Jual/beli rumah ribet bener

rumah2.jpg

Jum’at kemarin memang harus jadi hari kelabu buat saya sekeluarga. Sebuah transaksi jual beli rumah harus batal tanpa alasan yang jelas karena si penjual tidak nongol ke kantor notaris sesuai dengan janji yang disepakati. Padahal sehari sebelumnya per telepon kami sudah sepakat untuk tanda tangan akta jual beli plus menyelesaikan pembayaran melalui bank. Eh dasar, si penjual rumah dengan entengnya menyatakan bahwa ia baru kembali dari kawinan dan tidak mungkin pergi ke kantor Notaris karena Bandung diguyur hujan lebat. Itu juga setelah saya telepon karena kelelahan setelah menunggu empat jam. #@$%!&$#@!!.

Ini pelajaran buat siapa saja bahwa sebagai pembeli rumah yang sudah menyerahkan uang muka bukan merupakan jaminan bahwa transaksi akan terjadi. Si penjual bisa dengan seenaknya menunda atau malah membatalkan kesepakatn jual beli yang sudah dibuat.

Membeli rumah bukan lewat agen memang cukup riskan. Si penjual dalam kasus saya maunya terima beres alias pajak, biaya notaris, dan tektek bengek saya yang urus. OK, semua sudah diurus termasuk dokumen yang diperlukan. Dalam proses pengecekan copy sertifikat tanah yang dilakukan oleh Notaris ke Bapadan Pertanahan Nasional, si penjual terus menghibungi saya untuk segera melakukan transaksi dengan mentransfer uang. Saya katakan, “gak bisa bu, transfer hanya bisa dilakukan setelah terjadi perjanjian jual beli di hadapan Notaris”. Bukannya ngerti, malah si ibu nyerocos dengan proses yang terlalu lama dan ingin segera dipercepat dilakukan pembayaran melalu transfer bank.

Entah berapa kali saya harus menjelaskan bahwa uang akan ditransfer setelah terjadi akad. Silakan bawa sertifikat asli pada hari Jum’at karena Notaris sudah clear dengan BPN. Nyerocos lagi, kali ini ia ingin disaksikan oleh semua keluarga pada saat tanda tangan. Saya katakan, gak masalah (mau bawa orang sekampung pun boleh).

Akhirnya hari Jum’at di tengah gerimis kota Bandung saya menunggu selama empat jam, dan penjualnya tidak nongol. Uang cash sudah disiapkan oleh adik saya yang kebetulan bekerja di bank. Rencananya saya akan menyerahkan uang ke penjual atau untuk ditransfer ke rekeningnya. Gagal total saudara2. Empat jam menunggu sia2, dan Notarisnya bilang, sepertinya si penjual tidak punya niat baik dan ini transasksi yang riskan untuk dilanjutkan kalau caranya demikian.

Yang paling menyebalkan si penjual tidak menyatakan maaf sedikitpun akan kesalahannya membuat saya termangu berjam-jam tanpa hasil. Padahal anak saya harus izin sekolahnya supaya bisa ikut ke Bandung, dan saya pun harus ambil cuti. Is she out of her mind?

Ya sudah, akhirnya semua urusan diserahkan kepada Notaris dan teamnya untuk menghubungi si penjual dan menanyakan bagaimana kelanjutannya transaksi ini. Kalau gagal, minimal uang DP yang untungnya hanya 500 rebu perak segera dikembalikan.

Begitulah pengalaman menyebalkan ini moga2 tidak terjadi pada calon pembeli rumah yang lain. Kalau gagal pun saya sih gak rugi, karena uang masih utuh dan tinggal cari rumah yang lain. Emang siapa yang perlu. Wek.

Jadi kesimpulannya :

  1. Sertifikat asli mungkin sedang digadaikan, makanya ia selalu menuntut untuk transfer terlebih dahulu.
  2. Rumahnya sudah ditawar oleh pembeli lain dengan harga yang tinggi dan mencari alasan untuk menggagalkan transaksi kamerin.
  3. Memang niatnya pengen nipu aja, lumayan dapet DP dari kekesalan calon pembeli yang akhirnya membatalkan transaksi dengan terpaksa.
  4. Niatnya memang pengen nipu jilid ke-2. Bisa saja uang sudah ditransfer, saat diminta sertifikat ia kabur. Yang ini paling berabe amit2 deh.
  5. Mungkin ini orang gak waras saja (hhmmm, dari cara bicaranya sih sudah kelihatan)
  6. Hanya Tuhan yang tahu alasan selanjutnya, saya sudah pusiing.

* * * * *

Tags: , , , ,

6 Responses to “Jual/beli rumah ribet bener”

  1. nita Says:

    waah, si penjual bener2 nyebelin ya…saya yg baca jadi ikutan kesal. trus kalo dia kabur dg dp 500rb itu gimana?

    Ya sudah, wassalam deh Mbak. Hiks.

  2. Wiellyam Says:

    sama nih, saya juga sebel lihatnya…..huf…

    Iya nih, pelajaran buat saya dan siapa saja yang mau beli rumah tanpa broker.

  3. Ersis W. Abbas Says:

    He he kena deh … Sabar. Kalau berminat tentu akan terus menelusuri. Kira-kira begitu prinsip si empunya gawean

    Iya nih, jadi inget postingnya tentang sabar.

  4. aNdRa Says:

    Waduh memang harus ekstra hati-hati kalau ada hubungannya ama duit. Sodara sekandung aja bisa brantem bunuh2an rebutan duit. Bener mas, jangan mau transfer kalo engga di hadapan notaris.

    Benar Mas, akhirnya hari ini resmi dibatalkan.

  5. pengamat Says:

    disinilah kegunaaan seorang broker/agen
    karena uang DP nya tidak di transfer langsung ke penjual/pemilik, tapi ke rekening perusahaan agen itu, lengkap dengan pasal pasal yg menguntungkan pembeli jika kelak terjadi kegagalan transaksi, jadi gak usah takut penjual kabur (kabur aja sono), toh duitnya masih di agen, bisa di balikin kok.
    jujur aja, sy lebih senang kalo ada broker daripada ngurus sendiri sama pemilik/penjual langsung, ribet kayak cerita anda ini.

  6. mami ambar Says:

    kayaknya emang lebih aman pake broker, biar penjualnya nyebelin banget (ngalamin juga), yg penting uang aman and transaksi lancar. soalnya kalau si penjual mangkir dari janji bisa kena penalti dia. dan ga sedikit kenanya. dan kita ga perlu urusan langsung sama penjual yg rese….

Comments are closed.


%d bloggers like this: