Bandung : Art Deco-nya harus terawat

art3

Sudah tak terhitung berapa banyak tamu dan teman2 dari luar negeri saya ajak berkunjung ke kota ini. Kadang belanja di factory outlet, tapi sering juga saya ajak mampir di Kiaracondong yang pernah dinobatkan oleh badan kependudukan PBB sebagai daerah terpadat di dunia. Teman saya spesialis tourist guide orang Belanda, salah satu tujuannya adalah makam para pembesa Belanda yang dikuburkan di Bandung. Kolega saya dari Pakistan, Filipina, Kamboja, dan Sri Lanka pernah saya ajak nongkrong makan mie kocok di pinggir jalan. Bos saya menyiapkan uang ratusan ribu plus kartu kredit sambil bertanya, pake Master bisa gak? Saya sih senyum saja, ia tidak tahu jajanan yang akan dikunjungi adalah street vendor alias pedagang kaki lima. Inilah bagian kecintaan saya terhadap kota Bandung, agar orang luar mengenal Indonesia bukan hanya Bali, tapi juga Bandung terutama dengan arsitektur Art Deco-nya yang mentereng.

Tamu2 yang datang selalu saya bawa ke bangunan2 tua di kota Bandung. Tujuan pertama biasanya ke Hotel Savoy Homann tempat Chalie Chaplin pernah menginap, Gedung Merdeka, Gereja Katedral yang megah, Vila Isola, Gedung Sate, Hotel Preanger, dan berbagai gedung bersejarah lain.

art7


Gedung Swarha di sebelah mesjid Agung sayangnya kurang terawat, tapi untung masih ada kantor pos yang cukup mentereng. Sayang gedung BRI yang menjulang berbentuk kotak merupakan kebodohan tata kota Bandung yang membuatnya seperti monster dan merusak pemandangan di wilayah ini.

Dulu Bandung punya Berly Hills, tepatnya di jalan Pasteur dengan jajaran pohon palem. Sekarang? Bentuknya sudah semrawut. Jalan Cipaganti dan Dago sudah berubah fungsinya menjadi hotel, cafe, dan factory outlet. Iklan besar2 di mana2, termasuk iklan pemilihan Gubernur (cape lihat iklan mereka…)

art2

Saya khawatir bahwa suatu saat bangunan2 bersejarah di Bandung harus mengalah dengan kepentingan bisnis. Gejalanya sudah terlihat saat pemerintah kota Bandung sudah kurang peduli dengan perawatan bangunan yang sudah uzur. Dokumentasi bangunan2 bersejarah memang sudah dilakukan oleh Pemda kota Bandung, tapi saya kira langkahnya harus jauh dari hanya membuat daftar saja.

art10

Harus dibuat semacam zoning system untuk area yang tidak boleh dibangun dengan arsitektur nyeleneh. Kedua adalah property restriction, pemilik maupun pemerintah tidak boleh sembarangan mengubah bentuk atau memodifikasi bangunan bersejarah. Dulu pemda Bandung dengan seenaknya akan meruntuhkan gedung Singer. Untung aksi mereka dihentikan karena ramainya protes dari masyarakat.

Historic buildings provide a tangible link to our past. This link allow us to establish a sense of orientation about our place and time. We can learn from the past, and through preservation of historic buildings, can continue to benefit from the accomplishments of our ancestors. (Historic Building : Issue And Protection)

Di beberapa negara Eropa seperti Inggris banyak organisasi non profit yang dengan sukarela mengerahkan kepedulian masyarakat untuk merawat gedung2 bersejarah. Di Wisconsin Amerika, pemilik gedung bersejarah diberikan keringanan membayar pajak penghasilan sebesar 5%. Maksudnya agar dananya bisa dipergunakan untuk melakukan perawatan.

art9

Di kawasan menteng Jakarta tempat rumah2 Belanda, ada pemilik rumah yang sudah tidak sanggup lagi membayar Pajak Bumi dan Bangunan yang jumlahnya 12 juta karena ia sudah pensiun. Akhirnya rumahnya di jual dan berganti arsitektur dengan dua tiang romawi, pagar stainless tinggi, dan warna cat amit2.

art6

Jadi kepada calon Gubernur Jawa Barat, mohon diperhatikan gedung2 bersejarah di Bandung, sehingga kita tidak lupa akar sejarah yang pernah dijalani. 

What do you say ?

Ket :Foto 1 Villa Isola, Foto 2 : Hotel Savoy Homann, Foto 3 : Kantor Pos Besar, Foto 4: Gedung Bank Mandiri, Foto 5 : Gereja Katedral St. Petrus, Foto 6 : Fasad Hotel Preanger

Foto2 diambil dengan kamera Canon 40D + Canon EF 17-40mm/f4L USM.

Tags: , , , , , , , , ,

11 Responses to “Bandung : Art Deco-nya harus terawat”

  1. uwiuw Says:

    Sayang gedung BRI yang menjulang berbentuk kotak merupakan kebodohan tata kota Bandung yang membuatnya seperti monster dan merusak pemandangan di wilayah ini.

    kalau dipikir2 lagi, bener jg..krn sepanjang jalan asia-afrika itu, ada section yg sepenuhnya bangunan art deco baik yg sejajar dgn hotel panghegar maupun hotel preyenger. oh jadi teringat masa SMA….sy sering dulu berjalan melewatinya bila mau ke perpustakaan daerah (disamping gedung KAA) dari sekolah sy di sma 7 — jl lengokong kecil.

    Dan ada satu rumah belanda g keren abis…walau udah terlihat kumuh dan sering dipake tidur2 pengemis. Tapi sekalipun begitu, masih tampak kebesarannya.

    setiap kali lewat di depan rumah itu, baik berjalan maupun naik motor, sy selalu berkata :i will buy you one day, baby…tunggu aja gw kaya.” entah mengapa rumah di jalan asia-afrika itu mengingatkan sy dgn losmen milik keluarga sy dulu di sibolga…simpel but menawan🙂

    Yup, siapa tahu rumahnya kebeli. Wait a minute, SMA 7 ? Wah sama dong? Duh, masa SMA di sana, fun-tastic. Keyen2.

  2. Sascha Says:

    Pictuer looks good😉

    Thanks Sascha. You might want to explore in my Flickr as well.

  3. uwiuw Says:

    @mas tony,
    wah yg beenr kang…berarti brutal jg donk! biasa anak 7

    Brutal sih nggak, tapi harus mau diajak berantem sama alumni kalau lagi tawuran dengan STM 1. Yang lucu dulu Kapolsek-nya aja mantan SMA 7 yang selalu geleng2 kepala kalau menangani kasus kita🙂. Satu lagi, gara2 gak tahu dengan Nicky Astria waktu ditanya senior, saya harus jadi dirigen lagu dangdut waktu ospek. Gila, tapi lucu.

  4. Tjoeng Miau Yoeng Says:

    Salut atas kepedulian Anda !

    “Kota yang kehilangan warisan sejarahnya, bagaikan manusia yang kehilangan ingatan …”

    Di negara2 Eropa, wilayah kota lama dilestarikan dengan begitu ketat sambil seringkali dipadukan dengan alih-fungsi menjadi kawasan komersil yang elit (boutique2 terkenal, cafe eksklusif, dll.)

    Di Bandung: dibiarkan rusak, bobrok, runtuh sendiri, jadi tidak ada perlawanan ketika kawasan itu kemudian di bangun jadi “MOL”. (kita sebut saja “MOL”, karena Mall di Amerika, misalnya, terletak di pinggiran kota dan tidak pernah dibangun di tengah2 kota, dengan mengubur pusat kota yang bersejarah)

    PS: BANGUNAN SINGER KINI TELAH HILANG TANPA BEKAS…

    Kita sama2 peduli karena warisan sejarah mulai hilang satu persatu seperti gedung Singer. Kalau Bandung ingin tetap mempertahankan predikatnya sebagai salah satu kota di dunia yang banyak arsitektur Art Deco-nya semua pihak harus terlibat, termasuk kita kan? Salam.

  5. Tjoeng Miau Yoeng Says:

    Menyambung omong mengenai arsitektur dengan tiang romawi, saya juga pernah mendengar istilah arsitektur bolu , arsitektur kue tart penuh mentega.

    Yang paling baru: arsitektur kue lapis [kue bergaris-garis ini mengingatkan akan bangunan bergaya MINIMALIS (biasanya ditempeli batu alam bersusun baris, hehehe), tapi dibangun penuh dari benteng ke benteng, dan karena banyak memakai kaca akhirnya biaya perawatannya menjadi MAKSIMAL]

    Pemilik rumah memang punya hak sepenuhnya atas desain yang ingin ia pilih, sayangnya, banyak yang terlalu bersemangat sehingga merusak tema rumah sekelilingnya. Makanya jadi aneh.

  6. Elyani Says:

    Wah sama…saya juga penggemar gedung2 tua! Kalau ke Bandung saya paling senang lewat markas Siliwangi di Jalan Gudang Peluru. Deretan bangunan panjang bercat hijau dan putih dengan pintu2 panjang peninggalan arsitektur Belanda dulu, benar2 memukau saya. Kadang saya sengaja naik angkot lewat situ kemudian turun dan jalan kaki sepanjang bangunan tersebut. Kemudian kantor pos yg berada disebelah Gedung Sate. Juga Heritage FO yg dulu pernah digunakan oleh the British Institute (seperti foto2 pada postingan saya), kemudian gedung SMA 3 & 5, gedung SMA Santa Angela, Bank Indonesia yg terletak tidak jauh dari Katedral, dan gedung Kimia Farma di Jalan Pajajaran yg memproduksi pil kina, dan gereja Katedral tentunya. Kalau diturutin satu2 gak cukup nongkrong sehari cuma buat foto2 gedung yg mudah2an tetap dipertahankan sampai kapanpun.

    Gedung PJKA di viaduct itu juga keren dan memang gak cukup sehari melihat berbagai arsitektur Art Deco peninggalan Belanda. Katedral favorit saya, megah. anggun, tapi simple tidak seperti arsitektur Gothic yang banyak ornamennya. Kalau kita tidak peduli dengan warisan sejarah, siapa lagi?

  7. Tjoeng Miau Yoeng Says:

    Kita2 yang menghargai kesejarahan sudah pasti sangat menyayangkan kecenderungan perusakan kota lama yang terjadi sekarang ini.

    Kalau bisa, lebih dan lebih banyak orang lagi yang bisa ikut menikmati kesejarahan ini dan memahami arti pentingnya.

    Dalam kejadian di mana bangunan bersejarah dihancurkan, menurut hemat saya, yang paling bertanggungjawab adalah Pemerintah terkait, dalam hal ini mungkin Dinas Pengawas Bangunan.

    Dalam kejadian di mana bangunan baru dibangun tanpa mengindahkan tata kota yang paling bertanggung jawab adalah pemerintah. Bagaimana hal ini bisa dibiarkan terjadi ???

    (misalnya di Jl. Cipaganti Bandung, hampir semua rumah baru bertingkat dibangun terlalu dekat ke jalan, padahal tingginya mencapai lebih dari 8 meter. Bandingkan dengan bangunan lama yang dibangun jauh dari jalan padahal hanya 1 lantai.)

    Untuk dapat terwujud secara nyata, keindahan kota itu harus diterjemahkan ke dalam aturan yang kuantitatif / kualitatif. Dan selanjutnya, aturan itu harus dilaksanakan.

    Apa yang terjadi kalau hal ini tidak dilakukan ?

    Jadilah Bandung (dll.) …. hehehe….

    Bandingkan, misalnya dengan kota Amsterdam (bisa dilihat profilnya dari udara dari Google Earth) yang terlihat begitu menarik, kota lama bersejarah tetap utuh di tengah, di sekelilingnya berdirilah pencakar langit modern. Padahal Belanda negara kecil, hampir seukuran Jabodetabek.

    Memang menyedihkan, saya pernah ngobrol dengan orang dari pengawas bangunan saat mengurus IMB tentang peralihan fungsi bangunan tua. menurutnya, kepentingan ekonomi membuat mereka harus melakukan kompromi dengan pemilik bangunan. Misalnya, jajaran factory outlet di jalan Ir. H. Juanda dan jl. Riau yang sebenarnya berlawanan dengan fungsi awalnya. Mereka jadi tutup mata karena pengalihan fungsi itu membawa berkah ekonomi dengan masuknya wisatawan untuk belanja. Saya bisa memahami alasan ini, tapi bila konsesi yang dilakukan sudah pada taraf yang mengkhawatirkan tentu harus dibuat batasan baru agar wajah kota yang asli tetap bisa dipertahankan. Kedua, saya sanksi bahwa Bandung akan mempertahankan beberapa bangunan berarsitektur Art Deco. Perkiraan saya, Gedung Swarha dekat mesjid Agung jl. Asia Afrika yang sudah semakin tidak terurus akan segera berubah fungsi. Pada saat kota Miami di Amerika terus mempertahankan bangunan Art Deco-nya, kita harus rela menyaksikan bangunan tersebut digusur satu persatu demi kepentingan ekonomi. Sedih ya pak ?

  8. Tjoeng Miau Yoeng Says:

    Please allow me to say it again,

    a city without history, is like a man loosing his memories …

    [ quoted from a famous lecturer in Semarang, whose name I still try to recall🙂 ]

    Dan generasi muda tidak akan pernah tahu sekumpulan arsitek terkemuka di dunia khususnya dari Belanda berkumpul di kota Bandung di akhir abad ke-19 untuk menata wajah kota kembang seperti ini. Kita tidak pernah tahu, mengapa Belanda membuat rumah tropis dengan kemiringan atap 45 derajat. Kita tidak tahu karena bangunan sudah berganti desain dan menghilangkan jejak warisan sejarah.

  9. tridjoko Says:

    Kota yang banyak arsitektur Art Deco-nya barangkali adalah Miami dan Monaco. Di Miami ada ratusan gedung berarsitektur yang sebagian besar dicat putih. Jika kita keliling kota Miami pada malam hari, dengan teknik pencahayaan yang aduhai, wah…serasa di surga !

    Di Monaco dari tayangan balap F1 juga terlihat banyak banget gedung berarsitektur Art Deco, yang masih terpelihara dengan baik..

    Kalau kota-kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Malang juga ikut memelihara gedung-gedung berarsitektur Art Deconya…wah..serasa surga pindah ke Indonesia deh..

    -tri (triwahjono.wordpress.com)

  10. Roedhy Guniwadibrata Says:

    Padahal Bandung dinobatkan sebagai kota no 9 di dunia yang paling banyak peninggalan art deconya. Mengalahkan kota kelahiran art deco sendiri, Perancis…tapi sedikit sedikit eh banyak, mulai pada hilang ditelan kepentingan jaman…..

    Sedih mas, di negara lain pemerintah dan kalangan LSM bekerja sama untuk terus menjaga warisan gedung2 bersejarah, di kita? Ya dibangun mall.😦

  11. yunus ilham Says:

    salut sama kang toni!

    weekend kemaren, alhamdulillah saya punya kesempatan buat sedikit menapaki lagi jalanan Kota Bandung tercinta…
    tapi, rasa bahagia itu cuma singgah sebentar…
    ceritanya.. pagi-pagi, saya jalan kaki dari savoy homann ke arah alun-alun… maksudnya pengen sekalian liat kondisi mesjid agung..
    apa yg saya dapat? duh gustiii… melangkah di trotoar dari savoy ke alun2 ternyata tidak senyaman yg saya harapkan… yg ada saya harus menahan rasa mual supaya tidak muntah akibat dari bau (maaf) pesing sepanjang trotoar yg perwajahannya pun memang memprihatinkan…
    lalu, mata saya tertuju ke jembatan yg berada sebelum alun2. Sejak awal pembangunannnya dulu, saya tidak pernah merasa sreg dengan jembatan ini. Kini kondisinya makin ampuun deh.. apalagi ketika tiba2 saya lihat ada gelas plastik yang terlempar (dilempar?) dari atas jembatan itu ke jalan raya asia-afrika.
    lalu saya masuk ke taman mesjid agung, lagi2 saya cuma bisa prihatin melihat kondisi sekitarnya… kesan tidak terurusnya kota tercinta ini lagi2 tampak di depan mata. lebih jauh masuk ke areal mesjid, saya dibuat lebih terbengong2 lagi oleh pemandangan memprihatinkan lainnya.. tampak sekali kalau mesjid yg harusnya agung ini tidak dipedulikan oleh pihak2 yg harusnya peduli..
    sedih pisan lah pokona mah.. my lovely bandung..

    Bandung memang semakin memprihatinkan, kotor dan jorok. Penataan kota seringkali mengbaikan kaidah estetika demi keuntungan sesaat, contohnya jembatan di depan Kantor Pos Bandung yang justru merusak pemandangan. Pak Yunus dan siapa saja yang pedulu tentang Bandung melakukan apa yang bisa demi kota tercinta ini. Nuhun Kang.🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: