Bye bye hotel bintang lima

You don’t need to spend the nights  in the park to save cost, but do please avoid 5 stars hotel in order to cut your travel budget. Mungkin begitu kira2 pesan bos saya kepada seluruh anak buahnya untuk menggencarkan penghematan di semua lini. Ekonomi Amerika memang lagi gering dan perusahaan2 yang banyak melakukan travel bagi staffnya, termasuk kami, harus pintar2 menyiasati situasi ini. Di bawah ini beberapa hal yang biasanya kami lakukan untuk memotong biaya perjalanan yang semakin mahal.

  1. Penerbangan jarak dekat maupun dekat gunakan kelas ekonomi. Padahal sebelumnya untuk trip jarak jauh seperti ke Amerika diperbolehkan mengambil kelas bisnis di SQ yang nyaman. Tricknya, banyak2 stretching untuk menghindari deep vain thrombosis saat kaki tiba2 kejang dan sakitnya minta ampun.
  2. Gunakan budget airlines. Sebisa mungkin tidak menggunakan premium carrier kalau rutenya masih bisa dilayani budget airline seperti Air Asia atau Tiger Airways.
  3. Tidak ada lagi kemewahan Four Seasons, Mandarin, Sheraton, Hyatt, dan berbagai hotel bintang lima lainnya. Kalau di Singapura harus cukup puas dengan hotel pinggirian, maksudnya agak jauh dari Orchard Road, itu pun harganya sudah sekitar 800 ribuan per malam. Demikian juga di Kamboja, Malaysia, atau Vietnam, travel agent kami dilarang mengklik keyboardnya ke nama2 hotel di atas dan mulai mencari corporate rate nama2 hotel yang jarang terdengar. Yang susah disiasati selama ini adalah Hong Kong dimana harga2 hotel di kawasan bisnis seperti Tsim Shia Tsui sudah kelewatan. Boleh tidak percaya kalau saya pernah menginap di ruangan yang luasnya hanya 25 meter persegi dengan nett price sekitar 1.5 juta per malam
  4. Minibar di hotel adalah untouchable. Perusahaan sudah tidak mau mengganti lagi walau hanya sekedar soft drink. Jadi setiap hari menjadi pelanggan tetap ke 7Eleven untuk membeli supply air dan snack.
  5. Breakfast. Kalau harganya inclusive dengan room rate silakan ambil, tapi kalau jadi lebih mahal, bye bye juga. Kalau tidak di hotel sarapan pagi harus membiasakan diri antri di fast food yang biasanya sudah buka sejak pukul enam pagi.
  6. Telepon hotel. Big No. Beli calling card yang murah yang kalau menelepon ke indonesia kadang suaranya bergemuruh seperti ada angin puyuh. Nasib.
  7. Internet hotel. Masih boleh tapi sebisa mungkin dibatasi untuk menerima emai.
  8. Tidak ada lagi jemputan dari hotel di airport. Limousine ? Apalagi. Cari taxi atau kalau bisa naik airport shuttle yang harganya bisa 50% lebih murah dari taxi. Satu lagi, kalau masih bisa naik MRT yang ada di airport, saya sudah coba di Singapura dan Hong Kong yang memang murmer tapi repot dengan barang bawaan.
  9. Hindari membuat itinerary nanggung seperti pulang di weekend. Kalau bisa urusan di selesaikan hari itu juga dan langsung pulang. Kalau ke SIngapura masih bisa, tapi kalau ke HK bisa berabe. Bangun jam 4 pagi ke airport, naik Cathay jam 7 ke HK, sampe setelah makan siang di sana, langsung meeting, pulang lagi malam. Sampai di bandara jam 2 dinihari, ketuk pintu rumah jam 3, beres2 dan tidur jam 4, bangun lagi paginya untuk ke kantor. SIlakan dibayangkan sendiri.
  10. Biar mereka yang bayar. Bisa dilakukan alau ada proyek gak jelas dan client minta kita datang, mereka yang bayar semua akomodasi termasuk hotel dan transport di sana. Tinggal dihitung, sodorkan biayanya, biasanya sih mau.

Jadi sambil menunggu ekonomi membaik, kami masih bisa menikmati akomodasi hotel yang bukan bintang lima. Kadang layanan mereka lebih personal karena tamu tidak sebanyak di hotel2 besar. Trade off yang sebenarnya tidak terlalu membuat patah semangat kan ?

Salam.

Tags: ,

4 Responses to “Bye bye hotel bintang lima”

  1. Elyani Says:

    Mas Ton, budget airline gak enaknya tempat boardingnya suka jauuuuh banget ya! Saya pernah naik Value Air dari Singapore ke Jakarta, aduh posisi boarding gatenya kebagian paling ujung sendiri. Gak masalah sih karena bandara Changi sangat nyaman, cuma gak ada tempat cuci mata seperti toko buku atau pernak-pernik apalah buat sekedar di-lihat2. Making keujung, ya gak ada yg mau jualan disana🙂

    Emang sih El, terus makanan harus beli pun, pesawatnya kadang sudah tua. Namanya juga budget, ya harus puas dengan fasilitas seadanya, termasuk borading yang jauh itu.😀

  2. therry Says:

    Wow. Even big companies are tightening their pockets too. This is freaking me out!

    Yes they are Therry. Hope your business doing well as I knew you’re very talented graphic designer.🙂

  3. Finally Woken Says:

    What big companies have been doing is gathering their buying power from all over the world and bargaining as a bulk to their suppliers (including airlines and hotels).

    The last company I worked for before moving to Scotland got good rates with certain airlines, but the problem is handling the travelers. There were too many sudden meeting plans, which means it was too late to find a good rate for the flight. Also sometimes there was ‘naughty’ traveler who was sent to Paris, for example, but decided to fly back from Brussels, and it had impact on the cost. And sometimes, bosses insisted that flying business class and using their mobiles anywhere in the world rather than using calling card is their allowances. And no one wanted to fly any other carrier rather than Garuda and the company wouldn’t take the risk for its staffs’ safety with other airlines.

    And actually after we did the research, travels was only 10% of our annual total expenditure.

    Maybe your company might want to take a look at the big picture first rather than trying to save USD 2.00 for a bottle of water whilst there is something much bigger they could/should save…

    Hi Mbak, hope you had a good trip here. Interesting idea ! BTW, similar experiences with naughty bosses here who often calling with his mobile, access emails from blackberry instead of using office connection. Last minutes changes of itinerary has become a habit due to nature of work. Hope the situation getting better, as I miss those good days.

  4. Sharon Says:

    Hwah… Jadinya terasa kerja sendiri. Karena kerja dengan perusahaan asing pun sekarang jadi biasa saja. Hehehehe.. Kan yang bikin perusahaan asing terlihat menarik adalah fasilitas-fasilitasnya🙂

    Hi Sharon, thanks sudah mampir. Beberapa perusahaan asing masih menawarkan fasilitas bagus terutama untuk tenaga kerja ahlinya, tapi untuk posisi umum biasanya mereka sudah melakukan benchmark dengan perusahaan serupa. Jadi, ya tergantung kita juga.😀

Comments are closed.


%d bloggers like this: