Tempat parkir romatis untuk …

Ada artikel menarik hari ini di koran International Herald Tribune (IHT) mengenai kegelisahan pemerintah Singapura akan rendahnya angka kelahiran di negara ini (judulnya : How do I love thee? Let me ask the state) . Berbagai program kontak jodoh sudah dibuat oleh pemerintah sejak 25 tahun yang lalu, agar warganya bertambah. Sayang berbacai cara seperti tea dances, wine tasting, cooking claasses, hingga mendatangkan film2 romantis,  belum menampakan hasil yang memuaskan. Singapura sudah lama berada di antara negara2 yang mempunyai angka kelahiran terendah di dunia termasuk Hong Kong, Jerman, dan Jepang. Karena greget, pernah suatu saat pemerintah sana membuat semacam peta untuk menunjukan lokasi2 atau hot spot tempat parkir mobil romantis, remang2, dan cukup “aman”. Tujuannya ya apalagi, agar mereka ber multiply toh? 

Kolega kantor saya orang Singapura dan Hong Kong banyak yang memilih melajang seumur hidupnya.  beberapa ada yang menikah, tapi memilih untuk tidak mempunyai anak dengan alasan ekonomi. Itu pilihan pribadi mereka dan setiap orang punya alasan untuk menempuh jalan hidup masing2, jadi ya biarlah.

Setiap saya bertugas di kedua negara ini, sepertinya aneh kalau pulang tepat waktu. Banyak di antara mereka yang melewatkan waktu makan malam dan masih asyik di depan komputer hingga di atas jam 8 atau malah hingga tengah malam. Hari Sabtu yang sebenarnya libur, beberapa meja tampak terisi dan mereka bekerja seperti biasa.  Saya tidak mau menyimpulkan bahwa fenomena ini adalah representasi semua kantor di kedua negara itu, tapi sedemikian pentingkah karir sehingga mereka sama sekali tidak punya waktu untuk kesenangan pribadi?.

Pernah ada satu survey di Jerman yang dilakukan oleh Allensbach Institute terhadap penduduk di sana di negara ini yang juga menderita karena rendahnya jumlah bayi yang dilahirkan. Mereka mengajukan pertanyaan sederhana : mengapa generasi muda memilih untuk tetap lajang atau berkeluarga tanpa anak dan ini hasilnya :

  1. Anak menjadi beban finansial (47%)
  2. Terlalu muda untuk berkeluarga (47%)
  3. Karier akan terhambat bila mempunyai anak (37%)
  4. Belum menemukan pasangan ideal (28%)
  5. Ingin kebebasan (27%)
  6. Banyak yang ingin dicapai (27%)
  7. Memilih independen (25%)
  8. Berkeluarga mengurangi kontak dengan teman (19%)
  9. Tidak yakin akan kelangsungan perkawinan (17%)
  10. Anak akan menghambat karir (16%)

Beberapa atau semua jawaban survey di atas mungkin sama dengan alasan penduduk Singapura tentang alasan mereka untuk memilih menjadi lajang.  Itulah sebabnya,  Singapura melalui Youth Ministry-nya akan terus mencari cara kreatif supaya penduduknya beranak pinak dengan memberikan berbagai insentif bagi keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu.

Mereka khawatir bila program yang telah 25 tahun berjalan ini gagal, taman2 di sana akan dipenuhi oleh para orang tua yang lagi berjemur dibandingkan dengan teriakan anak2 yang sedang bermain. 

Salam.  

9 Responses to “Tempat parkir romatis untuk …”

  1. Elyani Says:

    Mas Toni, bagaimana mau romantis … wong wajah mereka waktu berangkat kerja di MRT saja sudah ditekuk sedemikian rupa? Mau sekereta setiap pagipun belum tentu bertegur sapa. Kalau orang kita kan bawaan-nya easy going dan hangat, makanya penduduknya kaya kelinci kalee ya🙂

    Persis Elyani, mereka musti belajar sama kita. Menderita, tapi tetep bisa berketurunan ya?🙂

  2. uwiuw Says:

    hohoh one more great article🙂, kemarin sy ngobrol dgn seseorang yg pernah bekerja di kedutaan cina. Ternyata cina jauh lebih terbelakang dari indonesia pd tahun 98 namun sekarang, sebagaimana yg kita tau, telah maju dan menjadi salah satu macan asia.

    Semuanya berkat banyaknya jumlah penduduk sehingga tersedia SDM dalam jumlah banyak, berkualitas,dan murah.

    hehehe asumsi yg terlalu tendensius, ya ?

    SDM yang banyak memang jadi andalan, tapi kalau kebanyakan agak repot menyediakan lapangan pekerjaan. Sebaliknya Singapura lagi kelimpungan sambil menyanyikan lagu where have all the babies gone. Salam🙂

  3. Marisa Says:

    Thanks for sharing the information, it’s a good one. Not sure if young Indonesian adults share the same perception with those in Germany or Singapore though. Indonesians are somewhat more psychologically dependent to one another, even if they’re financially independent.

    Pernah ada satu survey di Jerman yang dilakukan oleh Allensbach Institute terhadap penduduk di sana di negara ini yang juga menderita karena rendahnya jumlah bayi yang dilahirkan. Mereka mengajukan pertanyaan sederhana : mengapa generasi muda memilih untuk tetap lajang atau berkeluarga tanpa anak dan ini hasilnya :

    In my opinion, their reasons are quite logical, even honourable in a sense. They would be better off staying single, rather than fooling themselves and becoming bad spouses and bad parents for their children later on in life. Perhaps it’s uneasy for them to believe the idea that marriage is a scheduled plan, a tickbox, that one must accomplish in doing during a certain age.

    The single females probably have their own reasons concerning their reluctancy in having children, since becoming biological mothers should’ve been some sort of female’s natural instinct.

    I personally still believe in the family values. To devote my life to someone I love would be the easiest thing for me to do in life.

    Some people say marriage is like a gamble, and you’ll never know the outcomes. Either you hit a jackpot and lived happily ever after, or become a prisoner of this institution, should they choose to stay. I’m not sure in agreement with this statement, however our social norms play important part on family values, instead of being single for the rest of their live.

  4. rima Says:

    Mas, alasan2 dari polling yang dibuat oleh Allensbach Institute itu memang real. Saya termasuk yang beralasan demikian itu hingga sampai saat ini masih belum ingin punya anak. Memang problematis bagi negara2 yang kelangsungan hidupnya tergantung oleh next generation mereka. untungnya saya orang Indonesia yang surplus penduduknya cukup tinggi, maka saya tidak ada pressure utk punya anak cepat cepat.. hehehee..

    Indonesia 220 (240 juta sih?), surplus banget.🙂 Tapi di Belgia orang2nya tidak pada ceriwis dengan pertanyaan2 aneh yang masuk ke wilyah pribadi kan ? Salam

  5. finallywoken Says:

    Lho Indonesia pelan-pelan akan menjadi seperti Singapore, terutama di Jakarta. Banyak yang baru pulang kantor di atas jam 10 malam, banyak yang weekend harus kerja. Dulu di kantor saya di Jakarta, sudah banyak yang ogah berkeluarga dan ogah punya anak meski sudah 10 tahun menikah. Interestingly, justru lebih banyak perempuan yang merasa begitu daripada lelaki Fenomena menarik ya?

    Untungnya (?), pressure untuk punya keturunan masih sangat besar, dan datang dari orang tua dan nenek-kakek dan seluruh keluarga, jadi meskipun “enggan”, ya mau nggak mau lah. Dan untungnya, nenek-kakek, tante dan saudara banyak yang mau dijadikan baby sitter…

    Fenomena ini memang terjadi di kota2 besar seperti Jakarta. Beberapa kolega dan teman dekat saya juga yang perempuan stay single and bahagia dengan keputusannya. Norma sosial kita masih mementingkan institusi keluarga dengan pertanyaan klasik, kapan menikah, kapan punya anak, kapan punya anak kedua, dan seterusnya. kadang capek dengernya.🙂

  6. letsgetluz Says:

    huahahhuaha.. betul! legalize mobil goyang juga dong di Indonesia.

    Lho kan sudah banyak, sampe ada yang semaput segala🙂

  7. farel Says:

    saya juga tidak ingin punya anak walaupun usia saya 48 th tapi istri 27th,usia perkawinan 4th.Jadi istri yg pingin cepat punya,sekarang saya ingin minta saran dari kalian biar cepat punya anak bagaimana?

  8. KK_S Says:

    JUSTRU INI DIA BEDA NYA NEGARA MAJU SAMA NEGARA TERBELAKANG. DI INDONESIA ORANG PIKIRANNYA PADA JAGO *** DOANG…. OTAKNYA GA PERNAH DI PAKE. KALAU MAJU JUJUR ORANG2 YANG KERJA DI JAKARTA TIDAK SEBERAT ORANG YANG KERJA DI SINGAPORE OR HONGKONG, KARENA ITU LAH KEDUA NEGARA ITU BISA MAJU PESAT. COBA LIAT INDONESIA, UDAH 40 TAHUN LEBIH MERDEKA, MRT AJA GA PUNYA. COBA LIAT GURBERNUR DKI GA BECUS BIKIN MRT.

    LIAT TUH ADA PEJABAT ANGGOTA DPR KITA ADA BEBERAPA KASUS MESUM *** SAMA ARTIS DI HOTEL,MESUM SAMA SEKRETARIS NYA DI KANTOR… INI LAH BEDANYA NEGARA MAJU SAMA NEGARA TERBELAKANG…. ORANG2 DI NEGARA MAJU PAKE OTAK… SEBELUM *** ITU PAKE OTAK… GA KAYA ORANG INDO PUNYA ISTRI LEBIH DARI 1 ITU HALAL YANG PENTING ADIL.. WALAUPUN NUNGGING 5X **** SAMA LEBIH DARI 1 ISTRI GA PA2

  9. dicky sukmana Says:

    good artikel ! saya lagi kepikiran soal ini browsing2 ketemu blog anda … saya kutip dikit ya

    Silakan Mas Dicky. Thanks for dropping by🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: