Suatu sore di Padepokan Rendra

ws5

Ini kali pertama saya ke Padepokan penyair besar WS Rendra di kawasan Depok yang asri mengikuti sobat saya yang punya urusan lain dengan beliau. Jalan ke rumahnya perlu perjuangan sejak dari Jakarta hingga Desa Cipayung yang jalannya sangat tidak bersahabat. Tiba di rumahnya saya disambut dengan pemandangan asri yang entah berapa ribu meter luasnya dan ditumbuhi rerimbunan pohon dan tanaman hias. Rumah panggung yang terbuat dari kayu adalah kediaman Rendra yang dipenuhi oleh ornamen ukiran dari beberapa wilayah Nusantara beserta beberapa patung menghiasi rumah  ini. Di sinilah markas aggota Bengkel Teater dan seringkali juga menjadi ajang pertemuan Rendra dengan para seniman teater, musisi, hingga politisi.

ws1

Willibrordus Surendra Broto Rendra nama lengkap sang penyair  masih tampak muda dalam usianya yang sudah 74 tahun menyambut kami dengan ramah berikut suara bariton-nya yang khas. Saya berhadapan dengan seniman besar Indonesia yang bukan hanya berkarya dengan puisi dan teaternya, namun juga punya perspektif yang luas tentang kehidupan kebangsaan.

ws8

Pidato kebudayaannya Megatruh (Memutus Ruh) yang disampaikan pada 10 November 1997 di Taman Ismail Marzuki masih sangat relevan dengan esensi makna kemerdekaan yang belum sepenuhnya dipunyai oleh negara kita.

Silakan nikmati foto2 berikutnya karena posting ini hanya ingin berbagai suasana di Padepokan salah satu seniman sastra modern di Indonesia.

ws

Tangga menuju ke rumahnya di lantai atas.

ws71

Salah satu dari sekian banyak tanaman hias di pekarangan.

ws2

Di lantai bawah inilah Renda banyak melakukan aktivitas keseniannya.

ws6

Ini kucing Persia kesayangan tuan rumah yang lucu.

ws4

Rendra masih terus berkarya di Padepokannya, ia dicinta sekaligus dibenci dan dicekal oleh penguasa pada jaman Orde Baru.

rendra

Kontroversi kehidupannya mungkin sudah mencapai anti klimaks tapi sang Merak tetap mengepakan sayapnya.

KESADARAN ADALAH MATAHARI
KESABARAN ADALAH BUMI
KEBERANIAN MENJADI CAKRAWALA
DAN
PERJUANGAN
ADALAH PELAKSANAAN KATA-KATA

(Cuplikan pidato kebudayaan Rendra di TIM, 10 November 1997)

Tags: , , , , ,

10 Responses to “Suatu sore di Padepokan Rendra”

  1. Elyani Says:

    Gambar yang terakhir itu sedang membacakan puisi atau apa Ton? Betul2 awet muda ya WS Rendra, rumahnya juga asik dan asri banget! Kucingnya juga lutu banget … Lain kali ajak2 dong Kang!

    Yang itu saat Rendra sedang memaparkan pandangannya mengenai kehidupan bangsa dari perspektif seorang seniman yang punya pengetahuan luas mengenai sejarah dunia.
    Sama Suneo kucingnya cakep mana ?

  2. Lorraine Says:

    Iya bener ya. Rendra ngga berubah sama sekali (mungkin rambut ubannya dicat, but still). Asri & adem kesan padepokan Rendra. Waktu itu baru hujan atau mau hujan Mas?

    Jadi inget sanggarnya Teguh Karya. Pasti bagus juga deh kalo Mas Toni buat foto2 disitu…(hmmmm, sugesti terselubung).

    Hujannya on off Lorraine … Rendra masih tetap gagah ya?
    Teguh Karya menyusul kalau ada temen ngajak ke sana🙂

  3. Elyani Says:

    Sama Suneo ya beda dong Ton…si putih diatas Persia, kalo Suneo kan kucing Jawa/Siam. Karakter sama keindahan-nya beda, tapi karena Suneo itu ‘anak gue’…ya pasti emaknya bilang cakepan Suneo dong!🙂

    Pasti lah Emak-nya Suneo …🙂

  4. agoyyoga Says:

    Membayangkan suasananya. Rendra nampaknya cuek-cuek aja ya di foto-foto.😀

    Kharismanya itu lho …

  5. edratna Says:

    Membayangkan rumahnya Rendra, pasti menyenangkan tinggal disana.
    Foto2nya keren, si burung merak memang tak ada duanya

    Rumahnya adem Bu Enny, walau ya itu agak minggir🙂 Setuju, Rendra memang seniman besar

  6. rahadian p. paramita Says:

    Kira-kira calon pengganti Rendra siapa ya? Sedih sekali kalau kita tidak punya penyair sekelas Rendra di masa depan…😦

  7. Sandy Wijaya Says:

    turut berduka atas meninggalnya WS Rendra, penyair besar Indonesia..
    Manteb om reviewnya…

  8. rusman Says:

    Inalilahi Wa inalilahi Rojiun…….
    Selamat jalan WS Rendra,(si burung merak) semoga 4JJ SWT menerima segala amal dan ibadahnya…..
    buat mas Tony…mungkin masih ada liputannya..ttg burung merak ini….(ditunggu….)

    salam

    Rusman

  9. charina Says:

    salam kenal, saya charina, tertarik akan sosok WS.Rendra..

    Mas Toni kalo boleh nanya, apa ketertarikan anda hingga anda mengabadikan foto Rendra untuk menjadi objek foto disini? -trims-

    Karena beliau orang besar, khazanah budaya kita tak lengkap tanpa menyebut WS Rendara.

  10. Ari Says:

    Indonesia sungguh kehilangan penyair besar, yang peka dan kritis akan keadaan sosial.

    btw : rumah beliau asri dan nyaman suasananya ya, benyak terbuat dari bambu.

    Salam kenal Mas Toni

Comments are closed.


%d bloggers like this: