Pasar tradisional tidak selalu jelek

Kapan terakhir ke pasar tradisional yang becek dan “harum” itu ? Pasar basah memang harus berkompetisi secara tidak sehat dengan mall dan supermarket modern yang ber AC dan tentu saja jauh lebih nyaman. Belum lagi mini market yang sudah masuk hingga pelosok perumahan terutama di kota2 besar mengalahkan warung2 kecil. Masa kejayaan pasar mungkin sudah lewat dan sekarang mencoba bertahan dari perubahan gaya hidup penduduk urban yang lebih memilih kepastian harga, all in one, kebebasan melihat/memegang barang, dan melakukan transaksi secara serentak terhadap item yang dibeli. Tidak semua pasar harus gulung tikar, Pasar di daerah Tebet contohnya, tempat yang sering saya kunjungi, untuk sekedar makan siang atau membeli keperluan sehari-hari.

Pasar Tebet merupakan salah satu lokasi pedagang tradisional di antara 150 pasar yang masih bertahan di Jakarta. Sebagaimana lazimnya sebuah pasar, kita bisa menemukan berbagai kebutuhan sehari-hari di sini dan buka sejak pagi buta hingga sekitar 7 malam. Lokasinya tidak terlalu jauh dengan patung Pancoran, di jalan Tebet Barat Dalam Raya, tepatnya sekitar 500 meteran dari jalan MT Haryono. Pengunjungnya bervariasi, selalu ramai pagi dan saat makan siang jadi parkir harus sabar karena selalu penuh.

pasar2

Terdiri dari tiga lantai, lantai pertama diisi oleh lapak penjual makanan (murmer dan pilihannya banyak), alat jahit, kosmetik, toko emas, dan alat tulis. Di lantai dua kita bisa menemukan peralatan dapur, sayur mayur, daging, dan barang2 pecah belah. Toserba Ramayana di lantai 3. (Hafal kan ? maklum sering banget ke sini๐Ÿ™‚ )

Terakhir, trivia tentang pasar di Jakarta :

  1. Dikelola oleh organisasi PD Pasar Djaya yang berada di bawah Pemda DKI.
  2. Terdapat 150 pasar di lima wilayah Jakarta yang terletak di tempat2 strategis. Lokasi pasar terbanyak berada di daerah Rawa Badak (Jakarta Utara) dengan 17 pasar
  3. Mengelola omset sekitar 150 triliun pertahun atau sama dengan 16 milyar uang yang beredar setiap jam nya bila beroperasi selama 24 jam.
  4. Punya kios atau lapak sekiat 90 ribuan
  5. Dua juta orang menjadi pengunjung setia pasar tradisional di Jakarta (20% penduduk)

pasar

Apakah pasar tradisional akan tetap bertahan ? Bila tidak dikelola dengan baik pasar dengan ribuan pedagang kecil sebagai tulang punggung ekonomi banyak orang akan tergilas oleh pertumbuhan pesat supermarket. Bila ingin bertahan pasar harus berlomba dengan menawarkan kenyamanan berbelanja tanpa harus tanpa meninggalkan ciri khasnya, di mana penjual dan pembeli bisa berinteraksi langsung, hal yang tidak didapatkan dari pasar modern.

Tags: , ,

13 Responses to “Pasar tradisional tidak selalu jelek”

  1. Elyani Says:

    Kapan terakhir ke pasar tradisional? minggu lalu Pak :)…Biasanya hari Sabtu pagi sehabis jogging, kira2 pukul 6.30 karena jam segitu jajan pasar (kue basah) baru datang dan banyak pilihan. Di Pasar Mandiri dekat tempatku ada lemper bakar yg enak, berbagai jenis sarapan seperti bihun goreng, nasi uduk, nasi kuning, nasi langgi, gado2, lontong sayur, mie ayam dsb. Pasar Mandiri untungnya gak becek dan bau. Kios2 kue letaknya di depan pas pintu masuk, diikuti dengan deretan warung sembako yg menjual minyak goreng, bumbu penyedap, hingga ikan asin. Di bagian tengah dibagi menjadi tiga, kios ikan segar, kios daging, sayur mayur dan buah2an, warung2 sembako, toko beras, penjual bumbu dapur. Masuk sedikit ada tempat permak baju, toko plastik, toko emas, dan toko pakaian. tapi pasar disini tidak bertingkat seperti Pasar Tebet. Pukul 2 atau 3 sore juga sudah tutup dan dikunci gerbangnya.

    Pasar dengan kualitas barang terbaik (tetapi mahal) menurutku adalah Pasar di Muara Karang. Jangan kaget kalau yg datang kesana ber Mercy dan BMW. Kios2 bajunya juga mahal2 karena barang dagangan yg digelar kebanyakan barang import dari Hongkong dan Korea. Disana surga makanan untuk yg senang dengan cita rasa masakan Cina Medan.

    El, pasar yang bagus koq tutup masih pagi ya? Enaknya di Tebet itu bisa sampe malem mereka masih pada buka kalau kantor ada kebutuhan mendadak untuk beli kue. Lontong Cap Go Meh masakan Medan bukan sih? Makanan maknyus favorit El, biasanya beli di Electronic City SCBD.

  2. the writer Says:

    Sayang pasar seperti ini tidak ada di Surabaya tempat ortu tinggal, jadi terpaksa harus “mengandalkan” tukang sayur.

    Tukang sayur itu berjasa banget karena untuk yang tinggal di komplek2 keberadaan mereka sangat diandalkan. Pemandangan di pagi hari adalah ibu2 yang seringkali masih pake daster mengerubuti si Mas sayur. What a view๐Ÿ™‚

  3. Ivy Says:

    karena aku ga tiap hari masak jadi terakhir pergi hari rabu hehehe… tapi pasar di puri indah ga becek2 banget sih…jadi inget dulu waktu masih di kota..ke pasarnya becek2 banget…biasa keluar dari sana kakinya blepotan๐Ÿ˜›

  4. katadia Says:

    Terakhir kali ke pasar? Terakhir kali saya pulang ke Jakarta, Juni tahun lalu. Hu..hu… kangen. Sebagian besar masa kecil saya dihabiskan di rumah Eyang di kawasan Kebayoran Baru. Dari batita, saya sering diajak Yu’Nem jalan kaki ke Pasar Mayestik. Waktu jaman pra-sekolah, saya ikut-ikutan nari Bali pada acra pembukaan pasar Mayestik.๐Ÿ™‚ I love that place. Ada pasar tradisionalnya, ada toko kain, ada esa mokan/genangku…

    Dulu juga ada bioskop disitu. Bapak saya suka ajak saya nonton film India di hari minggu. Sore-sore, saya suka minta ke toko buku Anggrek. Sekedar beli lilin-lilinan (kayak play doh), kertas lipat, lem, gunting, buku mewarnai dll. Waktu SMP, saya dan teman2 perempuan sering main ke Esa Genangku beli kertas surat.

    Waktu persiapan kelahiran anak saya Andra, saya beli bahan sprei/bantal/guling di Mayestik. Sekarang sprei kecil itu jadi “jimat” favorit anak saya. Namanya “blankie”. Nggak boleh ketinggalan dan kalo dia sedih selalu menjadi obat penenang. Bingung juga kalo ilang, karena di Canberra nggak ada yang jual dengan bahan dan tekstur dan warna pesis seperti yang dari Mayestik.

    Thanks for letting me being all sentimental about Mayestik.

    Pengalaman yang hampir sama, di bawa belanja sama ibu saya hingga bisa belanja sendiri jaman SD di Bandung. Hafal tempat2 belanja murah, tapi lama2 nyadar koq cuma laki2 sendirian di tengah ibu2๐Ÿ™‚ . Pasar selalu menarik dengan segala macam aktivitasnya, walau kadang wanginya “harum” yang justru sering membuat homesick. Maklum waktu saya di Amerika cuma melihat flea market dan farmers market. Anyway, senang bisa menggugah kenangan lama. Salam๐Ÿ™‚

  5. ecky Says:

    Aku terakhir ke Pasar Mayestik bikin baju seragam kawinan sepupu hehe… Kurang suka ke pasar tradisional karena biasanya musti tawar menawar, dan I’m not good at it hehehe… Tapi tiap abis fitting di Mayesting pasti pulangnya bawa bekel banyak, soalnya kan ada yang jual jajanan pasar enak di Lt. 2 yum…

    Dulu aku sering makan bubur ayam, bakso, soto mie + sate yang mangkal di depan Esa Genangku, sekarang udah gak pernah karena arah kantor dan rumah gak ngelewatin Mayestik hehehe

  6. ecky Says:

    Terakhir ke Pasar Mayestik bulan April, kelupaan ditulis kapannya๐Ÿ™‚

    Baru sekali ke pasar Mayestik dulu banget. Kayaknya pasar ini jadi favorit ya untuk kawasan Selatan, mungkin sekali-kali bikin liputan di sini. BTW, jajanan kue basah emang enak ya kalau dibeli di sini.

  7. Utty Says:

    Dulu waktu saya belum pindah rumah, pasar deket sekali dengan rumah, pembantu bisa tiap hari ke pasar (kadang-kadang kalau ada yang kelupaan ya bisa balik lagi, saking deketnya). Setelah pindah rumah, pasar agak lumayan jauh. Karena tukang sayur yang lewat di rumah bawaannya cenderung sudah abis-abisan dan sayurannya relatif sering sudah layu, saya tidak terlalu mengandalkan mereka. Pada dasarnya saya sendiri tidak terlalu suka ke pasar tradisional. Bukan apa-apa, beceknya itu yang nggak tahan. Kebetulan saya nemu pasar tradisional tapi “modern”, tempatnya bersih dan lapang, sampai-sampai ibu-ibu yang belanja pada bawa kereta belanja kreasi sendiri. Cuma karena tempatnya jauh dari rumah (sekitar 10 km), pastinya pembantu nggak bisa kesana sendiri (sebetulnya ada pasar yang lebih dekat dari rumah, tapi yaitulah pasarnya becek…). Karena kerja, jadi mau ke pasar tiap hari ya tentunya nggak bisa. Jadi saya biasa belanja ke pasar 2 minggu sekali alias stok untuk 2 mingguan deh. Orang-orang pada heran, ada pasar yang deket, koq dicari yang jauh. Nggak apalah, yang penting kan nyaman…..

  8. Anita Says:

    Oh, inget banget waktu kecil suka ikut ibu atau pembantu ke pasar, yang masih becek dan cuma terdiri dari gubuk-gubuk kumuh gitu. Senang banget bisa ikut milih kelapa atau lihat bagaimana pedagang menimbang gula merah. Lalu ke pasar ikan dan lihat segala jenis ikan dijual. Oh indahnya masa lalu!

    Jaman sekarang, supermarket gak memberikan pengalaman membekas!

    Senang banget posting tentang pasar, ternyata semua orang punya kenangan tersendiri dengan tempat ini. Indah banget ya ? Thanks Nita, for sharing your sentimental childhood experience.:) BTW, Congrat rumah barunya.

  9. Lorraine Says:

    Mas Toni,

    Aku juga eks klien Pasar Mayestik seperti Katadia. Sering sekali kesitu waktu kecil hingga besar (sayurnya, toko kelontong, jamu jawanya, buahnya, cendolnya di depan Esa Genangku, jajan pasarnya). Aku cinta Pasar Tradisional, karena banyak warna warninya. Dan masalah tawar menawar itu juga hal yg selalu menarik aku ke pasar tradisional. Dan selalu tempat langganan ibuku.

    Hmmm, jadi ngangenin liat foto2nya diatas.

    Sampai sekarangpun tinggal di NL, aku kalo bisa selalu ke Pasar Tradisional disini. Hanya disini Pasarnya 1 minggu sekali, selalu hari Jum’at.

    Thanks Lorraine, foto2nya sengaja di posting supaya orang yang tinggal di luar negeri jadi kangen dengan suasana pasar di Indonesia. Kapan2 ya kita pajang foto2 pasar Mayestik supaya tambah homesick pengen segera liburan ke sini.๐Ÿ™‚
    Pasar tradisional memang lebih personal karena pedagang dan pembeli seringkali sudah saling kenal. Hal demikian boro2 di dapatkan di supermarket kan ? Salam.

  10. Joice Says:

    Klo Aku pasar Kosambi Ton, sekarang pun klo ke Bandung saya menyempatkan diri beli Roti Cari Rasa..wah enak banget, anak2ku juga jadi ketularan..Beli abon cuma percaya ke Bu Ahmad, atau AN Sutisna..walaupun Kosambi Pasar tradisional, tetapi tempatnya tidak becek, hanya di bagian Tukang ikan yang basah lantainya..

  11. uwiuw Says:

    wah sy termasuk generasi yg ngak pernah masuk pasar tradisional. Walau miskin tetep aja belanja di supermarket heheheh

    Hi hi hi, makanya sekali-kali masuk ke pasar. Keseharian banyak orang di mulai dari sini. Pasar Anyar, Pasar Pagasih, Pasar Baru, tuh seabreg di Bandung.๐Ÿ™‚

  12. hengky Says:

    PASAR TRADISIONAL YG DIKEMAS MODERN!!! PERTAMA DI DEPOK!

    “pasar segar depok”

    Pasar tradisional, yang tertanam di benak kita, identik dengan suasana becek, kumuh, sesak, bau, tata letak lapak yang semrawut dan minimnya lahan parkir. Namun sekarang, buang jauh-jauh pemikiran itu. Soalnya sebentar lagi atau tepatnya awal november 2008 akan dibangun dan dilaunching ‘PASAR SEGAR DEPOK’ yaitu sebuah pasar tradisional yang dikemas modern dan profesional dari segi pengelolaan. Dengan rencana serah terima 12 bulan mendatang maka apabila ‘PASAR SEGAR DEPOK’ ini sudah jadi niscaya kita akan melihat sebuah pasar yang tertata baik, bersih dan segar, serta bisa dibilang bagaikan sebuah supermarket di pusat perbelanjaan ternama.

    Lokasinya yang strategis yaitu di Jl. Tole Iskandar (setelah jembatan S. Ciliwung) diseberangnya perumahan Bella Casa dari arah Margonda, Tentunya merupakan sebuah tempat yang teramat strategis untuk berusaha ataupun sekedar berinvestasi. Dengan dibangunnya ‘PASAR SEGAR DEPOK’ ini tentunya merupakan sebuah keuntungan dan merupakan sebuah surga belanja bagi warga Depok pada umumnya dan warga Depok II pada khususnya.

    Didalam ‘PASAR SEGAR DEPOK’ ini akan terdapat lapak. kios dan ruko yang didesign bersih dan rapi dan tetap mengutamakan keakraban pembeli dan penjual sebagaimana layaknya menjadi ciri khas pasar tradisional pada umumnya. Kami menamakan pasar tradisional itu pasar modern sebab konsep penataan dan pengelolaannya memang dilakukan secara modern dan profesional. Semua kios, lapak, dan toko pedagang ditata dengan tertib. Arsitektur bangunan pasar juga mutakhir. Nantinya pasar tradisional, di sini tidak becek dan tidak bau. Pedagang dan pembeli juga akan jadi nyaman

    Pasar yang yg akan dibangun akan berdiri di atas tanah seluas 1,8 hektare dan dibangun 2 lantai terdiri dari kurang lebih 440 kios, 356 lapak dan 38 ruko dilengkapi dengan area parkir yg luas dan memadai. Area pasar tersebut juga dilengkapi fasilitas khusus seperti ATM center, toilet, dan mushala.

    Mau Beli, Sewa Lapak, Kios dan Ruko di PASAR SEGAR DEPOK? Please STAY TUNED! Launching 01 November 2008

    Untuk info lebih lanjut HUB :

    HENGKY – 081314199029 / 94376817

    PT BUMI SENTOSA AGUNG
    Komplek Pertokoan Versailles Blok FC No 1, sektor 1.6
    BSDCITY, Tangerang
    Telp : 021-53164646
    Fax : 021-53164647

    Semoga Anda menjadi orang yang beruntung

  13. art Says:

    setiap kota punya keunikan dengan segala aktivitasnya termasuk pasar tradisional, di Toronto ada lokasi yang dinamakan Kensington Market, apakah ini disebut pasar tradisonal jawabnya bisa jadi ya..tapi disini nggak melulu cuma jual kebutuhan dapur tapi ada juga toko baju dll. sebulan sekali di minggu terakhir selama musim panas selalu diisi acara hiburan seperti musik dan pertunjukan2 lain, jadi memang ramai banget. seniman yang tampilpun bervariasi adanya pemula hingga prof. salah satunya teman saya dari grup kaminari, musik yang mengarah kepada spirit newages (penilaian saya), pasangan suami isteri dari jepang ini sudah melanglang buana dan pernah tampil beberapa saat di film Serendipity, yang dibintangi oleh John Cusack, Kate Beckinsale, dan Jeremy Piven, grup ini sedang diusahakan untuk bisa tampil di Jakjazz 09 (mudah2an sih bisa gol), ada beberapa celebrity seperti hollywood mampir kesini nah satu diantaranya yang kerekam media setempat adalah Drew Barrymore. Ada juga seniman sekaliber Bob Snider yang ngongkrong sebagai pengamen di tepi jalan. Bob Snider lebih dikenal sebagai seorang singer/songwriter mulai dari Toronto hingga Nova Scotia, Canada.
    tempat ini memang punya sejarahnya yang cukup panjang dimulai dari tahun 1815, percampuran budaya membuat kekhasannya tidak menjemukan, kalau nggak ada kepentingan, biasanya saya mampir sehabis pulang gereja, jaraknya cuma 20 berjalan. kadang saya mampir di restonya mexico untuk melepas kangen mengingat teman2 mexico saya ketika tinggal di LA. Nah inilah tempat hiburan saya melihat berbagai budaya yang membaur dalam ruang Kensington Market, sambil beli sayur, buah2an dengan menikmati penampilan seniman yang mendemonstrasikan kehebatannya. kalau bung Ton ada tugas ke toronto, mampir, kalau saya masih disini saya temanin, sebab ada rencana saya untuk hidjrah lagi ke BC. hehehehe, saran anda untuk bikin blog saya bakal kerjakan.

Comments are closed.


%d bloggers like this: