Birokrasi dan Calon Gubernur Jabar

Layanan publik adalah indikator pertama sebuah pemerintahan yang berjalan dengan efesien. Kemarin saya harus berurusan dengan bagian perizinan di Pemda kota Bandung untuk mengurus selembar surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Ini pengalaman pertama merasakan aura sebuah kantor pegawai negeri sejak bertahun lalu. Calo berkeliaran, tukang dagang dengan bebas menjajakan barangnya di halaman pun di dalam kantor. Mesin ketik masih ada, komputer masih jaman baheula, petunjuk arah ruangan sering menyesatkan, furniture seadanya, dan para pegawai bebas merokok di area kerja walau di pasang AC.

Ini gambaran yang memprihatinkan, mungkin kondisinya jauh menyedihkan di daerah terpencil lainnya. Saya tidak tahu, tapi ternyata reformasi birokrasi masih jalan di tempat. Besok adalah pemilihan Gubernur Jawa Barat, dengan tiga calon pasangan : Dhani-Iwan, Agum-Nu’man, dan Ahmad-Dede Yusuf. Ketiga calon menjanjikan perubahan kinerja birokrasi dalam salah satu visi dan misinya. Entah apa tolok ukuran keberhasilan yang mereka janjikan karena visinya masih bersifat kualitatif alias harus diolah lagi agar terukur.

Poinnya begini, orang sudah semakin skeptis dengan segala macam janji pemilu tapi minim atau malah tidak ada realisasi sama sekali. Gubernur yang memimpin birokrasi di daerah seharusnya menjadi motor perubahan para bawahannya. Ada perubahan signifikan selama ini ? Hmmmm, anda tahu sendirilah jawabannya.

Sekarang ini terjadi ketidakadilan yang begitu besar akan hak setiap orang mendapatkan layanan publik. Jangan miskin, karena ngurus KTP saja perlu uang pelicin, jalanan rusak, tapi pajak jalan terus. Ada seloroh, di negeri ini harga selembar kertas yang diberi stempel birokrasi mungkin termahal sedunia. Sindirian itu benar adanya. Makanya saya kutip perkataan Henry David Thoreau di atas. Salam.

* * * * *

Tags: , , , ,

One Response to “Birokrasi dan Calon Gubernur Jabar”

  1. therry Says:

    Janji-janji palsu… muak gw dengan para politisi busuk itu. Gak usah lah nebar2-nebar janji. Mendingan suruh dia orang tanda tangan surat yang menegaskan kalau sampai janjinya nggak terpenuhi, dia harus menggorok lehernya sendiri.

    Gw jamin pada nggak ada yang mau jadi politisi kalau disuruh begitu.

    I believe so Therry.🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: