Macet, salahkan anak sekolah

sekolah1

Di awal tahun depan para pelajar yang sekolahnya berada di wilayah Jakarta harus berjuang bangun lebih pagi. Biasanya sekolah di mulai jam 7 pagi akan dimajukan setengah jam lebih awal. Alasannya anak2 sekolah menyumbang 14% dari masalah kemacetan di Jakarta. Dengan logika inilah Pemda DKI akan memberlakukan kebijakan sekolah lebih awal “demi untuk menanggulangi masalah kemacetan yang semakin parah”.  Anak saya yang sekolahnya berada di jakarta tentu akan kena imbas “solusi” jam sekolah ini dan akan  banyak orang tua sudah siap uring2an. Bangun lebih pagi tentunya.


Saya bisa memahami maksud baik para pengambil keputusan untuk mengurangi beban kemacetan di Jakarta, tapi tidak mengerti jalan pikiran mereka untuk mengorbankan waktu anak2 demi mencapai tujuan tersebut. Ini bagaikan solusi sesaat tanpa melihat akar permasalahan lalu lintas di ibu kota yang dari dulu sudah menjadi masalah klasik.

Pertama, banyak orang tua seperti saya tidak percaya kepada angkutan publik di Jakarta yang hampir semua supirnya  punya prilaku “aneh” itu.  Solusinya, bayar jemputan khusus yang disediakan oleh sekolah atau orang2 yang memang sengaja memanfaatkan pangsa pasar ini. Keputusan menggunakan jemputan sekolah yang diambil oleh orang tua murid seperti saya secara otomatis tentu memberikan sumbangan terhadap pertambahan jumlah kendaraan.

Kedua, kembali ke yang pertama. Karena tiadanya keamanan apalagi kenyamanan naik angkutan umum, masyarakat kemudian memilih moda angkutan lain. Motor dan mobil pribadi. Sayangnya, jumlah pertumbuhan kendaraan pribadi sering dijadikan indikator kemajuan ekonomi semu dan menafikan akibat lain yang ditimbulkan seperti angka kematian di jalan raya. Berbagai laporan termasuk institusi seperti Asian Developmen Bank (ASEAN Regional Road Safety Strategy & Action Plans) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-3 terburuk setelah Thailand dan Vietnam dalam masalah keselamatan dari 10 negara di kawasan ini.  Bayangkan kita masih kalah dengan Kamboja atau bahkan Laos yang jalan tol pun masih menjadi impian bagi negara2 ini.

Ketiga, lemahnya penegakan hukum di jalan raya serta infrastruktur yang buruk membuat semua pengguna jalan raya menjadi agresif dan  menjadikan pengguna jalan yang lain sebagai ancaman.  Supir mobil membenci pengendara motor demikian pula sebaliknya. Kopaja, bis umum, metromini, dan semua saudaranya  menjadi raja jalanan lain dan sama sekali tidak hirau dengan berbagai rambu lau lintas.

Keempat, disiplin masyarakat yang dari dulu belum pernah naik kelas. Naik mobil mewah tapi berprilaku seperti supir yang SIM-nya diperoleh dengan cara nyogok adalah pemandangan biasa. Nyalip tanpa rasa bersalah, mengedip2kan lampu jauh untuk minta jalan, lampu rem sudah almarhum, pindah jalur tanpa memberi tanda, adalah sebagian kecil prilaku berlalu lintas para penduduk Jakarta.

bis

Kelima, peranan negara yang dirasa belum maksimal dalam  memberikan jaminan keselamatan warganya. UU Lalu Lintas yang sudah berlaku sejak tahun 1992 masih sayup2 terdengar  gaungnya. Salah satu amanat UU ini yang sangat penting misalnya  tata cara perolehan SIM yang harus melalui ujian mengemudi (tulis dan praktek mengemudi) sering berbenturan dengan kepentingan oknum kepolisian dan calo yang menjadikan sebagai lahan ekonomi. Jangan khawatir tidak lulus. Sudah tahu kan caranya untuk mem-by pass prosedur memperoleh SIM  ?

Untuk disiplin lalu lintas Singapura tentu patut menjadi contoh. Di sana jarang polisi lalu lintas nagkring di perempatan karena mereka punya kamera di mana2. Lho itu kan negara yang sudah maju ? So, memang kita memang tidak boleh meniru mereka ?

Negara sebagai fasilitator di jalan raya dan angkasa belum punya kemauan politik untuk segera berubah. Banyak investor asing ogah menanamkan uangnya untuk membangun infrastruktur seperti subway di Jakarta karena ketakutan akan kepastian hukum dinegeri ini yang seperti bunglon. Ganti pejabat dan ganti peraturan seakan sudah seperti paket happy meals di restoran waralaba itu.  Ketiadaan jaminan bahwa kontrak yang sudah ditanda tangani akan dihormati membuat investor menjauhi  program transportasi yang ditawarkan oleh pemerintah. Lihat saja kasus Jakarta Mono Rail. Pertama kali perusahaan Malaysia (MTrans) yang mengelola, lalu berganti dengan Omnico dari Singapura,  terakhir Bukaka (Jusuf Kalla), yang kesemuanya berhenti begitu saja karena kesepakatan dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang terus berubah.

Keenam, ada satu mind set ngawur tentang kematian di jalan raya. Bahwa kecelakaan yang mengakibatkan melayangnya nyawa di jalan seringkali dianggap sebagai takdir dari Tuhan. Ini kan ngawur. Mungkin Tuhan berfirman :  “loe yang mati karena ngebut dan gak pake helm, koq gue disalahin?”. Kematian di jalan raya karena kecerobohan pengemudi jelas bukan takdir. Jadi hentikan pola pikir menyalahkan Tuhan untuk menjustifikasi kesalahan akibat kelalaian sendiri.

Kembali lagi pada topik sekolah pagi, iseng2 saya mencari tahu berapa orang yang akan terkena kebijakan sekolah pagi apabila peraturan ini kelak dijalankan. Di web Depdiknas saya menemukan statistik sebagai berikut : tidak kurang dari 800 ribu murid SD di 3000 sekolah yang tersebar di Jakarta, berikut 36 ribu guru dan 2000 tenaga administrasi harus rela menahan kantuk demi kebijakan kurang cerdas ini.

Para petinggi di Pemda DKI seperti Wagub Prijanto beranggapan bahwa semua penduduknya “tidak boleh menggerutu” dan menganggap keberatan ini sebagai alasan pribadi. Bukan Pak Wagub, karena kami ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan si kecil yang sekarang saja terlalu lelah untuk bermain bersama karena kegiatan sekolahnya yang sudah sangat padat apalagi kalau sekolahnya lebih pagi. Benahi dulu akar masalah lalu lintas di Jakarta bukannya mengeluarkan kebijakan dengan mengorbankan kualitas hubungan orang tua dengan anak.

* * * * *

Ket : Foto2nya hasil jepret  sendiri🙂

Tags: , , , , , , , , ,

4 Responses to “Macet, salahkan anak sekolah”

  1. Finally Woken Says:

    Ouch, kasihan sekali. Gila aja anak-anak disuruh masuk sekolah jam 6.30, lah bangun jam berapa coba? Benar-benar gak efektif.

    Logika pemerintah kita memang ajaib. Mungkin karena sudah ‘stuck’ dengan infrastruktur yang ada, jalan gak nambah-nambah tapi jumlah kendaraan terus meningkat. Jadi putar otak, ditengah-tengah kesibukan baca koran, long breakfast, long lunch, dan long nap, jadinya begini.

    Salut sama Toni sudah mengupas hal ini dengan jeli.

    Thanks Nit. Jazz enak buat diimprovisasi, lha ini anak sekolah koq dijadikan coba2🙂

  2. edratna Says:

    Kasihan anak-anak yang rumahnya dipinggiran Jakarta, yang masuk jam 7 pun harus bangun sebelum Subuh dan setelah Subuh langsung berangkat, bahkan makanpun di kendaraan.

    Kebetulan anak-anakku sekolahnya dekat, bisa dicapai jalan kaki…tapi memang bukan sekolah tujuan utama penduduk Jakarta. SD nya di SD Inpres, yang diluar kompleks perumahan, dekat Puskesmas, sehingga akhirnya kenal dengan dokter2 di situ. Risikonya saya memantau pelajarannya, dan ternyata SD tsb memang bagus, karena hanya 2 anak yang tak diterima di SMP Negeri terbaik di Jakarta Selatan. SMP juga dekat rumah, bisa naik sepeda atau jalan kaki.

    Baru SMA lumayan jauh, tapi kalau bis susah bisa naik bajaj…..saya memang tak membiasakan mereka antar jemput (kecuali saat TK), agar mereka mandiri….apalagi saya sering tugas keluar kota. Dan syukurlah, walau SD inpres, SMP dan SMA negeri, kedua anak saya diterima di PTN (yg sulung di UI dan yang bungsu di ITB)….yang penting adalah orang tua tetap bekerjasama dengan Guru dalam mendidik anak-anaknya.

    Iya bu karena lokasi saya kan di Jakarta coret, jadi harus balapan dengan orang2 yang pergi ke kantor. Sekarang saja anak saya dijemput jam 6 pagi, nanti kalau jadi mungkin setengah enam keluar dari rumah. Pulangnya sudah pasti terlalu lelah. Ingin supaya dia mandiri, tapi sepertinya naluri saya belum rela Bu karena ya itu tadi belum ada rasa kemananan dan kenyamanan.

  3. Elyani Says:

    Ton, betul kita harus meniru apa yang dilakukan oleh negara tetangga, Singapura. Disana anak sekolah dibiasakan disiplin untuk menunggu di halte-halte yang akan dilewati oleh bus sekolah masing2. Syaratnya ya harus disiplin dan tepat waktu karena bus sekolah tidak akan menunggu lama2. Ponakanku tiap pagi sekitar pukul 6:25 tepat pasti sudah menunggu di halte yang akan dilewati bus sekolahnya. Apalagi disana jam segitu sama gelapnya dengan jam 5:30 di Jakarta. Hanya saja lampu2 jalan sangat terang benderang, jadi ya aman2 saja untuk menunggu bus sekolah. Yang aku lihat, bus lewat, anak2 naik, lalu langsung jalan lagi. Gak ada istilah menunggu si A, B atau C. Masing2 anak harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Entah cara ini bisa diterapkan di Jakarta atau tidak.

    Mungkin bisa karena usulan bis sekolah sudah diusulkan sebagi kompromi keputusan pemerintah ini. Sayangnya karena keterbatasan dana atau manajemen transportasi yang amburadul makanya bis sekolah sudah menghilang dari Jakarta. Saat ini pemerintah buat solusi sepihak dan target gampangnya ya anak2 sekolah itu.

  4. Yoga Says:

    Peranan negara… hmm, biaya untuk mengurus perijinan dan biaya siluman untuk investasi baru itu sangat besar, belum lagi premanisme yang kronis plus korupsi yang udah jadi budaya. Jadi sulit mengharapkan investor asing. Pemerintah tampaknya masih kepayahan mengatasi ini.

    ##

    Itu foto bus-nya bagus sekali, gimana tips untuk mengambil foto dari tempat umum? Ini lebih ke soal keamanan, mengingat Jakarta…

    Thanks Yoga sharing-nya.
    Memang untuk lokasi2 tertentu harus hati2 mengambil foto di Jakarta. Saya sih lihat situasi dan selalu pasang wajah “sadis”🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: