Lalu lintas di Jakarta semakin edan

lau-lintas.jpg

Ini bukan isu baru, mungkin semua pengguna kendaraan Jakarta sudah tahu betapa amburadulnya kondisi lalu lintas dan jalan berlubang di ibu kota. Secara berseloroh saya sering mengatakan kepada tamu2 kantor dari luar negeri yang sedang stress dihadang kemacetan berjam-jam, “if you can survive driving in Jakarta, you merely can survive anywhere in the world“. Mereka langsung mengangguk tanpa berkata apa2, karena baru pertama kali menemukan kota di dunia dimana mobil hanya bisa berjalan dengan kecepatan 10 km/jam.

Kantor saya hanya berjarak sekitar 14 km dari rumah, bila lancar kurang dari setengah jam pun sudah bisa ngopi di kantin bawah. Tapi dari tahun ketahun waktu tempuh koq semakin panjang. Mula2 45 menit, nambah lagi jadi sejam, pas macet sekitar 1.5 jam, dan kalu sudah maceeeeet sekali, harus banyak bersabar dengan waktu tempuh yang bisa mencapai 2 jam! Teu eling (gila) kata orang Bandung.

Kalau sudah begini orang saling serobot dan kehilangan kewarasannya. Mobil mewah bukan berarti cara mengemudinya elegan, sami mawon, semuanya jadi ingin menang sendiri. Lagi macet berat tiba2 suara sirene motor besar polantas yang mengawal mobil sedan hitam yang tidak jelas siapa pejabatnya – minta jalan. Lambat minggir kita dibentak atau mobil ditendang oleh sepatu larsnya, paling sial mengeluarkan surat tilang. Go figure !.

Motor adalah atraksi lain, mungkin sedikit kalah bersaing dengan teman2nya di Vietnam dalam posting saya di sini. Pengemudi motor adalah raja jalanan di Jakarta yang meliuk-liuk mempertontonkan aksi akrobatiknya tanpa kenal rasa takut. Mobil butut saya semakin banyak baretnya sejak di bawa ke Jakarta karena salam tempel motor di sini, tapi ya sudahlah. Kalau bisa memilih, siapa sih yang mau naik motor di Jakarta yang kena semprot asap knalpot tebal dari bis2 kota, dalam cuaca panas atau kehujanan.

Di Malaysia setiap pengendara yang baru lulus ujian Surat Izin Mengemudi (SIM) wajib menempelkan stiker dengan tulis P (Probation) besar atau masih dalam percobaan. Sekali melanggar dalam masa tersebut, SIM-nya langsung wafat alias dicabut oleh polantas sana. Di Singapura jarang sekali terlihat polantas nangkring di perempatan, tapi mereka punya CCTV di mana-mana. Silakan melanggar, kamera yang akan mengabadikan nomor mobil plus wajah cakep si pengendara. Hukuman pelanggaran lalu lintas di negara ini sangat berat, ujian SIM dilakukan sangat serius, tentu saja tidak bisa disogok. Di kita? Well, you know…

Di Jerman pun sama, feel free untuk ngebut di autobahn (tol) kalau ingin wajahnya nampang di kantor polisi setempat dan dikirimi surat cinta berupa denda yang harus dibayar. Di Brunei orang melihat saya dengan aneh karena membunyikan klakson. Mereka mengira saya perlu pertolongan, tapi koq wajahnya seger? Bingung kan?. Saya baru tahu bahwa haram membunyikan klakson di Brunei kalau dalam keadaan tidak darurat. Di Jakarta ? Klakson bawaan mobil dilepas dan diganti dengan yang baru yang bersuara lebih nyaring tentunya.

Di Bangkok lalu lintas memang masih macet, tapi keadaannya justru membaik dari tahun ketahun. Infrastruktur dibenahi dengan membuat sistem transportasi massal seperti monorel yang terbukti sukses sebagaimana halnya di Kuala Lumpur. Pajak penghasilan di Singapura dan Hong Kong memang besar, tapi sebagai salah satu imbalannya penduduk sana bisa menikmati subway yang murah, nyaman, aman, tepat waktu, dan ber tentu saja ber-AC.

Di San Francisco lain lagi, pengemudi mobil sangat ketakutan kalau menabrak pejalan kaki. Maklum hukumannya bisa dipenjara. Walaupun saya salah karena menyebrang bukan di tempat yang ditentukan (maklum masih norak), pengemudi mengerem mobilnya dalam jarak sekitar 2 meter sambil mempersilakan saya untuk menyebrang duluan. Duuh malunya.

Di New York tidak ada orang yang berani parkir di Fire Line, jalur khusus buat polisi, pemadam kebakaran, dan mobil ambulan. Melanggar? Kurang dari lima menit mobil akan diberi kenang2an sebuah kunci ban lalu di derek (tow) dan harus ditebus 200 dolar.

Bahkan negara yang kesejahteraannya di bawah kita pun seperti Colombo, atau Phnom Penh orang masih bisa berprilaku beradab di jalan raya. Itu pun dengan infrastruktur jauh lebih buruk dari Jakarta.

Koreksi kalau salah, tapi saya beranggapan bahwa kondisi lalu lintas yang semrawut merupakan refleksi dari penegakan hukum yang lemah. Bagaimana mau nangkap koruptor kalau hukum di jalan raya tidak ditegakan. Pengguna jalan sudah tidak takut sama polantas karena bisa disalami dengan uang puluhan ribu untuk lepas dari tilang. Tapi polantas juga tidak bisa disalahkan 100%. Sekali-kali ikuti ke rumah mereka yang biasanya tinggal di kontrakan kumuh dan setidaknya setiap 3 hingga 5 jam sehari mereka harus berdiri dalam panas, hujan plus polusi yang pekat. What a profession.

Itu saja gerundelan saya hari ini karena kesal dengan kondisi lalu lintas Jakarta yang bukannya membaik tapi semakin edan dari hari ke hari.

So, what do you think?

Tags: , , , ,

9 Responses to “Lalu lintas di Jakarta semakin edan”

  1. febee Says:

    coba bike to work aja Pak..

    blog nya oke banget neh..

    Usul menarik walaupun masih mencoba di komplek perumahan. Thanks.

  2. uwiuw Says:

    heheeh bang susah juga yah kalau punya banyak referensi…jadi ketauan banget ‘catat’ kita2 ini kekekeke baik sebagai bangsa maupun pengedara lalu lintas
    😉

    Begitulah, jadi pengendara kita masih jauh dari standard pun untuk ASEAN. Horas Bakawan.

  3. aNdRa Says:

    Membaca postingan ini, sy jadi tertawa sekaligus malu. OOT dikit ngomongin pajak, orang pribadi dikejar suruh bikin NPWP, apa2 dipajakin, kurang ikhlas aja gt karena penggunaan pajaknya gimana mau ngawasin? Kalau ditilang polisi, ngasih salam tempel, bisa buat dapetin keringanan pajak penghasilan, asyik juga tuh.. hehehe… *ngimpi pagi-pagi*

    Seep. Telat bayar pajak di denda, dikejar-kejar, dan dipersulit. Layanan publik seperti jalanan bolong, pemerintah cuma berkilah belum turun dananya. Lha iki piye. Gak fair tuh.

  4. Anita Says:

    Speechless…

    By the way, karena kebiasaan nyetir di Indonesia, kaki saya selalu siap di rem, karena bisa saja ada selonong boy, selonong motor atau segala macam selonong lainnya, lewat tanpa aba-aba, even di perempatan lampu merah. Kalau belok apalagi, bisa saja kita belok tapi ada orang yang pandai memilih tempat nyebrang persis di sudut jalan. Kalau sudah begitu, pokoknya mobil kan yang salah. Di sini saya harus belajar PERCAYA bahwa gak akan ada orang yang melanggar lalu lintas, tapi tetap saja saya masih paranoid… Mungkin kalau sudah terbiasa nyetir di sini saya malah gak berani nyetir di Indonesia!

    Expat di kantor sampai keringat dingin waktu pertama kali nyupir di Jakarta saat ia merasakan sendiri bagaiman hectic-nya lalu lintas Jakarta. Prilaku pengendara motor memang problema tersendiri. Sudah jelas mereka salah, eh malah melotot sama kita. Tapi yang memprihatinkan semakin tahun semakin runyam, kalau orang maju ke depan, kita malah mundur ke belakang dan masih jauh dengan disiplin pengguna jalan di ASEAN.

  5. uwiuw Says:

    @ di komment anita : orang maju ke depan, kita malah mundur ke belakang dan masih jauh dengan disiplin pengguna jalan di ASEAN.

    memangnya bagaimana lalu lintas di negara-negara tetangga (selain singapura dan malaysia sy tidak punya info apaapun ) ?

    Singapura sangat disiplin, Malaysia tidak senekat di Jakarta, Brunei adem, Bangkok sudah semakin disiplin, lha kita dari dulu koq tambah runyam🙂

  6. adi isa Says:

    sebab jakarta bukan lagi kota metropolitan kayak manila or bangkok tapi sudah jadi kota megapolitan,..
    ya, wajar saja, kita kewalahan….emang sih…pemerintah tidak siap dengan kemajuan kota.

  7. Sly van Klompen Says:

    halah kata sapa bang……
    coba ente ke belanda sono, kalo jalan kaki meleng dikit bakalan di embat sm mobil/motor.
    disono mana tau kaya disini, yg nabrak bodo amat, wong itu jalan buat mobil, dan gw bayar pajak😛

    ujian sim di belanda, kalo tau kita udah ada sim jakarta, dijamin lsg lulus😀
    apa lagi yg nguji pernah ke jakarta….so pasti tau betapa kejam lalulintas disini😀

  8. Sly van Klompen Says:

    kalo di jakarta mobil nyenggol bakalan ada hukum rimba….
    aliran jakarta mah “senggol bacoook !!!”😆

  9. Resi Bismo Says:

    ternyata belanda watak belanda diwariskan ke indo, buktinya saya waktu jalan2 ke londo hampir aja di tabak bule, naik sepeda lagi… hot verdome

Comments are closed.


%d bloggers like this: