Pejabat kita memang kurang waras

Di jalan Jakarta yang panas dan macet karena demo BBM di mana2, saya masih melihat seliweran mobil pejabat dengan mobil dinas Toyota Camry plus para pengawalnya dengan Nissan Terano menggunakan sirene minta jalan. Cuma bisa merenung akan betapa tidak warasnya logika para pemimpin negeri ini di tengah kesulitan ekonomi yang semakin edan, mereka masih tidak bisa berempati dengan menggunakan kedua jenis mobil yang super boros BBM.

Saya harus memaklumi kalau negara ini memang lagi sakit jiwa. Banyak pejabat pemerintah yang kurang waras, tapi sok pro rakyat seolah-olah menolak kenaikan BBM tapi adem ayemi menikmati gaji besar, mobil dinas ratusan juta plus supir dan ajudan, dan ruang kerja ber-ac. Saya nggak tahu bagaimana perasaan mereka bila berpapasan dengan bis yang berjubel dengan penumpang kalangan bawah, tanpa ac lagi. Tega nggak ya?

Percuma menjelaskan berbagai alasan kenaikan BBM kalau tidak memberi contoh dengan tindakan nyata. Rakyat tidak bodoh, tapi mereka respect kalau pemimpinnya juga ikut merasakan kesusahan mereka. Pertama, Buat Pak SBY, para menteri, anggota dewan yang suka tidur di ruang sidang, pejabat BUMN yang gajinya ratusan juta, please deh, ganti mobil mewahnya dengan yang harganya murah plus irit BBM. Bukan mobil yang bersahabat dengan petugas pompa bensin karena keseringan sowan ke sana.

Kedua, kalau mau solider dengan kesusahan rakyat, ayo dong tunjukan dengan inisiatif potong gaji sendiri. Kalau gaji anggota dewan yang 50 juta dipotong setengahnya saja sudah terkumpul uang sekitar 12.5 milyar per bulan dari 500 anggota DPR. Lumayan kan ? Itu baru mereka, belum para bos BUMN. Hitung sendiri deh. I will salute you if you do that.

Contohlah PM India Manmohan Sigh yang menolak menggunakan mobil Mercy kalau tidak menyambut tamu negara. Ia nyaman menggunakan mobil buatan negara sendiri, TATA, yang seperti Fiat jaman dulu. Karena diberi contoh, pejabat di bawahnya juga harus ikut kalau tidak mau dikemplang sama rakyatnya.

Sudahlah, ini hanya gerundelan karena bosan setiap hari harus berjuang dengan kemacetan karena demo BBM sementara tiap bulan harus bayak pajak untuk menghidupi para pejabat yang kurang (tidak) waras di negeri ini.
Salam.

Tags: ,

13 Responses to “Pejabat kita memang kurang waras”

  1. the writer Says:

    betul. negara kita memang gak waras. eh maksudnya pejabatnya. negaranya sih cantik, cuman yang ngurusi kayaknya perlu masuk rumah sakit jiwa. Jangankan DPR mau potong gaji, wong maunya malah naik gaji melulu, beli laptop dan beli barang-barang gak penting yang apalah. Ya susah kalo pemimpin negara bukannya rakyat nomer satu tapi kantong yang nomer satu.

    Aku juga kadang bingung mas, orang-orang itu dalam pikirannya apa ya kalo liat warga-warga yang tinggal di pinggir jembatan yang makan sehari aja gak mampu? Masa gak punya hati sih?

    Ssst jangan bilang2 siapa2 ya, kata teman2 yang kebetulan bekerja di DPR sana, boro2 pake laptop, pas di suruh pencet “any key” mereka pada kebingungan, koq gak ada tuh yang namanya “any” key di keyboard🙂.
    Sering banget pas lagi macet, mobil saya dipepet supaya minggir, kalau bandel bisa digetok tuh sama bodyguard nya. Ck ck ck.

  2. aNdRa Says:

    Perkenalken…saya Orang Miskin Baru…hehehe

    Wah gak percaya tuh, masak organizer Idola Cilik di RCTI wong miskin🙂

  3. Elyani Says:

    Mas Toni,

    Ngomongin kelakuan pejabat kita bisa2 berakhir di Riau 11 (rumah sakit wong edan di Bandung). Boro2 berhemat, lha bukan-nya anggota dewan yg terhormat, para petinggi mulai gubernur sampai kelas ecek2 seperti camat, bukankah mereka tempatnya berbagai kebocoran anggaran selama ini??? Itu masih ditambah dengab oknum-oknum berjubah partai yang mengatasnamakan rakyat tapi untuk kepentingan golongan atau pribadi semata. Kalau mereka pergi studi banding, apa kira2 yg mereka tiru?? Oh gampang…tiru saja life stylenya. Perkara bagaimana cara mencapai sukses itu gak penting. Makanya uang negara habis gak karuan untuk cecunguk2 sialan itu. Sudahlah Mas, mendingan kita bantu lingkungan sekitar saja. Saya cuma bisa memberi kudapan kecil atau sekedar nasi campur bagi pemulung yg sering berseliweran dengan anak di dalam gerobak dan ayah dan ibu yg harus ber-panas memunguti kardus/koran/plastik bekas untuk dijual. Bantuan itu sangatlah kecil ibarat sebutir pasir dilaut, tapi dihargai dengan senyum dan rasa terima kasih. Alangkah indahnya negeri ini kalau saja potret kemiskinan bisa kita hapus sedikit demi sedikit.

    I salute you El, untuk kerja sosial mu. Jadi ingat waktu baca biografi Bunda Theresa yang melakukan kerja sosial dan pembelaa orang2 marginal yang kalah oleh modernisasi. She’s one of my hero.

    Pejabat kita itu tidak walk the talk alias gak punya integritas, jadi ngomong apapun susah dipercaya oleh kita. Mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin alm. menangis waktu melihat Proklamator Moh Hatta mengantri untuk bayar PAM. Ia shock akan kesederhanaan dan integritas Bung Hatta yang tidak meminta imbalan apapun kepada negara. Hatta, my other hero dan kita belum punya pemimpin sekaliber beliau

  4. therry Says:

    Tembak mati aja semua cecunguk2 busuk itu. Kalau ada orang yang kenal sniper jago, trus ngajak saweran suruh tembak2in tuh pejabat2 korup saya mau kok nyumbang duit saya buat bayar itu sniper sama perangkat2nya.

    I totally understand your anger Therry🙂

  5. Elyani Says:

    Mas Toni,

    Foto diatas kurang dapet suasana berjubelnya. Coba deh turun di halte Harmoni, terus naik yg jurusan Pulo Gadung. Wuih…antrinya benar2 menyiksa! Bau keringet dan dorong2an didalam halte yang puanas dan bikin bete sih sudah biasa. Mana busnya kadang2 lamaaaa banget baru masuk halte. Untung murah dan gak pakai macet, kalau gak sih males amat bela2in naik busway. Kadang iri sama Singapura yg punya sistem transport begitu apik ya! Mustinya pejabat2 yg manja itu disuruh naik busway sekali2. Mau lihat dasinya masih melambai gak kalau buat dapet tempat duduk saja harus saling dorong2an🙂

    He3x, maklum dari mobil pas lewat Senen. Stasiun Glodok juga rada2 bau keringet tuh El. Pajak yang dibayarkan warga Singapura dikembalikan dalam salah satu layanan publik MRT-nya yang nyaman. Pajak kita ? Gak tahu tuh.

  6. Chocoholic Says:

    Ton,

    pejabat kita itu, seperti aku bilang di blog ku, perlu transplantasi conscience, karena mereka gak punya kesadaran dan perasaan. Jadi rasanya sih bukan gila, tapi memang seperti binatang, tidak punya otak dan perasaan, cuma ngerti sakit kalo dia alami sendiri, kalo liat orang lain sakit dan susah, tidak merasa apa apa.

    Nendang tuh istilahnya transplantasi conscience🙂 Setuju banget Rima, hati nurani mereka sudah pupus, makanya sebagai bentuk protes sampai saat ini saya belum mau punya NPWP. Gak rela banget bayak pajak di negeri. Sebagian orang di sini benci negara2 Barat (biasalah kelompok preman itu) , tapi sebenarnya mereka tidak tahu kalayau layanan publik dan sistem hukum di sana bisa dipercaya. Kita sih amit2.

  7. Edwin Maolana Says:

    Istilahnya bukan “EMPATI” lagi tuh mas… emang udah pada “MATI” hati nuraninya…

    Almarhum, RIP, yas Mas Edwin. Saya yang sehari-hari bawa mobil sering banget jadi korban arogansi para pejabat itu. Kalau gak dosa, sudah di sniper uh kaya saran Therry.

  8. Edwin Maolana Says:

    lihat di blog saya gimana saya jadinya…

  9. therry Says:

    Apa saya belajar menembak aja kali yah? Huahahaahaha….

  10. Ya. Emang sih pejabat banyak yang kayak gitu. Kalo udah di pikirannya materi doang. Pasti jadinya 'buta mata buta hati'. Ya gitu deh.. Says:

    http://www.gudang-ide.blog.com

  11. Mega Says:

    Memang edan Pak Toni.Bukan cuma dipusat tapi didaerah lebih gila lagi.istilahnya guru kencing berdiri,murid kencing berlari.Di Bali ada salah satu kabupaten yg anggauta dewannya membagi-bagikan mobil Toyota Inova ke setiap anggautanya seperti bagi2 permen aja.Alasannya klasik,karena ada sisa anggaran,bah…sementara banyak gedung sekolah yg ambruk mana mereka mau peduli.

    Bagi2 mobil ? Ck, ck, ck, Sedih.😦

  12. Ayu Pramita Says:

    Saya setuju sama kamu. Memang pemerinteh di Indonesia kurang waras.

    Kenapa mereka g memikirkan dahulu sebelum bertindak. Contoh : Kenaikan BBM. kan kasihan rakyat yg kurang mampu.

    Kenapa juga BBM harus di naikkan harganya. Yg rugi ya pemerintahnya juga dong!

  13. Ayu Pramita Says:

    Sepertinya negara Indonesia seperti ini gara2 pemerintah yg kurang waras dan tidak berperasaan.

    Karena, belakangan ini Indonesia banyak yg demo…
    Apalagi rakyat yg kurang mampu… mereka cuma dikasih BLT ( Bantuan Langsung Tunai ) hanya rp. 300 rb untuk 3 bulan.

    Jadi, rp. 100 rb untuk 1 bulan… Apakah kucup dengan uang rp 100 rb untuk 1 bulan?

    Kan sekarang BBM naik, apapun sekarang naik ; harga ayam naik, harga beras juga!!!

Comments are closed.


%d bloggers like this: