I sue you

“Have you been injured? You may be entitled to a Cash Award!”

Ini salah satu iklan yang sering saya lihat dalam iklan2 TV kabel di Amerika dan berbagai hotline (vanity telephone number) 1-800-XXXXX. Para lawyer berlomba-lomba menawarkan bantuan hukum di halaman di berbagai media termasuk yellow pages. Court TV menyajikan “entertaintment” drama yang terjadi pengadilan 24 jam penuh. Cause celebre yang mengupas kasus2 hukum para selebritis selalu di liput secara live karena sensasional dan tentu saja mendatangkan uang dari iklan. Inilah Amerika dimana 1 diantara 4 orang bisa terjerat kasus hukum dan 70% jumlah pengacara di dunia ada di sini. NY Times hari ini (7 Juli) me-review dua buku baru THE LITIGIOUS SOCIETY yang ditulis oleh Jethro K. Lieberman dan THE SUING OF AMERICA oleh Marlene Adler Marks. Buku ini mengupas apalagi kalau bukan kegemaran orang Amerika meneriakan kata “I Sue You” untuk perkara favorit seperti product liability, medical malpractice, environmental protection, public institutions and governmental immunity.

Harga celana panjang di toko mungkin sekitar kurang dari 50 dolar. Di pengadilan Washington DC Roy L Pearson (Pearson vs Custom Cleaner) yang kebetulan seorang hakim menuntut 67 juta dolar karena sebuah laundry dituduh telah lalai menghilangkan celana favoritnya. Di Minnesota seorang anak mengadukan orang tuanya ke pengadilan karena tidak mau ikut berlibur dengan mereka. dan berhasil memnangkan perkaranya di pengadilan. Banyak pihak menganggap bahwa berbagai kasus hukum di Amerika sudah keterlaluan.

Kotapraja harus berhati-hati membuat galian di jalan dan diberi pengaman serta peringatan agar orang tidak terperosok. Iklan dalam berbagai bentuk harus sesuai dengan janji yang diklaim. Dokter tidak bisa memberikan advis di luar ruang praktek atau berbaik hati menolong orang yang terlibat kecelakaan di jalan. Gelas minuman panas harus diberi peringatan sejelas-jelasnya. Semua dilakukan karena orang berusaha menghindari tuntutan hukum yang menghabiskan waktu dan biaya besar. Setiap orang bisa saja dituntut untuk alasan apapun.

Pertanyaan mendasar, mengapa masyarakat Amerika begitu kecanduan terlibat dalam perkara hukum? Menurut Eva Rodriguez, Editor Legal Times, ada kecenderungan yang tidak sehat dalam sistem hukum di Amerika dalam wawancara nya dengan NPR. Menurutnya, setiap individu yang frustrasi bisa menyalurkan kekesalannya dalam sebuah frivolous litigation, bahkan untuk kasus2 yang tidak masuk akal sekalipun karena sistem hukum Amerika memberikan ruang yang luas bagi setiap orang untuk berperkara di pengadilan.

Sistem hukum Amerika memang berasal dari Inggris, namun berbeda dengan bekas “koloninya”, jumlah lawsuit di Inggris hanya berjumlah sepertiga atau 1.2 kasus per 1000 penduduk. Salah satu sebab menurut penelitian dari (Baye & Vries) adalah legal fees. Di Inggris, pihak yang kalah harus menanggung sebagian pengeluaran yang dikeluarkan oleh pengacara lawan. Insentif ini membuat banyak pihak berpikir dua kali untuk mengajukan tuntutan hukum kecuali yakin akan memenangkan perkara di pengadilan.

Kadang hakim memutuskan untuk memberikan denda terhadap tuntutan hukum yang terbukti mengada-ada. Di Texas, Daimler Chrysler terlepas dari perkara hukum dan tiga penasihat hukum dari pihak lawan harus membayar denda 900 ribu dolar karena terbukti menggunakan bukti yang dipalsukan terhadap sistem kemudi kendaraan yang ternyata tidak bermasalah. Kasusnya di sini.

Film dan novel hukum tidak pernah berhenti diproduksi dan sedikit banyak mempengaruhi mind set masyarakat Amerika. Mereka mungkin membayangkan pekerjaan lawyer yang glamour dan settlement jutaan dolar kalau kasusnya dimenangkan di pengadilan. Median penghasilan penasihat hukum menurut wiki answer berkisar antara 90 hingga 170 ribu per tahun, cukup besar untuk membuat profesi ini terus diminati. tapi yang membuat profesi ini marak adalah kasus2 yang bisa menghasilkan jalan pintas menuju kekayaan saat memenagkan settlement jutaan dolar.

Kultur hukum Amerika yang sudah berusia ratusan tahun dan konstitusinya membuat orang bisa mengajukan setiap perkara apapun dengan mudah ke pengadilan. Apapun motifnya, uang, balas dendam, ketenaran, hingga iseng2 berhadiah. Dua puluh lima tahun yang lalu ketua Mahkamah Agung, Chief Justice Warren Burger menyatakan : “mass neurosis … leads people to think courts were created to solve all the problems of society.” Amerika percaya bahwa pengadilan adalah the first resort ketimbang menyelesaikan perselisihan perdata dengan alternative dispute resolution.

Salam.

Tags: , ,

5 Responses to “I sue you”

  1. Elyani Says:

    Mas Ton,

    Saya baru tau yg namanya court TV ketika saya pergi ke Kanada tahun lalu. Ada yg khusus menangani small claims seperti yg disebutkan diatas, ada hakim yg khusus menangani perseteruan keluarga, pendeknya pengadilan jenis ini unik karena tidak adanya pengacara dan hakim kadang2 boleh membentak atau marah kalau si terdakwa ber-belit2, histeris dsb. Menurut saya orang Amrik sangat keranjingan dengan yg namanya reality show. Makanya perkara tuntut menuntut akhirnya menjadi budaya yg sangat melekat karena selalu dihadirkan di ruang tamu mereka setiap hari.
    Disatu sisi bagus, karena memberikan perlindungan bagi konsumen, warga negara. Tetapi kadang small claims seperti yg saya tonton terlalu mengada-ada. Mungkin mindset saya berpendapat seperti itu karena budaya kita adalah “budaya nrimo”. Lagian disini kalau mau nuntut larinya musti kemana? siapa yg mau mendengarkan suara kita?

    As Rima said, image pengadilan kita sangat buruk, makanya orang malas berurusan denganpara penegak hukum. Setidaknya di negara2 Barat, tidak sepenuhnya sempurna, tapi hukum masih bisa diandalkan. Court TV memang jadi “hiburan” sampai2 dulu di tahun 80an ada film “Night Court” sebuah parodi pengadilan tengah malam di Amerika.

  2. Chocoholic Says:

    @ Mbak Elyani: yah kalo di indonesia sih, kasus yang beneran aja ga bisa dijadiin kasus pengadilan.

    @ mas toni: bener banget soal ini, like, inget gak kasus ibu2 yang menang berapa juta dolar vs. mcDonalds gara2 coffenya tumpah di atas paha, padahal yg tumpahin dia, di mobil dia. dan dia sue gara2 waktu itu di cupnya tidak ada tulisan “warning, hot contents!” gituh, itu kan bloon banget.

    dulu pas beli telpon, di manual telpon itu (yg buatan amerika) ada tulisan warning: you must not put the phone inside a microwave because it might damage the phone and the microwave.

    Itu juga pasti a product of american litigations. lol

    Iya, kasus McDonald sangat monumental dan jadi preseden buat semua perusahaan untuk memberikan warning sebelum ditutut oleh konsumen, seperti peringatan “aneh” di buku telepon. Hanya ada di Amerika๐Ÿ˜€

  3. Finally Woken Says:

    Kantor saya yang terakhir sering sih dapat ancaman dari (katanya) pengguna product. Ada yang menelepon bilang pake salah satu penyubur rambut malah ketombean dan ngancem teriak-teriak. Saking takutnya kantor saya dan demi jaga nama baik perusahaan, ditawarilah uang, jumlahnya gak banyak. Eh, mingkem…. Ada yang bilang bibirnya biru abis pake lipstick, setelah diteliti, lha wong barang palsu! Kasian deh legal department kita, sibuuukk….

    blockquote>Duh Mbak, dulu jaket kulit produk kita pernah mau dibawa ke pengadilan oleh NGO pelindung binatang di Amerika gara2 cara pemotongan hewannya yang dianggap barbar karena dilakukan secara manual. Kasus2nya masih panjang dan memang banyak yang tidak masuk diakal. Perusahaan besar kadang tidak mau image-nya terganggu gara2 noise yang tidak perlu. Makanya settlement alias amplop sering jadi pilihan supaya “mingkem”.๐Ÿ™‚

  4. therry Says:

    Hmmm … jadi inget Judge Judy! lol

    Enak yah di Amrik, konsumen bener2 dihargai.. emangnya disini, mau protes, ya protes aja sono, toh yang beli produknya masih banyak!

    Hehe. Waktu Breadtalk diisukan roti2nya tidak halal aja orang2 masih cuek bebek ngantri beli, yang penting mak nyuuus…

    Enak banget, konsumen bener2 jadi raja karena YLKI sana posisinya kuat sekali. Barang yang dibeli boleh ditukar, asal bon-nya masih lengkap. Di kita mah boro2.
    Breadtalk ? Jadi lapar nih …๐Ÿ˜€

  5. Elyani Says:

    @Therry: nah itu dia, sertifikasi halal disini kan ada masa kadaluwarsanya. Meski tadinya dapat cap halal, kalau lupa diperpanjang langsung deh di-isukan gak halal. Kalau gak salah yg mengeluarkan label halal ini MUI ya? Repot juga ya bolak balik ngurus masalah beginian.

    MUI yang mengeluarkan sertifikasinya dengan alasan untuk melindungi konsumen muslim. Sebenarnya. mengapa logika gak dibalik, yang non-halal saja disertifikasi, mungkin akan lebih mempermudah pekerjaan MUI.

Comments are closed.


%d bloggers like this: