Artistik tapi kurang menghargai karya seni lokal

Tidak banyak yang kenal dengan nama Mimi Rasinah (1930), tapi di luar negeri ia dikenal sebagai maestro tari Indonesia yang membuat “Cirebon Mask Dance” melanglang buana. Empu tari topeng Cirebon ini tentu saja sangat dihormati di negeri orang dan sudah tidak terhitung penelitian dan disertasi tentang dirinya serta tarian ini di berbagai universitas di dunia. Keren kan ? Sayang ia sedang sakit keras dan terpaksa harus menjual koleksi topengnya yang berharga untuk biaya pengobatan. Inilah ironi di kita,  sebuah bangsa yang artistik (ciri manusia Indonesia kata Mochtar Lubis di tahun 1977) tapi kurang penghargaan terhadap seniman2 termasuk karya besar mereka. Mimi Rasinah adalah contohnya.

Hari Selasa (26/08) kemarin saya berkesempatan mengikuti sebuah dialog budaya yang berjudul “Manusia, Budaya, dan Indonesia Masa Depan”. Acara menarik ini diadakan oleh organisasi Solusi Bangsa Research Action dengan menghadirkan pembicara Franz Magnis Suseno pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara , budayawan Mohammad Sobary dan pengamat politik Eep Saefulloh Fatah di hotel Le Meridien Jakarta. Dialog ini panjang, tapi saya hanya akan mengutip perkataan Fransz Magnis yang rasanya sangat mengena dalam diskusi tersebut : “Indonesia harus bertekad mengembalikan kebudayaannnya sendiri. Kebudayaan ini akan membimbing bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-citanya” (Kompas, 27/08)

Pernyataan Franz Magnis membuat saya mencoba mengingat beberapa pencapaian karya2 spektakuler seni budaya Indonesia yang begitu di “respect” di luar negeri, tapi mungkin kurang begitu dikenal di negara pembuatnya. Daftarnya bisa sangat panjang, tapi saya coba mulai dari Metropolitan Museum of Modern Art (MOMA) di NY saat mereka menggelar karya2 seni rupa Indonesia di tahun 1991 lalu. Beritanya mungkin tidak terdengar di Indonesia, tapi koran sekaliber New York Times menurunkan resensi cukup panjang dan memberikan penghargaan tinggi terutama ketika Prajnaparamita, patung Dewi Kebajikan dari Jawa Timur di puji habis2an dan dinobatkan sebagai maha karya seni patung di abad ke-13 oleh koran ini.

Kedua masih di Amerika, saat Topeng Cirebon mendapat tempat terhormat di Field Museum Chicago setelah dipamerkan di seantero Amerika. Ditahbiskan sebagai karya seni ukir klasik terindah dalam hal konfigurasi artistiknya yang mengalahkan seni ukir patung sejenis dari negara2 lain.

Ketiga, dalam seni sastra kita punya seorang Pramudya Ananta Tour, novelis yang karya2nya sudah diterjemahkan ke puluhan bahasa. Kisahnya yang menggetarkan dalam “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” sering disejajarkan dengan karya besar The Gulag Archipelago dari Alexandr Solzhenitsyn. Pramudya adalah satu2nya sastrawan Indonesia yang telah berkali-kali dicalonkan sebagai peraih Nobel dibidang Literature.

Keempat, karya2 lukis Nyoman Masriadi akan segera dipamerkan di museum Louvre, tahu kan tempatnya di mana ? Selain Masriadi, seniman besar kita seperti Putu Sutawijaya, Nyoman Sukari turut memamerkan karya2 mereka di galeri museum kelas dunia ini.

Kelima, tidak ada pemimpin dunia yang begitu getol memakai batik selain mantan Presiden Nelson Mandela, bahkan saat ia mengadakan kunjungan kenegaraan ke Buckingham Palace untuk bertemu Ratu Elizabeth. Mandela dengan tegas menolak aturan protokoler istana yang mengharuskannya menggunakan formal attire yang konservatif dan bersikukuh untuk memakai batik buatan Iwan Tirta. Go figure !

Keenam, penggemar penyanyi keroncong Gesang mungkin lebih banyak berada di Jepang dan di sana ia dianggap sebagai legenda hidup musik klasik Indonesia. Karya2nya terus diperdengarkan dan dipelajari sebagai salah satu kekayaan khazanah musik Indonesia. Sementara di kita jenis musik ini atau Melayu Deli harus tergilas oleh selera pasar.

Indonesia harus banyak belajar dari bangsa lain untuk menghargai budaya lokalnya. Seperti halnya komik Indonesia yang masih belum mendapatkan tepat terhormat dalam era budaya pop kita. Di mana sih ada museum atau galeri seni di Indonesia yang memajang karya2 besar Jan Mintaraga, Wid NS, RA Kosasih, Hans Jaladara Sopoiku, Ganes TH, Teguh Santosa, Hasmi, Djair Warni ? Padahal komikus Amerika punya museum tersendiri di Museum of Comic and Cartoon Art dan Carton Art Museum. Belgia punya Comic Strip Museum yang bangga dengan Tintin karya Herge.

Jadi apa pointnya ? Banyak hal kecil yang bisa kita lakukan untuk lebih menghargai seni karya bangsa sendiri tanpa harus menjadi ahli dalam bidang seni rupa. Mengapresiasi batik seperti Nelson Mandela adalah salah satunya. Sementara saya baru bisa membanggakan sampul2 komik lama yang diberi bingkai sekedar pengingat bahwa para pengarang komik ini punya peranan besar dalam hidup saya untuk mencintai buku dan terutama lebih mengapresiasi karya2 seni lokal.

Untuk karya seni, saya sangat bangga jadi orang Indonesia.

Tags: , , , , , ,

17 Responses to “Artistik tapi kurang menghargai karya seni lokal”

  1. the writer Says:

    Mungkin mas karena orang Indonesia suka menganggap remeh budayanya sendiri dan mengagung-agungkan segala sesuatu yang “modern” dari dunia barat. Ini hanya sekadar analisa lho, jadi mungkin penjelasannya begitu.

    Kenapa pertunjukan wayang kurang digemari sementara bioskop memutar film Hollywood tetap padat pengunjung? Mungkin juga alasannya sama. Kenapa karya sastra dan karya seni Indonesia nggak dihargai? Yah saya harus mengaku bahwa saya termasuk orang yang tidak tahu nama-nama yang disebut mas diatas, kurang publikasi? Entahlah.

    Memang, kalo nggak kita sendiri yang menghargai budaya kita, lalu siapa lagi? Malu sama orang luar yang begitu mengagumi hasil karya seni Indonesia tapi kita yang bangsanya sendiri malah nggak tahu apa-apa.

    Saya juga gak ngerti koq orang luar bisa begitu apresiatif terhadap seni budaya kita. Kalau boleh beranalisa sedikit mungkin karena sistem pendidikan mereka yang mengenalkan “Liberal Art” secara serius sejak dini. Karya2 Shakespeare dibedah, karya musik klasik diajarkan dalam kemasan yang menarik. Packaging, mungkin itu yang membuat seni budaya kita agak kedodoran.

  2. Elyani Says:

    Ton,

    Beberapa minggu yang lalu iseng2 nonton Empat Matanya Tukul, dan salah satu bintang tamunya adalah Elizabeth Karen, WN Amerika, yg fasih nembang Jawa (nyinden). Kalau Elizabeth pandai berbahasa Jawa halus (kromo inggil) dan bahasa Indonesianya sangat lancar, tentu bukan dikarenakan dia menikah dengan dalang terkenal asal Malang. Elizabeth sejak dulu (termasuk orang tuanya) memang sejak dulu jatuh cinta dengan segala hal yg berkaitan dengan kesenian Jawa.

    Sangat ironis ya, seni tari yg kita miliki lama2 hanya menjadi kenangan tanpa bekas. Kita baru marah2 kalau kesenian kita diaku oleh Malaysia. Padahal di negeri sendiri seniman-nya diperhatikan juga tidak. Lihat saja di bandara2 di penjuru tanah air, apakah ada brosur pariwisata yg mempromosikan budaya masing2 daerah? Di Malaysia, pemerintahnya begitu gencar mempromosikan Malaysia Truly Asia. Bahkan di Kota Kinabalu barang kesenian yg dijual banyak sekali buatan Indonesia tetapi diberi label Made in Malaysia.

    Negara kita punya begitu banyak tarian, kerajinan yg bernilai seni tinggi tetapi sayangnya kurang begitu diminati oleh bangsa sendiri. Di Oakland, California, ada Gamelan Sekar Jaya yg sering diundang untuk mengisi berbagai acara kesenian. Seorang alumna dari SMA ku di Yogya, Cynthia Laksawanayang sekarang tinggal di Boston juga bisa hidup dengan sangat layak dari hasil menari Bali dan sanggar gamelan yg dikelola oleh suaminya yg asal Bali. Apakah di kemudian hari kita harus terbang jauh ke Amerika untuk menonton tari Bali dan belajar gamelan?? Kapan budaya kita bisa masuk dalam kurikulum wajib sekolah? Kalau bahasa Inggris bisa diwajibkan di sekolah2, mengapa kesenian daerah tidak diperkenalkan sejak dini?

    Thanks sharing-nya El. Suatu waktu guru seni rupa di SMP saya mengajar nyanyian lagu2 wajib nasional, tapi tidak menjelaskan suasana historis mengapa lagu itu dibuat. Jadi pelajarannya ya datar2 saja. Mungkin tidak semua guru begitu, tapi setidaknya ini refleksi sistem pendidikan kita yang kurang greget membuat kita bangga dengan seni budaya sendiri. Jadi gak heran kalau karya2 komponis besar masih terus diperdengarkan hingga sekarang dengan artis yang berbeda, dan atmosfir yang selalu baru.

    Oh ya, gamelan di Okland itu memang jadi publisitas gratis bagi Indonesia, setidaknya mereka lebih mengenal negeri kita melalui musik ini. Masalahnya koq orang luar yang justru semangat ya ?

  3. Elyani Says:

    Link tentang Cynthia Laksawana bisa dilihat disini dan Wajah Rantau Sukses yg diliput oleh VOA News.

    Bagus banget El. Thanks link-nya.

  4. Lorraine Says:

    Mengenai komik: Aku ngga begitu paham situasi komik Indonesia sekarang ini tapi salah satu hal yg menghambat komik Indonesia dihormati dinegara sendiri adalah pendapat pihak2 tertentu bahwa komik itu tidak edukatif, isinya (masa2 komik Roman tahun 60-an, komik Silat tahun 70-an) hanya kekerasan & sex. Padahal kualitas gambar & cerita ngga kalah orisinilnya dengan komik luar Indra Bayu, Gina dan Si Buta dari Gua Hantu akhir tahun 80-an harus bersaing dengan Tin Tin, Asterix, Majalah Eppo, Tanguy & Laverdure. Awal tahun 90-an akhirnya komik Indonesia benar2 mundur dari peredaran karena maraknya komik Jepang terbitan Elex Komputindo.

    Yang lebih menusuk lagi, kenapa Marcel Boneff nota bene orang Perancis yg sudi menulis kajian Komik Indonesia, kok bukan orang Indonesia sendiri.

    Mudah2an ada sedikit pecinta komik Indonesia yang masih peduli akan nasib komik & bisa menghidupkan kembali perhatian masyarakat dengan produk pop yg dianaktirikan ini.

    Mengenai karya2 seni Indonesia: di Tropenmuseum Amsterdam http://www.tropenmuseum.nl/, koleksi Indonesianya lengkap sekali.

    Lorraine, sering banget gue debat dengan orang2 yang punya pandangan bahwa komik Indonesia tidak mendidik. Sampai kapan pun gak rela kalau ada yang punya opini gak nyambung seperti ini (sambil terengah karena panas hati ini🙂 )
    Buat generasi kami, komik ini berjasa dalam proses kreatif, kesenangan membaca, sisi kepahlawanan, dan cerita2 yang begitu membumi. Komik Indonesia lawas tetap punya penggemar, salah satu sahabat saya Iwan Gunawan yang sekarang jadi pembantu rektor di IKJ adalah salah satu penggiatnya.

  5. Finally Woken Says:

    Saya kayaknya pernah comment di blog lain bahwa nampaknya (sebagian) masyarakat Indonesia sudah mulai (belajar) mengapresiasi budaya kita. Saya sendiri, ironisnya, mulai sadar betapa minimnya pengetahuan saya setelah dihujani banyak pertanyaan oleh keluarga suami yang selalu saya jawab sepotong-sepotong atau “nggak tau”. Setelah lebih dari 30 tahun saya baru tahu keluarga ibu saya punya jarik dengan motif batik sendiri (kayak Scottish tartan dengan clan-nya or ulos dengan marga), itu juga karena saya ditanya oleh orang. Setelah lebih 30 tahun, saya baru menyaksikan wayang secara langsung (terharu, ternyata tempatnya penuh, dan harga tiket yang lumayan mahal gak menyurutkan semangat penonton).

    Indonesia, karena subur dengan segala sesuatu yang indah, nampaknya take everything for granted. Sayang memang. Tapi nampaknya generasi kita pelan-pelan sadar kog. Perjalanan masih panjang, tapi masih ada harapan.

    Tuh kan blessing in disguise ya ? Kadang orang luar menganggap kita sebuah negara Timur yang sangat eksotis sehingga pertanyaan mereka jauh lebih kritis. Moga2 masih banyak yang lebih mengapresiasi budaya kita, at least mulai mencari tahu bahwa negeri kita bukan sekedar kain batik. Masih banyak harapan, saya juga yakin dengan ini. Salam🙂

  6. art Says:

    diera suharto inilah salah satu penyebab boomingnya orang berorientasi kepada budaya barat…sebab ketika sukarno mencoba untuk membatasi jarak dengan modal asing dengan sebutan go to hell your aid, disaat suharto berkuasa dia mewelcome modal asing secara bebas jadi banjirlah indonesia rayaku dengan yang berbau luarnegeri, kadang ada teman yang kangen dengan makanan luar negeri dia harus membeli nasi yang dikemas ala jepang yang ngetop di amerika ke singapore berangkat siang pulang sore. begitu juga dengan karya2 budaya, kalau tidak nonton film2 buatan hollywood takut dibilang kurang modern, padahal ratusan karya film hollywood menyemburkan nafas anti nilai2 agama, mereka melecehkan berbagai harkat moral yang harus dihormati dalam menjalankan kehidupan didunia modern ini. saya mengenal seorang wanita, ia pengajar dan seniman di Chicago yang mendokumentasikan kehidupan budaya masyarakat Toraja. hal yang menakjubkan buat saya beliau menggalang dana dan barang2 yang sudah tidak digunakan untuk dikirim dan dipakai oleh petani kopi di toraja melalui iklan di Starbucks coffee selama beberapa bulan di tahun 1997 diseluruh Amerika. hal ini menandakan ada segelintir manusia yang mampu melihat pelestarian itu sangat perlu untuk membendung arusnya postmodern diberbagai sisi, makanya saya tidak heran orang seperti Mimi Rasinah mengalami nasib seperti kisah diatas. orang2 yang berduit enggan melihat kehidupan budaya dan pelaku2 seni untuk bisa langgeng menjalankan karya2nya di Indonesia, mereka hanya liat gimana keuntungan diraih sebesar2 walaupun harus menghancurkan nilai2 tertentu termasuk budaya.
    saya senang forum seperti ini menandakan bahwa kita masih peduli dengan budaya2 yang masih hidup di Indonesia, kita harus berjalan bersama untuk membuktikan kepedulian kita kepada generasi selanjutnya bahwa kita bukan bangsa yang menjadi korban imbas boomingnya budaya luar.

  7. ade jayani Says:

    bagaimana kesenian kita mau maju seperti topeng mimi rasinah juga sering dipentaskan oleh budpar indramayu tapi tidak sepengetahuan sanggar mimi rasinah mereka lebih baik mementaskan orang lain biar uangnya buat para pegawawai budpar sendiri

  8. yudha Says:

    gambar topeng kang komplit ana tah

  9. yudha Says:

    bagen mimi rasinah dadi legenda ari pembahasane bli gawa tinjauan tentang tari topenge jadi bli jelas kanggo wong awam konon

  10. yudha Says:

    aja cuman seneng tinjauan makro jadi detil per kesenian kurang

  11. Evia Says:

    Ngenes memang kalau melihat bangsa ini memperlakukan kebudayaannya. Kesenian ludruk di Surabaya hidupnya kembang kempis kalah gempita dengan kesenian budaya luar. Anak2 juga lebih akrab dengan seni balet daripada tarian Jawa. Bukannya saya antipati dengan balet, mbok yao pelajari dulu seni bangsa sendiri sebelum merambah seni manca dan sebelum seni kita dicolong pihak luar.
    Hal hal remeh kayak gini bisa dimulai dengan diri sendiri.

    Mengenai komik, eh dimana ya bisa mendapatkan buku cerita wayang Mahabarata besutan Kosasih? Itu bacaan saya jaman kecil dulu. Nggak beli tapi nyewa. Bacanya pas musim liburan sekolah. Wah sampe rebutan.

    Pantes deh langganan Northwest.🙂 Komiknya bisa dibeli di Mall Ambassador dan Plaza Semanggi di Jakarta karena ada dua counter komik jaman dulu🙂

  12. Evia Says:

    Lho mas, opo hubungane langganan Northwest karo kesenian? Tangeh yo🙂

    Wah komiknya beli di jakarta. Dipendem dulu deh niatnya, nunggu mudik dolo.

    Mengenai batik, nggak hanya memakainya saja yang penting. Melestarikan dengan cara bikin batik sendiri. Perlu juga tuh digalakkan di sekolah sekolah bagaimana cara membatik. Sebetulnya nggak hanya membatik, tetapi tenun ikat, seni ukir. Indonesia jian sugeh tenan. Jaman saya SMP dulu masih ada ekskul karawitan. Entah sekarang.

    Percaya deh, kalau sejak dini generasi muda akrab dengan kesenian bangsa sendiri Insya ALlah nggak ada ceritanya colong colongan dan caplok caplokan.

    Orang luar aja bisa tersepona dengan kekayaan tanah surgawi, masak kita sendiri yang jadi pemiliknya menelantarkan. Alih alih memelihara kesenian sendiri, yang ada malah mengikuti habis2an budaya asing. Eh sekali lagi bukannya saya antipati lho dengan budaya asing.

    Betul Mbak, kalau kesenian kita di pelajari, dirawat, dihargai, dan dibanggakan pasti akan seawet musi klasik atau opera. Kasian ibu Rasinah yang harus menjual topeng Cirebon-nya untuk membayar biaya pengobatan. Tragis ya?

  13. Evia Says:

    Iyo mas, mesakke tenan ibu Rasinah. Ibu Rasinah ini contoh fenomena gunung es. Karena masih banyak ibu Rasinah ibu Rasinah lain yang terlantar di segala penjuru pelosok tanah air.
    Di Lombok ada adat tradisi yang mengharuskan anak gadis untuk pandai menenun. Orang tuanya malu kalau si gadis dah siap nikah tapi nggak bisa menenun. Itu salah satu syarat untuk menikah. Entah sekarang apa masih ada tradisi seperti itu. Mudah2an masih ada.

    Di Sumbar juga ada tradisi menenun yang diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Mudah2an tradisi seperti itu masih terpelihara.

    Yang terjadi di Jawa malah sebaliknya. Saya banyak melihat sentra sentra batik yang tadinya berjaya sedikit demi sedikit mati ngenes, seperti di banyak daerah di Jawa Timur. Generasi mudanya lebih suka merantau keluar daerah bahkan ke luar negeri jadi TKI. Cepet emang dapet duitnya dibanding nguplek di rumah bikin batik. Bukan salah mereka sepenuhnya karena tuntutan kebutuhan hidup yang harus segera dipenuhi, sedangkan batik pengerjaannya lama, nggak langsung dapet duit, dihargai murah pula. Masyarakat juga ikut andil dengan iming2 konsumerismenya. Pemerintah juga bertanggung jawab menjerumuskan keadaan jadi tambah parah. Ah pemerintah lagi pemerintah lagi. Bosen saya.
    Maunya sih gerilya sendiri dan persetan dengan pemerintah yang sudah nggak bisa diharapkan.

    Ah entahlah, saya sendiri juga bingung gimana membenahi benang kusut yang sudah ruwet banget ini.

    Saya pernah menawarkan untuk mengajar membatik di sebuah sekolah sebagai kegiatan ekskul. Gratis. Ditolak, entah apa alasannya, saya lupa. Yang jelas saya sedih. Suami saya sampai berujar bahwa pihak sekolah tidak bisa melihat hutan dalam sebuah pohon.

    Susah nyari murid untuk belajar membatik padahal di negeri sendiri. Sedangkan di Amrik, justru murid yang nyari guru membatik. Bahkan dibayar mahal. Saya malah nggak mau karena nanti makin banyak orang asing yang pinter membatik.

    Sama kasusnya dengan sentra kesenian Jawa Barat. Kerajinan pembuatan wayang golek semakin sedikit peminatnya karena dihargai murah oleh para makelar. Contoh2 lain seperti yang disebutkan merupakan refleksi bahwa kita memang tidak menjaga budaya sendiri. Bisa mbatik tho ? Wah, asyik banget, rupanya ibu yang satu ini sangat kreatif .🙂

  14. Evia Says:

    Kreatif? Hehehehe..nggak kali ya. Nyleneh kalau banyak orang bilang. Sedih nggak seh dibilang gitu. Di negeri sendiri belajar batik dibilang nyleneh, kurang gawean. Nelongso ati saya dibilang kayak gitu waktu dulu belajar batik.

    Kira kira mungkin nggak ya menggalakkan kesenian tradisional di sekolah sekolah? Sebelum saya oncat kemari, sempat membicarakan dengan beberapa teman tentang program penggalakan kesenian tradisional buat anak anak. Tenaga ada, waktu juga ada. Tempat yang nggak ada. Nyari di tengah kota, terbentur dengan biaya. Akhirnya ngemper di sebuah gedung kesenian. Nggak bertahan lama mas, selain karena nggak ada yang minat juga disebabkan saya harus pindah.
    Pengennya sih terprogram dengan jelas.

    Gimana kalau mas Toni mempelopori :)?. Asik lho. Menghubungi perajin wayang golek, seniman angklung, seniman gamelan, apa aja deh. Trus bikin planning, trus menghubungi sekolah. Ah…saya semangat buanget. Saya dukung buanget mas. Yuk yuk yuk….daripada nunggu pemerintah bertindak ibarat menunggu Godot

  15. boneka sigok Says:

    Seniman indonesia kurang dihargai pemerintah kita

  16. John Sihombing Says:

    I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future. Thank you

  17. ACI Says:

    Salah satu langkah kecil untuk ikut menghargai budaya lokal adalah dengan pendokumentasian digital atau museum virtual mengenai budaya lokal di Indonesia. Namun yang lebih penting sih apakah generasi muda masih memahami, bahkan mau mempelajari berbagai budaya lokal? Jangan sampai berbagai budaya lokal hanya tinggal sejarah dan hanya mendengar dai dongeng orang tua saja. Yuk kita kampanyekan lagi, “aku cinta Indonesia” namun lebih ke arah introspeksi dan kontribusi setiap individu dalam pelestarian dan pengembangan budaya di Indonesia.

Comments are closed.


%d bloggers like this: