Jangan beli "Made in Amerika" di FO

Weekend di Bandung sambil belanja di factory outlet (FO) memang menyenangkan walaupun harus berjuang dengan kemacetan yang semakin parah. Ini posting singkat saja mengenai tips belanja di FO, supaya bisa mendapatkan barang asli dengan harga miring. Barang dari label yang branded banyak yang bertebaran di sini, baik yang asli apalagi yang pura2 original, seabrek.

Biasanya para pemilik FO mendapatkan barang dari sisa ekspor pabrik2 garmen. Mereka menyebutnya stock lot dan dijual dalam partai besar. Aturannya, sisa ekspor harus dicabut label dan berbagai penanda dari brand yang bersangkutan, tapi pada prakteknya banyak yang menjualnya dengan label lengkap. Kasus ini susah dilacak karena jaringannya rapi, jadi seperti membuka kotak pandora. Ribet. Selain itu label mudah didapatkan dan dijamin sama dengan merek asli. Tinggal tempel maka jadilah seperti produk asli. Lalu bagaimana membedakannya?

Tidak mudah, tapi beberapa tips di bawah ini moga bisa membantu :

Perhatikan label baik2. Kadang karena terlalu bersemangat memalsu sehingga mereka lupa menyebut “made in America” menjadi “Amerika”. Produk asli sisa ekspor biasanya tidak menyertakan label kertas seperti yang biasa kita lihat pada denim atau jeans. Jadi kalau label kertas masih bertebaran, bisanya jean tersebut dipastikan didapatkan di pasar Tanah Abang.

Kedua, kancing atau button. Barang branded selalu menyertakan mereknya ke bagian terkecil seperti kancing. Kalau ada brand “X” tapi kancingnya polos, sudah pasti itu produk jadi2an.

Ketiga zipper atau risleting. Sama dengan kancing, harus disertai dengan merek yang bersangkutan. kalau zippernya YKK atau malah polos, itu mah barang kodian.

Keempat Stich per inch. Ini istilah Quality Assurance dan agak susah dilihat. Praktisnya begini, semakin rapat jahitan, semakin yakin bahwa barang yang kita beli asli. Mengapa? Benang jahit itu mahal, dan konveksi rumahan berusaha menghematnya dengan melebarkan jarak jahitannya.

Kelima, label yang asal tempel. Coba lihat kemeja atau blouse yang sekedar menempel label. Biasanya label disertai dengan keterangan lain berupa kode2 angka. Jadi hindari beli barang FO yang hanya ada label tanpa keterangan apapun karena pemalsu seperti ini masih taraf amatir.

Terakhir, walau tidak menjamin keaslian barang, lihat benang yang masih belum digunting di bebebrapa bagian. Barang asli harus bersih dari uncut thread dan ini wajib hukumnya.

Tips di atas tidak menjamin kita selalu mendapatkan barang asli karena pemalsu sudah sedemikian canggih. Tapi setidaknya bisa dijadikan pedoman agar tidak tertipu membelanjakan uang hanya untuk beli barang non original.

Selamat belanja di FO.

Tags: ,

11 Responses to “Jangan beli "Made in Amerika" di FO”

  1. herliando Says:

    hai, thanks bgt bwt infonya. hmm… bener jg kalo ada tmen gw yg blg kalo Indonesia pernah menduduki rangking 3 dunia dlm msalah pembjakan. gak tau jg tahun ni dpt peringkat brapa, kira2 bkal naik gak ya? hehehe…
    *keep posting, you are so talented on writing!

    Thanks Herli, looking forward to reading you comments.🙂

  2. therry Says:

    Woohoohoo… gile mantab bgt nih tipsnya, mayan buat hunting kalo ke FO.

    Tapi saya sebenernya gak gitu peduli dengan branded stuff sih. Bagus ngga berarti harus branded kan🙂

    Lagipula udah bukan jamannya sekarang pake baju dengan brand logo segede-gede gaban kecetak di tengah-tengah dada biar semua orang bisa liat kalau baju kita bermerk.

    Tergantung yang make juga sih… kalau orang yang keren seperti saya *halah gubrax* make baju apa aja pasti jatohnya bagus lah…. *kabur*

    Dear Therry. Percaya deh, apalagi kalau lihat fotonya di Facebook🙂. Brand memang tidak penting, tapi sebagian orang ingin mengidentifikasikan status sosialnya dengan barang ber-merek walaupun banyak yang jadi lucu. Setuju banget, barang bagus tidak perlu bermerk yang penting enak dipakainya.

  3. aaqq Says:

    hehehehe.. tips mantap dari pakar🙂
    thanks mas..
    tapi buat saya kadang.. kenyamanan jauh lebih penting dari merk, walaupun kadang harga memang tidak berbohong. hahahaha.

    Yup, persis Mas. Seperti comment saya di atas, selama kita comfort dengan yang kita pakai, merk jadi nomor sekian. Barang branded memang menjual kualitas dan kesan ekslusive, tapi pada akhirnya konsumen yang menentukan apakah mau branded mania atau cukup dengan yang bisa.

  4. Finally Woken Says:

    Sebetulnya,saya sedih dan miris melihat Indonesia, saking ngebetnya pengen pake barang bermerk, yang sisa export or whatever ini aja dibeli. Padahal jelas-jelas barangnya di-reject karena gak lolos QC. Kenapa gak ke Matahari aja dan beli yang murah meriah tapi sudah pasti ‘bener’.

    Emang ada ya konsep FO di negara lain?

    Kalau di Europe kan FO-nya lebih ke designer outlet kayak Glen McArthur atau Bicester Village, yang jualan barang sisa musim kemarin dan belum laku.

    Brand memang bisa membius dan orang berlomba-lomba mengidentifikasikan dirinya dengan merek tertentu, walau memang barangnya gak lulus QC. Pasarnya di Indonesia sangat luas makanya FO terus menjamur walaupun produknya itu2 saja. Di Amerika memang ada konsep FO, tapi lokasinya di luar kota, barangnya ditata seperti warehouse jadi tidak terlalu menarik.

  5. andiesummerkiss Says:

    Those are great great tips, eventhough I don’t shop at FO. I find their quality disturbing, really, and the prices are not that cheap. I have the concept of “how low can you go and how high can you go”.

    Do you mind if I refer to this site on my post?

    Feel free to do so Andie. Me neither as I seldom visiting those stores and found disturbing too browsing some rejected goods.

  6. Elyani Says:

    Mas Toni,

    Makasih nih infonya. Mungkin teliti sebelum membeli bukan hanya untuk merk tertentu ya! Saya termasuk yg malas berlama-lama di toko pada saat membeli pakaian. Tidak seperti kebanyakan wanita pada umumnya, saya kok ya males kalau kudu ngepas dulu di ruang ganti. Kadang2 sok pede main comot aja karena suka model dan warnanya…eh tau2 kekecilan😦 Akhirnya harus dihibahkan ke adik ipar yg badan-nya kebetulan masuk kategori kutilangdara (kurus,tinggi, langsing, dada rata)…hehehe! Saya fetishnya ke crafts. Lain kali saran Mas Toni diatas lebih saya perhatikan deh! 🙂

    He he he, sama tuh, agak paranoid kalau di kamar ganti apalagi kalau kuncinya yang rada2 gak meyakinkan🙂 Ini cuma tips simpel walau sebenarnya para pemalsu sudah pada jago. BTW, nice to see you back🙂

  7. Joice Says:

    Ton Japri ka urang nya..FO mana nu loba barang aslina..nu teu asup qc..

  8. awan Says:

    boss, jadi lebih teliti ketimbang QA nya yach……..hehehe

  9. Dilla Sigit Says:

    wah makasih bgt tipsnya, pak! saya kebetulan memang reseller baju2 branded & info ini membantu bgt utk bisnis saya. emang susah2 gampang bedain yg asli & palsu coz para pemalsu skrg semakin rapi aja malsuin barang.

  10. Xtrabrillia Says:

    Komen saya :

    Terhadap pendapat TW : “Perhatikan label baik2. Kadang karena terlalu bersemangat memalsu sehingga mereka lupa menyebut “made in America” menjadi “Amerika”. Produk asli sisa ekspor biasanya tidak menyertakan label kertas seperti yang biasa kita lihat pada denim atau jeans. Jadi kalau label kertas masih bertebaran, bisanya jean tersebut dipastikan didapatkan di pasar Tanah Abang”.

    Saya tidak yakin apa yang diutarakan ini benar terjadi. Saya meragukan ini sebuah fakta.

    Terhadap pendapat TW : “Kedua, kancing atau button. Barang branded selalu menyertakan mereknya ke bagian terkecil seperti kancing. Kalau ada brand “X” tapi kancingnya polos, sudah pasti itu produk jadi2an”

    Hal ini belum tentu. Produk bagus tidak hanya masalah label yang menjadi keunggulannya tapi dalam hal warna, pola, tehnik stiching, tehnik sambung, ukuran benang, jarang stich, dll.

    Terhadap pendapat TW : “Ketiga zipper atau risleting. Sama dengan kancing, harus disertai dengan merek yang bersangkutan. kalau zippernya YKK atau malah polos, itu mah barang kodian”.

    Belum tentu man ! yang namanya risleting itu the giant manufacturer memang YKK tapi biasanya dipadu lagi dengan beberapa aksentuasi spt ada ekor penariknya yang dijahit dan diberi aksentuasi.

    Terhadap komen TW : “Keempat Stich per inch. Ini istilah Quality Assurance dan agak susah dilihat. Praktisnya begini, semakin rapat jahitan, semakin yakin bahwa barang yang kita beli asli. Mengapa? Benang jahit itu mahal, dan konveksi rumahan berusaha menghematnya dengan melebarkan jarak jahitannya.

    Pendapat yang satu ini ngawur walaupun faktual memang ada yang spt itu. Tapi kembali lagi ini tergantung dari designya. Kebayang gak kalo jeans dibuat jarak stich nya kecil-kecil. Aneh dan ngabisin berapa jarum yang putus tuh. Jarak stich itu seni. Coba anda lihat celana jeans levis asli dimana jarak dan kekendoran dari benang dan stich nya enak dilihat dan perfect.

    Terhadap pendapat TW : “Kelima, label yang asal tempel. Coba lihat kemeja atau blouse yang sekedar menempel label. Biasanya label disertai dengan keterangan lain berupa kode2 angka. Jadi hindari beli barang FO yang hanya ada label tanpa keterangan apapun karena pemalsu seperti ini masih taraf amatir.”

    Aneh juga wong indon ini yang dibeli ini pakaian atau embel2. Ini mirip dengan mobil jepang yang enak dilihat tapi gak enak dipakai. Apakah dengan banyak embel2 trus yakin barang enak dipakai? Belum tentu kan?
    Beli barang itu yang penting suka dan gak usah membayangkan bahwa orang lain memperhatikan sampai ke merek2 nya. emangnya merek kecil gitu kelihatan dari jauh gitu?

    Terakhir, walau tidak menjamin keaslian barang, lihat benang yang masih belum digunting di bebebrapa bagian. Barang asli harus bersih dari uncut thread dan ini wajib hukumnya.

    Yang ini benar tapi mesti diingat bahwa barang FO itu memang barang branded tapi belum selesai finishing. Ada kalanya hanya karena salah pasang size label dan harus direject. Misalnya baju ukuran XL tapi dipasang size label ukuran M. Makanya kalau di FO jangan percaya size tapi langsung fit up di badan.

    Tidak ada istilah tertipu. Harga sesuai dengan kualitas. Anda bapak duit Rp. 20.000 pengen barang kualitas levis asli yang tidak cacat ya gak mungkin donk. nah disini peran FO bisa memfasilitasi kebutuhan akan barang cukup bagus dengan harga miring.

    Xtrabrillia

    Thanks buat komen-nya yang panjang (saya bingung ini Mas atau Mbak)

    Kalau anda mengatakan bawa barang FO itu branded tapi belum selesai finishing, maaf anda sepertinya belum memahami industri garmen dan binis stock lot. Mas/Mbak, barang FO berasal dari pabrik2 (stock lot atau sisa ekspor) dan industri rumahan yang nempel “made in Amerika”.

    Free choice, kalau suka beli, kalau gak ya jangan dan sekali lagi brand itu penting sekali.

  11. suba Says:

    nambahin buat zipper… emang bener kata Xtrabrillia (salut buat yg nulis), YKK produksi masal, nah bagi yg punya label biasanya pesen zipper uda diembos dengan logo merek..

    namun saya amati beberapa barang reject itu bahannya sama (lembut degh) dan label sama.. beda zipper aja (maksudnya YKK ga diembos).. coba de liat jeans levi’s yg zippernya YKK ma yg diembos..saya pernah liat bahannya sama lembutnya di tangan..

    karena masalah zipper ini jadinya di reject tu barang… tapi ya karena pabrikan outsourcing ini ga maw rugi..ya tetep aja dijual walau murah (scara bahan sama, label ada).. beberapa pabrikan tetep menjual barangnya dengan menggunting label atau logo perusahaan (seperti kemeja yg pernah saya liat). namun pembeli ini beli merek apa celananya.. lagian merek juga tidak kelihatan..

    saya yakin pembeli yg sering hunting pasti tau kualitas bahan (bukan merek).. so tergantung pembeli degh..

Comments are closed.


%d bloggers like this: