Syekh, Syaikh, Sex …

“If the rights of Muslim women become problems for Muslim men, it is not because of Alquran or Islam itself; it is because these rights contradict with the wants of the elite Muslim men.” (Fetima Mernissi)

Sudah banyak peristiwa kekerasan atas nama agama di negara ini. Syek Puji adalah aktor terbaru dalam lakon prilaku sex rade gelo yang juga mengatasnamakan agama. Betapa institusi ini sering menjadi tameng chauvinism termasuk dalam relasi kehidupan suami istri berikut kasus poligami2 yang seringkali memanfaatkan tafsir patriaki.

Syekh Puji (Pujiono Cahyo Widianto) pemimpin sebuah pesantren di Semarang itu mestinya sudah dibui karena menikahi Lutfiana Ulfa yang baru berusia 12 tahun dan tentu saja masih di bawah umur. Dengan alasan apapun, termasuk justifikasi agama, ia sudah melanggar rasa keadilan masyarakat dengan prilaku ngawurnya itu. Saya tidak tahu isi hati nuraninya, tapi saya yakin semua orang sependapat bahwa orang seperti ini sudah bisa dikategorikan sebagai sex offender dan harus menjalani hukuman termasuk rehabilitasi mental “horny” nya. Prihatin rasanya melihat agama sebagai salah satu pranata sosial terpenting menjadi ajang berlindung prilaku amoral orang2 yang seharusnya menjadi panutan.

Ini hanyalah tip of iceberg, sebuah kasus yang muncul ke permukaan karena prilakunya tokoh yang banyak dikenal di Jawa Tengah dan diangkat oleh media dari sekian kasus yang kita tidak tahu jumlah pastinya. Syek Puji sah2 saja memberikan penafsiran akan pemahamannya terhadap sejarah Nabi Muhammad saat menikahi Aisyah yang berusia muda. Sayangnya ia lupa bahwa sudah sejak dulu para sejarawan Islam telah lama menyangsikan klaim bahwa Aisyah dinikahi di usia semuda itu.

Suka atau tidak, pendapat Syekh Puji adalah rekfleksi dari sekian banyak interpretasi yang bias jender. Saya juga ingin menumpahkan ketidaksetujuan saya akan tafsir2 sepihak tentang relasi hubungan suami istri seperti hubungan sex. Misalnya kalau istri tidak mau melayani “kemauan” suaminya tanpa alasan yang valid (mens) maka malaikat akan mengutuknya hingga fajar. Well ? Kasihan benar menjadi seorang perempuan seperti anak saya kelak yang “diteriaki” oleh para pembantu Tuhan hanya gara2 tidak bersedia menjalankan ritual ini. Terus kalau posisinya dibalik bagaimana ? Apakah kaum pria juga harus menerima hujatan dari para malaikat saat menolak kemauan istrinya ? Rasanya tidak perlu gelar doktor teologis untuk menjawab masalah ini karena saya yakin common sense dan hati nurani kita bisa menjawabnya sendiri, bukan ?

Di sebuah blog lain saya pernah membaca postingan “sifat2 yang dirindukan oleh calon suami” yang isinya notabene ketaatan dan kepatuhan total terhadap “pemimpin” rumah tangga ini. Misalnya harus meminta ijin kalau mau ke luar rumah. Tidak ada yang melarang kalau mau membuat aturan seperti itu, tapi saya juga berpendapat bahwa agreement-nya harus bersifat reciprocal atau timbal balik. Dengan kata lain si suami juga harus minta izin kalau mau ke luar rumah atau tidak menempatkan salah satu pihak hanya sebagai objek belaka.

Demikian juga dengan masalah “talak 3” karena perempuan tersebut harus menikahi pria lain kalau ingin kembali lagi ke suaminya. Masalahnya, walapun sudah di talak tiga, tapi keduanya saling mencitai dan ingin rujuk apakah harus melalui proses menyakitkan seperti ini ? Dengan kata lain menjadikan perempuan sebagai objek orang lain dulu agar bisa bersanding kembali dengan suaminya (Kompas 15/12/03) ? Sayangnya tafsir2 seperti inilah yang telah lama mengurat akar pada masyarakat kita dan upaya rekonstruksi penafsiran yang lebih fair masih berjalan ditempat.

Back to the topic, Syek Puji itu harus segera ditindak. Titik.

Tags: , , , , , , , ,

24 Responses to “Syekh, Syaikh, Sex …”

  1. Elyani Says:

    Aku pikir aparat gak bakalan berani menangkap syekhtan pedofilia ini karena dia dikenal sebagai kiai, memiliki ponpes, kaya raya, punya pengikut yg bakal pasang badan buat dia tentunya, dan dia keukeuh kalau pernikahan-nya semata-mata mengikuti sunnah rosul. Bahkan dengan buku tentang Aisah dia berani berhadapan dengan Komnas perlindungan anak. Selama di Indonesia masih mencampuradukan hukum agama dengan hukum negara ya susah. Nikah siri misalnya tidak diakui negara, tapi toh atas nama agama dianggap sah2 saja. Orang seperti si syekhtan ini tentunya akan berlindung dibalik hukum agama dengan dalil2 yg di-interpretasikan menurut pemahaman dia. Sebagai catatan Ulfah bahkan belum berusia 12 tahun. Menurut Liputan6 saat ini saja gadis cilik itu baru berusia 11 tahun 10 bulan.

    Baru saja baca berita bahwa Polda Jateng sedang mengususut kejadian ini dan akan segera meminta keterangan dari Syekh Puji.

  2. the writer Says:

    hal hal kayak gini nih yang bikin gw dan temen2 mahasiswa yang kuliah di luar kaya gw jadi males balik. Indonesia jadi makin kacau. Paradoks banget antara hukum yang dibikin sama kelakuan rakyatnya. Gimana ya mas solusinya? Kok kayaknya badai kok tidak berlalu juga seperti kata mas Chrisye

    PS: Headingnya ganti nih, keren!

    Moga2 dengan adanya kejadian seperti ini semua pihak menyadari akan perlunya penegakan hukum yang keras terhadap perkawinan di bawah umur.
    Headingnya ? hmmm, lumayan deh.🙂

  3. therry Says:

    Meskipun kaya, tapi si syekh ini nggak tahu nyebut KOMNASHAM yang benar.. sampe ngomong aja ngebelibet.

    Mungkin dia selama ini mikirin cara-cara untuk jadi kaya raya sekaligus menjustifikasi kelainan dia untuk ngawinin anak kecil, sehingga pikirannya jadi picik, sampai-sampai dunia luar dan hak asasi manusia aja bisa ngga tau.

    Bicara emang ceplas ceplos Therry, seolah menganggap ini masalah yang enteng. Sampe gak habis pikir kalau melihatnya saat diwawancara media di televisi.

  4. treestyara Says:

    Seharusnya hukum negara yang menyatakan bahwa usia minimal wanita untuk menikah adalah 16 tahun menjadi pegangan bahwa syekh Puji itu sudah melanggar hukum….kasihan anak seusia itu sudah memiliki setumpuk kewajiban yang harus dijalankan seorang istri sementara anak saya yg berusia 12 tahun sampe sekarang masih asik dengan sekolahnya, temannya, hobinya membuat komik manga dan bermanja-manja pada saya. Masih banyak yang bisa diraih seorang anak berusia 12 tahun….

  5. bakiak Says:

    Mengapa pernikahan anak di bawah umur selalu dihalalkan dengan asumsi agama..apa memang hati nurani udah ga di pake lagi.. udah saatnya Komisi perlindungan anak bertindak tegas thdp perilaku manusia seperti ini..

    Dilarang tentunya pun dengan alasan agama. LSM Perlindungan anak sudah meminta klarifikasi dari Kyai ini walau belum ditanggapi.

  6. rima fauzi Says:

    Ya mas, yang seperti ini memang bikin eneg. Saya bukan menadvokasikan tidak beragama, yah mungkin sedikit sih, tapi saya lihat banyak sekali hal buruk di dunia ini yang dilakukan dengan justifikasi agama. Mengawini anak kecil, honor killings, membunuh orang beragama lain, hingga yang terakhir saya temukan dan saya tulis di blog saya, seorang biarawati katolik yang diperkosa 50 pria hindu di india, sementara polisi ada disitu and did nothing.
    Saya pikir sudah saatnya doktrin dan dogma agama ditinggal jauh-jauh begitu juga dengan organized religion. Apabila seseorang itu memilih utk beragama, jalankanlah sendiri, untuk pribadi tapi tidak usah seperti ini yang akhirnya bikin misuh2 dan keburukan..

    Memilih hubungan yang lebih personal dengan Tuhan tanpa harus terkait dengan salah satu agama formal maupun afiliasinya sudah merupakan fenomena yang banyak dipilih oleh sebagian orang yang oleh Sir Julian Huxley dinamakan “religion without revelation”. Muhamad Ali yang ada di blogroll saya menulis banyak hal tentang isu doktrin Islam dalam masyarakat Indonesia yang disajikan secara ilmiah populer. BTW, saya setuju bahwa agama adalah domain privat.

  7. Ecky Says:

    Orang-orang yang kayak gini yang bikin nama agama jadi jelek, dan mereka menjustifikasi tindakannya atas nama agama, sick people!

    He is sick indeed Ecky …

  8. Ira Says:

    Mas Toni yang budiman. Insightful writings…as always…sedikit catatan. Tuhan ada kekuasaan absolut yang dikenal manusia. Setiap pemimpin agama–apalagi yang bergelar “wakil Tuhan” pasti akan akan merasa mewakili kekuasaan absolut. Saya sedang di USA dalam minggu-minggu ini. Ini kasus kedua seorang pastur Katolik Jesuit mencabuli anak altar. Mudah-mudahan Mas Toni yang sangat mengagumi Jesuit juga sesekali menulis kasus di agama lain.

    Tentu Mbak Ira, bahan tentang Jesuit lagi dikumpulkan. Have a nice whirlwind trip there and looking forward seeing you here …🙂

  9. Rusman Says:

    Syeik gemblung..coba aja anaknya sendiri yg belum dewasa(dibawah 12th) mao dinikahi orang lain boleh ga….???mikir ato ji….

    Ia menjawab bersedia saat diwawancara oleh media. Tentu saja ini jawaban yang ngawur.

  10. gerry Says:

    minta izin mas buat ngelink topik ini ke blog saya…thanks

    Silakan Mas.

  11. Penjahat bersenjatakan kelamin bertameng agama : gerryology.com Says:

    […] sayang pemuka umat demennya ma si upik anak pak Mamat. […]

  12. Anonymous Says:

    emang anjrit ni syek

  13. Anton Soeharyo Says:

    wahh gile…

    apa menariknya anak umur 12….

    ck ck ck..

  14. Finally Woken Says:

    He’s a pedophilia.

    Nothing less. Regardless the beard and the white cloth he’s bearing.

    Send him to jail!

    He will be sending to jail if he violates the laws. Cute beard, btw🙂

  15. andi Says:

    si puji kelainan sexs!!!. Agama dijadikan kedok, dia doyan gonta-ganti istri, semoga AIDS menyerang dia!!

  16. maria_tandon Says:

    si puji basther if you want just fuck dont fuck wit kids mus better you fuck wit roooooondy

  17. vic zhou Says:

    syek puji”””’.! ternyata tabiatmoe tidak terpuji banget deh…!

  18. Hiroishi Tanaka Says:

    hv mercy to kids! they must grow up cheerfully with their own lovely world. law officers must enforce practicing law against these child abuse activities in any part of the world. also seto, good luck n be brave enough against this cruelty against children

    The Police ? Let’s see if they have conscience to bring the case.

  19. Ivy Says:

    aku juga kaget pas pertama kali tau tentang ini dari blog rima *ketauan yang jarang ikutin perkembangan negara* hehe.. Bener2 ga masuk akal kalo dia mengatas namakan agama untuk perbuatan dia. Mereka2 tuh ga tau cari2 alasan ato memang sesat dengan pemikiran mereka itu ya?

    Namanya juga sudah kebelet, jadi apapun bisa dijadikan alasan. Sableng ya🙂

  20. Indra BudhinS Says:

    ndak ada Syeh Puji, adanya Sexs Puji. Kalau emang mau nyejahterakan nikahi saja PSK yang di sekitar lingkungannya, kan lebih berarti dan bermanfaat. Enak, nikmat, menyesejahterakan dan HALAL. Gituuuuu loohh.

    Senyum simpul aja🙂

  21. khaniam Says:

    menurut saya semua intinya adalah kasih sayang. saya rasa semua hukum Agama memang seimbang. memang Allah memurkai perempuan yang tidak datang ketika suami menginginkannya atau tidak izin ketika keluar rumah. Tapi harus diingat juga kalau suami yang menyakiti istrinya itu adalah serendah2 manusia. kembali ke talak 3. menurut saya ada alasan kenapa harus dinikahkan kepada orang lain sebelum dinikahkan kembali. ini bermakna bahwa lelaki jangan semena-mena atau murah sekali mengucapkan kata cerai. berfikir lagi sebelum mengeluarkan kata cerai. bukan hanya sekadar tidak mau datang ke ranjang trus talak 1, tidak cuci piring, talak 2. ke warung tidak bilang2 talak 3.

    Terima kasih sudah sharing. Reciprocal atau azas timbal balik dalam relasi suami istri, itu inti yang ingin saya kemukakan, bukankah itu keseimbangan ? Setuju kalau laki2 tidak mudah mengucapkan kata2 talak, tapi silakan baca artikel Kompas yang saya link di atas karena saya mah mencoba reasoning saja. Salam

  22. Nugi Says:

    Itulah buktinya banyak di negeri ini orang yang memasang gelar syekh atau kyai di depan namanya bukan karena dia berhak menyandang gelar itu (bukan ditunjuk olah Tuhan). Persamaannya seperti insinyur atau dokter yang tdk pernah kuliah alias beli gelar. Bagaimana kalau insinyur aspal tadi bikin jembatan?? Bagaimana pula kalau orang berobat pada dokter aspal?? bisa runyam.

    Saya gak ngerti darimana Bapak ini mendapat gelar Syekh, suatu sebutan kehormatan dari negeri Arab sana. Sayang nama Syekh tidak berkorelasi dengan perbuatannya bukan ?

  23. katadia Says:

    Hallo Pak Toni.

    Ulasan yang bagus. Terutama ttg relasi suami-istri di Indonesia yang mengacu pada alasan “kodratif”. Bukan saja peran suami sbg “pemimimpin” yang telah terinstitusi dgn UU, sampai2 generasi anak muda terdidik di perkotaan sekarang pun, yang kesannya terpapar terus oleh MTV dkk, masih mengacu kpd norma2 seperti itu.

    Hallo Katz …🙂
    Premis kodratif ini sudah selayaknya ditinggalkan. Premis yang menganggap bahwa laki2 adalah kepala keluarga karena fungsinya sebagai pencari nafkah dengan mudah dipatahkan karena banyak perempuan bukan hanya di kota besar, tapi juga di pedesaan justru menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Azas kesetaraan tapi tetap dengan menghormati peran masing2 harus di mulai dari keluarga kita sendiri. Makanya anak saya yang perempuan sudah mulai saya ajarkan untuk tidak pernah tergantung secara finansial kepada pasangannya kelak.

  24. Aan Says:

    Soal perilaku syeh puji saya setuju pendapat anda, tp untuk hak dan kewajiban istri, tlng baca hadis dulu

Comments are closed.


%d bloggers like this: