Bank Mandiri memperkosa Art Deco

mandiri3

The mother of art is architecture. Without an architecture of our own we have no soul. (Frank Llyod Wright)

Satu persatu gedung Art Deco di kota Bandung menghilang (gedung Singer), tidak terawat (Swarha, Pantja Niaga, dll) dan yang terakhir  “dipermak” dari warna putih menjadi biru seperti foto di atas. Gedung ini pada mulanya adalah sebuah bank Escampto yang berdiri di tahun 1915 dan dibangun dengan arsitektur Art Deco buah karya J. van Gent. Di klasifikasikan oleh Pemda Bandung sebagai bangunan kelas “A” artinya tidak boleh diadakan perubahan apapun. Sayangnya Bank Mandiri dengan “kreatif” merubah warna dasarnya menjadi biru agar senada dengan logo korporatnya. Saya menyebutnya moster baru di Bandung.

Bandung itu kaya dengan bangunan Art Deco, suatu langgam arsitektur yang muncul di sekitar tahun 20an. Gaya arsitektur ini merupakan suatu pendobrakan pakem bangunan klasik, sebuah modernisme baru yang berkembang di Eropa saat berkecamuknya perang dunia. Kalau kita lihat salah satu cirinya adalah bentuk garis dan atau fasad yang tegas dengan ornamen floral sebagaimana banyak terdapat dalam bangunan tempo doeloe di kota Bandung.

Saya belum pernah ke Bombay dan Shanghai dua kota Asia yang banyak mengadopsi gaya arsitektur ini. Untungnya saat di Miami bisa berpuas diri menikmati bangunan klasik Art Deco di sepanjang jalan Ball Harbour yang berdekatan dengan pantainya yang termasyhur. Bangga tentunya karena Bandung tidak kalah dengan Miami. Terlebih bentuk bangunan Art Deco di sana menurut saya agak monoton dan kurang kejutan seperti di Bandung.

Bangunan bersejarah di Bandung lebih variatif dan kota ini memang kaya dengan berbagai landmark hingga sering disebut sebagai “the jewel of Art Deco Architecture” kelas dunia. Lihat saja kemegahan Gedung Sate karya arsitek J. Gerber (1921),  Villa Isola masterpiece-nya CPW Schoemaker berikut hotel Savoy Homan, Preanger dan Gd. Merdeka (Societeit Concordia), Menalda van Schowenberg (Museum Geologi). Tidak heran karena ada 40 arsitek dunia yang berkumpul dan mendesain sebuah kota plesiran para meneer di awal abad ke-19 yang kita kenal dengan nama Bandung.

mandiri-2

Sayangnya rencana tata ruang kota Pemda bandung seringkali bertabrakan dengan konsep bangunan lama yang seharusnya dilestarikan. Kurangnya dana (75-100 juta per tahun untuk biaya perawatan), kejar setoran untuk pendapatan daerah, dan terakhir memang gak punya taste sama sekali. Foto gedung Kantor Pos di bawah adalah salah satu contoh bagaimana kepentingan ekonomis Pemda bisa mengorbankan keindahan lansekap sebuah kota. Jembatan penyebrangan dan videotron raksasa yang berdiri tepat di depan gedung bersejarah ini benar2 sebuah pemerkosaan kaidah kota yang civilized.

ibro

Seharusnya Bank Mandiri dengan alasan apapun tidak mengubah tampilan apapun termasuk cat putih bangunan ini. Selain warna biru yang rasanya kurang blend dengan lingkungan sekitar kalau tidak mau dikatakan shocking. Mayoritas bangunan Art Deco di Bandung memang berwarna putih atau abu sebuah refleksi simplicity yang merupakan pesan yang ingin ditampilkan oleh pakem ini. Jadi kalau tiba2 sebuah sebuah bangunan Art Deco yang sebelumnya berwarna putih dan menyatu dengan bangunan lain disekitarnya diganti menjadi warna biru sungguh ini merupakan vandalisme memalukan dari sebuah bank. UU perlindungan cagar budaya tahun 1992 masih bersifat umum dan kurang memberikan sanksi berat terhadap pelanggaran situs budaya (hanya kurungan 6 bulan plus denda 50 ribu)

bri

Di tahun 80an, bank BRI membangun sebuah bangunan menjulang sendirian di kawasan Asia Afrika ini. Dengan arsitektur modern, bangunan kotak ini bagaikan monster di tengah ruang yang dipenuhi oleh arsitektur Art Deco. Jadi kiranya cukup satu blunder yang dibuat oleh Pemda Bandung yang mengijinkan berdirinya BRI Tower yang tegak sendirian, sebuah bangunan tanpa makna. Biru pula warnanya. Duuuh.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

11 Responses to “Bank Mandiri memperkosa Art Deco”

  1. yunie jusri djalaluddin Says:

    Salah satu yang membuat aq bangga menjadi Bandunger,ya art deconya itu. Seandainya pemda tahu kalo harta tidak hanya berupa uang…. seandainya pemda tahu tarikan pelancong tak hanya FO… seandainya pegawai pemda adl orang-orang ber’seni’ sehingga tahu ‘mother’nya, & peduli heritage-nya…seandainya….

    Kawasan kota tua sangat bisa dijadikan atraksi turis seperti negara tetangga di Malaysia (Penang, Melaka) Singapura. Bandung sudah dicanangkan, tapi kasus ini contoh betapa masih kurangnya kesadaran semua pihak yang terkait.

  2. Finally Woken Says:

    Oh, my eyes, my eyes are so hurt looking at the picture! Awful, ghastly sight. Kog bisa-bisanya tata kota membiarkan hal ini terjadi.

    Saya selalu cemburu sama dewan tata kota di negara lain yang begitu berkuasanya mengatur tampak bangunan dan skyline (apa ya bahasa Indonesia), jadi tinggi rendah bangunan pun diatur biar manis.

    Di Indonesia, yang manis hanya di atas kertas saja, diajarkan waktu kami belajar arsitektur. Kenyataannya… hmmmppphhh….

    Emang tuh geli banget lihat warna ngejreng seperti ini. Sebenarnya banyak pihak yang diuntungkan kalau bangunan tua terawat. Hasil pendapatan dari turis misalnya bisa digunakan untuk biaya perawatan gedung2 tsb. Masih panjang Nit, kalau mau seperti itu …

  3. Lorraine Says:

    Sakit mataku, art deco warna biru? Terasa di Miami Fl. aja….Kok dinas tata kotanya diem2 aja?

    Sibuk baca koran Lorraine …🙂 Ini bank-nya juga ngawur banget memberi warna yang aduhai.

  4. therry Says:

    Bener2 diperkosa habis2an tuh! Memperkosa hak-hak asasi estetika yang hakiki! Pemerintah Indo emang te o el o el!

    Hiks … memang kadang gak ngerti Therry, tapi bank-nya juga sama tuh.

  5. edratna Says:

    Padahal Bandung gudangnya orang Planologi dan arsitektur….tapi sekali lagi, kalah dengan Pemda (atau orang yang kerja disini tak ada yang lulusan Planologi dan arsitek ya?)

    Saya juga berpikir demikian Bu. Masok sih banyak sekolah arsitek, tapi membiarkan pelanggaran …

  6. Yoga Says:

    Waduh, shock juga lihatnya. Maaf Mas, mata saya jadi sakit, bukan karena fotonya, tapi..ah susah ngomongnya.

    Warnanya kalau kata orang Sunda disebut “boronyoy” artinya mencolok gitu …🙂

  7. mumbaikar Says:

    Sorry for the comment in English.

    Art Deco style was very popular in Mumbai, India in the 1930s. As the city was expanding due to land reclamation projects to connect the seven separate islands, wonderful building were built in this style. Many of these structures are still intact, although their upkeep is not that great.

    Many thanks Mumbaikar. Those art deco building always amaze me, not only for their historical values, but their beauty as well.

  8. sulurliar Says:

    fenomena seperti itu tidak terjadi di bandung saja, di surabaya juga. gedung berlanggam eklektisisme diwarna kuning cerah. parahnya, yang mewarna pemerintah propinsi….. fiuh…

    nyatanya, memang program pelestarian heritage nggak kebagian anggaran. selalu kalah dengan urusan-urusan lain yang dianggap lebih penting. bukankan sejarah, budaya, warisan, estetika kota juga penting? apalagi untuk kota wisata seperti bandung.

    thx

    Wow kuning ?😀
    Sungguh sepakat bahwa bangunan bersejarah jangan sampai tinggal romantisme belaka. Saya khawatir bahwa bangunan bersejarah akan semakin ditinggalkan untuk kepentingan ekonomi.

  9. monox Says:

    aduh sayang bdg yah……
    padahal kan art deco keren bgd….
    wah ntar bentar lagi ilang dah smua art deco di bdg…..

  10. ludie Says:

    iya bener bgd kata monox…..
    smangad yah art deco yah,,,,,

  11. anto Says:

    pemkot bandung memang tidak punya itikad baik untuk melestarikan bangunan bersejarah di bandung…payah!
    mungkin untuk foto bank mandiri solusinya di bikin BW aja biar tetep keliatan art deco nya yang manis…

Comments are closed.


%d bloggers like this: