Bumi pun tersenyum dalam sekuntum bunga

Di Lapangan Banteng Jakarta sedang berlangsung pameran tanaman yang akan berlangsung hingga tanggal 25 Agustus mendatang. Baru pertama kali saya ke sana dan mengagumi keindahan koleksi tanaman dan bunga yang dipamerkan oleh para peserta. Memang kebanyakan mereka memajang koleksi yang sedang lagi nge-trend di tengah masyarakat, seperti pohon kamboja yang dibonsai denga harga jutaanrupiah, tapi banyak juga jenis tanaman lain yang ditawarkan seperti zodia untuk mengusir nyamuk dan nama2 aneh yang susah saya tuliskan di sini.

Mungkin sekitar seratusan lebih peserta pameran termasuk juga peserta yang menjual berbagai fauna seperti ular, anjing, kura2, dan hamster. Walau tempat parkir terbatas terutama saat weekend dan harus bayar 5 ribu, pameran seperti ini tentu layak dikunjungi. Hampir tiga jam saya menghabiskan waktu di sini, ngobrol dengan para pedagang bunga, tanya sana sini, foto2 (ini sudah pasti), dan diakhiri dengan seporsi kerak telor plus teh botol sebelum kembali pulang di senja minggu kemarin menembus kemacetan Jakarta.

Kecuali foto terakhir, semua objek diambil dengan menggunakan lensa makro Canon EFS 60mm/f2.8.

Silakan nikmati foto bunga yang saya ambil di sini, sebagian sudah di upload di Flickr saya.

Sementara saya ingin kembali membaca ulang buku klasik “The Malay Archipelago” tulisan dari Alfred Russel Wallace mengenai kekayaan alam Indonesia sembari mengkhawatirkan proses penggundulan hutan terbesar di dunia yang terjadi di negeri kita. Kelak, mungkin bumi tidak akan lagi tersenyum dalam sekuntum bunga seperti yang diungkapkan oleh Ralph Waldo Emerson.

Salam.

Tags: , , ,

3 Responses to “Bumi pun tersenyum dalam sekuntum bunga”

  1. sima Says:

    pohon seharga jutaan rupiah? wah… memang kesenjangan antara yg kaya dan miskin lebar sekali ya… coba uangnya buat beli beras, dapat berapa karung tuh.

    Ada juga yang sampe puluhan juta rupiah koq. Memang susah kalau sudah hobi. Elyani sudah menjelaskan di bawah mengapa bisa mahal.πŸ™‚

  2. Elyani Says:

    Toni,

    Buku diatas sudah dicatat dalam daftar harus beli kalau ke toko buku. Selama ini info tanaman dan jenis2 hewan mengandalkan majalah Trubus atau Flona. Itupun belinya gak rutin. Tanaman hias beberapa tahun terakhir ini memang sedang naik daun dikalangan hobiis. Jadi tidak aneh kalau satu pohon bisa berharga jutaan rupiah. Karena perawatan-nya saja ampun deh, bak merawat tuan puteri. Misalnya saja saya pernah baca ada tanaman hias yg daun-nya harus dimandikan dengan susu per-helai. Bukan sekedar dituang ya, tapi harus di-lap satu persatu. Sinar mataharinya juga gak boleh terlalu sedikit atau kebanyakan. Pokoknya ndoro banget dehπŸ™‚

    Sama kayak yang hobi burung El, sampe ada yang punya kamar khusus, di AC pulaπŸ™‚ . Bukunya semacam travelogue waktu si pengarang melakukan perjalanan ke Indonesia. Sering disejajarkan dengan tulisan Darwin saking bagusnya.

  3. juliach Says:

    Dulu sewaktu di Indonesia, aku termasuk pengemar ekspo ini. Karna aku tukang koleksi anggrek. Itu jamannya masih bujang.

    Sekarang, sudah beranak, aku menjadi pengemar flora/fauna gratis. Tak peduli harganya mahal atau murah, yang penting bisa jadi penyedap mata.

    Salam kenal. Foto-fotonya bagus sekali.

    Mbak Julia salam kenal. Kebetulan rumah saya yang di Bandung berdekatan dnegan florist, jadi harumnya selalu “menggoda’ dan jadi senang mengamati bunga2 setiap ada kesempatan.πŸ™‚

Comments are closed.


%d bloggers like this: