Media dan eksekusi Amrozi cs

Dulu siapa sih yang tahu letaknya desa Tenggulun di Kabupaten Lamongan Jatim, tapi media punya andil dalam melambungkan nama desa ini karena pemberitaan eksekusi Amrozi cs yang disiarkan secara marathon terutama oleh televisi. Dua hari terakhir kita menyaksikan bagaimana media televisi telah memborbardir penontonnya dengan peristiwa ini. Mungkin secara tidak sadar, penonton menganggap inilah peristiwa penting yang harus mereka saksikan dan ikuti dengan seksama. Bukankah semua siaran televisi menyiarkan berita yang sama dan berulang-ulang dan disajikan secara langsung ? Suatu hipotesis yang diragukan kebenarannya.

Begitu telanjangnya pemeberitaan tentang eksekusi ini sehingga banyak yang meyakini mereka adalah martir, pahlawan Islam, syuhada, atau apapun namanya. Anggapan seperti itu tidak bisa disalahkan karena media juga secara tidak langsung memposisikan mereka sebagai korban dengan mengeksploitasi perasaan keluarga dan simpatisan, termasuk tentu saja para pengacara TPM yang kecipratan menjadi selebritis sesaat. Tidak juga mengherankan kalau Dorce yang satu2nya artis menyempatkan diri melayat dan meyakini mereka masuk syurga karena mati syahid. Media massa secara langsung telah mempengaruhi kita dengan “what to think about” karena proporsi pemberitaan atau acara mereka, bukannya “what to think” kata dosen komunikasi saya DR Jalaludin Rahmat. Kasus ini contoh gamblangnya.

Dalam ilmu komunikasi fenomena pemberitaan Amrozi cs ini dinamakan Agenda Setting . Singkatnya, media massa mempengaruhi persepsi para penontonnya melalui suatu gatekeeper dalam hal ini adalah pimpinan redaksi, editor, wartawan, termasuk pemilik media. Mereka membuat keputusan untuk memilah berita mana saja yang layak disajikan, bobotnya, dan berapa banyak frekuensi penyiarannya. Karena para redaktur meyakini bahwa berita Amrozi ini layak tayang secara berulang-ulang, maka fenomena inilah yang membuat terpidana menjadi selebritis seperti kasus mutilasi Ryan.

Jadi sebaiknya bagaimana ? Media tidak bisa dibatasi dalam mencari berita karena itu sudah tugasnya, tapi pemerintah melalui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebenarnya sudah punya kode etik tentang Pedoman Prilaku Penyiaran. Salah satu kode etik itu adalah kewajiban untuk mengindahkan prinsip jurnalistik yang akurat dna berimbang, ketidakberpihakan, adil, … tidak menonjolkan unsur kekerasan , tidak mempertentangkan suku, agama, ras, dan antar golongan … (ayat 1, pasal 15, Bab XII).

Artinya, kalau mereka memberitakan eksekusi Amrozi cs, media juga berkewajiban secara seimbang dan proporsional memuat para korban peledakan bom yang telah mereka lakukan serta efek yang ditimbulkan dalam jangka panjang. Media juga harus sensitif memikirkan perasaan para korban yang masih trauma akibat ulah para tentara yang salah medan perang ini. Apakah ini sudah dilakukan ? Melihat magnitude pemberitaan eksekusi terpidana bom Bali yang proporsinya berlawanan arah, saya khawatir kalau media secara tidak langsung telah membantu khalayak dalam membentuk persepsi yang salah tentang ketiga orang ini.

Intinya, pemberitaan yang berlebihan dan tidak berimbang ditakutkan akan melahirkan anggapan di sebagian masyarakat kita bahwa ketiga terpidana mati tersebut adalah martir dan layak menyandang gelar mujahid walaupun dengan cara membunuh 200 orang lebih hanya gara2 mereka memanggil nama Tuhan dengan panggilan yang berbeda.

Tags: , , , , , , , , , , ,

6 Responses to “Media dan eksekusi Amrozi cs”

  1. Elyani Says:

    Betul sekali, Ton! pemberitaan sekarang sudah tidak mengedepankan rasionalisasi tetapi lebih kepada nilai jual. Sungguh ironis TV, media cetak atau media online sedikit sekali meliput korban2 bom Bali. Mati sih menurut aku enak, sudah di-dor urusan di dunia selesai. Lha yang hidup dengan menanggung cacat permanen dan banyak yg tidak lagi mendapat bantuan biaya pengobatan dari pemerintah, terpaksa harus menderita seumur hidup. Tetapi anehnya media malah sibuk meliput keluarga, simpatisan dan pengacara tersangka yang tiba2 muncul dengan bukti2 baru. Lebih konyol lagi surat wasiatsalah satu tersangka dikutip mentah2 (tanpa sensor) seolah-olah wasiat itu adalah fatwa dari surga. Isinya saja ngawur dan sangat provokatif, tapi kok masih juga dimuat? Kalau yang membaca bisa berpikir jernih sih tidak apa, tapi bagaimana dengan orang2 yang menelan isi berita mentah2 dan meyakini apa yang dilakukan oleh ketiga orang ini sebagai jihad yang sesungguhnya?

    Yang tidak kalah seramnya adalah berita kriminal di televisi. Berita disajikan apa adanya lengkap dengan gambar penangkapan, aksi dorong2an, pemukulan, sampai detail rekonstruksi sebuah kejahatan. Media tidak sadar efek dari pemberitaan tersebut dapat memberikan inspirasi bagi para pelaku kejahatan, bahkan orang yang sama sekali tidak kita duga dapat melakukan tindak kriminal seperti itu. Seperti contoh kasus diatas..akibatnya masyarakat tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ngeri ya😦

  2. Elyani Says:

    Ton, berikut kutipan analisis redaksi Poskota yang pantas direnungkan. Meski sering dicap koran merah (karena isinya kriminal melulu), tetapi yang satu ini layak diperbanyak dan dibagi-bagikan di-jalan2 kalau perlu :

    Amrozi Cs dan Korban
    Selasa 11 November 2008, Jam: 9:05:00
    “MALING ayam saja langsung dipukuli sampai babak belur, sekarang pelaku pengeboman malah jadi artis.” Begitu ungkapan seorang pria yang sejak enam tahun silam hidup menduda setelah istrinya tewas menjadi korban Bom Bali I. Tidak perlu diragukan lagi, ungkapan itu mengandung rasa kesal yang dalam. Tetapi tak semua kesal ditujukan kepada Amrozi Cs yang telah menjalani hukuman mati di sebuah pelosok hutan di Pulau Nusakambangan Minggu (9/11) dinihari.

    Kesal itu sangat mungkin ditujukan juga kepada masyarakat kita yang salah satu elemen di dalamnya adalah pranata media massa. Hingar bingar pemberitaan seputar pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap ketiga pelaku Bom Bali I, cenderung berputar di lingkaran para pelaku dan keluarganya. Lebih ekstrim lagi, media dituding mempahlawankan Amrozi, Imam Samudra, Ali Ghufron alias Muklas, dan sebaliknya abai terhadap nasib keluarga korban terorisme. Liputan dengan fokus seperti inilah yang menjadikan para terpidana kasus terorisme seolah menjadi artis.

    Sebanyak 202 nyawa melayang pada aksi peledakan bom 12 Oktober 2002 di kawasan Legian, Bali. Jumlah korban yang juga banyak melanjutkan hidup mereka dengan kondisi cacat lahir maupun batin. Begitu banyak keluarga yang menanggung kedukaan akibat aksi tak berperikemanusiaan yang oleh Amrozi Cs dan pendukungnya diklaim sebagai bentuk jihad.

    Di antara warga negara asing yang menjadi korban Bom Bali I, WN Australia memang yang terbanyak. Tetapi jumlah yang lebih banyak lagi sesungguhnya adalah warga negara Indonesia, saudara sebangsa dan setanah air Amrozi Cs. Di antara mereka yang terbanyak lagi adalah umat muslim, saudara seagama Amrozi Cs.

    Lalu kepada siapa sesungguhnya aksi teror Amrozi Cs itu hendak ditujukan? Mengacu pada keraguan tersebut, keyakinan jihad mereka sungguh layak dipertanyakan. Mungkinkah status syuhada diberikan kepada mereka yang tidak dimaafkan oleh para korban yang tak bersalah? Majelis Ulama Indonesia barangkali berada pada barisan terdepan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan membenahi kekeliruan tersebut.

    Tetapi kesan memperlakukan Amrozi Cs bak selebritis, terlanjur menguat. Bahkan ketika jasad mereka diusung menuju permakaman, perlakuan selayaknya pahlawan diberikan oleh pendukungnya. Lalu siapa yang peduli dengan para korban dan keluarganya? Sudah cukup layakkah perhatian kita berikan kepada mereka yang hingga hari ini menanggung derita?

    Terbetik informasi, pemerintah menghabiskan dana hingga Rp 22 miliar untuk keperluan seputar pelaksanaan eksekusi hukuman mati Amrozi Cs. Ada sewa helikopter untuk membawa jenazah ketiga terpidana ke Lamongan, Jawa Timur, dan Serang, Banten, penyediaan ambulan dan fasilitas lain, pengamanan sejak dari Cilacap hingga Pulau Nusakambangan, dan sebagainya. Kalau benar sebesar itu dana yang dihabiskan, sungguh ironis dengan kondisi sebagian besar keluarga korban teroris.***
    redaksi

  3. therry Says:

    Om, nonton Barometer di SCTV tadi malem ngga? Ada pemimpin redaksi TVOne, ketua KPI dan org2 pers laennya yang pada ngumpul ngomongin soal ini nih. Katenye sih TVOne sempet naro pesan wasiat si Amrozi di bump-in (atau apalah gitu namanya, garis merah di bawah layar yang singkat padat dan kadang ngga jelas itu) yang isinya “Teruskan perjuangan bla bla bla..” dan itu udah melenceng banget dari tugas media yang seharusnya memberitakan suatu kejadian sesuai dengan fakta dan tidak berpihak.

    Banyak juga yang mengatakan kalau durasi liputan soal Amrozi CS itu kelewat lama, tapi saya juga berpendapat, salah satu hal yang paling annoying adalah adanya repetition tidak terkendali dimana suatu tayangan clip diulang2 sampe 3-4 setiap hari, padahal beritanya juga ngga penting2 banget.

    Ditambah lagi kebiasaan TV nyolong soundtrack film2 action atau horror-nya hollywood sebagai background music dari berita. Sejak kapan sih ini diperbolehkan? Udah mana gak matching, terlalu mendramatisir dan ketauan nyolong pula (secara, gak mungkin TV bisa nyewa orkestrator khusus cuma buat bikin background music berita).

    Sayangnya di Barometer tadi malam hal2 tersebut tidak disebut sama sekali. Masih banyak banget yang harus diperbaiki dari cara media di Indonesia bekerja, semoga aja KPI bisa mengkontrol, dan menghapus stigma media yang berpedoman “If it bleed, it leads” untuk semata2 menaikkan rating.

  4. Robby Candra Says:

    Ya, Barometer tadi malam sungguh acara yang baik sekali.

  5. Nugi Says:

    Kita sudah sepatutnya prihatin atas “budaya” jurnalisme yang tidak bertanggung-jawab seperti itu dimana mereka ibarat sudah diperbudak oleh uang, rating adalah segalanya untuk menggaet pemasukan dan popularitas sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan dan mempedulikan efek negatif yang ditimbulkan olehnya.

    Secara tak sadar hal ini berpotensi memunculkan bibit-bibit terorisme baru yang sangat tipis pemahamannya akan ajaran Islam terutama mengenai jihad. Bagi orang seperti itu semua orang diluar golongannya yg bertentangan dengan pengertiannya yg lemah tersebut adalah musuh yang harus dibasmi dengan segala macam cara, karena bagi mereka apapun cara yg diambil adalah halal.

    Bagi saya pribadi ini adalah bahaya laten yang harus diwaspadai bahkan lebih tinggi tingkat bahayanya daripada bahaya komunisme yg sudah banyak berkurang penganutnya di dunia ini.

    Semoga hal ini menjadi perhatian bagi pihak2 yg berwenang untuk mengatur etika jurnalisme nasional.

    Media itu sudah sedemikian telanjang membeberkan isi berita tanpa memperhatikan kepentngan psikologi massa yang besar. Bahwa ada copy cat dari berbagai tayangan di media, itu satu hal yang tidak bisa dipungkiri.

  6. bung tobing Says:

    Tulisan dari Pos Kota di atas bagus sekali. Dan ya, saya setuju, muak rasanya membaca pemberitaan berbagai media cetak yang seakan2 menjadikan ketiga pengebom itu sebagai martir, mereka tidak memikirkan konsekuensi mengerikan yang mungkin terjadi karenanya.

    Termasuk juga media internet yang gencar merilis “senyum para syuhada”. Thank for dropping by, Yuki.🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: