Mei 98

kl

Palembang 14 Mei 1998.
“Kito dak pacak lewat jembatan Ampera, lah ditutup” (kita sudah tidak bisa lewat jembatan Ampera karena sudah diblokade. Hari itu 14 Mei 1998 kami sedang berada di Palembang dalam rangka liburan dan menjadi salah satu saksi tragedi Mei 98 yang ternyata menjalar juga sampai ke kota ini. Tulisan ini bukan penggalan penting sebuah sejarah kelam di Indonesia, tapi sebuah kesaksian pribadi betapa negeri ini seringkali kehilangan nalar sehatnya dan tak pernah ragu mengorbankan orang2 tak berdosa. Berapapun jumlahnya.

Sebagian masa kecil saya dibesarkan di kawasan 10 Ulu Palembang sebuah komunitas multi etnis yang didominasi oleh para pedagang kecil dan warung makanan. Di sini terdapat klenteng Soei Goeat Kiong, bangunan ibadah Tri Dharma (Tao, Budha, Kong Hu Chu) tertua di Palembang yang dibangun di abad ke-18. Di sebelahnya terdapat  sebuah masjid yang pembangunannya merupakan hasil kerjasama dengan pengurus klenteng. Kedua tempat ibadah ini berdiri berdampingan, sebuah refleksi pluralisme yang sudah terjalin sejak lama. Setiap Imlek kami berkunjung ke rumah mereka, Lebaran pun sebaliknya. Intinya, warna kulit, agama dan kepercayaan bukanlah sekat ala hukum Jim Crow saat era rasialisme di Amerika.

pasar

Relasi masyarakat Tionghoa dan penduduk sekitar yang sudah terbangun sejak lama harus diuji pada saat kerusuhan terjadi. Ketegangan sudah terjadi sejak pagi hari saat kumpulan orang sudah mulai ramai di jalan sekitar pasar 10 Ulu. Entah siapa yang memberi komando,  tiba2  orang2 mulai menjarah isi pasar hingga ludes. Para tetangga dan kami hanya bisa menyaksikan orang2 yang entah dari daerah mana mengangkut sembako “gratis”.

Para pedagang Tionghoa di sekitar kami mulai khawatir dan terus menoleh ke jalan raya tempat kerumunan massa dan penjarahan terjadi. Untuk berjaga-jaga, mereka menggantukan sajadah, sebuah lambang yang diharapkan dapat memberikan sedikit ketenangan agar terhindar dari amuk massa. Mong Ci sahabat dari kecil ibu saya (alm) terlihat tegang, namun  bersama keluarga berusaha menenangkannya. Ia hanya pedagang kelontong kecil yang sudah merelakan hartanya diambil orang. Untuk sementara ia diminta tinggal di rumah kami sampai keadaan aman.

Takut kejadian semakin parah, paman kami yang tertua megambil inisiatif menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat penampungan dagangan para tetangga. Rumah tradisional di Palembang terdiri dari dua tingkat, dan bagian bawah biasanya dimanfaatkan untuk gudang. Gudang inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengungsikan barang dagangan para tetangga. “Silakan ambil saja apa yang diperlukan daripada dijarah orang” kata mereka kepada kami. Paman saya tidak berkata apa2, cuma menyuruh mereka tinggal di rumahnya yang sudah dipenuhi beberapa keluarga Tionghoa. Sementara penjarahan semakin menggila dan orang2 seakan berpesta mengangkut sembako dari pasar 10 Ulu hingga keesokan harinya.

Apa yang dilakukan keluarga kami untuk menyelamatkan para tetangga Tionghoa tidaklah penting. Banyak orang melakukan hal yang sama karena kesadaran kemanusiaan dari sebuah tragedi yang memilukan. Kerjasama erat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan antar etnis yang selama ini dilakukan di 10 Ulu terbukti menjadi pembelajaran penting dalam membangun sebuah masyarakat plural. Harmoni yang sudah terjalin selama puluhan tahun ternyata ampuh menghadapi goncangan dengan magnitude sebesar tragedi Mei sekalipun.

Itulah sedikit catatan yang bisa saya rekam dari kejadian ini setidaknya sebagai pengingat buat siapa saja seberkas catatan kelam tragedi Mei 98 di Palembang.

musi

Palembang, 26 April 2009.
Guan Sik sahabat ayah saya yang orang Tionghoa tersenyum bahagia menyambut kedatangan kami bulan lalu saat libur di Palembang. Klenteng Soei Goeat Kiong masih berdiri kokoh berdampingan dengan masjid yang berdiri di sampingnya menghadap sungai Musi. Sebagaimana para korban kerusahan, di Palembang, saya mencoba mencari jawaban kejadian 11 tahun lalu, tapi saya tidak mengerti mengapa kejadian ini bisa terjadi …

Maaf dari para korban kerusuhan tidak akan pernah terucap karena “You cannot forgive what you do not now” (Archbishop Desmond Tutu)

* * * * *

Tags: , , , , ,

5 Responses to “Mei 98”

  1. Pepy Says:

    Suka tulisan ini mas. Sewaktu di indonesia, sayapun tinggal di perumahan yang kebanyakan warga Tionghoanya, dan saya tidak merasakan perbedaan. Seringkali pada saat perayaan hari-hari besar mereka, mereka mengirimkan hantaran ke rumah, sebaliknya kita melakukan hal yang sama.

    Hi Pepy, justru hal2 kecil yang dilakukan secara bersama-sama punya makna dalam merajut persaudaraan antar warga.🙂

  2. Dony Alfan Says:

    Perbedaan selalu ada di sekitar kita, kita musti bijak menyikapinya. Ada quote bagus dari seorang uztad (saya lupa siapa), “Dekati persamaan, pahami perbedaan.”
    Tragedi pilu semacam ini, semoga tak terulang kembali

    Quote-nya bagus sekali Mas. Semoga jangan pernah terjadi lagi.

  3. Lorraine Says:

    Selama ini aku sangka Mei 98 hanya terjadi di pulau Jawa aja. Ternyata kerusuhan itu sampai ke Sumatra ya. Sorry, sangat dangkal tentu berpikir seperti ini. Terima kasih udah berbagi mas Toni. Sejarah memang seyogyanya menyadarkan manusia supaya hal yang sama ngga diulang lagi dikemudian hari.

    Sama2 Yen, kejadiannya antara lain terjadi juga di Solo. Semoga tidak terjadi lagi, itu harapan kita semua.

  4. Elyani Says:

    Ton, waktu aku tinggal di Lampung dan mami papiku masih ada aku ingat setiap Lebaran Haji Zain tetangga dari kampungku selalu memberi hantaran yg super komplit pada saat hari Lebaran. Sepertinya diantara tetanggaku yang sama2 Cina cuma keluargaku yg selalu mendapat hantaran istimewa dari Haji Zain ini. Masakan Haji Zain ini memang selalu kutunggu-tunggu karena rasanya cocok banget buat keluargaku. Untuk yg membawa hantaran ini papiku tidak lupa memberikan angpao. Pada saat Imlek giliran mereka bertandang ke rumah kami. Seandainya saja keakraban seperti yg ditunjukkan oleh paman-nya Toni dan alm. papiku tetap dipertahankan … mungkin kejadian Mei 1998 tidak sampai merembet kemana-mana ya! Bravo buat tulisan yg sangat menyentuh ini Ton, foto sunsetnya juga aku suka banget!

    Di Palembang terbiasa hidup dengan multikulturalisme, sebuah legacy yang tetap dipertahankan oleh masyarakat di sana. Kita juga kan tetap bersahabat sampai sekarang ya🙂

  5. YAYAT S JAYASANTIKA AD DWANY Says:

    130610, YS

Comments are closed.


%d bloggers like this: