Cheap & Chic

Enaknya kerja di perusahaan retail yang core bisnisnya fashion adalah cara berpakaian di kantor. Bebas tanpa dress code tertentu, tapi harus tetap smart. Kalau amburadul, ya bikin malu juga, merusak image perusahaan. Pakaian kebesaran kami dalam acara resmi hanya jas, kemeja putih, plus jean, tanpa dasi (haram), dan sepatu model klasik supaya aman. Kalau sehari-hari sih, polo shirt plus jean. Yang perempuan sama saja tuh. Enak kan? Dulu pernah kerja di perusahaan yang mewajibkan pakai dasi. Gaya sih, tapi rasanya jadi aneh. Saya kagum sama orang yang kuat dicekik lehernya selama 8 jam dengan sepotong kain ini apalagi di Jakarta yang panas.

Kalau lagi ke Amerika, kadang2 kami diskusi dengan para desainer yang sering gonta ganti orangnya karena kata Heidy Klum, supermodel pembaca acara Project Runway, dalam dunia fashion berlaku adagium, one day you’re in, next day you’re out. Jadi wisdom apa yang saya peroleh selama bekerja di perusahaan fashion ini ?

  1. Amerika agak sinis dengan rumah mode Eropa terutama Prancis yang membanggakan haute couture atau adi busana yang extravaganza. Makanya sejak era 60-70an mereka mengimpor kemewahan cita rasa desainer Eropa ke Amerika dan memberikan istilah apparel untu pangsa pasar yang lebih luas. Konsumen Amerika senang dengan kemewahan, tapi mudah bosan dan lebih pragmatis dalam membelanjakan uang untuk busana. Prilaku konsumen ini ditangkap oleh industri fashion di sana dengan menciptakan mode cheap and chic, tetap gaya dengan harga terjangkau. Konsumen bahagia, perusahaan retail yang memasarkannya seperti Ann Taylor, Liz Clairborne, Target, American Eagle, Kohls, hinggal Wall Mart, mengeduk keuntungan dengan pangsa pasar yang leih luas.
  2. Milan, New York, atau Paris boleh jadi ibu kota fashion dunia, tapi penjahitnya tetap dari negara2 dunia ketiga seperti negara kita Indonesia. Di tahun 70-an Bandung berjaya dengan industri tekstil, tapi sekarang mereka sedang tiarap karena pemiliknya terlena dengan kekayaan yang bak durian runtuh lalu lupa memodernisasi mesinnya. Industri garmen masih bisa bertahan karena pekerja Indonesia terkenal dengan kualitas jahitnya yang mengungguli rekan2nya dari Vietnam dan Kamboja. Jangan lupa Jepang (Osaka) memulai industrinya dengan mass intensive labor seperti pabrik garmen, Korea juga. Bedanya mereka menjadikannya sebagai batu loncatan untuk masuk ke industri high-tech, sedangkan kita ya masih betah di sini.
  3. Brands atau label rentan dengan publikasi negatif dan mereka sangat menjaga reputasinya dengan segala daya. Sejak sepuluh tahun yang lalu, perusahaan2 dalam industri ini berlomba-lomba doing good dengan menerapkan standar HAM yang ketat kepada para pemasoknya. Tiba2 mereka jadi religius kata Ethan B. Kapstein profesor di Institut Français des Relations Internationales dalam jurnal Foreign Affairs (sekali-kali boleh dong pake kutipan dari jurnal bergengsi🙂 ) dan “memaksa” para supplyer untuk melaksanakan kode etik tersebut bila ingin berbisnis dengan mereka. Terlepas dari rela atau setengah terpaksa, buruh setidaknya mendapatkan perlindungan sebagai side product dari kebijakan ini.
  4. Consumers Trend. Ini yang paling susah ditebak dan kadang sering meleset dari prediksi para desainer. Kalau sudah gagal, ya out. Makanya desainer seperti Michael Kors, Isac Mizrahi, atau Calvin Klein masih bisa tetap bertahan karena mereka terkenal smart dan seringkali menciptakan trend daripada mengikutinya.
  5. Negara2 Timur Tengah sudah lebih terbuka dengan mode terutama kaum perempuan. Setelah revolusi Iran di tahun 1979, hitam adalah warna wajib bagi mereka, tapi tidak dalam dekade terakhir ini. Fashion sudah dijadikan political statement akan hak2 perempuan dengan cara mengkombinasikan western concepts dan elemen Islam. (Tulisan bagus dari Therry tentang Burqa di sini) Perempuan Dubai lebih kesengsem dengan desainer Jerman, Arab Saudi dengan rumah mode Prancis dan Amerika tidak mau ketingalan dengan membuka pasar di sana. Majalah fashion ELLE bukan hanya menjadi panduan trend mode di beberapa negara yang lebih liberal seperi Maroko, Libanon, dan Jordan, tapi juga negara konservatif seperti Siria dan Kuwait.
  6. Indonesia pangsa pasar yang sangat besar terutama kalangan 35 tahun ke atas. Pasar premium dari desainer ternama sudah tidak terhitung mejeng di mal2 besar. Tidak puas di Jakarta mereka juga sering belanja ke Singapura. Cobalah masuk ke Takashimaya, mall termewah di Orchard Road, selalu ada orang Indonesia terutama kalangan perempuan dengan busana nge-jreng plus aksesoris branded yang super mahal sedang belanja di butik2 eksklusif.

Fashion adalah statement pribadi, you are what you wear, tapi jangan juga jadi kapstok brands sekedar ingin mengikuti mode. Kata orang, define yourself dulu, baru belanja, bukan sebaliknya. Jadi apakah anda orang yang istilahnya saya temukan di sini : preppy, classic, hipster, trendsetter, casual/sporty chic, atau mungkin nekat dengan penampilan ala rocker dan harajuku style. You decide.

Terakhir sekedar tips praktis buat para pria dari (desainer) saya : please kalau pake batik jangan dimasukan seperti seragam sekolah, kalau pake sepatu sandal jangan pake kaus kaki, kalau ke kantor yang kerjanya harus berdandan konservatif jangan bawa ransel (emang mau naek gunung?), kalau jalan2 jangan pake tas pinggang (kayak kernet metro mini tuh) , jangan pake dasi Mr. Groovy atau motif2 aneh, kaus kaki, ikat pinggang, sepatu semuanya harus senada, kalau masih bingung pilih yang style klasik. Tips yang lain untuk perempuan saya tanya dulu ya sama desainer kami. 🙂

Salam.

Ket : Foto dan desain di atas hasil jepretan kamera Canon 40D dan diolah dengan Photoshop, sudah di upload pun di Flickr.

Tags: , , , , , , ,

6 Responses to “Cheap & Chic”

  1. the writer Says:

    Sering beli baju keluaran ZARA dan Mango yang kalo labelnya diteliti: Made in Indonesia. Parahnya, di sini harganya jadi berkali lipat sementara di Indonesia tau betul pekerja garmen dibayar cuman brapa persen dari harga jual disini.

    Istilahnya dikenal dengan sebutan race to the bottom dan pekerja berada di lapisan terbawah. Banyak kasus sweatshops yang terjadi bukan hanya di negara2 dunia ke tiga, pun di Amerika atau Eropa.

  2. Elyani Says:

    40D-nya bikin iri euy! Saya termasuk yg kurang berani bereksperimen dengan mode2 keluaran terakhir. Misalnya kalau lagi trend rok pendek, sudah dapat dipastikan saya gak berani pakai karena gak pede! Umur sudah kepala 4 mau bermini ria bak ABG rasanya gak banget deh!🙂 Pilihan saya selalu yg classic tapi casual. Warna juga bermain dijalur aman, hitam, putih, biru pastel misalnya.

    Boleh dong di coba sekali-kali El🙂 . Model dari Gap banyak kok yang 40+ walau lamaran saya untuk jadi model belum disetujui. Alasannya, your back is less sexy than George Clooney. Boong banget ya🙂

  3. therry Says:

    Nice post! Ternyata oh ternyata … Om Toni lumayan modis juga yah, seharusnya posting ini berikut rekomendasi berpakaian untuk para pria-nya dibaca oleh kalangan luas, supaya mereka ngga saltum lagi kalau berpakaian untuk publik.

    Saya sendiri paling geli ngeliat cowok-cowok yang insist ngeluarin kerah bajunya diatas jas formalnya – kesannya jadi kayak mucikari! Sapa sih, yang memulai trend ini, masa iyah John Travolta di film Grease masih jadi panutan? LOL

    Kalau gaya berpakaian saya mungkin mirip dengan cece Ely; casual classic. Nggak pernah ngikutin trend, tapi kalao belanja itu pasti yang dipilih baju yang jatuhnya bagus di badan. Bisa dipakai sampai umur 30-40 pun ngga norak-norak amat😛

    Thanks Therry, posting tentang Burqa-nya jadi inspirasi tulisan ini. Saya modis ? Wah gak juga, slordeh, clumsy, sloppy, iya banget.
    Pake jas kalau gak bener ya kayak mucikari🙂 Yang keren kalau kita nonton film2 mafia Itali, karena hampir dipastikan wardrobe-nya di supply oleh dua brand : Cerutti dan Armani. Simple & elegant. Klasik pilihan paling aman dengan warna2 netral. Bukan menggeneralisasi, tapi perempuan2 Indonesia rasanya jauh lebih maju dan punya taste dibanding dengan negara2 tetangga ASEAN.

  4. kakijenjang Says:

    Ah..Kang TW, gak nyangka.. ternyata situ seorang “fashionista” juga.. ehemm… no comment ah..
    Btw, “proposal” nya termasuk biaya desaigner juga gak?😛

    He he he, no comment juga ah …

  5. Ria Says:

    Ton, beruntung yah kita bisa kerja di perusahaan ini, jadi sering dapet referensi🙂
    Buat yg berkerudung tetep bisa tampil cassual koq, celana jeans, atasan nya baju terusan (jng nanggung min sepaha atau di atas lutut) trus mau pakai sendal atau sepatu juga ok
    Thanks to Olie yg dah sering kasih saran apalagi tentang warna…..

    Ria, kita punya fotomu yang “before” and “after”, mau dipajang gak di blog ini ? 🙂

  6. Finally Woken Says:

    Aduh, ketawa sendiri baca sepatu sandal vs. kaos kaki, tas pinggang vs. dasi.

    Jaman ‘dressed down’ begini, sebagian besar konsultan di Indonesia masih mengharuskan karyawannya mengenakan kemeja lengan panjang+dasi (bekas kantor saya membuat peraturan, yang tidak pakai dasi kena denda 10 ribu rupiah, padahal cuma CAD drafter yang gak ketemu client), sementara client-nya nongol pake polo shirt & jeans. Kerjaan saya dulu keluar masuk proyek, bukan berarti boleh pakai jeans, tetap harus tampil formal.

    Saya tertarik tuh melihat trend sekarang, dimana haute couture ‘diterjemahkan’ dengan cepat dan murah, hence Topshop dan H&M, bahkan designer sekarang mau gak mau ikut trend ini, jadi kalau bilang baju saya karangan Karl Lagerfeld, tentu maksudnya Karl Lagerfeld untuk H&M!

    Anyway, saya cenderung suka rumah mode London, lebih eklektik dan unique, very individual. Kalau di Indonesia suka “cape” ngeliatnya, karena semua mengenakan merk yang sama, model yang sama, bahkan rambut juga sama. Kayak cloning.

    Btw one of my vendors juga vendornya GAP tuh, si Apola.

    Kadang suka gatel kalau melihat dandanan lucu, sesekali jadi fashion police. Duh kebayang Mbak Nita ke proyek pake blazer🙂
    H&M, Zara, brands yang lagi naik daun, mereka pandai merebut pasar di Amerika yang selama ini dikuasai pemain lama.
    Ngomong2 rumah mode di London, desainer kita banyak yang berasal dari sini, terutama untuk luxury brand dan pernah jadi juri Project Runway. Salam Mbak.🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: