Sepesawat dengan anggota dewan yang terhormat

 

 

Saya gak ngerti kenapa sering ketemu dengan para anggota dewan plus para pejabat (baca: pejabat gak penting) di  pesawat Singapore Airlines. Biasanya mereka serombongan sampai sepuluh orang, pake jas, kaca mata (gak tahu koq banyak yang pake warna coklat), bawa barang belanjaan duty free seabreg, ketawa-tawa, sambil ngobrol gak jelas, ada yang dengan keluarganya. So ? Maaf, sebagai business traveller, pemandangan seperti sudah terlalu sering saya lihat, baik di kelas ekonomi maupun bisnis. Something wrong here.

Biasanya mereka sok akrab dan langsung ngajak ngobrol saya. 

Dari mana Mas ?
Dari Hong Kong ?
Ooooh kerja di sana, baru pulang  ?
Bukan, baru selesai meeting di sana 
Jadi kerjanya di mana, perusahaan apa ?
DI Jakarta, perusahaan Amerika.
Oooh, bagus dong investasinya ?  
Bagus (males deh kalau sudah di tanya ini, lagian gak jelas apa maksudnya)
Kalau bapak dari mana ? tanya saya.
Dari Singapura, biasa tugas
Oohhh (bete mode=ON banget)

Ah ya sudah karena malas melanjutkan pembicaraan saya pura2 baca majalah yang ada. Maklum karena banyak mereka yang lebih “pintar” dari saya, jadi minder gitu.🙂 Tapi kira2 big picture-nya seperti ini :

Pertama, Singapore Airlines selain terkenal dengan layanan prima, juga ngetop dengan harga tiketnya yang super mahal. Ini perkiraan harganya ? Tiket saya ke Bangkok kelas ekonomi seharga 6 jutaan, San Francisco hampir 16 juta, Toronto hingga 20 juta lebih. Penerbangan lain seperti Garuda atau malah budget airlines bisa jauh lebih murah hingga 20 hingga 50%. Koq milih SQ ya ? 

Kedua, saya tidak tahu urusan mereka di luar negeri dan negara mana saja yang mereka kunjungi. Saya coba berprasangka baik, mungkin mereka ingin melihat “sesuatu” yang begitu penting dengan kepala mata mereka sendiri di luar negeri dan harus berangkat serombongan. Atau mereka harus ketemu dengan pejabat di negara sana untuk “studi banding” dan juga harus berangkat rame2 ketimbang memanfaatkan saluran komunikasi melalui, blog, email, internet, telepon, yahoo mesangger, dan saudara2nya (kalau mereka ngerti pakenya).

Perkara anggota dewan yang demen keluyuran semua orang sudah tahu, tapi hal ini tetap mengusik saya dan moga2 anda sebagai pembayar pajak di negara ini. Bahwa ongkos pesawat itu mahal. Mari kita hitung biayanya untuk 10 orang anggota dewan yang berangkat ke negara terdekat, Singapura untuk 2 malam perjalanan “dinas”  :

Tiket SQ kelas ekonomi Jakarta-Singapura pp : 3 juta
Hotel (bintang 5 dong, kan anggota dewan) : 1.7 juta di Mandarin Orchard x 2 malam= 3.4 juta
Uang saku perjalanan dinas, transport, dll, saya tidak tahu jumlahnya, tapi katakanlah angka moderat sekitar : 2 juta (mungkin jumlahnya lebih besar, who knows)

Total per orang = 8.4 juta x 10 orang = 84 juta. Sebagai catatan, hampir setiap bulan saya ketemu dengan rombongan seperti ini, jadi hitung saja per tahun, sekitar 1 milyar lebih. Itu baru Singapura belum negara2 lain yang lebih jauh, dan tentu saja lebih mahal. Bingung.

Ah moga2 saya yang salah, kan tidak semua nggota dewan seperti itu toh ? but something doesn’t look quite right and I really don’t know what to do.

Uang satu milyar bisa membebaskan ribuan bayi2 yang terkena busung lapar di berbagai pelosok Indonesia, meringankan korban lumpur Lapindo yang gak pernah beres2, memperbaiki ratusan sekolah yang bobrok, dan daftarnya masih panjang. Sayang mereka menghabiskan hanya untuk hotel berbintang dan tiket pesawat. Kalau ada ketidakadilan yang menohok mata di negeri ini, pengalaman saya adalah contohnya.

What do you think ?

 

 

 

 

 

Tags: ,

10 Responses to “Sepesawat dengan anggota dewan yang terhormat”

  1. Candra Says:

    Saya yakin sebagian besar pejabat Indonesia korup, kalau nggak gimana mungkin negara kita yang kaya-raya itu bisa bangkrut kayak sekarang?
    Tapi saya pernah ketemu dengan serombongan profesional Indonesia yang bekerja di bidang Minyak & Gas. Walaupun di Indonesia mereka pejabat kelas kakap, waktu diundang ke luar negeri mereka nggak segan-segan naik pesawat kelas ekonomi, menginap di hotel seadanya, mobil seadanya, bahkan menegaskan kalau perjalanan bisnis itu amanah, jadi gengsi nggak penting. Saya terkesan sekali.
    Tapi apa bisa susu setitik ini memutihkan nila sebelanga?

    Saya harap demikian juga bahwa perjalanan dinas tujuannya ya bekerja dan bisa dipertanggungjawabkan, bukan hura2, menghabiskan anggaran dari uang pajak yang telah kita bayarkan. BTW, foto2 di blognya keren tuh. Salam.

  2. Elyani Says:

    Mas Toni, kalau saya boleh memilih sendiri anggota dewan yg bisa mewakili suara rakyat, mungkin saya akan memilih Suster Apung (juru rawat Rabiah) yg tahan berpanas2 diterpa badai dan ombak demi memberi pelayanan pada masyrakat di pulau2 kecil disekitar laut Flores sana. Ibu Rabiah ini pantas sekali mendapat gelar “terhormat” dalam arti kata yg sebenarnya. Bukan seperti anggota2 dewan yg kerjanya datang, duduk, ndomblong, ndobos (ngerti bahasa Jawa kan?), dan ujung2nya duit! Saya juga gak habis pikir kenapa mereka senang bepergian ke LN atas nama studi banding dan kenapa gak bisa diwakili 1 atau 2 orang saja??? Kenapa harus rombongan dan pakai belanja2 lagi!!! Apa mereka itu begitu tumpul otaknya sehingga takut ketahuan tololnya kalau pergi sendiri dan kembali membawa laporan yg benar??

    Ketika saya berada di Kota Kinabalu, Sabah, baru2 ini saya sangat terkesan dengan industri pariwisata disana. Kota Kinabalu adalah kota kecil tapi memiliki banyak tempat penginapan mulai dari bintang 4 sekelas Hyatt dan Le Meridien hingga budget inn. Kotanya kecil tapi aman, nyaman dan jalanan bebas bopeng. Yg mengejutkan lagi, pasar sayur dan pasar ikan kok ya bisa2nya jadi salah satu tempat yg banyak dikunjungi wisawatan asing. Disana saya lihat banyak wisatawan Eropa dengan santai menikmati nasi goreng (yg jualan kebanyakan orang Jawa Timur), mie bakso dsb. Mau yg mahal jalan sedikit ke arah kafe da karaoke juga ada. Kalau mau studi banding gak usah jauh2. Banyak yg bisa kita pelajari dari tetangga paling dekat yg rumahnya persis di sebelah kita. Sudah saatnya kita tidak perlu lagi menyebut mereka sebagai anggota dewan yg terhormat, karena perilaku mereka jauh panggang dari api.

    *sori esmosi dan kepanjangan nih komen-nya🙂

    Hi Elyani, suster apung adalah my hero too, I will vote for her for sure. Prilaku anggota dewan yang saya ceritakan di atas adalah refleksi betapa kekuasaan bisa menjadi begitu corrupt dan bau busuknya sudah kemana-mana. Setiap polling yang dilakukan oleh media massa selalu memperlihatkan bahwa orang sudah tidak lagi percaya sama kredibilitas mereka (padahal yang bayar gajinya kan dari uang kita).
    Saya belum pernah ke Sabah, tapi memang benar bahwa Malaysia dengan segala masalahnya, masih punya beberapa kelebihan yang tidak dimiliki kita berdasarkan pengalaman travel saya ke KL, Djohor, dan Penang. Mereka mau maju, sedangkan kita jalan di tempat kalau tidak mau dikatakan mundur ke belakang. BTW, pamerannya suskses kan? Salam.

  3. Poer Says:

    Secara pribadi saya pengen anggota dewan di negara yang kita cintaini ini dibubarkan aja, karena mereka sebenarnya bukan representasi dari masyarakat Indonesia. Mereka yang ada di dewan itu sebagaian besar karena punya “harta” yang banyak dan memiliki jaringan konspirasi berantai, dan mereka sendiri pada umumnya juga tidak pernah merasa mereka itu adalah perwakilan masyarakat Indonesia. Jadi sangat sangat jarang yang punya hati nurani dan perhatian yang sungguh sungguh terhadap kepentingan masyarakat luas dan sebaliknya mereka hanya mementingkan “profit” dan “kepentingan” mereka sendiri dan golongannya…… !!!

    Kegelisahan yang sama Mas Poer. Sebagai dosen tentu Mas Poer sakit hati kalau uang negara dihamburkan percuma. Saya sih cuma bisa ngenes melihat mereka. Duuuh.

  4. therry Says:

    Kalo study banding tuh ngapain aja sih? Sumpah deh saya nggak tau. Kok tiap kali pergi sana-sini alasannya “study banding”. Ada yang bisa ngejelasin arti sebenarnya? He3x.

    Neither do I Therry. Studi banding = !@$%@$@#@%!🙂

  5. andiesummerkiss Says:

    I went to a trade fair in Guangzhou last year and met the “studi-banding” people. They were there for 10 minutes and left to go back to Shenzhen. My partners knew them since we dealt with them a lot in our business. They were there for the trade fair and also for other “affair” in Shenzhen. I am guessing the other “affair” was also on the expense of our beloved mother country.

    I found that nauseating.

    The sentiment is similar Andie, they just spend our money for nothing, but only for their self interest.

  6. the writer Says:

    ini memang penyakit pejabat. jadi inget dulu waktu jaman aku masih jadi kuli tinta, segerombol pejabat yang keukeuh ingin brangkat ke mesir, alasannya studi banding. Nyampe di mesir nggak ada yang ditemuin (wong gak bikin janji sama mereka – ujung2nya belanja) Yang pejabat Mesir nyalahin, kok mau kemari gak bilang-bilang, ya kita sibuk dong gak bisa nemuin, lalu pejabat RI alesan waktu ditanya wartawan, “yah mau gimana lagi, wong nggak ada yang ditemuin, akhirnya ya belanja”.

    Belanjanya pake uang pajak kita tuh, ngenes banget.

  7. ajo Says:

    Saya sering mengobrol dgn teman2 permasalahan ‘gaya hidup’ anggota2 dewan ini.. dan kenapa akhir-akhir ini semakin menjadi, kenapa ya..?
    beberapa metode saya coba utk mendapatkan jawabannya, dan salah satu yg cukup efektif adalah mencoba membayangkan diri sendiri jadi anggota dewan!!!

    dengan menghayal utk membayangkan menjadi anggota dewan selama 10 menit saja betapa nikmatnya menjadi anggota… dari seseorang yg tiada menjadi ada, dari seseorang yg dihinakan menjadi dipujakan, dari…menjadi….., dari… menjadi… dst

    setelah sadar dari penghayalan 10 menit tadi.. sedikit bergidik juga, betapa kekuasaan dan aturan berada di tangan yg kecil ini… dan betapa ganjaran berupa (mungkin) gendir gede siap menanti.

  8. Amilla Vitriandy Says:

    Kebayang gak Mas bahwa saya setiap hari harus meladeni orang-orang yang Mas Toni kisahkan diatas ?? hahaha.

    Bete bete aaahhhhh…. 😀

    Sabar ya Jeng … ngacir🙂

  9. yunie jusri djalaluddin Says:

    Karena mereka pengen ngerasain apa yg TW rasain. Bedanya, TW punya kompetensi dan profesional, sedang mereka dengan jurus aji mumpung…mumpung ada duit suap, mumpung masih menjabat dan mumpung belum ketangkep KPK:D

    Hi hi hi, kalau mereka ngajak ngobrol makanya suka males. Habis gak nyambung …🙂

  10. ngelanturboy Says:

    udahlah mas, jangan ganggu “kerjaan” mereka.
    mereka kan bisa-nya cuman keluyuran gak jelas kayak gitu aja…
    disuruh ngurus rakyat, malah ngabisin duit negara….
    pantesan indonesia miskin, wong para pemimpinnya kayak gitu..

Comments are closed.


%d bloggers like this: