…

    lagi nabung nih buat beli..nanti kalo gw jadi beli, minta advice dari om toni ya🙂

    Boy, gue senang banget kalau loe mau mengikuti hobi ini.
    Kalau dah kumpul duitnya kita berangkat OK ?😀

  9. Elyani Says:

    thanks tips-nya Ton, daku belajar banyak dari master Toni soal fotografi! mengenai properti disini lumayan gampang karena ada Dollar Store..kebanyakan barang2 buatan Cina sih, tapi kalo cuma sekedar buat penunjang food photography sih oke2 aja menurutku. Harganya gak persis 1 dollar … sekarang naik jadi 1 dollar 25 sen belum termasuk pajak 17%. Kalo mau ngirit lagi, sering2 aja datengin garaga sale..hampir tiap Sabtu selama musim semu dan musim panas.

    Hi El, jadi inget ya waktu pertama kali belanja kamera di Oktagon dan mall Ambassador🙂
    Asyk banget tuh kalau ada garage sale, buat bahan tulisan di blog El.

  10. therry Says:

    Om Toni emang baik hati, udah jago, ngga pelit bagi2 ilmu lagi.. truly an expert photographer🙂

    Mungkin sebagian orang gak mau bagi tip/trick-nya karena rahasia dapur ya Ther🙂
    Gue sih gak khawatir malah senang orang2 tambah pinter karena memang berniat membantu para fotografer atau siapa saja yang mau terjun ke bidang ini.

    • Lorraine Says:

      Setuju, karena rejeki & keahlian itu individual banget ya….

      Jadi pingin mulai belajar motret yang serius.

      Persis Yen, teknis bisa dikuasai, tapi kerativitas akan beda banget.
      Serius nih pengen belajar motret ? 🙂

  11. D Laraswati H Says:

    Trimakasih ilmunya, saya penggemar foto-foto bagus. Dulu pernah belajar fotografi, sekarang agak terhambat dengan masalah kamera. Jadi pengen belajar dan hunting lagi…dari dulu saya memang suka Canon…agak bingung juga, mau beli kamera antara nikon dan canon, tapi rupanya itu ga masalah ya? yang penting, hasil akhir….

    Canon, Nikon, dan merek ternama lainnya bisa menghasilkan foto bagus, tergantung individu masing2. Selamat belajar motret kembali.

  12. sewa mobil Says:

    thx mas buat infonya
    saya juga suka motret
    besok saya akan ke bromo mo ambil gambarnya
    salam kenal

  13. Investasi Says:

    nambah ilmu lagi makasih bos tulisannya dan di tunggu trik yang berikutnya salam kenal

  14. ega Says:

    Dunia Fotografi emang selalu menarik perhatian saya…saya juga hobi banget di fotografi n kalo udah liat hasil jepretan yang bagus gt rasanya jd adem gt hati….aku baisanya lebih sering tangkap obyek panorama,model n arsitektur…sekarang lagi belajar food photography….semangat mas….terus n jangan berhenti buat artikelnya ya….

  15. Dita Says:

    Love this post! Baru liat. TFS🙂.

    Thanks DIt🙂

  16. narpen Says:

    Beli buku2 resep masakan, hihi.. tips yang unik.
    Harus DSLR ya om? klo pocket camera gimana…
    *selama ini moto dari hp, berminat beli kamera dalam 1-2 bulan ini..*
    blog dan postingan ini membuat saya tertarik menjepret om..
    betapa hal yang sering saya lihat bisa tampak begitu cantik dalam rekaman lensa Om Toni..

    Kapan2 saya mau coba buat posting food photo pake digicam deh.

  17. Dony Alfan Says:

    Ini yang saya tunggu2! Saya kira, mas Toni membutuhkan banyak lampu untuk food photography ini, ternyata dengan cahaya alam pun bisa, mantab!
    Oya, mo tanya nih, kenapa food photography karya mas Toni selalu portrait, jarang yang landscape, apa ada alasan khusus?
    Trims, sering2 sharing soal photo ya, mas

    Cahaya alam lebih natural Mas dibanding dengan strobo, IMHO, selebihnya saya belum mendalami teknik dengan pencahayaan lampu studio. Mengapa vertikal ? Pertanyaan bagus. Cuma selera pribadi Mas, menurut saya komposisi vertikal lebih enak di pandang mata dengan penataan yang bisa diatur sedemikian rupa, dan hampir 99% foto makanan saya ambil dengan posisi ini.

  18. fitri Says:

    seneng bisa mendapat ilmu dari sang ahli🙂 thanks for sharing mas..

    Bukan ahli Mbak, cuma bagi2 pengalaman🙂

  19. Asti Says:

    Food photography kayanya lagi ‘in seiring dengan ramenya foodie blogger. Sayang ilmu masih susah didapet. Untung ada Bang Toni…ulsannya PATEN!! Thanks yah

    Sama-sama.

  20. geblek Says:

    makasih mas atas tipsnya, mumpung lg blajar motret tapi blm tau arahnya. food foto menarik juga nih. hemm 35mm f1.8 cukup gak yah, eh ex flash wajib tidak mas

  21. superblacksampler Says:

    lensa nya sama tp kok ga sebagus ini ya??
    hihiiii

  22. indiecalista Says:

    thanx for the tips sir, keren banget, saya pakai nikon d40 dengan lensa standar. so far saya belum bisa dapat komposisi yang seperti foto bapak punya…🙂

  23. Andy Says:

    bro, saya lagi perlu foto2 untuk bkn menu kafe saya. tp kagak punya lensa fix, adanya yg kit 18-55. kira2 gimana tip-n-trick nya kalo food photo pake lensa gini bro? thks.

    Pake aja dengan bukaan terkecil atau f5.6 di 55mm walau bokeh-nya agak kurang.
    Mengapa tidak investasi saja dengan 800 ribuan untuk membeli lensa 50mm/f1.8, hasilnya bisa jauh lebih bagus.

  24. andriansah Says:

    baru nemu tentang anda dari fn
    thanks atas tips2nya, selama ini foto2 makanan saya masih biasa2 aja, salah satu resepnya sepertinya harus lebih dekat ke obyek

    silahkan lihat2 di flickr.com/photos/andriansah

  25. marwin yusman Says:

    Pak Toni, sebelumnya saya berterima kasih atas masukannya yg lalu soal food photography. Setelah nabung dan byk melihat review. Akhirnya pilihan jatuh ke 100mm f2.8 ( bkn yg L series ). Pertanyaan nya adalah hasilnya foto utk food photograph ( klo foto macro serangga tetep tajem sih ) tdk setajam yang sy harapkan. Maksudnya pada bukaan 2.8, ruang tajamnya masih sangat kecil ( didominasi dengan blurr ) hehe Apakah bukaan yg terlalu besar ? atau jarak yang terlalu dekat ? soalnya 100 mm… Trima kasih pak… Salam poto

    Hi Mas Marwin, mungkin fotonya terlalu dekat sehingga ruang tajamnya sempit. Kalau mau menentukan ruang tajam sesuai dengan keinginan kita coba pakai DOF Calculator jadi kita bisa tahu berapa jarak objek ke lensa. Salam foto juga.

  26. hani Says:

    walaupun hanya punya kamera saku digitial, artikel dan foto2 pak toni sangat menginspirasi saya untuk mulai memfoto makanan dengan gaya photographer handal..😀 sudah mulai sabtu lalu, hasilnya..? perlu banyak latihan hehehe.. dan mesti pinter2 ngatur gaya makanan dan aksesorisnya.
    trims berat pak toni..

  27. agus joko purwanto Says:

    sangat bagus dan inspring.

  28. Jiewa Says:

    Salam kenal pak..🙂
    Ini dia blog yg saya cari2 selama ini, ya membahas foto .. ya juga makanan hehe..
    Sulit banget nyari tutorial ttg food photography, dan tulisan ini inspiring. wanna learn a lot from you sir🙂

    Hi Jiewa … makasee ya🙂 … suka makan, suka motret, pasti klop🙂

  29. lyna riyanto Says:

    makasih postingnya sangat bermanfaat
    lagi dapet tantangan tuk posting ttg makanan + poto nya🙂 thanks toni

  30. edoardo Says:

    jadi pengen belajar food photography setelah lihat hasil jepretan om toni

    pengen beli yang 50mm f1.8….
    thx to om Toni

    salam jepret

  31. Bintang Says:

    mas Toni, I love your all your works.
    tolong mampir ke blog saya dong (www.wordsinaframe.wordpress.com), sebagai pemula, boleh minta inputnya ya?
    terima kasih banyak!

  32. Rama Says:

    GBU Pak..

    pembahasannya Ok Bangaaat..thanks for sharing anyway

  33. coffeeshopz Says:

    asyik, ada tempat belajar foto euy

    thanks om share nya

    salam
    coffeeshopz

  34. swt Says:

    foto2 lo lightingnya acak kadut om…
    mending belajar lighting dulu, pake food stylist
    klo foto kyk gini doank mah smua juga bisa….sorry.. no offence

Comments are closed.


%d bloggers like this: