Belanja lima dolar boleh pakai kartu kredit

Konsumen adalah raja, itu slogan yang suka dipakai para pedagang di kita. Kenyataannya menjadi konsumen di Indonesia tidak semanis janji menjadi raja yang bisa berbuat apa saja. Penipuan, wan prestasi, curang, dan berbagai trik dagang seolah halal dilakukan ditengah lemahnya posisi konsumen kita. Di Amerika pun sama, banyak perusahaan yang culas kemudian dituntut oleh konsumennya yang terkenal dengan aliansinya yang kuat. Saya mau sekedar cerita sedikit pengalaman belanja di Amerika dan bagaimana rasanya menjadi “raja” Pertama, enaknya belanja di Amerika cukup gesek kartu kredit berapapun jumlahnya. Kasir tidak akan menolak pembayaran kita selama kartunya belum decline. Lumrah orang membayar dengan kartu kredit walau jumlahnya hanya kurang 10 dolar terutama di supermarket.

Kedua, bila tidak suka kembalikan saja. Apapun barangnya kalau kita tidak sreg, ya sudah balikin ke tokonya lagi. Selama kita masih menyimpan bukti pembelian dan tidak melebih waktu yang ditentukan (biasanya 7 hari), kita bisa minta refund tanpa rasa khawatir akan ditanyai macam2.

Teman saya mengembalikan satu set komputer lengkap karena tidak sreg dengan modelnya. Pelayan toko hanya meminta dia mengisi form yang sudah disediakan setelah itu ia bisa mendapatkan kembali uangnya. Tidak ada debat kusir atau perjanjian sepihak “barang yang dibeli tidak bisa ditukar/dikembalikan”. (Banyak yang menyalahgunakan kesempatan ini dengan memakai dulu baju untuk pesta lalu dikembalikan lagi keesokan harinya terutama para mahasiswa Indonesia di sana, he3x).

Dua hal itu membuat saya nyaman setiap kali belanja di sana tanpa was2. Tentu banyak juga kasus2 dimana konsumen merasa dirugikan, namun tersedia lembaga2 perlindungan konsumen yang menawarkan jasa secara cuma2 untuk membantu penyelesaian masalah yang mereka hadapi. Tidak semua berakhir sukses karena kadang2 harus berakhir di pengadilan.

Tentu kekuatan konsumen di sana ditunjang banyak faktor. Faktor penentu adalah organisasi konsumen Amerika terkenal sangat kohesif dan punya lobi kuat untuk menekan produsen, kongres, hingga presiden sekalipun. Tekanan berupa kampanye negatif, boikot produk, hingga aksi picketing (demo) di depan toko atau perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan tempat saya bekerja pernah membuat settlement out of court jutaan dollar, kasusnya bisa di lihat di sini.

Keempat, sistem hukum Amerika tidak 100% sempurna, tapi orang bisa berharap keadilan pada lembaga yang sangat dihormati ini. Jasa penasihat hukum bisa didapatkan secara gratis apalagi kalau mereka melihat kesempatan menang. Lain halnya dengan corporate lawyer yang memasang tarif hingga 500 dolar perjam. Jadi bisa dibayangkan berapa juta dolar fee lawyer yang harus dibayarkan oleh sebuah perusahaan bila kasusnya berlangsung bertahun-tahun di pengadilan.

Kelima, perusahaan2 raksasa semakin di scrutinize oleh berbagai LSM terhadap prakter2 curang yang mereka lakukan baik yang terjadi di Amerika maupun negara tempat perusahaan tersebut beroperasi. LSM Indonesia punya banyak jaringan dengan teman2nya di Amerika. Satu klik email seorang buruh dari kawasan Cakung yang disampaikan melalui jaringan LSM internasional bisa membuat pusing CEO dan mengakibatkan terpengaruhnya harga saham mereka. Hebat kan?

Itu saja sebagian pengalaman saya jadi juragan di sana.

* * * * *

Posting sejenis :

  1. Go to Secondary Check !
  2. Ketemu “Phantom” di New York
  3. Tolong, Koper Saya Hilang di Miami Airport
  4. Cari Pertunjukan Gratis di NY
  5. Anak Tiri Golden Gate
  6. Bunga Tidak Boleh Tumbuh di Crissy Field
  7. Wong Ndeso Naik Limo
  8. Belanja buku murah di AS

Tags: ,

6 Responses to “Belanja lima dolar boleh pakai kartu kredit”

  1. Anita Says:

    Gimana dengan Indonesia, walau informasi bahwa biaya gesek 3% tidak boleh dibebankan ke konsumen, tetap saja ada toko yang ngotot, padahal itu kerjasama toko dengan merchant.

    Nenek suami saya, 94 tahun, dengan tenang membawa kembali electronic peppermill yang sudah 6 bulan dipakai dan tiba-tiba rusak, dan mendapat gantinya, baru gress. Gak perlu ngotot, ga perlu teriak-teriak minta dipanggilkan manager, malah gak pakai bon, semua selesai dalam 2 menit. Of course we think she could get away with that because she’s, well, old :))

  2. uwiuw Says:

    Satu klik email seorang buruh dari kawasan Cakung yang disampaikan melalui jaringan LSM internasional bisa membuat pusing CEO dan mengakibatkan terpengaruhnya harga saham mereka. Hebat kan?

    memangnya pernah kejadian ? sejujurnya sy sangsi soal ini, mas ?

  3. ton6312 Says:

    Mbak Anita : 3% itu menyebalkan dan ini masih sangat banyak terjadi. Perusahaan luar berlomba-lomba memberlakukan “goodwill guarantee” walaupun barang sudah tidak dijamin seperti yang dialami oleh nenek suaminya, perusahaan Apple salah salatu pelopornya.

    Uwi, ini kejadian nyata, perusahaan kami pernah mengalaminya. Nanti saya bagi ceritanya. Seru !

  4. Ersis W. Abbas Says:

    Wah … wah … ini mencerdaskan, bukan sekadar membuka wawasan. Trims. Terus menulis yang beginian. Salam.

    Yang saya senang dari Pak Ersis, selalu memberikan semangat kepada semua orang untuk menulis.

  5. the writer Says:

    Di Indonesia memang ribet memakai kartu kredit, entah kenapa mungkin alasannya sama dengan salah satu judul blog anda, “Kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”.

    Disini, ditempat saya tinggal, nggak ada batasan untuk pake kartu kredit, mau beli permen pun bisa pake kartu kredit, kadang saya justru yang agak tengsin dan tanya dulu “bisa pake kartu tidak?”. Oleh karena itu juga dompet selalu bersih dari uang kertas, buat apa bawa uang?

    Bukan hanya ribet, seringkali di banyak merchants mengenakan charge 3%. Wuiih menyebalkan.

  6. DIAN Says:

    Ternyata enak ya, menelusuri dunia maya (selama ini saya kemana ya?). Hanya dari bingung ukuran cup untuk buat kue, jadi bisa buka blognya Pak TW. Salam kenal dari saya Pak, jadi mau ketemu adik saya nich biar bisa diajarin buat blog juga (maklum gatek) he…he

    Salam kenal lagi, maklum yang datang ke blog ini biasanya yang kesasar, terus nyangkut deh … Ayo ngeblog juga🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: