Cagar budaya Betawi itu bernama Condet

betawi5

Rumah itu  terlihat berbeda dengan tetangga sekelilingnya. Dindingnya masih menggunakan kayu kokoh yang diplitur dengan warna coklat. Di teras kiri dan kanan terdapat kursi dan meja yang juga terbuat dari kayu. Beberapa pot tanaman menghiasi halaman yang lebarnya tak lebih dari dua meter. Saya sedang berada di rumah Haji Abdul Salam (72 tahun), biasa dipanggil dengan Haji Endung sang pemilik yang rumahnya dijadikan cagar budaya Betawi sejak jaman Gubernur Ali Sadikin di kawasan Condet Jakara Timur yang sudah padat.

betawi1

Haji Endung bangga dengan rumah khas Betawi-nya yang berdiri sejak tahun 1911. “Rumah ini dibangun dari kayu nangka. Lihat kayunya, asal kagak ada bocor kayak yang di ujung, gak bakalan bolong” ujarnya. Saya itu generasi keempat dari Haji Bedi yang tinggal di sini. Baru dua kali diberi bantuan pemerintah untuk biaya perawatan rumah. Waktu itu jaman Bang Ali (Ali Sadikin mantan Gubernur DKI) sebesar 1.3 juta utuh. Trus kedua beberapa taon kemaren 2.7 juta, tapi saya cuman terima sejuta tujuh ratus. Maklum” katanya sambil tersenyum.

betawi4

Kawasan Condet adalah jejak sejarah Betawi, terletak di bantaran kali Ciliwung yang sudah terkena polusi dan airnya berwarna kecoklatan. Di kawasan Cililitan yang dulunya dijadikan terminal bis sudah berdiri pusat grosir yang menjulang tinggi. Di depannya kemacetan adalah pemadangan biasa karena banyaknya angkutan umum yang menunggu penumpang. Daerah ini berada tepat di tengah antara Cililitan dan Cijantung. Jangan heran kalau kita berkunjung ke sini tidak ada satupun penanda bahwa ini sebuah kawasan cagar budaya yang dilindungi.

betawi-2

Perumahan biasa, bengkel, toko, ruko, pangkalan ojek, warung, semuanya ada di sini termasuk langganan banjir di tempat tertentu. Sebuah kawasan pemukiman yang tidak jauh beda dengan tempat-tempat lainnya di Jakarta. Padahal di tahun 1974 Gubernur Ali Sadikin telah memutuskan kawasan seluas 18 ribu hektar ini merupakan cagar budaya yang dilindungi. Dampak ekonomi sebagai kawasan cagar budaya mungkin tidak terlalu dirasakan oleh warga Betawi di sini sehingga satu per satu rumah asli Betawi berganti dengan bangunan modern. Duku atau salak condet yang terkenal manis itu kini hanya tinggal kenangan karena area perkebunan sudah lama menghilang akibat modernisasi.

betawi6

Generasi sekarang mungkin jarang mengenal nama Haji Entong Gendut, pendekar Betawi di Condet yang membela para petani yang ditindas para tuan tanah dan kompeni Belanda di tahun 1916. Bukan salahnya karena kita memang kurang menghargai jejak peninggalan sejarah dan tidak kreatif mengelola aset yang bisa dijadikan atraksi turis dan sarana belajar kalau sedari dulu kawasan ini di rawat dengan baik.

Selamat tahun baru🙂

Tags: , , , , ,

19 Responses to “Cagar budaya Betawi itu bernama Condet”

  1. the writer Says:

    mas toni, fiturnya bagus2, ini koleksi pribadi blog ato dikirim ke majalah / koran? sayang loh mas kalo ga dikirim

    Duuuh makasih banget. Semuanya koleksi pribadi buat blog ini. Dulu banget beberapa tulisan saya pernah dimuat di kolom Opini harian Kompas, tapi sudah lama gak nulis lagi. Mungkin nanti mau diniatkan lagi.
    It’s mean much, thanks a lot🙂

  2. Elyani Says:

    Setuju Va, semestinya tulisan ini dikirim ke Kompas atau media cetak lain-nya supaya orang mengenal peninggalan cagar budaya yang nyaris tinggal kenangan itu. Va, kalau sudah beli SLR…coba deh motret bareng sama Toni🙂 asik lho..kecuali motret2..Kang Toni ini juga suka mewawancarai orang2 yg dipotretnya. Apakah itu tukang buku2 bekas, tukang lukisan di pinggir jalan, sampai pemilik toko kerajinan yang harus putar otak untuk tetap bisa survive karena bangsa sendiri justru kurang mencintai karya anak bangsanya.

    Thanks El. Kapan2 kita hunting bareng lagi ya sambil ngobrol dengan orang2 yang termarjinalkan.

  3. Dony Alfan Says:

    Wah, posting ini menginspirasi saya untuk ikut memotret bangunan2 yang selama ini mungkin ‘terlupakan’ di kota Solo. Mohon bimbingannya, guru…

    Mas Donny, saya tunggu postingan tentang Benteng Vastenburg, gedung2 di kawasan Balekambang dan Sriwedari ya.🙂

  4. daus oh daus Says:

    walah, dana 2,7 jt.. cuma dapet 700rebu??
    mestinya nilai rumahnya kan bisa ratusan juta kali ya, om?

    2.7 juta cuma dapat 1.7 juta. Sisanya ditilep. Praktek yang dianggap biasa.

  5. Evia Says:

    Saya miris baca tulisan ini. Sebuah contoh yang membuktikan bahwa aset budaya kita tergerus oleh bangsa sendiri. Hanya segelintir orang yang mau perduli dan itupun masih dikomentari dengan cibiran. Ngapain juga membangun mal yg sudah pating tlecek, isinya juga itu lagi itu lagi.
    Salut dengan pak Haji Endung yang kuat bertahan di tengah gempuran mal. Bagaimana dengan anak2 pak Endung? Apakah memiliki pemikiran yang sama dengan bapaknya? Serem juga ngebayangin kalau rumah ini nantinya juga berubah jadi beton. Kemana lagi anak cucu kita bisa belajar? Paling banter melalui cerita dan foto. Itupun kalau ada.

    Di Virginia rumahnya Thomas Jefferson maupun George Washington masih seperti semula. Malahan ada re-enactment kehidupan masa kolonial yang menjadi atraksi turis. Maksudnya, kalau saja hal2 tersebut bisa dilakukan setidaknya untuk sedikit berpikir kreatif agar warisan bersejarah tidak punah. Anak cucunya masih punya semangat yang sama untuk melestarikan bangunan ini.

  6. Kaki jenjang Says:

    Hem.. baca tulisan ini jadi ingat masa kecil saya. Dulu disebrang rumah ortu, ada sebidang tanah, tempat saya bermain dengan teman2. Bermain ompat tinggi karet, main dampu atau sekedar mengadem di bawah pepohonan duren. Disebelah lahan bermain, ada kebun salak, yang ketika berbuah, suka gw sogrok2 and curi buahnya..😛 padahal, buahnya masih kecut, and bijinya masih putih.. tapi tetep aja diembat. He3.. buah yang lain juga ada Buni dan Kecapi, buah yang satu ini sungguh unik, karena untuk membukanya kudu dijepit di engsel pintu. Tuh Kang.. engsel pintu bisa juga untuk buka kecapi. Kekekekekekke…

    Udah ketahuan koq, sifatnya kebawa di kantor sampe sekarang. Tukang ngembat …😀

  7. Kaki jenjang Says:

    btw, rumah saya terletak gak jauh dari rumah si Haji Abdul Salam.. sepertinya dulu saya pun sering bersepeda lewat depan rumah itu.. tapi kok gak ngeh yah.. ternyata, emang kalo gajah dipelupuk mata, suka gak keliatan..😛

    Ketahuan deh mainnya ke mana …😀

  8. Anonymous Says:

    Generasi sekarang mungkin jarang mengenal nama Haji Entong Gendut….

    Bukan hanya asset sejarah yang tak terjaga, informasinya juga tak pernah dijaga supaya tetap “terdengar” sampai kapan pun.

    Harusnya di masukan ke buku sejarah bukan ?

  9. edratna Says:

    Saya sepakat usul teman-teman di atas, tulisan mas Toni bisa dicoba dikirim ke Kompas…atau ikutan kompasiana.com.

    Tahun 70 an, saudara sepupu saya punya tanah di Condet, yang disekelilingnya masih penuh rumah Betawi, juga ladang dan pepohonan salak…..tak terasa berada di Jakarta, karena situasi yang sejuk dan aman tentram. Sayang pemerintah pengganti Ali Sadikin, tak gencar lagi membuat Condet menjadi cagar budaya, terakhir ke sana tahun 2000, Condet udah penuh bangunan rumah.

    Makasih Bu Enny🙂 Condet sudah sumpek dan padat, sangat padat malah. Orang2 Betawi asli sudah minggri entah kemana.

  10. Intan Says:

    Pak Toni,,
    Saya tertarik banget sama Cagar Budaya Condet,,
    Rencananya mau saya jadiin tema untuk skripsi saya,,
    Tapi saya survey ke lokasi,,cuma sedikit banget rumah yang bergaya asli Betawi.
    TErus saya bisa nemuin rumah yang bergaya asli Betawi dimana?
    Lalu area cagar budayanya cuma sedikit ya??Cuma area kecil yang diberikan pager terus ada tulisan “cagar budaya” di dekat pagernya,,

    Pak,,boleh minta alamat emailnya ga??
    Kalo ga keberatan, saya mau diskusi sama bapak tentang cagar budaya condet.

    Makasih sebelumnya ya pak,,

    Hi Intan, rumah asli memang sudah jauh berkurang. Saya bukan ahli kawasan ini, tapi kalau mau sekedar diskusi boleh lewat email di toni_wahid@yahoo.com . Salam.

  11. sdik Fatoni Says:

    Assakamualaikum,,,,

    Salam kenal buat bang Toni Wahid, Ujung nama kita kebetulan sama bang,,he,he,,ftoni (most people call me toni),,,
    Saya anak Condet asli bang,maaf baru baca tulisan abang, jadi baru sekarang kasih komentr,,,

    Seneng sekali ada orang yg memperhatikan Condet, membentuk opini tentang masalah di Condet dari sisi budaya, saya sendiri sangat sangat prihatin dengan keadaan condet yang tidak lagi indah dan nyaman seperti tempo dulu saat saya masih SD.

    Ada satu penyesalan saya bang, ketika masih kuliah saya tidak sempat untuk membuat satu perkumpulan (pemuda, mahasiswa atau siapapun yang memiliki kesamaan ide bahwa condet harus diselamatkan…karena Condet adalah aset, Condet adalah wilayah yang memiliki sejarah panjang sebuah peradaban kearifan… ide itu tidak pernah mati sampai detik ini, walau terus terang saya tidak tau harus mulai dari mana karena keterbatasan akses yang saya miliki,,,
    Saat ini saya ada di Mesir,sedang mengambil gelar magister (minta doanya bang!), mungkin nanti setelah saya kembali saya akan coba mewujudkan cita2 itu sebagai wujud rasa cinta saya sama condet…

    Orang2 kaya abang lah yang sangat sangat saya butuhkan dan saya hargai karena saya merasakan adanya kesamaan rasa dengan abang bahwa budaya dan kebudayaan harus di selamatkan karena budaya mengajarkan kearifan dan keindahan…
    Tulisan2 dan foto2 abang mungkin bisa menjadi suara keprihatinan yang pada akhirnya membentuk sebuah opini yang akan menyatukan sebuah cita2 tentang penyelamatan aset budaya,,,
    Saya harap abang akan terus menulis tentang condet sehingga orang2 sadar bahwa Condet harus kita selamatkan,,, saya pun akan melakukan hal yang sama bang..
    mungkin nanti kita bisa lebih banyak berdiskusi bang, terima kasih yeee,,, tulisan aye kepanjangan, muun maaf.. he,he,,
    Alf salam !!!

    Terima kasih atas komentarnya Bang.
    Saya prihatin dengan Condet sebagaimana saya juga prihatin dengan berbagai situs budaya yang terbengkalai di kota saya Bandung.
    Jejak sejarah di Condet kalau bisa sampai kapanpun jangan sampai terhapus karena setiap sejarah selalu mengajarkan kearifan sebagaimana yang anda sebut. Saya sering ke Amerika dan melihat bagaimana mereka merawat situs sejarah dengan serius karena bangsa ini yakin bahwa pengetahuan sejarah sangat penting agar generasi selanjutnya tidak kehilangan root-nya.

    Condet adalah sepenggal sejarah yang harus dilestarikan oleh siapa saja. Semoga para warga asli Condet semakin bangga bahwa daerahnya bukan hanya terkenal dengan salaknya saja, tapi juga orang2 sudah punya jasa besar seperti Haji Entong Gendut.

    Selamat menuntut ilmu di Mesir.🙂

  12. condet Says:

    tulisan yang mencerahkan bang. kebetulan aku tinggal di condet balekambang sejak 2004.

    salam

    Salam kenal juga Bang. Mari kita sama2 lestarikan cagar budaya ini🙂

  13. dila Says:

    mkasih atas comment2nya….
    kbtulan sya anaknya H. Endung…..
    kmi snang msih byak yg msih pdli terhadap CONDET….

    kluarga kmi sngat bngga mmiliki rmah trsebut,,,,
    kmi brsaha u/ ttap mnjaga klestarianya,,,walupun pemerintah tdak lgi mmberikan bntuan…
    krna bgi kami rmah tersebut bkan hnya cagar budaya,,,tpi jga tmpat kmpul kluarga bsar kmi d saat lbaran….
    dan msih byak lgi knang2an yg kmi tdak dpat lpakan…….

  14. pasya Says:

    Salam kenal. saya sangat membutuhkan sekali biografi ENTONG GENDUT, untuk penulisan saya saat ini. Mohon untuk para pecinta kesenian tradisional Betawi mau membantu kelancaran tulisan saya. Diskusi bisa dikirim ke blue_art_unity@yahoo.com/pasya.f@gmail.com…saya mohon bantuannya.

  15. Anonymous Says:

    faishal.
    saya tertarik dengan budaya dan bentuk rumahnya. bisa diinformasikan alamatnya. terima kasih

  16. Anonymous Says:

    saya faishal.
    saya tertarik dengan budaya dan bentuk rumahnya. bisa diinformasikan alamatnya. tolong sms ke 081511119440. thanks

  17. Oliz Says:

    Assalamualaikum, salam kenal yang bang. kalo ngeliat foto-foto condet zaman dulu ada di mana ya bang ?
    kayaknya seru kalo kita kenal kampung kita sedari jaman dulu ampe sekarang.
    Wassalamualikum

  18. annie Says:

    wah baru tahu kalau ada cagar budaya betawi di condet, tapi apa tempat ini dibuka untuk umum

Comments are closed.


%d bloggers like this: