Bragaweg

bragaweg

Minggu pagi, jam 9.30 saya menapaki jalan Braga yang penuh dengan romatisme dan sejarah panjang kota Bandung. Sejak pagi serombongan orang dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah sedang melakukan pengecatan toko2 yang sudah sepuh dan kumuh dengan warna putih. Beberapa orang tampak sedang memasang pot bunga untuk mempercantik kawasan bersejarah ini. Braga sedang bersiap untuk diresmikan pada tanggal 30 Desember nanti sebagai upaya untuk menghidupkan ikon Bandung yang agak terlupakan ini.

bragaweg2

Di akhir masa kejayaannya sekitar tahun 80an saya sering mengunjungi toko buku Indira terutama di bulan puasa seraya menunggu waktu berbuka di jalan ini. Mengenal komik Tintin di tempat ini karena pemiliknya berbaik hati membiarkan anak2 kere seperti saya duduk bersila dan asyik membaca komik luar negeri. Setelah puas, bersama teman2 kami bertandang ke toko sebelahnya bermain dingdong, istilah waktu itu untuk game.

Sesekali kami menikmati nyanyian dari seorang tuna netra yang bermain dengan instrumen kecapi di depan toko A. Kasoem. Gayanya mirip dengan penyanyi Jose Feliciano walau ia dikenal dengan julukan Braga Stone, mungkin karena piawai membawakan lagu2nya Mick Jagger.

Ke tengah, terletak restoran Braga Permai (dulunya bernama Maison Bogerijn)  yang senantiasa dipenuhi para orang2 kaya menikmati hidangan yang menunya ditulis dalam bahasa Prancis. Lambang kerajaan Belanda terpampang di depan resto ini karena konon katanya Ratu Wilhelmina menyetujui restoran ini untuk menyajikan menu khas kerajaan Oranye. Di depannya pengunjung bisa menikmati hidangan tanpa takut kepanasan atau kehujanan karena dinaungi oleh payung-payung  berwarna hijau layaknya sidewalk cafe di Prancis.

Di kawasan yang sama sebuah Barber Shop (sudah tutup) menjadi tempat favorit para pejabat Orde Baru untuk merapikan rambutnya. Mantan Presiden BJ Habibie, Solihin GP, hingga taipan Arifin Panigoro adalah pelanggan tetap di sini kata salah seorang penduduk asli Braga.

Sebuah restoran lain yang bernama “Sumber Hidangan” masih bertahan dan tetap mempertahankan atmosfir Belanda temasuk kursi-kursi antiknya. Di sebelahnya, semilir toko roti yang menyatakan “baked the old way” masih ada hingga sekarang dan terus berjuang di sebuah kawasan  yang semakin redup kharismanya dikalahkan oleh mall-mall baru yang bermunculan di kota Bandung.

bragaweg4

Jalan Braga yang panjangnya kurang dari satu kilometer saat ini semakin padat. Badan jalan sudah terpotong parkir mobil di sebelah kanan dan mobil dan motor harus berjalan perlahan di jalan yang hanya 7.5 lebarnya. Sementara itu apartemen dan Hotel Aston beserta supermarker Carefour mulai memberikan sentuhan modern di kawasan ini. Sebuah diskotik dangdut yang setiap malam minggu menabur penjaja cinta semakin menjauhkan kawasan ini dari keanggunan masa lalunya.

Sebulan yang lalu Pemda Bandung mengganti aspal jalan Braga dengan batuan andesit yang berwarna hitam. Tentu menjadi lebih menarik, tapi mungkin karena kualitas batu yang kurang maksimal di beberapa bagian sudah mulai terlihat keropos dan pecah-pecah.

“Di situ akan segera dibangun sebuah hotel baru” kata Soleh Huis, penduduk asli Braga yang lahir tahun 58. “Sulit menghidupkan kawasan ini kalau pertokoannya saja kurang diminati pengunjung” katanya.

bragaweg5

Kalau diperhatikan, banyak toko-toko yang sudah menghentikan kegiatannya di Jalan Braga. Bangunan yang ada sudah lama tidak terurus oleh pemiliknya. Harga tanah di sini yang berkisar 8-9 jutaan  agak susah mencari peminatnya. Mungkin karena nilai strategisnya sudah jauh berkurang dibanding dengan daerah lainnya. Beberapa toko yang akan dijual masih memasang spanduk yang sudah mulai terlihat lapuk karena kurang peminat.

bragaweg3

Di sebuah gang sempit di Jalan Braga suasana kumuhnya tidak jauh berbeda dengan deretan toko-toko yang semakin tidak terurus. Perlu kerja keras semua pihak agar jalan ini tidak menjadi romantisme sejarah Bandung belaka.

(Minggu, 21 Desember 2008)

Tags: , , , , , , , , ,

9 Responses to “Bragaweg”

  1. Elyani Says:

    Ton, jadi pengen ke Bandung nih lihat Braga yang sudah dipercantik. Dulu waktu masih tinggal di Bandung aku sering banget nongkrong di Canary cake & ice cream shop yang ada diujung jalan Braga. Lalu ada satu cafe lagi (lupa namanya) yang sering disinggahi oleh turis asal Belanda tidak jauh dari situ. Sarinah juga punya satu toko yang menjual barang2 khas kerajinan Indonesia meski tokonya sepi pengunjung. Entah sekarang toko itu masih ada atau tidak. Foto2nya bagus…ayo kapan kita motret bareng di Bandung?🙂

    Tokonya sudah banyak yang bubar El. Mari kapan2 kita hunting ya.

  2. therry Says:

    Ikut dong foto2 ke Bandung heheh *mupeng*

    Boleh🙂

  3. Dony Alfan Says:

    Tahun 2006 saya pernah jalan2 ke Braga di malam hari. Sayang sekali kalo dibiarkan ndongkrok, padahal atmosfernya bisa kembali disulap mejadi bernuansa Eropa.

    Benar Mas, sepenggal peningalan Eropa yang kaya dengan sejarah pembentukan kota Bandung tentu sayang kalau tidak dirawat. Salam.

  4. Yoga Says:

    Sudah lama nggak ke Bandung, jadi ingin ke sana.

    Kalau mau tahu sejarah Bandung, nanti saya kasih tahu ya rutenya.

  5. Amran Says:

    Wah seru bgt fotonya!
    pantesan ampe jongkok2 motretnya, gak denger pula pas dipanggil! hehehe… keren!

  6. yunie jusri djalaluddin Says:

    Mungkin, gedung2 di Braga adl hikmah kita dijajah Londo, semoga bertambah cantik dgn kepedulian n cita rasa pemda. Ngga’ spt jl. cipaganti, riau or pasirkaliki yang telah berganti nama dgn nama Pahlawan. Braga tetep dengan holland spreken, ntah apa sebabnya tapi untungnya ngga’ diartiin secara harfiah ya he..he..he… Happy holiday!

  7. tere616 Says:

    Jadi ingat restoran di Jl.Braga🙂
    Love the last picture

  8. Batu Pecah di Revitalisasi Jalan Braga « Waskita Adijarto Says:

    […] https://mypotret.wordpress.com/2008/12/23/bragaweg/ […]

  9. sulurliar Says:

    wah, konsep batu kali atau batu pecah, menurut saya harus diikuti dengan kosep rekayasa lalu lintas. seperti di seputar taman fatahillah jakarta. perkerasan batu pecahnya masih awet karena didukung konsep rekayasa lalu lintas.

    jadi braga memang untuk pejalan kaki yang menikmati indahnya bangunan kolonial.

    sayang kalo batu kalinya cepet rusak akibat kebeihan beban. btw, batu kali di eropa sono kualitasnya beda dong sama batu kali disini…;-)

    thx

    Konsep penggunaan batu memang bagus, tapi kekhawatiran akan kualitasnya yang tidak maksimal sudah terjadi. Deberapa bagian jalan sudah banyak batu yang retak dan pecah. Sayang kan ? . Salam.

Comments are closed.


%d bloggers like this: