Buruh terjebak hutang kartu kredit

kk.jpg

Percaya tidak bisa saya katakan bahwa seorang buruh pabrik yang penghasilan rata2nya sekitar satu juta per bulan bisa punya banyak kartu kredit (KK) ? Tentu bukan hal yang aneh di tengah gencarnya promosi kartu kredit yang setengah memaksa orang untuk jadi anggota terutama di tempat2 perbelanjaan umum. Perusahaan KK mengiming-imingi para buruh hanya dengan syarat KTP dan bebas iuran tahunan untuk menjadi member. Korban pun berjatuhan karena banyak para buruh yang terjebak dalam hutang yang berkepanjangan. Ini sebagian kisahnya yang merupakan temuan kami dalam sebuah penelitian.

Perusahaan saya kebetulan mengadakan kerjasama dengan sebuah LSM untuk meneliti berbagai aspek kehidupan buruh. Di tengah penelitian, kami menemukan fenomena menarik saat banyak buruh yang pasrah menceritakan jeratan hutangnya akibat pemakaian kartu kredit yang kebablasan. Mulanya mereka biasa berhutang kepada rentenir yang notabene adalah teman mereka sendiri.

Kemudian polanya berubah saat seorang buruh pun bisa mendapatkan fasilitas uang plastik. Tertarik dengan gaya hidup modern, mereka mencoba mengidentifikasikannya dengan menjadi anggota baru. Maklum hanya dengan selembar KTP, tanpa verifikasi gaji yang harusnya dilakukan oleh perusahaan penerbit KK mereka sudah bisa bergaya. Penderitaan mereka pun dimulai.

Maklum mereka belum mengerti istilah compunding interest, bunga berbunga, dan berbuah, lalu berbunga lagi. Apalagi banyak perusahaan KK yang melakukan tipu menipu dengan memberlakukan bunga rendah di bulan2 pertama, lalu menaikan hingga 4% perbulan tanpa persetujuan konsumen.

Mula2 belanja sedikit, tapi banyak juga yang langsung keasyikan menggesekan kartu-nya. Tagihan pun datang, eh koq bisa bayar minimum atau sekitar 2% dari tagihan. Dengan polos mereka pun hanya membayar sebesar tagihan minimum. Betapa nikmatnya pikir mereka dan yup, belanja lagi, dan bayar tagihan minimum saja.

Mereka baru sadar pada bulan2 berikutnya manakala pembayaran minimum yang mereka lakukan plus belanja semakin membengkak. Gampang, buka lagi kartu kredit baru yang menwarkan transfer hutang. Beres? Hell no! Fee transfer plus bunga yang diberlakukan KK baru ternyata lebih mencekik. Debt collector mulai berdatangan ke pabrik, rumah, termasuk kediaman saudara dan orang tua mereka. Hidup semakin sempit. Sebagai informasi, rata2 mereka memegang dua atau lebih KK !

Itulah sekelumit kisah bagaimana gurita KK yang menjerat sebagian buruh kita. Perusahaan KK ini tidak perduli bahwa buruh dengan penghasilan yang pas2an bukan target yang pas untuk market mereka. Persaingan antar penerbit KK yang begitu edan mengakibatkan mereka harus melakukan berbagai cara yang kadang tidak etis demi mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya dan buruh adalah sasaran empuk.

Di lain pihak, buruh yang tergoda dengan gaya hidup kartu plastik tergiur untuk memanfaatkan fasilitas ini tanpa dibekali pengetahuan yang memadai tentang aturan main KK yang penuh dengan trik dan bisa menjebak konsumen dalam jeratan hutang yang tidak berkesudahan saja.

Para buruh banyak yang melakukan pembayaran seadanya alias fasilitas minimum payment. Padahal secara matematis pembayaran ini bisa selesai dalam jangka puluhan tahun. Tidak percaya, coba hitung sendiri dengan tingkat bunga rata2 sekitar 3% saja per bulan, mungkin dalam jangka 30 tahun lebih hutang bisa terbayar. Sadis kan?

Akhirnya kami melakukan suatu awareness program terhadap para buruh tentang tips penggunaan KK, perhitungan bunga, efek minimum payment, dan tentu saja pemahaman syarat dan ketentuan dari penerbit KK. Minimal mereka memahami bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis sehingga kita jangan mudah tergiur dengan iming2 apapun dari penerbit KK.

Tags: , , ,

8 Responses to “Buruh terjebak hutang kartu kredit”

  1. uwiuw Says:

    Perusahaan KK ini tidak perduli bahwa buruh dengan penghasilan yang pas2an bukan target yang pas untuk market mereka. Persaingan antar penerbit KK yang begitu edan mengakibatkan mereka harus melakukan berbagai cara yang kadang tidak etis demi mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya dan buruh adalah sasaran empuk

    Yang jadi pertanyaan “mengapa sekalipun ada banyak kasus KK tapi tidak seorang pu yang di sidang ? Kenapa tidak masuk ke berita nasional bahawa fenomena ini memang ada ?”

  2. ton6312 Says:

    Thanks Uwiuw, memang isu ini luput dari perhatian media, makanya saya menulis di sini sekedar mengingatkan bahwa fenemone tersebut sudah mengkhawatirkan.

  3. ilma Says:

    Ikut prihatinšŸ˜¦

  4. deha Says:

    hmmmm…. mau ngomong apa ya?
    Bank harus lebih ‘etis’ menjalankan bisnisnya. Hmmm… kalo ada hutang yg nggak dibayar bank juga rugi kan ya? Pastinya mereka nggak mau ngasih pinjaman dalam bentuk apa pun kepada orang yg nggak mampu bayar, apa untungnya?

    Kalau ada buruh gaji UMR yang bisa dapat kartu, pasti karena ada sedikit cara ‘curang’ yg dilakukan sampai bank ngasih persetujuan. FYI, peraturan BI minimum gaji yg boleh dapat kartu adalah 3x UMR. Jadi jelas mereka nggak eligible untuk dapat kartu (baru mulai th 2006 sih, anyway).

    Bank punya sederet persyaratan dokumen yang harus dipenuhi. Setahu saya jarang yang syaratnya ‘hanya KTP’. Kalaupun ada ini biasanya akal2an si agen penjualnya saja. Bank juga akan melakukan pengecekan ttg gaji tsb sebelum memutuskan ngasih kartu dan memutuskan jumlah limit. Tapi selalu ada cara untuk ngakalin bank, saya nggak akan nulis di sini lah ya… hehe..

    Jadi jelas kalau buruh gaji minim bisa dapat kartu apalagi dengan limit besar, ada yg diakalin sampai bank bisa kasih approval. Ingat, nggak ada untungnya buat bank bagi2 kredit tanpa bisa dibayar.

    Menurut saya yg harus diperbaiki ada 2: bank harus lebih teliti dalam proses pemberian kredit (believe me, mereka juga pasti mikirin gimana caranya menghindari kredit macet yg banyak), dan lebih kuat mengontrol agen penjual yang bisa menghalalkan segala cara demi jualan dan akhirnya merugikan kedua belah pihak, bank dan customer seperti kasus di atas. Asas keterbukaan kepada konsumen ttg suku bunga, dll sudah diatur BI jadi kalau ada pelanggaran bisa ditindak.

    Kedua, yang juga sangat penting, masyarakat harus di-educate untuk bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri (termasuk nekat ngutang, ya harus dibayar apapun alasannya hutang adalah hutang). Juga di-educate ttg financial literacy, baik itu mengenai produk kredit ataupun asuransi, investasi dan segala penipuan yang mungkin terjadi. Supaya berpikir dua kali sebelum ambil produk finansial apapun.

    Salut udah mulai program edukasi ini kepada para buruh, saya tertarik untuk contribute meng-educate masyarakat kelas bawah ttg finansial. Gimana caranya? tlg japri ya mas toni

    Thank Deha atas feedback-nya Saya setuju tentang point bahwa orang yang berhutang wajib bayar. Tentang agen KK, ini sudah jadi rahasia umum kalau mereka lebih berpacu untuk mencapai target penjualan dengan mengabaikan kemampuan finansial seseorang. Program edukasinya sudah berjalan, saya kasih tahu kalau ada program lanjutan ya. BTW, sayang sudah berkunjung ke blognya, mencerdaskan.

  5. zaki Says:

    yang perlu kita perhatikan disini adalah kita sebagai sesama manusia bisa memberikan penyadaran terhadap mereka karna sebenarnya mereka teralienasi

  6. Usep Says:

    Saya salah satu korban kodisi di atas, untuk itu saya mohon ada suatu tindakan terhadap kondisi tersebut. Bukankah negara juga bertanggung jawab terhadap rakyatnya ? kasus ini adalah sudah bukan rahasia lagi kalau cuma di ingatkankan tanpa ada tindakan terhadap kebijakannya ya saya jamin akan banyak lagi korban stres karena di kejar-kejar rentenir yang terorganisir.

  7. Gus Rachmat Says:

    SECARA etika yang salah adalah para sales kartu kredit. Mereka hanya memburuh omset komisi tanpa peduli resiko yang akan menimpa bank tempatnya kerja.

    Kendati demikian, para buruh juga perlu mawas diri. Mereka harus sadar, bahwa kartu kredit belum waktunya mereka miliki. Karena mengantongi Kartu Kredit bagi buruh lebih banyak mudorotnya dibanding manfaatnya.

  8. indra Says:

    aku pun sudah terlanjur terjerat dengan kartu kredit ini. aku punya 4 kartu kredit dan semua macet, berawal dari tertipunya saya dari usaha sampingan yang saya jalankan bahkan sampai tertipu 26 juta rupiah, sampai hari ini utangku terus bertambah…tapi beberapa diantaranya bisa di rubah ke cara cicilan tetap dan itu bisa meringankan…namun yang saya sesalkan ada yang tidak mau merubahnya ke cicilan katanya gak ada program…..nah yang gak mau ini untuk menyelesaikannya gimana yah?
    padahal aku kan berniat membayar…aku gak mau utangku terbawa mati

Comments are closed.


%d bloggers like this: