Pengalaman dengan KrisFlyer

krisflyer.jpg

Kalau sering terbang dengan arlines yang itu2 saja, tidak rugi kalau kita mengikuti program Frequent flyer-nya. Garuda punya GHFF (Garuda Frequen Flyer), Singapore Airlines punya Krisflyer, Lufthansa dengan Miles and More. Semua program dimaksudkan untuk mengikat penumpang agar terbang dengan airlines mereka. Sebagai reward atau imbalan biasanya mereka memberikan tiket gratis, upgrade kelas penerbangan, kepastian mendapatkan tempat duduk, fasilitas lounge, discount belanja, dan masih banyak lagi. Seakan semua menjadi mudah dengan berbagai loyalty program ini, tapi ternyata tidak juga tuh. Ini pengalaman dengan Krisflyer yang agak merepotkan saat saya terkatung-katung di bandara San Francisco karena nama saya tidak muncul di daftar penumpang padahal tiket sudah ditangan.

Kejadiannya begini, saya menukarkan point yang telah diperoleh agar mendapatkan kelas bisnis untuk penerbangan dari Hong Kong ke San Francisco. Urusan penukaran poin dilakukan di kantor SQ yang terletak di Wisma Kadin, Kuningan Jakarta. Saya diwajibkan membayar biaya sekitar 400 ribu agar tiket saya yang kelas ekonomi berubah menjadi bisnis. Sebenarnya heran koq harus bayar, tapi sudahlah, toh sudah confirm untuk mendapatkan kelas bisnis. Asyik.

Keinginan untuk berganti kelas penerbangan didasari atas kenyamanan yang ditawarkan oleh kelas bisnis SQ yang sudah terkenal walaupun tempat duduknya belum bisa diluruskan (flat bed). Selain itu waktu tempuh HK-SFO yang hampir 11 jam, sangat melelahkan dan diharapakan saya bisa istirahat dengan cukup selama penerbangan.

Kembali ke topik, semuanya OK dan saya bisa menikmati kelas bisnis dan selalu dipanggil Mr. Wahid oleh pramugari mereka (heran mereka tidak mau menyapa dengan nama pertama kita walaupun sudah diminta, sangat formal).

Nah ini klimaksnya, saat waktu pulang saya sudah tiba di airport San Francisco empat jam sebelum keberangkatan. Hal ini untuk mengantisipasi pemeriksaan keamanan bandara Amerika yang sangat ketat setelah 9/11. Saat menyerahkan tiket ke petugas, ia langsung mencari data nama saya dan hampir 10 menit nama Toni Wahid tidak pernah muncul di layar komputer mereka. Hmmmm, bakalan menginap di airport pikir saya, karena penerbagangan berikutnya 24 jam lagi!.

Petugas heran mengapa tiket saya yang sudah confirm tidak muncul di manifest penumpang mereka. Mereka berusaha mendebat bahwa saya “no show” alias tidak ada saat penerbangan dari HK ke SFO. No way Sir, saya punya bukti kuat berupa potongan kartu boarding pass. Ia terdiam.

Akhirnya saya digiring masuk ke lounge untuk penumpang bisnis mereka sambil menunggu masalah ini diselesaikan. Yo wis, saya makan sepuasnya di sini. Eh, ternyata beberapa penumpang mengalami kejadian yang sama, mungkin kira2 6 orang yang tengah berdebat dengan petugas di lounge. Akhirnya entah bagaimana, saya bisa berangkat beserta penumpang lainnya. Ini kejadian sangat serius dan memalukan buat penerbangan sekaliber SQ.

Tiba di Jakarta saya langsung kirim email ke SQ di Singapore, lalu kasusnya di tindak lanjuti oleh stafnya di Jakarta. Cuma bertanya kronologi peristiwanya, sesudah itu bablas angine, gak ada lagi permohonan maaf atau sekedar email balasan pernyataan simpati atas peristiwa tersebut.

Ini hanya satu refleksi bahwa tidak semua loyalty program yang ditawarkan oleh airlines semanis janji yang mereka kemukakan. Secara umum reputasi SQ memang bagus dan saya memuji mereka untuk hal yang lain dalam postingan di Welcome aboard Singapore Airlines.

Tiga hal yang harus diwaspadai saat anda mengikuti program promosi frequent flyer :

  1. Kesulitas menukarkan poin dengan tiket gratis. Alasanya bisa macam2, dari sektor penerbangan yang selalu penuh sehingga mereka selalu mendahulukan yang bayar daripada yang gratisan atau e-ticket bermasalah saat penumpang ingin menukarkan poin saat pemesanan penerbangan dengan point.
  2. Mileage kita tidak tercatat. Walau sudah memperlihatkan kartu frequent flyer, kadang bukan jaminan bahwa penumpang akan mendapatkan point. Seringkali karena tidak tercatat dalam laporan yang dikirimkan, kita harus mengklaim dengan bukti boarding pass. Ini kan berabe.
  3. No seat available. Frequent flyer yang memiliki jam terbang tinggi biasanya selalu mendapatkan jaminan tempat duduk di kelas ekonomi apabila pesanan tiketnya di kelas bisnis sudah fully book. Teorinya demikian, tapi tidak juga tuh, kadang penumpang harus adu argumen dulu untuk mendapatkan kursi.

Jadi sebelum mengikuti berbagai macam program frequent flyer, pelajari dulu dengan seksama aturan mainnya dan pastikan bahwa anda tidak dibodohi oleh mereka. Semoga berguna.

* * * * *

Gambar atas diambil dari situs Krisflyer.

Tags: , ,

9 Responses to “Pengalaman dengan KrisFlyer”

  1. jatmik Says:

    Walaupun belum pernah sekalipun menggunakan jasa penerbangan, trima kasih infonya yaa…..

  2. Ersis W. Abbas Says:

    Ngambil infonya saja, maksih.

  3. Anita Says:

    Kalau saya belum pernah kena batunya dengan SQ. Berhubung saya cuma silver, dan (waktu itu) pacar saya gold, kadang-kadang tiba-tiba saat dengan memasang seat belt ia ditawari pindah ke kelas bisnis, gratis. Gondok deh… ditinggal di ekonomi sendirian🙂

  4. ulie Says:

    haduh, baru mau nukerin point krisflyer ma tiket gretong ke KL…. mudah2an bisa😦

  5. the writer Says:

    mas, baru baca yang entry yang ini. Aku juga punya pengalaman sama, bukan dengan SQ, tapi dengan KLM yang punya program Flying Blue. Sebagai member, walaupun masih low-level kita punya privilege untuk milih seat sendiri lewat internet (24 jam sebelum keberangkatan), nah waktu dari sini mau ke Jakarta sih gampang2 aja ndak masalah, begitu yang dari Jakarta mau kmari itu begitu buka websitenya (dibela-belain online pakai Telkomnet Instan 24 jam sebelum keberangkatan) udah pada penuh semua seatnya, begitu ditanyakan ke KLM Jakarta, jawabannya udah dibooking sama yang punya kartu platinum semua.

    Ya mana mungkin gitu loh, kalo mau ngasi alesan itu yang masuk akal kek. Itu tuh sampe saya bertengkar sama petugas KLM Jakarta, apalagi yang di bandara itu judesnya setengah mati, ngelayanin penumpang kaya ngelayanin maling. Sampe begitu waktu aku sampai kembali kemari, aku tulis surat komplen ke KLM pusat di Belanda dan KLM indonesia. Yang di Belanda langsung dapat surat permintaan maaf dan janji akan menegur pihak Indonesia, sementara yang dialamatkan ke Indonesia nggak ada juntrungnya.

    Itu memang bukan masalah maskapainya mas, tapi sumber daya manusianya di Indonesia yang emang ngaco

    Thanks for sharing, pengalaman ini jadi pembelajaran bahwa seringkali sebagian orang kita menganggap remeh pentingnya customer relations dalam menangani keluhan konsumen. Mereka pikir udah bisa berangkat aja masih untung. Pola pikir ini seringkali yang menjadi pembeda layanan SQ di Indonesia dengan negara lain seperti Malaysia. Mau pindah tempat duduk, tinggal telepon kantor perwakilannya, dijawab ramah dan profesional. Kalaupun gak dapet pun, mereka langsung kirim berita just in case ada yang batal. Layanan seperti ini yang membuat konsumen merasa diistimewakan walaupun kadang gak berhasil, tapi yang penting kita tahu bahwa mereka sudah berusaha maksimal. Di kita, udah judes, jutek, dianggap norak pula. SQ pusat waktu itu berkirim surat permintaan maaf atas kejadian ini. Paling tidak hal tersebut membuat konsumen merasa sangat dihargai.🙂

  6. Susan Says:

    Euuwww…
    Baru aja pengen jadi member Krisflyer untuk keluarga semua supaya bisa lebih leluasa. Ternyata eh ternyata…. (bagaimana ini yah? Lanjut terus atau malah batal rencana?!)
    Thanks for info

    Kalau boleh saya sarankan untuk lanjut saja. Walau bagaimanapun SQ tetap perbangan service terbaik.

  7. cha-cha Says:

    Wah!My boss klo udh ke S’pore pasti mau nya naek SQ dan doski punya kartu Lufthansa Miles&More.mudah2an kejadian kek gini ga ampe terjadi ke my bos, setuju banget buat mba yg pake KLM, SDM di Indo emnank parah,,kok bisa yah judes gt?ckckckck

  8. aldo Says:

    walah om~masa sih krisflyer gitu???huh ak ajh gk prnah alamin hal itu padahal udh bnyk kali sy terbang pake sq and a380 and 777….
    saia jg pake goldkrisflyer klo gold mungkin kagak kali

  9. adine Says:

    wah saya baru baca blog ini karena pengen cek poin krisflyer saya…jd tahun lalu crtanya sy daftar kris krn dibyrin ktr ke China naek SQ n temen nyaranin daftar aja ke kris lumayan dpt poin. ternyata td sy cek poin sy msh 0 hiksss, mau tanya gimana sih cara tukar poinnya kl ga beli tiket via online, krn wkt itu sy udh lgs dpt tiket dr ktr…
    thanks infonya, ternyata maskapai bgs ga jamin ramah jg ya orgnya…

Comments are closed.


%d bloggers like this: