Wall Street itu …

We put those contributions there so as to give the contributors a legal, moral, and political right to collect their pensions and their unemployment benefits. WIth those taxes in there, no damn politicians can ever scrap my social security program” (Franklin Delano Roosevelt tentang Social Security Act)

Kantor saya sering didatangi para “pialang” perlente yang mengenalkan dirinya sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Bursa Efek Jakarta . Mereka menawarkan berbagai jenis investasi dan tentu saja selalu menjanjikan keuntungan asoy dari uang yang kita tanam. Dengan modal 100 juta kita sudah bisa bermain indeks saham2 di bursa seluruh seperti Hang Seng atau Nickei. Lebih gila lagi pialang ini berani menawarkan keuntungan hingga 100% dari margin transaksi. “Mudah koq transaksinya dan bisa dilakukan di mana saja dengan sistem on-line”, bujuk mereka. “Belum lagi pasar yang sangat liquid hingga tidak perlu menunggu pembeli kalau kita ingin menjualnya lagi” tambah semangat mereka berbusa. Saya sih diam aja, bego, gak ngerti sama sekali dan sebenarnya pengen ketawa. Nawarin investasi njlimet koq sama saya yang boro2 punya pengetahuan tentang dunia finansial, masuk gedung BEJ saja belum pernah, dan tentu saja cekak. Ribut2 mengenai kebangkrutan Wall Street saya jadi merenung, mungkin kepolosan calon investor lah yang diharapkan oleh mereka sebagaimana ketidaktahuan 200 ribu pemilik rumah yang disuruh menandatangai pinjaman dalam sistem Interest Rate Only (IRO) dalam pembayaran kredit pemilikan rumah mereka sebagai awal malapetaka krisis ekonomi yang terjadi saat ini.

Saya jadi ingat pula beberapa peristiwa penipuan yang masih terjadi di kita saat orang begitu mudahnya terbuai dengan investasi yang tidak masuk di akal seperti janji suku bunga jauh di atas rate normal dan akhirnya si bandar melarikan diri karena sudah default alias bangkrut. Dulu ramai2 orang tertipu investasi agrobisnis termasuk para pejabat kita yang ternyata hanya pepesan kosong belaka. Tentu saja yang paling lucu adalah korban penipuan penggadaan uang. Satu lagi, orang2 yang menawarkan ajimat, harta papampasan dari Jepang, uang emas Presiden Soekarno, Prabu Siliwangi, dan masih banyak lagi berbagai tipu daya menyesatan. Jangan disangka yang tertipu hanya orang bodoh, banyak juga orang yang punya pendidikan tinggi termasuk Menteri kita karena berangan-angan kekayaan instan. Ah dunia itu lucu sekali ya.

Email saya selalu dipenuhi berbagai scam dari berbagai negara yang isinya “dear winner, congratulations, lottery winner dengan jumlah fantastis. Yang paling banyak adalah permintaan nomor rekening untuk dari sebuah bank di Afrika yang ingin mentransfer uang karena tiba2 menjadi ahli waris keluarga yang meninggal karena kecelakaan pesawat. Sehari bisa 5-10 email email sampah yang mampir ke inbox saya.

Mungkin ini sekedar mengingatkan diri saya sebuah adagium yang selalu saya pegang teguh bahwa tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Setiap tawaran investasi atau iklan2 yang menyesatkan harus selalu disikapi secara kritis, jutek kalau bisa. Para sales yang menawarkan berbagai bentuk investasi yang eksotis tentu saja pandai berbicara dan selalu menekankan keuntungan yang akan diperoleh (gak semua sales tentunya karena ada juga yang rasional). Mereka akan selalu bicara capital gain, bukan capital loss, bunga yang selalu tinggi bukan yang berfluktuasi, market yang cerah bukannya volatile, statistik keuntungan yang grafiknya menanjak, bukannya naik turun, menjanjikan dividen, meminta keputusan yang cepat untuk segera berinvestasi karena situasi pasar bagus, bla bla bla. Ah indahnya dunia kalau semuanya bisa jadi kenyataan, tapi sayangnya Tuhan pun tidak bisa menjamin investasi yang kita tanamkan.

Saya gak ngerti ekonomi, tapi kutipan di atas yang diambil dari Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt (FDR) yang saya kagumi patut untuk kita renungkan. FDR berhasil membawa Amerika dari kebangkrutan ekonomi di tahun 1929 dalam program New Deal salah satunya melalui sistem Jaminan Sosial yang terbukti ampuh untuk melindungi rakyatnya dari keserakahan kapitalisme. Sebelum terlambat, Indonesia harus segera membenahi program Jamsostek-nya yang bisa digunakan sebagai dana talangan saat dibutuhkan oleh jutaan pekerja saat krisis menghantam. Terakhir, Jamsostek haram diprivatisasi dan harus diproteksi sekuat tenaga oleh negara (saya memang protectionist, so what … )

My best🙂

Tags: , , , , , ,

5 Responses to “Wall Street itu …”

  1. Ivy Says:

    setuju banget mas sama paragraph terakhir walaupun saya kurang ngerti masalah ekonomi hehe

    Hi Ivy. we’re on the same page then.🙂 Asyik ya jalan2 di Jepang, duh bikin ngiri deh🙂

  2. Rusman Says:

    tapi apakah politisi kita dah paham tentang kesejahteraan rakyat???contoh pernah denger khan gimana Jamsostek yang notabene dari karyawan tuk karyawan, tapi klaimnya minta ampun lamanya …blom lagi dana yg trilyunan iuran karyawan itu…bagai gula dan semut,,,btw: om toni kalo jadi dirut Jamsostek mau ga yachh???

    Kang Rusman, makanya nanti akan ada UU baru mengenai sistem Jaminan Sosial yang draftnya lagi digodok di DPR. Bukan pesimis, tapi moga2 hasilnya lebih baik dengan aturan yang ada seperti kasus di atas. Salam🙂

  3. ecky Says:

    Mungkin karena basically kita sebagai manusia menghalalkan segala sesuatu secara instant, pengen kaya yang instant langsung deh tergiur sama mulut manis si mbak/mas dari Bursa Efek dan juga memang kekurang mengertian kita akan hal tsb yang jadinya menjerumuskan.

    Setuju soal jaminan sosial, gila ya mau ngambil jamsostek yang alhasil adalah hasil jerih payah kita selama ini kok ya susah bener.

    Banyak deh Ecky yang datang ke kantor, malah tanpa janji ujug2 menawarkan proposal investasi. Uang JHT Jamsostek baru bisa diambil kalau ada grace period selama 6 bulan, makanya kalau pindah kerja jangan diteruskan jamsosteknya spy uangnya bisa diambil.🙂

  4. finallywoken Says:

    Saya dulu ngantornya di gedung BEJ, pernah ngerjain kantornya CEO-nya BEJ, sering bengong memandangi ruang transaksi mereka, tetep aja gak ngerti masalah saham (ya iyalaah, emang ga nyambung!!).

    Jangan ngomongin Jamsostek deh, proyek saya dulu di menara Jamsostek yang baru, tau banget gimana mereka menyulap uang rakyat jadi gedung yang nampaknya mentereng tapi kualitas bangunan dihantam kromo. Bayangin kalo gedung sendiri di’tilep’ kayak gitu, gimana dana trilyunan kita?

    Emang gelo tuh proyek gak kira2 buat gedung di mark-up abis2an. Banyak Nit uang kita yang gak jelas, makanya lembaga ini harus segera dirombak abis2an supaya para pejabatnya agak “pinter” berinvestasi. Iukan uang kita juga lagi…

  5. thania Says:

    halo mas.. salam sejahtera.
    saya ingin menanyakan sesuatu terkait Jamsostek. barngkali mas bisa bantu saya untuk memahami kondisi saya dan teman2 lain yang merasakan hal yang sama. saya bekerja untuk sebuah yayasan internasional yang bergerak di bidang konservasi sumber daya alam, selama kurang lebih 5 tahun ini. status saya sbg pekerja lapangan dan non-staf, yang dikontrak pertahun, sama seperti rekan lain yang bestatus Staf. namun hingga saat ini saya dan temen-teman lain seprofesi, tidak pernah diberitahukan tentang Jamsostek atau jaminan lainnya kecuali asuransi kesehatan yang hanya membantu bea rawat inap. apakah status saya sebagai pekerja non-staf membuat saya tidak berhak mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja ataupun fasilitas jaminan lainnya? sementara pekerjaan yang kta geluti adalah beresiko tinggi. lembaga atau instasi apakah yang bisa membantu pekerja yayasan-yayasan seperti ini dalam mendapatkan haknya. sekedar informasi, ada ribuan pekerja seperti ini di indonesia yang tidak mengenal hak kesejahteraan mereka. trimz mas, tulisannya sangat membantu buat berfikir. salam

    Singkat saja ya, setiap pekerja baik kontrak maupun tetap berhak mendapatkan perlindungan Jamsostek terutama untuk Paket A (kecelakaan kerja, kematian, dan hari tua). Layanan kesehatan bisa memilih antara mengikuti program Jamsostek atau perusahaan mengadakan perjanjian dengan RS/Klinik yang ditunjuk.

Comments are closed.


%d bloggers like this: