Business traveller : siapa bilang enak ?

Jadi business traveller itu sepertinya keren. Pulang pergi ke luar negeri, paspor ganti berkali-kali karena habis distempel. Top marktob pokoknya. Sebagian bener, tapi mungkin banyak yang gak tahu kalau travel itu perlu pengorbanan juga. Minimal lebih banyak menghabiskan waktu di jalan dibanding keluarga sendiri plus berbagai pengalaman yang amit2. Ini daftar yang tidak enak-nya :

  1. Kalau penerbangan jam 7 pagi, berangkat dari rumah minimal jam setengah lima pagi, bangunnya tebak sendiri.
  2. Antrian chek-in di airport panjang bisa seperti ular
  3. Bawa uang, minimal 2-3 juta, maklum uang kita gak ada harganya di luar sana.
  4. Bahu pegel karena bawa2 laptop
  5. Nunggu boarding, mending kalau gak delay atau pesawatnya cancel
  6. Pesawat sudah di runway, eh balik lagi karena ada kerusakan mesin, nunggu lagi berjam-jam.
  7. Kalau harus transit minimal 1 jam, bisa 6 jam lebih. Bengong di airport karena mau jalan2 juga sudah capek. Pernah tidur di kursi airport Changi karena pesawat ke Jakarta baru ada jam 7 pagi.
  8. Kalau ke Amerika paling sengsara, duduk di kursi pesawat hampir 18 jam.
  9. Kalau kelasnya ekonomi lebih payah bila orang duduk di sebelah badannya gede dan menghabiskan tempat.
  10. Yang menyebalkan lagi, penumpang di belakang kita menghalangi dengan kakinya agar kita tidak bisa memundurkan kursi. Aarrrgh.
  11. Buat yang sering travel, makanan di pesawat adalah siksaan karena rasanya standard. Bawa sambal sachet, itu tip saya.
  12. Karena tidak boleh bawa air mineral selama penerbangan, saya sering kehausan karena kebiasaan minum banyak.
  13. Paling asyik kalau ada bayi yang nagis kenceng dan lama pas kita lagi ngantuk. Mau marah gimana ?
  14. Pesawatnya goyang2 karena turbulence, naik turun gak keruan, rekor turbulen terlama : 20 menit !
  15. Pas tiba di tujuan, badan sudah kayak robot, mata cekung karena kurang tidur, belum mandi. Wuuuiijh.
  16. Ngantri lagi di imigrasi, panjaaaang banget.
  17. Petugas imigarsi suka curiga sama orang Indonesia karena disangka teroris, apalagi di Amerika. Paspor dibolak balik cari kesalahan, matanya melototin kita. R u speak English ?Yes sir, of course. (plus bahasa Sunda tentunya) 
  18. Nunggu lagi di belt conveyor dalam lautan bagasi warna biru dan hitam (makanya pake koper warnanya pink supaya jelas kali ya)
  19. Nyampe juga akhirnya. Jangan berharap ada yang jemput, pake taksi sendiri.
  20. Sebagus-bagusnya hotel yang ditinggali hanyalah sebuah kotak persegi, terkurung seharian.
  21. Jet lag musuh utama. Barusan tidur di pesawat, eh sudah waktunya tidur lagi, go figure! Semalaman bisa bangun berkali-kali. Saat jet lag bulan lagi masalah, harus balik ke Indonesia dan penderitaan baru dimulai lagi.
  22. Ngantuk musuh lain karena penerbangan antar benua. Pas lagi meeting yang dipikiran adalah empuknya bantal dan kasur di kamar hotel. Swear, ngantuknya tidak tertahan apalagi dengerin orang pidato.
  23. Tinggal di hotel berbintang, tapi dipake buat tidur doang karena seharian sudah dihabiskan dengan pekerjaan.
  24. Pulang ke hotel pasti selalu di atas jam 10 kadang lewat tengah malam karena biasanya harus dinner dan ngobrol2.
  25. Pernah dipelototin sama Secret Service di NY pas Al Gore tinggal di hotel yang sama karena salah masuk lift.
  26. Pack & unpack koper kalau harus singgal di berbagai kota. Kadang kalau sudah males, barang bawaan boro2 di susun rapi. Jejalkan.
  27. Kalau makan di restoran sering gagal pesan alias tidak sesuai dengan selera. Pesen yang paling mahal pas datang cuma secuil menu dengan piring gede, rasanya asem pahit pula. Lapaaar.
  28. Pulang nya sama, pemeriksaan keamanan di Airport Amerika pasti menyebalkan. Kalau kena random chek, pasti dapat perlakuan khusus alias di interogasi dulu.
  29. Istri mau melahirkan saya ada luar, istri baru melahirkan saya harus berangkat. Tuh gak enak kan?
  30. Oleh2nya mana? Mana sempet, c’mon ini kan lagi tugas, boro2 jalan2. Itu juga sering mepet waktunya. 

Mau nambahin daftarnya ?

Tags:

21 Responses to “Business traveller : siapa bilang enak ?”

  1. Elyani Says:

    Nambah satu list lagi, kalau duduknya window seat dan yg disebelah kita segede gajah sebel banget harus bilang “excuse me” tiap mau ke peturasan. Apalagi buat saya yg sering bolak2 balik ke toilet kalau perjalanan jauh (seperti waktu ke Inggris dan Kanada) karena kulit saya ini gak tahan dingin-nya AC. Kalau perginya Desember lebih cilaka lagi…sudah ber AC, kebayang gak diluar sana dingin-nya kayak apa. Alhasil saya pasti flu setibanya di tempat tujuan. Kalau naik Cathay Pacific dan banyak orang Cina daratan (Hongkong-Canada), lebih sengsara lagi. Joroknya minta ampun!!! Tissue bertebaran di bawah kursi, batuk dan bersin gak pernah tutup mulut dan volume suara waktu berbicara gak kalah sama suara mesin.

    Pengalaman terburuk flight Vancouver-Hongkong, ada pasangan yg membawa anak laki kembar (sekitar 5 tahunan) dan putrinya yg mungkin beda setahunan. Si kembar sangat stress ketika pesawat take off, nangis sepanjang penerbangan, dan orang tua jadi berantem karena kebingungan mengatasi anaknya yg rewel. Putrinya yg lebih kecil ikut2an nangis, alhasil terjadi lomba tangis diantara ketiga bocah tersebut, ditingkahi suara bentakan si ayah dan ibunya yg ikutan stress. Saya sampai habis 3 Panadol karena migraine kumat plus tangisan sepanjang masa yg bikin stress dan lelah. Belum lagi makanan-nya amit2!!! Karena berangkat tengah malam hidangan pertama adalah congee (bubur diblender abis sampai gak berasa bubur lagi), terus hidangan berikut chicken rice tapi ricenya … glutinous rice alias ketan yg super lengket kaya lem…hahaha!!! Lengkaplah penderitaanku. Untung saya bawa apel hijau untuk menangkal rasa eneg.

    Almarhum Sobron Aidit mengatakan pada saya, dia lebih suka bepergian dengan Malaysia Airlines (Oom Sobron tinggal di Paris semasa hidupnya) karena menunya pasti ada nasi lemak (beneran…bukan ketan dibikin nasi lemak)! Mungkin sudah saatnya beralih ke MAS. Pramugarinya ramah2 (pada siapa saja, tidak pandang bulu), makanan-nya ok juga. Dalam penerbangan domestik KL – KK (Sabah) yg makan waktu 2,5 jam itu, kami dapat hidangan dalam kotak dikemas sangat cantik berupa 3 potong sandwich dengan isian berbeda, air kemasan dalam plastic cup, apel hijau nan crunchy dan sebungkus camilan berupa coklat crackers. Pulangnya dapat bagel dengan daging asap ayam yg uenak banget, yoghurt, butter cake dan air mineral dalam kemasan plastic cup.

    * saya selalu bawa balsem untuk dioleskan ke perut just in case masuk angin dan manisan pala Bogor supaya cepat tidur🙂

    Wah pengalamannya seru juga ya? Makanya saya selalu pilih aisle supaya gampang ke toilet. Pernah naik Air Canada dari SFO ke Toronto, snack sih gratis, tapi makanan lain harus beli dan harganya, ya mahal. Mengenai bayi yang nagis terus2an memang menjengkelkan, tapi ya kasiahan juga sama ortunya yang pasti gak enak sama penumpang lain. Lain kali saya juga mau coba MAS deh. Salam.

  2. andiesummerkiss Says:

    Good points!

    I want to add something.

    If you travel a lot, you will definitely lose a lot of personal stuff. Like socks, shirt, toiletries or phone chargers. (I feel the need to leave something behind)

    My husband, on the other hand, leaves stuff behind and brings weird stuff home. Like car keys from Maputu, Mozambique and air conditioner remote from Vatican City, Italy are amongst the weirdest ones.

    Totally agree Andie, same experience here, from underwear, LOL, among many other things.

  3. noonathome Says:

    Kalau buat cewek (yang anak sekolahan) bawaannya tambah banyak. Musti bawa bedak, lipstick, sisir, fotokopian paper2 yang gak muat di koper, plus yang udah disebutkan laptop dan kamera. Mau cantik2 gagal karena terpaksa pakai daypack (meskipun udah pake roda) dan sepatu jalan yang nyaman.

    Belum lagi untuk perempuan mungil yang gak bisa naikkin barang ke kompartemen (kecuali naik ke kursi atau “please, would you help me?”). Uh, I hate asking for that kind of help😛

    Yup, makanya suka heran, koq banyak tante2 kita yang rambutnya di sasak dan masih OK saat turun pesawat, he3x.

  4. therry Says:

    tapi kan keren …. globe-trotting sambil bawa2 laptop … nggak ada yang ngalahin kekerenannya itu kan? hehehe…

    Memang keren Therry, tapi setelah sekian tahun bosen juga dengan ritme kerja yang gak puguh. My hug for Micah, your cute dog, yang pasti senang dimanja-manja.

  5. Finally Woken Says:

    Hey, nice new layout. Just raided my auntie’s wine cellar in London (the size of the cellar is bigger than our house in Aberdeen, ehm!), some of her wine collection is worth over 1,000 pounds a bottle, sadly she didn’t open it for me when I was there!

    Anyway, iya, orang kira globe trotter itu enak. Enaknya tentu saat setelah mendarat di tujuan – itu kalau liburan.

    Kalo business mah tetap aja gak enak:

    1. saya pernah pulang liburan dari UK (15 jam terbang dong) dapat instruksi mendadak untuk transit di Singapore, jam 7 pagi mendarat langsung ke tempat conference, jet lag, ngantuk karena gak bisa tidur di pesawat karena penumpang sebelah bolak-balik permisi ke toilet dan kejepit penumpang depan dan belakang yang segede gajah jadi ga bisa recline seat. Gak sempat sarapan pula! Mana conferencenya sama regional people plus boss saya yang tentu saja nampak sehat wal’afiat dan tersenyum lebar karea baru tiba dari Jakarta jadi saya gak ‘boleh’ ngeluh. Jahat gak kantor saya. PS: gak bawa baju kantor, jadi nongol di ruang meeting dengan jeans, jumper, dan boots namanya juga baru dari negeri dingin.

    2. Kalau berangkatnya sendirian, dan gak terlalu kenal sama kolega, alamat deh makan sendirian, dan setelah dinner, bengong mau ke mana yaaa, end up nongkrong di pub hotel, itu juga liat-liat kalo nampak ok dan gak remang-remang serem. Iya kalo jatahnya hotel bagus, makin ke utara kan hotel makin mahal dan dapat jatahnya makin gak elite.

    3. Kalo client-nya pelit, disuruh berangkat pesawat paling pagi dan pulang paling malam, gak boleh nginep. Dulu pernah tiap minggu rute saya ke Bandung, besoknya Semarang (langsung balik jakarta), besoknya Surabaya (langsung balik juga), dan minggu berikutnya ada tambahan rute ke Bali (tapi langsung balik juga). Pegel? Jangan tanya.

    4. Kalo travel bookernya gak jago, dapet jatah hotelnya suka gak jelas. Pernah di Singapore ditaruh di hotel yang handuknya antara putih sama abu-abu. Immediately minta pindah, daripada kudisan. Di Bali ditaruh di hotel yang jauh dari keramaian jadi pulang dari proyek takut kemalaman, untung sama colleague. Kawan saya pernah dapat hotel yang berhantu, dari 3 kamar untuk 3 orang jadinya bertiga di satu kamar saking takutnya dengar suara orang menangis hehehe…

    5. Kata siapa bawa laptop enak? Laptop kantor beratnya 5 kilo (lebih dari 10% berat badan saya), plus bahan meeting. Gak boleh connect internet pula (kantor saya agak terbelakang dengan urusan IT). Masa harus bawa 2 laptop??

    6. Oleh-oleh jadi ‘wajib’. Plus titipan kolega. Dulu tiap ke Semarang pasti balik dengan minimal 6 besek penuh lumpia semarang. Kebayang tatapan penumpang lain melihat saya menenteng-2 besek ke kabin. Persis orang baru mudik.

    7. Tagihan telepon jadi membengkak gak karuan (sampai jadi elite member di mobile provider, dikiranya saya orang penting hehehe), dan karena status saya masih kroco, kantor akan reimburse setelah tagihannya datang. Walhasil ya bangkrut lah sampai duit diganti kantor.

    8. Pernah gak jadi pulang dari Hong Kong karena dapat berita Jakarta banjir dan airport ditutup. Harus extend sehari, dan kartu kredit lagi ‘mogok’.

    cheers.

    Setelah pilih sana sini, akhirnya lay-out ini yang dipilih, maklum yang lain jadi gak puguh. Wine cellar ? Wuiiih, bisa seperti anak kecil masuk toko mainan. Pengamannya hampir sama, kadang kantor sini juga agak sedikit pelit2. Duhh, namanya travel kan hardship-nya itu sering membuat sengsara. Dulu punya policy tidak boleh mengambil apapun dari minibar. C’mon kalau kita datang tengah malam ke hotel terus kehausan, masak iya harus jalan ke luar cari mini market beli sebotol minum. Kalau hotel berhantu sih nggak, tapi kalau serem sih banyak nemu terutama di Sri Lanka yang penerangannya malu2.

    Koq sama juga ya sistem reimbursement-nya yang bikin bangkrut duluan, gantinya bulan depan plus berbagai expenses taxi, meals, entertaint, tip, daftarnya masih panjang.

    Kalau oleh2, saudara2 saya sudah pada bsoen dan ngatain pelit. Sebodo aja, bawa dokumen dan barang bawaan saja sudah berat🙂 .

    Salam.

  6. Rudy Says:

    Bicara turbulensi di langit…
    Jadi inget pas perjalanan pulang ke Tokyo dari Singapore bbrp waktu yg lalu…
    Turbulensi terjadi hampir 90 menit terakhir dengan bbrp jeda.. tapi semua duduk, no breakfast dan semua tegang… ntah berapa lama gue bisanya cuma berdoa doang… berharap segera keluar dari turbulensi…
    Akhirnya turbulensi berhenti seiring pesawat siap2 landing…
    Begitu sampai Narita… gue cuma bisa bersyukur masih diberi kesempatan hidup…

    Pengalaman lain ketika baru pulang dari Manila, ganti pesawat di Singapore trus menuju Jakarta… hujan lebat disertai petir… sekitar 10 menit setelah take off terdengar suara petir menggelegar persis di sebelah kuping.. alias persis di samping pesawat…
    Semua sudah saling lihat dan berpandangan khawatir atas kemungkinan buruk yg terjadi…
    Tapi untunglah tidak terjadi apa2… dan selepas itu perjalanan cukup smooth sampai Jakarta…

    Pernah juga ngalami bumpy road all the way ke Hobart dari Melbourne mulai dari take off sampai landing.. pesawat terpaksa terbang rendah… tapi Tuhan ternyata masih pengen ngeliat gue bernapas hehehehe….

    Anyway, gue setuju banget jadi business traveler bukan suatu yang enak terutama saat moving dari satu tempat ke tempat lain… walaupun harus diakui menjadi regional traveler memberikan kesempatan kepada kita untuk mengenal belahan dunia lain secara lebih baik…

    Good article, bung Toni….
    Tetap semangat…

    Thang banget Bang Rudy, ternyata rekor turbulensi saya belum seberapa dibandingkan dengan pengalamannya selama ini. Banyak hal di luar dugaan kita terjadi dan tentu saja harus bersyukur karena masih diberi umumr panjang. Pesawat nahas SQ yang kecelakaan di Taiwan beberapa tahun yang lalu hampir saya naiki, namun gagal karena perubahan jadwal perjalanan. Enaknya memang cukup sebanding dengan pengalaman melihat negara luar. See more, understand more, and respect more, itu salah satu efek positif sebagai hasil berkelana di negara2 orang. Salam.

  7. Marisa Says:

    Damn, I’d die to be a business traveller. A travel writer or travel journalist to be specific.😐

    Okay, I’ll add one up:
    31. Siap-siap dititipin daftar belanja ma orang. Nyari tas itu, sepatu ini. Asal jangan kebanyakan nitip, nanti disetop petugas imigrasinya..

    Anyways, terharu ey baca bu Anita nulis dalam bahasa Indonesia!, hahaha jarang-jarang.

    Hi Ica, sebelum menyesal, awalnya menyenangkan, setelah itu melelahkan. Thanks for dropping by. Saya sih mending disebut pelit daripada berurusan dengan orang2 di airport itu, maklum dulu pernah kejadian.
    Mbak Anita selain bagus bahasa Inggrisnya as you do, juga OK banget komen bahasa Indonesianya kan?. Salam🙂

  8. Kaki jenjang Says:

    Kang, loe belum menuliskan kalo koper ilang…😛 setelah menunggu berlama2 di conveyor belt, gak taunya koper gak nongol2. Alhasil kudu ngelapor dengan harap2 cemas, apakah koper akan kembali. Selama menunggu harus belanja mulai toiletries ampe CD alias underwear. Untuk menghibur diri, akhirnya I said it to myself, that I have good reason to shop.🙂

    Buat kaki jenjang, terima kasih karena telah membuat itinerary berputar2 dengan connection flight yang singkat banget di Washington DC, Denver, dan akhirnya koper hilang di Miami airport berikut semua perlengkapan pribadi. Di tunggu blog barunya ya?🙂

  9. Marisa Says:

    Hi Ica, sebelum menyesal, awalnya menyenangkan, setelah itu melelahkan.

    Yowis, pak Toni ..kita tukeran pekerjaan ajah!😀

    (ngarep.)

    Duuh Icha, kerjaan mu di dunia kreatif itu membuat awet muda. Kerjaan ini sebaliknya, tapi emang mau ? ngarep juga🙂 . BTW, aku link ya blogmu, hope you don’t mind.

  10. wied3000 Says:

    Wow…repot ya jadi business traveller. Apalagi kalo harus pergi sendiri…alone… Salam kenal, wied.

    Hi Wied, salam kenal juga. Emang repot tuh dan kesepian …😦 .

  11. the writer Says:

    Soal check in dan antrian panjang kenapa nggak pake check in online aja? Tinggal drop bagasi di airport. Cepat dan mudah (walaupun di Cengkareng agak diragukan pelayananannya – sempat agak agak bete dengan mbak-mbak petugas) dan gak usah berangkat dari rumah pagi buta, tinggal datang mepet-mepet saja sudah cukup.

    Kalo memang sering traveling kenapa nggak minta membership untuk frequent traveler, jadi bisa punya privilege untuk memilih tempat duduk yang nyaman🙂 gak usah berdempet-dempet apalagi duduk bareng orang yang sizenya, wah gak usah diomongin.

    Soal long haul flights dan jetlag memang dua biang kesengsaraan untuk traveling, tapi yah mau dikata apalagi🙂 anggap saja harga yang harus dibayar untuk pengalaman jalan-jalan

    Chek-in OL memang menyenangkan apalagi kalau tinggal di kota dengan infrastruktur internet yang memadai. Saya jadi member untuk Star Alliance, tapi seringkali untuk tujuan2 yang agak aneh harus menggunakan pesawat di luar jaringan mereka, jadi ya sama saja. Jet lag, memang bikin sengsara, tapi ya itulah, trade off Mbak.🙂

  12. treestyara Says:

    saya tambahin daftarnya…(walau bukan business traveller)
    * repotnya bawa balita yang ga suka perjalanan jauh..tas saya cuma isi pampers, susu plus botolnya, makanan dan mainan dia biar ga rewel, dan kalo sudah sampe tujuan, penyesuaian jam tidurnya sampe seminggu..pernah 2 hari 2 malam saya ga tidur sama sekali karena siang harus ngantor, sementara si kecil tidur dan saat malam, dia minta ditemani main sementara seharusnya saya tidur..
    *di bandara abu dhabi, dubai dan juga doha, kami diminta melepas sepatu dan semua yang berbentuk logam agar lolos metal detector (apa nama alatnya ya? wah lupa). yang menjengkelkan kalo di depan saya ada wanita India yang memakai banyak perhiasan. Antrian harus menunggu dia melepasi perhiasannya satu persatu…hiks..padahal saya antri sambil menggendong si kecil yang tidur…juga pernah ada kejadian, anak kedua saya kebetulan kurus sekali sehingga celana jeans yg dia pakai harus diberi ikat pinggang yg kebetulan terbuat dari besi, eh disuruh nyopot juga, melorotlah celana jeans yang dia pakai…ampun deh…

    Duuuh kasian ibu dan balita-nya ya? Kadang saya juga harus memaklumi kalau ada bayi nangis di pesawat, mencoba berempati bahwa mereka memang tidak comfortable dengan compressed air dan suasana bising di pesawat. Pemeriksaan keamanan di setiap bandara memang sangat ketat dan membuat tidak nyaman, walau kadang berlebihan. Di bandara JFK antrian ke metal detector sering bikin tegang dengan tatapan petugas keamanan di sana. Ih ngeri deh,😦

  13. azza Says:

    jadi pengen ikut nambahin juga sisi gak enaknya dr business traveler.. list ke 32 or 33 ya?

    kalo di Jakarta biasa bawa kendaraan pribadi & bisa parkir dengan akses yg mudah dr pintu masuk (woman privilege😀 ) jalannya jadi gak jauh.. tp kalo di luar biasakan diri hidup sehat a.k.a jalan kaki + bawa laptop + dokumen2 kantor + etc. nyari taksi gak bisa sembarangan tempat, belum lagi ngantrinya.. kalo pun ada kendaraan pribadi (sewa or nebeng ama kolega) bisa dipastikan jalan menuju tempat parkirnya juga jauh aja..
    dalam perjalanan pulang, biasanya terlintas pikiran “emang enakan di Jakarta” hueeheheheee..

    He he he emang bener. Tempat parkir mobil biasanya jauh banget dari terminal. Singapura dan HK punya MRT yang langsung ke Airport, tapi saya belum pernah naik subway langsung ke airport di Amerika. Jakarta memang semrawut, tapi bikin kangen ya ?😀

  14. Nathali Says:

    Salam kenal semuanya,

    Mau nanya nih, dari Montreal ke Jakarta. Transit di New york atau Chicago butuh visa gak sih ? Sempet binggung aja petugas travel nanyain itu pas mau beli tiket pulang. Thanks

    Wajib punya visa kalau transit di daratan Amerika karena semua penumpang harus clearance di imigrasi. Setidaknya itu pengalaman saya waktu ke Toronto melalui San Francisco. Salam.

  15. Mobius Says:

    Kalau traveling di atas 7 jam paling berasa pas bangun kaki kayaknya pegel banget, ilang nya bisa 1-2 hari. Makanya kalau naik pesawat dengan waktu lama musti pakai socks yang bisa nge press aliran darah di kaki.

    Bener emang kalau yang udah sering traveling pasti milih aisle daripada window. Jadi inget dulu awal- awal naek pesawat berantem rebutan window.

    Saya juga membuka sepatu untuk perjalanan jauh, lebih nyaman seperti itu. Aisle itu tempat yang paling banyak diperebutkan. Tips nya bilang saja kepada petugas punya masalah dengan ankle dan harus duduk di aisle🙂

  16. Dina Says:

    ya semua org mengatakan klo jadi business traveller itu uenak,,tp oh mrka tdk tau betapa stress nya diriku di perjalaan menggunakan pesawat,gak pernah tenang,apalagi ada guncangan sedikit aja aku udah gemeteran,,pokoknya stress deh,ditambah lg dengerin berita kecelakaan peswt dll ya..klo lg di pswt hanya bisa berdoa,smoga bisa selamat aja,and minggu depan aku jg musti balik ke indonesia dengan bayiku yg berumur 7 bln,di pswt nnti 15 jam-an or lebih..ya smoga smua lancar2 aja..
    btw..slm kenal ya …

    Hi Dina. Terima kasih sudah mampir. Waah rupanya sering bepergian juga ya ? Turbulence memang menakutkan dan membuat mual. Bayinya gak nangis terus kan di pesawat ?🙂

  17. Dina Says:

    ya kalo nangis di kasi ASI pasti langsung diem🙂 tp pengalaman ku selama bepergian dgn bayiku,untung dia gak pernah rewel ,malah dia tidur mulu selama perjalanan,ya mungkin dia jg hoby kali ya,sudah mendarah daging seperti mommynya hehehe,

    Anak yang baik, tapi maklum koq kalau anak nangis terus di pesawat karena memang suasana yang tidak nyaman dan tekanan udara yang tinggi. Salam.🙂

  18. Finally Woken » Blog Archive » Travel With Dignity Says:

    […] at 3.30 AM alarm, darn!, so I will have to stop. You might want to check out Andie Summerkiss and Toni Wahid for more travel […]

  19. David Kasim Says:

    tips utk penerbangan jarak jauh.
    1. bawalah melatonin (dietary supplement) dan minumlah 1 caps setelah makan utk membantu tidur di dalam pesawat. melantonin tidak addicted dan dijual bebas di century atau guardian.melantonin=hormon tidur
    2. ear plug yg mampu menyumbat lubang telinga. yang bagus 6 pcs warna putih sekitar rp.40 ribuan bisa dibeli di guardian, kalau di singapura warna pink yg gelap juga di guardian. harap cari bahan yg seperti malam – mudah dibentuk dan bisa pas menutup lubang telinga.jangan percaya penyumbat telinga dr bahan lain, saya sudah pernah coba hampir semua product ini – tidak ada yg efektif selain bahan spt malam.
    3. penutup mata
    4. head rest

    mudah-mudahan empat item tersebut bisa membuat perjalanan jarak jauh lebih pleasant

    Terima kasih Mas David atas tambahannya. Salam kenal dan thanks for dropping by.🙂

  20. Kamel Says:

    whooaaa…paling pegel emang bawa2 laptop. tapi sekarang untungnya ada laptop mini banget dan harga jauh lebih murah. kalo cuma buat presentasi n ngetik2 atau internet mah ini laptop cukup efektif.

    oya, paling males emang kalo kelamaan di pesawat kulit jadi super kering tersiksa banget! mana lotion gak boleh dibawa ke dalem pesawat, paling ok kalo penerbangan yang sediain lotion di toilet kayak Qatar Airways.

    Hohoho..paling males kalo naik pesawat penumpangnya pada pake balsem or minyak2 angin gitu deh..jadi ammppuunn baunye. bikin stress kalo penerbangannya berjam2..huhuuuh..

  21. Bukan Cuma Blooger Biasa Yang NgeBlog » Blog Archive » Business traveller : siapa bilang enak ? « toni wahid Says:

    […] Read more from the original source:  Business traveller : siapa bilang enak ? « toni wahid […]

Comments are closed.


%d bloggers like this: