Telinganya harus terlihat

Ini sekedar update dari posting Visa Amerika untuk yang berjilbab. Kedutaan Amerika memperbolehkan pemakaian jilbab dalam pas foto untuk aplikasi Visa. Syaratnya telinga harus terlihat, itu saja. Sebagai contoh ini foto teman saya yang berbaik hati mengizinkan contohnya dipajang di blog ini.

Biaya pengajuan Visa Amerika sampai dengan tulisan ini dibuat adalah 1.2 juta atau 136 US$ dengan kurs yang ditentukan oleh mereka.

Semoga berguna

Tags: , ,

5 Responses to “Telinganya harus terlihat”

  1. Andie Summerkiss Says:

    Can anybody tell me why they need the lobes?

    I really don’t know the intent Andie, while they have biometric system in their port of entry.

  2. Evia Says:

    Masak sih? Maaf mas, info bahwa foto wajah bagi yang berjilbab harus memperlihat telinga, adalah menyesatkan. Saya membaca di websitenya kedutaan Amerika enggak seperti itu. Coba baca linknya deh: http://jakarta.usembassy.gov/consular/NIVPHOTO.html. Disitu ditulis bahwa “Head coverings and hats are only acceptable due to religious beliefs.”

    Saya sendiri memakai kerudung, dan selama ini belum pernah diminta untuk foto yang memperlihatkan telinga.

    Fotonya diambil dari visa Amerika teman kantor yang diharuskan di foto dengan memperlihatkan telinga. Kalau Ibu sudah pernah mengajukan Visa Amerika dan tidak diminta untuk memeperlihatkan telinganya, saya akan tambah informasi ini.

  3. Evia Says:

    Kalau saya boleh komentar, keterlaluan sekali pemerintah Amerika itu. Sok banget. Kalau saya berada di posisi teman kantornya mas Rudi, saya nggak mau memperlihatkan telinga wong itu masalah keyakinan. Nggak lungo neng Amerika gak pathek’en. Level benci saya sama Amerika sudah di ubun ubun setelah melihat kesombongan mereka. Yang ngantri di kedutaan untuk mendapatkan Visa sampe nginep segala semalam sebelum nya (waktu itu tahun 2000 kalau nggak salah). Saya tahu sendiri karena ada teman saya yg dari Bandung bercerita.

    Ndilalah, Gusti Allah nggak mengijinkan umatNya untuk saling benci. Saya dikasih jodoh dari bangsa yang saya benci. Jangan ditanya deh gimana prosesnya. Jatuh bangun kayak lagu ndangdut.
    Begitu juga urusan visa.
    Bukan karena berjodoh dengan lelaki Amerika lantas saya mudah mgurus visanya. Enggak lho.
    Pernah ditolak di konsulat Amerika di Shanghai. Proses visanya juga sangat ndangdut sekali. Bisa jadi cerber kalau saya paparkan disini.

    Tetapi ternyata mendapatkan visa Amerika enggak sesulit visa dari negara lain, Belanda misalnya. Menurut pengalaman saya, Amerika masih manusiawi dan mematuhi aturan negara yang ditempatinya.
    Wah mas kalau diceritakan disini bisa jadi novel.

    Terima kasih sudah mengijinkan saya berbagi cerita di sini. Dan terima kasih juga sudah bersedia mengunjungi rumah maya saya.

    Salam hangat
    Evia

    Sama2 Mbak. Pengalaman saya dengan Amerika terutama saat masuk ke imigrasinya sangat tidak menyenangkan. Nama saya yang muslim mengharuskan saya menjalani “secondary check” istilahnya walaupun sudah berkali-kali masuk ke negara ini. Pemeriksaan berulang harus saya jalani termasuk pencatatan nomor kartu kredit beserta semua kontak saya di Amerika. Mau apa lagi, memang ini sudah peraturan negara mereka.

    Saat bertemu dengan petugas Public Affairs kedubes mereka di Jakarta saya menyampaikan keberatan atas perlakukan ini. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena ini kebijakan Homeland Security dan Deplu mereka.

    Terima kasih sudah sharing di sini. Salam.

  4. Evia Says:

    Wah ternyata komentar saya nggak bisa diedit yah?
    Saya minta maaf mas karena salah nyebut nama jadi mas Rudi.

    Memang betul, sudah lolos dapat visa nggak lantas langkah selanjutnya jadi mulus.

    Mengenai perlakuan imigrasinya, yah gimana lagi emang aturan mereka seperti itu. Saya juga mengalami perlakuan yang sama setiap kali masuk negara ini. Sang petugas bilangnya “random check”, tapi lha kok saya kena terus. Namanya “random check” kan mustinya kadang kena kadang nggak kena.

    Waktu visa saya ditolak, saya sebetulnya masih adem walaupun dongkol. Ademnya karena sudah mempersiapkan mental untuk ditolak sebagai perempuan muslim Indonesia. Dongkolnya karena tujuan visa saya adalah untuk menengok mertua yang sedang sakit keras. Dokumen dokumen pendukung diantaranya dari rumah sakit yang merawat mertua saya nggak dilirik sama sekali.

    Justru suami saya yang mencak mencak lantas protes ke bagian pelayanan penduduk di konsulat tersebut. Saya yang bermaksud menenangkan suami dengan mengatakan “ya maklumlah yg minta visa ratusan setiap hari, petugasnya mungkin mblenger”, malah dimarahin balik sama suami. Lha kalau nggak mau capek pulang aja sana ke negaranya, wong mereka kemari dibayar oleh negara melalui pajak yang saya bayar. Mingkem deh saya dapat jawaban seperti itu.

    Benar juga sih pendapat suami saya. Beda dengan pemikiran saya yang terbiasa dengan filosofi “nrimo”. Saking nggak trimanya diperlakukan seperti itu, suami saya sampai mengadu ke senator. Karena suami saya berkoar ke hampir semua orang, walhasil beberapa orang yang mendengar kisah suami saya juga ikut mengadu ke senator di negara bagian masing masing.

    Singkat cerita, Alhamdulillah salah satu senator memberi tanggapan dan akhirnya memberi jalan keluar kepada kami. Ini bukan KKN, tapi prosedur wajar seorang rakyat yang mengadu kepada wakilnya bila ada pelayanan pemerintah yang dirasa tidak memuaskan rakyatnya. Toh saya minta visanya juga melalui prosedur yang benar dan ada alasan kuat serta ada dokumen dokumen yang mendukung.

    Intinya sih, petugas yg menolak visa saya tersebut malas bekerja. Daripada harus “cross check” ke pemerintah pusat di Washington dan Indonesia, paling gampang ya tolak aja.

    Oalah Mbak, tibake sampeyan senengane petis tho … nganggo gak patheken barang …

    Rame sekaligus greget mendengar ceritanya. Moga2 lancar seterusnya.🙂

  5. Evia Says:

    Iya. hehehehe….petis dan segala pendampingnya yang bikin orang lain gilo, seperti rujak cingur, tahu tek tek, tahu petis dll. Apa sih ya bahasa Indonesia yang pas buat padanan “gilo” ini? bukan jijik, bukan pula geli, tapi apa yah?)

    Saya juga susah nih mencari padanan kata yang pas untuk “gak patheken”.

    Terima kasih doanya. Setelah nyampe sini Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Urusan kartu hejo juga lancar jaya. Kalau saya membaca berbagai kisah orang orang yang mengurus si kartu ijo di Kedutaan Amerika di Jakarta, petugasnya banyak yang nggak ramah (lebih tepatnya judes). Minta ditabok dah. Beda dengan petugas konsulat Amerika yang saya temui di Surabaya. Penuh senyum dan ngomongnya juga lemah lembut. Yang saya maksud adalah petugas orang Indonesia, bukan orang Amerikanya ya.

    Petugas lokal di Jakarta memang punya reputasi yang cukup masyhur karena “keramahannya” itu.
    Bahasa lokal memang kaya Mbak, jadi biarin aja seperti itu. Selamat datang kembali ke negeri ini😀

Comments are closed.


%d bloggers like this: