Unalienable Rights

Jonathan Swift (novelis Irlandia pengarang Guliver’s Travels) sangat benar kalau melihat betapa sebagian orang sudah kerasukan mengambil peran Tuhan. Posting singkat ini cuma ingin melepas amarah saya atas anarkisme para tuhan jalanan (FPI) yang menggebuki orang dari Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan karena masalah perbedaan keyakinan siang tadi di lapangan Monas Jakarta. Saya kira, Tuhan yang mereka sembah adalah wajah sang Pencipta yang penuh murka, bukan sesembahan yang menebar kasih dan harapan.

Saya tidak punya kompetensi teologis agama manapun. Kedua, saya tidak mau ambil pusing dengan agama atau kepercayaan yang dianut orang. Itu hak paling pribadi setiap individu, jadi mau beragama atau bahkan ateis sekalipun, not my damn business. Bukankah Tuhan nanti yang akan memutuskan absolute truth tentang berbagai eskpressi keberagamaan manusia di dunia ?

Boleh tidak suka, tapi negara kesatuan ini belum mampu melindungi kalangan minoritas sebagaimana amanat konstitusi. Tekanan massa dan ketakutan kehilangan kantung suara yang tidak seberapa di arena pemilu nanti membuat para penguasa jadi lembek. Lebih tepatnya impoten (excuse my French please). Atau malah penguasa justru lagi bersenandung gembira karena amuk massa adalah berita sexy untuk sekedar mengalihkan kesusahan orang2 karena BBM naik.

Jangankan jadi Tuhan, jadi manusiapun sudah susah hidup di negeri ini. Salam.

Tags: , ,

14 Responses to “Unalienable Rights”

  1. indera keenam Says:

    KEPADA YTH:
    DETASEMEN 88

    Telah ada indikasi kelompok teroris Yaitu Bernama
    FPI atau disebut dengan FRONT PEMBELA ISLAM
    Mohon segera diproses menurut hukum.

  2. indera keenam Says:

    Kepada YTH,
    DETASEMEN 88 ANTI TERORIS
    Di Tempat

    Saya melaporkan bahwa ada suatu gerakan teroris yang sangat membahayakan jiwa masyarakat umum dan keamanan secara umum.
    Kelompok teroris tersebut bernama FPI atau disingkat dengan FRONT PEMBELA ISLAM, adalah suatu kelompok teroris yang setiap saat bisa membunuh siapa saja.
    Mohon segera diproses secara hukum dan kelompok teroris tersebut segera dibubarkan, serta para anggota yang diidentifikasi ikut di dalamnya untuk segera dilakukan penangkapan dengan segera.

    Indonesia, 2 Juni 2008.

    Laporan sudah diterima, tapi mereka berani gak ya ?

  3. Elyani Says:

    Mas Toni,

    Sebetulnya Tuhan hanya memberikan “faith” kepada umat manusia didunia. Manusialah yg menciptakan “religion” dan kemudia menginterpretasikan menurut kebenaran yang dipercayainya. Seorang teman pernah bertanya kepada saya “kenapa dalam Bible nabi Muhammada tidak tercanctum sedangkan dalam Quran nabi Isa (Yesus) diakui tetapi bukan yang terpilih seperti nabi Muhammad”? Karena agama dan politik adalah dua hal yg kurang saya sukai, saya cuma bisa berujar …”mungkin penulis Bible keburu meninggal sebelum nabi Muhammad dilahirkan”! Jawaban ini tentu saja membuat teman saya tadi mencibir dan merasa tidak puas. Namun saya malas ber-panjang2 dengan teori ini itu karena merasa bukan ahli perkitaban dan tidak mau pusing dengan apa yg diyakini oleh orang lain.

    Dari contoh kecil ini kita bisa melihat bahwa masyarakat kita belum cukup dewasa dan pandai dalam menerima perbedaan. Kadang orangtua juga berperan dalam menanamkan doktrin2 yang menumbuhkan rasa antipati terhadap golongan berkeyakinan lain, karena mereka juga mendapat didikan yg sama dari orangtua mereka sebelumnya. Hal ini diperparah dengan munculnya pemuka2 agama gadungan bergelar habib seperti FPI dan front2 idiot lain-nya. Kalau saja Tuhan membuat copy right atas namaNya sendiri, mungkin Indonesia sudah kena tuntut atas pelanggaran penggunaan namaNya secara semena-mena. Bukan hanya namaNya yang dicatut tetapi berlagak menjadi Tuhan bagi orang lain dan main hakim sendiri. Harusnya bukan hanya Tuhan yg menuntut, tetapi juga bangsa Arab karena sudah digambarkan secara brutal dan tidak manusiawi oleh front pengangguran idiot tadi! Atribut2nya itu lho yg suka bikin geli! Jubah putih panjang melambai lengkap dengan sorban dan tasbih ditangan. Dengan pakaian seperti itu apakah membuat mereka menjadi suci dan bersih? Apa hak mereka untuk menghakimi orang lain?

    Kalau pemerintah dan aparat diam saja melihat kelakuan mereka juga tidak aneh, karena bukan tidak mungkin habib2 preman itu ada yg membiayai dan dibacking oleh orang kuat. Hih…serem!! Jangan2 gara ngomong begini besok pagi saya sudah jadi belatung๐Ÿ™‚

    Thanks El. Saya masih percaya bahwa mayoritas masyarakat kita sangat toleran dengan perbedaan, hanya sekolompok kecil yang bersuara nyaring dan merebut pemberitaan media massa. Kejadian hari Minggu kemarin di Monas sudah di luar batas dengan pemaksaan kehendak atas nama agama.

    Ada persepsi keliru bahwa Islam identik dengan Arab sehingga mereka memaksakan kultur dari sana untuk diadopsi juga di Indonesia, jadinya kan lucu. Saya menyebutnya pseudo religion, kepura-puraan beragama karena sebatas pemakaian simbol. Dangkal.

    Mereka jelas punya backing, kalau tidak mana mungkin berani meraja lela, tapi masyarakat sudah cape dengan kejadian seperti yang terus berulang. Kali ini harus ditindak.

  4. Edwin Maolana Says:

    Hehehe.. sepertinya tulisan Mas Tony sangat tajam dan memancing.

    Saya sebagai seorang Muslim juga merasa prihatin bahkan malu dengan pemberitaan yang ada.

    Merasa prihatin karena pemaksaan kehendak dan yang terlalu “dibumbui” oleh amarah dan nafsu sehingga insiden tersebut terjadi. Merasa malu karena tindakan yang dilakukan oleh kelompok tersebut merupakan saudara saya seagama yang masih belum dewasa dalam menyikapi masalah dengan penuh kedamaian bukan kekerasan.

    Nah… kalau pendapat lain dari teman-teman di comment, lebih baik kita jalani saja keyakinan masing-masing… toh nanti di hari dimana manusia dibangkitkan dan dibuka semua rahasia akan tau siapa yang benar dan siapa yang salah, yang penting adalah kesatuan tetap terjaga dan silaturahmi tetap terjalin antar umat beragama.

    Seperti kita nonton Badminton kemarin sajalah… happy, senang dan enjoy walaupun berbeda suku, agama dan bangsa. Nonton gebak-gebuk shuttle cock doang hehehe… Hiduplah Indonesia Raya…

    Persis Mas Edwin, biarlah agama atau kepercayaan menjadi urusan masing2 dan kita tidak memutus hubungan walau berbeda keyakinan. Saya sangat setuju. Hidup lebih bermakna kalau kita saling menghargai kepercayaan orang dan Tuhan yang jadi pengadil, bukan tuhan jalanan.

    Sebenarnya saya marah karena sudah bosan dengan kejadian seperti ini. Di tambah lagi perlakuan FPI yang tidak pantas kepada seorang kyai NU merupakan penghinaan terhadap ormas yang sangat saya hormati ini.

  5. Elyani Says:

    Setuju sekali Mas Toni. Sejatinya bangsa kita adalah bangsa yg cinta damai, sayang akhir ini kerukunan itu dinodai oleh sekelompok ekstrimis yg gak jelas maunya apa. Tadi baca di detiknews kalau seseorang berinisial M yg dulu mantan anggota LBH mengaku bertanggung jawab atas penyerangan ini. Lima belas tahun jadi anggota LBH kok malah jadi monster tanpa hati ya? Kalau aliran ini itu gak boleh karena gak sejalan, apa ya nggak lebih baik mulai saat ini kolom agama di KTP atau SIM dan identitas diri lain-nya dihilangkan saja? Tanpa mengetahui agama seseorang dan merasa sama dimata hukum dan masyarakat rasanya lebih enak kali ya. Agama seharusnya kan merukunkan masyarakat, kok malah jadi ajang perselisihan.

    Baru baca di Detik, Munarman kena jepret kamera saat mencekik orang waktu rusuh di Monas. Rasain tuh๐Ÿ™‚ Agama sudah selayaknya memerdekakan pikiran sempit bukannya malah jadi ngaco begitu. Aarrrrrghh, kalau gak dosa pengen di sniper kaya comment Therry.๐Ÿ™‚

  6. Chocoholic Says:

    kutipan yang bagus mas
    ada yang tidak kalah bagus

    ‘Men never do evil so completely and cheerfully as when they do it from religious conviction.’
    Blaise Pascal

    Thanks Rima. Kutipan Pascal-nya bagus, saya simpan buat posting lain tentang orang2 gila ini.๐Ÿ™‚

  7. therry Says:

    Om Toni, kita aja masih mikir-mikir mau jadi sniper untuk tujuan apa karena kita tahu mengambil nyawa orang itu kan dosa, tapi herannya cecunguk2 FPI itu dengan seenaknya menghimbau anggota-anggotanya untuk main bunuh orang lain tanpa mikir dosa atau nggak, udah gitu berani nyebar janji-janji palsu kalau membunuh itu ngga apa-apa karena nanti ada yang menjamin!

    Saya setuju dengan Elyani – kenapa tidak kolom Agama di KTP dihilangkan saja. Negara-negara lain bisa hidup berdampingan dan rukun walaupun perbedaannya lebih diverse lagi daripada di Indonesia karena mereka tidak ambil pusing soal agama ras dll.

    Kenapa kita tidak bisa menganut prinsip, “Lu nggak ganggu gue, gue nggak ganggu elu?”

    Pemerintah masih berkilah bahwa kolom agama diperlukan untuk masalah statistik di BPS (yang datanya suka gak bener). Yang saya tahu Amerika tidak punya KTP, negara Eropa punya kartu identitas tanpa mencantumkan agama. Racial atau religious profiling melalui KTP adalah pelanggaran hak2 sipil, jadi pada prinsipnya saya juga gak keberatan kalau kolom ini dihilangkan.

    Jauh dari sekedar tidak saling ganggu, tapi saling menghormati kepercayaan orang tanpa pretensi untuk menghakimi dan mengklaim sebuah kebenaran absolut.

    Thanks Therry untuk setiap commentnya yang membuat saya perlu sedikit waktu untuk merenung. You’re very smart, but I’m not too old, yet.๐Ÿ™‚

  8. Elyani Says:

    hihihi…Therry ada2 aja, Mas Ton itu dari fotonya aja kan masih muda, ramping dan segar bugar…belum pantes dipanggil Oom lho๐Ÿ™‚
    SBY payah nih, gak berani nangkap gegedugnya FPI! Menurut Detik pentolan FPI ini dekat sama mantan Kapolda Jakarta. So what? Daripada, daripada…ayo ramai2 kita urunan beli one way ticket ke Afghanistan buat si habib sama Munarman.

    Thaks Elyani, jadi terharu … hiks. SBY takut & ragu El, press release-nya saja gak mau nyebut FPI. Munarman sudah panik, mau nuntuk media massa lagi.๐Ÿ˜ฆ

  9. therry Says:

    @Elyani:

    Iya, om Toni emang ngguanteng๐Ÿ˜€

    @Toni:

    Btw OOT dikit nggak apa2 yah? gimana caranya supaya bisa ngebalesin comment-comment nya secara individu keq di blog ini? Penasaran deh he3x. Maklum masih cetek pengetahuan WordPress-nya nih๐Ÿ˜›

    Hi hi hi, jadi GR gue.๐Ÿ™‚ Gampang koq Therry, tinggal masuk ke menu “edit” di setiap comment, pake “quote” jadi deh balas komen per individu. BTW, your new blog sparkling, bagus banget dibanding yang di Blogspot. Congrats ya, kita sih masih betah gratisan.๐Ÿ™‚

  10. Finally Woken Says:

    Sedih deh kalo baca berita seperti insiden FPI ini. Saya setuju mas, jadi manusia aja sudah susah kog mau jadi tuhan. Lebih sedih lagi melihat mereka berlindung di balik agama dan bebas melakukan anarki di mana-mana. Yang lebih sedih lagi, berita itu sampai ke seluruh dunia, yang mencoreng nama Indonesia.

    Di UK sini pemerintah lagi ribut menggodok undang-undang untuk bisa menahan tersangka teroris 48 jam dan sudah mendapat reaksi keras dari banyak pihak, karena dianggap tidak manusiawi. Bayangkan, even teroris pun punya hak!

    Kapan yah bangsa kita naik kelas dan sadar bahwa kita sering diperalat oleh segelintir orang untuk kepentingan kelompok tertentu?

    Dear Mbak, saya sering membanggakan kepada teman2 dari luar negeri betapa moderatnya Islam di Indonesia, saya masih percaya itu terlepas dari kejadian kemarin. Untung kali ini pemerintah bertindak tegas.

    Saya sependapat kalau UU tersebut banyak tantangan, kelompok2 HAM termasuk MP di sana masih tetap ingin mempertahankan asas habeas corpus dalam sistem hukum mereka.

  11. therry Says:

    @Toni:
    Oh gichu yah … coba dulu ach๐Ÿ˜›

    Soalnya domain therrysays.com udah dibeli dari kapan tau dan emang rencana mau migrasi blog kesana, cuman baru kemaren ini tau kalo postingan berikut comment2nya udah bisa diimport pake WP ke alamat yg baru so jadinya baru pindah skrg๐Ÿ˜€

    Thanks yaaa

  12. therry Says:

    yay udah bisa! ahahaha thanks ya mas Tonehh๐Ÿ˜€

    Gak susah kan? Jadi lebih personalized gitu lho …๐Ÿ™‚

  13. tere616 Says:

    Seharusnya semakin berpendidikan maka semakin arif pula pemahaman beragama kita. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu.

    Bandingkan dengan masa 20 – 40 tahun yang lalu, saat itu era “transformasi informasi” belum sepesat sekarang ini, jumlah yang berpendidikan tinggi pun dapat dihitung dengan jari, tetapi toleransi terhadap perbedaan agama tidak seperti sekarang ini.

    Bagi saya, masalah FPI, adalah masalah kita semua, ketidakmampuan kita untuk saling “menjaga”, untuk saling mengerti bahwa perbedaan itu memang ada.

    Dear There. Saya tidak tahu pendidikan para laskar salah medan perang ini, tapi kalau melihat aksinya di lapangan, rasanya jalan pemikiran mereka masih bersifat tribal/clan. Sepakat bahwa ini masalah kita semua karena pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah orang2 yang sangat toleran. Thanks for dropping by, BTW.๐Ÿ™‚

  14. sevidiana Says:

    tulisannya menyentak dan saya setuju 10000% dengan opini pak Toni. Kelakuan mereka (FPI) bikin saya malu……terutama jika berhadapan dengan sejawat saya yang nonmuslim. Sejak kapan ya, Tuhan memberi mandat mereka untuk jadi wakilnya di bumi?

    Thanks Sevi. Saya juga tidak sepaham dengan cara2 kekerasan dalam bentuk apapun, apalagi mengatasnamakan agama. Terima kasih sudah mampir, foto2nya di Flickr diupdate lagi ya. :D)

Comments are closed.


%d bloggers like this: