Gara2 Sangkuriang gunungnya jadi terbalik

Kalau mau mencoba jadi pendaki gunung boleh dimulai dengan gunung Tangkuban Perahu. Pertama kali mendaki gunung ini saat kelas 5 SD dengan modal nekat yang dimulai dari jalan Jayagiri menjelang matahari terbenam. Untung ketemu para pendaki gunung lain dan anggota Wanadri, kelompok pecinta alam yang membimbing kami segerombolan murid nekat tanpa pengalaman dan persiapan memadai. Dengan mereka akhirnya bisa sampai di base camp jam 8 malam setelah ngos2an dan lutut pegal akibat drama pendakian amatir kami. Pengalaman itu membuat saya ogah jadi pendaki gunung karena penderitaan waktu itu, haus, serta cuaca dingin yang menggigit. Saat itu cuma membayangkan betapa enaknya tidur di rumah di kasur empuk dan selimut hangat dibandingkan di kemah yang begitu menyiksa. Ah dasar anak2 bengal.

Gunung Tangkuban Perahu tetap tidak berubah dengan pesonanya yang menarik banyak wisatawan dalam dan luar negeri setiap harinya. Pernah di tutup sementara di tahun 2004 karena ada tanda2 akan meletus, namun tidak kesampaian. Dari kota Bandung bisa ditempuh kira 1.5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi hingga ke pinggir kawahnya.

Pemandangannya tentu menakjubkan sebagai selingan wisata alam bagi yang bosan dengan suasana kota Bandung yang sumpek dan ini beberapa suvenir yang dijual di sana. Enjoy the pictures.

Kadang yang membuat kita tidak nyaman para pedagang ini seringkali agak setengah memaksa.

Kaktus yang di jual dengan harga 5 ribuan (sama dengan yang dijual para pedagang Jakarta).

Kaos dijual 15-20 ribuan, sedangkan gelang dari mulai 5-25 ribu.

Terakhir, saya boleh nampang kan ?

Lembang, 27 November Oktober 2008.

Tags: , , , ,

6 Responses to “Gara2 Sangkuriang gunungnya jadi terbalik”

  1. Elyani Says:

    koreksi..tanggalnya salah tuh🙂 kok 27 November sih?
    Terakhir ke Tangkuban Perahu tahun 2005, bayar guide turun sampai ke Kawah Ratu. Lumayan juga kaki jadi pegal2 apalagi kalau sepatunya gak menunjang. Yang enak ngerendam kaki di mata air panas dekat kawah. Waktu kaki baru masuk…duh..kaya disiram air panas. Tetapi setelah beberapa menit terasa enak, apalagi udara disekitar cukup dingin. Yang aku belum coba makan telur rebus yg dimasak dengan air belerang langsung dari sumbernya. Aku lihat ada turis Korea dengan rombongan kecilnya yg asik menikmati telur rebus sambil merendam kaki. Penjual telur mudah ditemukan dekat2 situ. Tinggal bilang mau berapa butir langsung si mamang bawa panci dan tidak ketinggalan menyediakan garam pada saat menyajikan. Lain kali aku mau coba ah…sayang kemarin ini ke Ciater tapi gak mampir ke Tangkuban, padahal searah ya🙂

    Udah dikoreksi tuh. Turis asing banyak banget, atpi belum liat sih yang ngrebus telor🙂 Kapan mau ke sana lagi ?

  2. aldohas Says:

    Udah pernah waktu kecil dulu ama keluarga.
    Tapi udah lupa bagaimana rupa gunungnya🙂

    Masih sama, dan bau belerang …🙂

  3. therry Says:

    Gelang2nya kok keren2 yah?? Mauuuuuuuuuuu… udah lama ga ke Tangkuban Perahu….

    Murah Therry, asal nawarnya kejem🙂

  4. adit Says:

    Jalannya udah bener belum Mas? Terakhir saya ke sana jalannya bolong-bolong, udah seperti off-road aja. Btw, jangan percaya dengan tarif masuk yang ditetapkan. Kita bisa nawar loh. Saya aja dari 35 ribu bisa cuma 12 ribu😀

    Masih Mas, malahan semakin banyak bopengnya. Emang tiketnya bisa di tawar ya? Thanx ya.🙂

  5. therry Says:

    gyahaha… saya mah ngga jago nawar, yang jago malah laki saya *malu*

  6. Lorraine Says:

    Aku terakhir kesana tahun 1994. Wah, sampe sekarang masih kebayang deh bau belerangnya.

    Musti sekejem apa nawar itu gelang Mas? Bagus2 memang (atau yg motretnya yg pinter ngambil fotonya ;-D).

Comments are closed.


%d bloggers like this: