Miskin koq nyalahin Tuhan

m

Surga itu mencintai orang miskin. Nabi pun miskin hingga akhir hayatnya. Orang miskin paling banyak masuk surga. Bersedekahlah kepada orang miskin. Sedekah orang miskin adalah berdzikir. Kemiskinan itu cobaan dari Tuhan. Miskin itu nikmat. Orang2 miskin itu ladang beramal bagi orang kaya.

Saya sering mendengar kalimat2 di atas sebagai salah satu topik yang sering disampaikan oleh para pengkhutbah di mimbar masjid2. Bahwa tidak ada salah menjadi orang miskin karena Tuhan sedang memberikan ujian, mungkin begitu inti ajaran yang ingin disampaikan para khotib tersebut. Sebuah pembenaran yang berbahaya dalam upaya memerangi teologi fatalistik yang mungkin berkontribusi dalam kemiskinan struktural di negeri ini. Saya belum pernah membaca penelitian sejauhmana peran agama dalam  isu kemiskinan. Tentunya menarik untuk dikuliti apakah ada korelasi yang membuat agama menjadi agent of change ataukah malah menjerumuskan jemaahnya kepada kemiskinan abadi seperti jargon khotib di atas.

Kejadian orang2 sampai tewas akibat pembagian zakat di Pasuruan bulan puasa kemarin bisa menjadi jawaban sementara bahwa orang miskin itu memang masih menjadi “ladang” orang kaya untuk beramal. Membagi-bagikan uang kepada orang miskin dianggap lebih punya prestise dibandingkan mentransformasi masyarakat miskin di lingkungan sekitar kita agar mereka punya pijakan finansial. Konsepsi sedekah atau derma yang mendatangkan pahala memang tidak salah, tapi kalau cuma sekedar bertindak seperti Sinteklas, jangan2 orang tersebut malah berperan dalam menambah jumlah orang miskin.

Pemikiran bahwa kemiskinan adalah bagian dari rencana Tuhan harus di dekonstruksi untuk melawan teologi fatalistik yang seringkali menjadi justifikasi kemalasan. Bahwa Nabi Muhammad miskin itu adalah benar, tapi fakta sejarah bahwa ia adalah saudagar yang sukses dan bekerja keras sejak masih lajang harus juga disinggung. Bahwa pada akhirnya ia memilih hidup asketis tidak mengenyampingkan konteks pesan moral sejarah hidupnya yang mengajarkan etika profetik tentang keutamaan mencari nafkah dibanding duduk seharian berzikir di mesjid. Para ustadz selayaknya terlibat aktif dalam mendobrak comfort zone kemiskinan struktural melalui ajaran yang menggelorakan keutamaan bekerja keras dibandingkan ritus2 keagamaan yang hanya bersifat individual.

Memberi sedekah itu baik, tapi lebih baik lagi kalau uangnya digunakan dalam program2 pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin walau dalam kelompok kecil sekalipun. Sama saat John Calvin teolog Prancis yang menggebrak Eropa dengan doktrinnya yang dikenal dengan etika Protestan, “semua orang harus bekerja keras karena itu kehendak Tuhan” saat ia bersama Martin Luther King mentransformasi kehidupan monastic abad ke-16 yang dinilainya tidak produktif.

Jadi buat orang2 kaya, hentikan eksploitasi masyarakat miskin dengan derma seperti Sinterklas, dan mulai memikirkan cara2 kreatif dalam beramal agar mereka bisa keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Bukankah itu inti ajaran agama ini ? Membebaskan.

Tags: , , , , ,

2 Responses to “Miskin koq nyalahin Tuhan”

  1. katadia Says:

    Memang beramal dan bersedakan membawa kebahagian instan sendiri bagi saya. Selfish memang, tapi ada rasa hangat yang menyeruak di dada tersendiri setelah melakukan hal itu. Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang merasa lebih sreg untuk langsung “memberi” kepada yang keliatannya ‘miskin’.

    Anjuran mas Toni untuk pemberdayaan masyarakat miskin sangat baik. Namun, satu, kebanyakan orang mungkin masih belum mau untuk menjadi donor tetap/commit (beramal jangka panjang). Dua, ada persepsi bahwa lebih afdol langsung sedekah drpd nyumbang via yayasan sosial ataupun donor internasional. Ya itu tadi, karena instant gratification yang dirasa saat kita sedekah dan melihat langsung penerimanya dan reaksinya. Mungkin ini semacam candu jangka pendek/instant fix(?) masyarakat kelas menengah yang akhirnya kurang optimal buat kesejahteraan jangka panjang masyarakat miskin. He..he..

    BTW, setuju soal poin mas Toni ttg konsep “kepasrahan” yang diusung-usung khotbah.🙂

    Thanks Katz sharing-nya. Banyak LSM2 yang sebenarnya punya program bagus seperti pemberdayaan usaha sampingan bagi ibu2 rumah tangga agar mereka bisa lebih produktif dan menjadi motor ekonomi keluarga. Sayangnya sebagian dari organisasi seperti ini kurang melakukan promosi dalam melakukan fund raising, padahal potensi “amal” kepada mereka tentu lebih punya dampak dibandingkan kalau kita memberikan secara langsung. Filantrofi kepada LSM semacam ini walau dalam jumlah kecil memang belum membudaya, karena itu tadi bahwa unsur kehangatan dan hubungan yang lebih personal dalam berderma masih banyak berperan disamping kepuasan pribadi.

  2. therry Says:

    Memang baik memberi ikan, tapi lebih baik lagi kalau bisa memberi kail-nya…

    Bukankah lebih senang rasanya membantu orang lain untuk membantu diri mereka sendiri?

    Ya, pepatah dari negeri jiran ini sangat relevan Therry.

Comments are closed.


%d bloggers like this: