Produktivitas buruh kita masih kedodoran

henrieatta3.jpg

Hari Rabu kemarin (6 Februari) saya diundang untuk menjadi salah satu nara sumber dalam sebuah seminar yang bertajuk “Labor Productivity Roundtable” di hotel Le Meridien Jakarta. Sedangkan yang menjadi pembicara utama adalah Henrietta Lake, Ph.D. tamu saya yang sebelumnya sudah diajak berkeliling untuk melihat beberapa kondisi pabrik garmen di Kawasan Berikat Nusantara, Cakung, Jakarta. Henrietta, lulusan universitas Oxford yang bergengsi merupakan konsultan yang diundang oleh SENADA, sebuah LSM Indonesia yang dibiayai oleh USAID untuk dalam sebuah program lima tahun untuk mencari terobosan peningkatan kompetisi buruh Indonesia di pasar dunia.

henrietta2.jpg

Bagaimana sebetulnya posisi produktivitas buruh kita di antara negara di kawasan Asia. Simpelnya begini, kalau buruh di Cina bisa membuat 10 barang per jam, maka jeng Ngatini di sini hanya berhasil memproduksi setengah dengan jam yang sama. Produktivitas buruh kita harus diakui memang agak sedikit lelet, bahkan kalau dibandingkan dengan negara saingan seperti Vietnam, India, bahkan Myanmar sekalipun.

Ini beberapa temuan menarik berdasarkan hasil survey-nya di puluhan pabrik di Indonesia :

  1. Tidak adanya aptitude tes, yakni sebuah test terpadu untuk memprediksi faktor kesuksesan calon karyawan pada pekerjaan tertentu.
  2. Tidak adanya sistem pelatihan atau training yang terencana
  3. Tidak adanya pelatihan khusus untuk bagian Quality Control
  4. Tidak ada implementasi Total Quality Management (TQM)
  5. Tida dilakukannya sistem “traffic light system”, sebuah sistem dimana setiap orang bisa langsung melihat hasil produktivitasnya melalui sistem lampu lalu lintas (hijau=bagus, kuning=pas2an, dan merah=lambat)

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut Henrietta, salah satu sebabnya adalah ketiadaan transfer pengetahuan dari para ekspatriat di perusahaan garmen kepada tenaga lokal. Hal ini menyebabkan para manajer kita masih sangat tergantung kepada pekerja asing terutama dalam semua aspek perencanaan produksi. Alih teknologi yang sebenarnya merupakan prasyarat tenaga kerja asing di Indonesia ternyata tidak berjalan efektif.

henrietta.jpg

Itu hanya salah satu sebab, sebenarnya masih banyak faktor lain yang sudah seperti benang kusut. Dari mulai UU perburuhan kita yang menerapkan sistem kontrak berkepanjangan, pembayaran pesangon yang tinggi karena sistem Jaminan Sosial kita belum mampu menjadi tumpuan buruh ketika terjadi PHK, infrastruktur yang buruk dan banjir tahunan, korupsi, uang rokok, premanisme di kawasan industri, oknum petugas pajak dan bea cukai yang main mata dengan pengusaha, macetnya jalan di jakarta, selanjutnya silakan ditambah sendiri daftar masalahnya yang masih panjang. Kesemuanya memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam penurunan produktivitas tenaga kerja kita yang masih jauh dari harapan.

Sayangnya, para pejabat masih banyak yang tidur, zzzz …..

Tags: , , ,

6 Responses to “Produktivitas buruh kita masih kedodoran”

  1. pututik Says:

    mahalnya pendidikan, kurangnya kemandirian, malasnya pelajar meraih ilmu dan banyak lagi… negara ini semakin terpuruk dan fasilitas yang sangat dibutuhkan kurang tenaga ahlinya. pemerintah lebih memikirkan pendapatan memperkaya diri dan orang yang vokal disingkirkan…… kasihan

  2. ton6312 Says:

    Yoi pak Putu.

  3. lilis Says:

    Pernah tanya tidak kenapa alih teknologi tidak berlangsung ?
    Saya punya pengalaman ketika bekerja jadi buruh pabrik, kenapa tenaga kerja asing tidak transfer ilmunya? Karena dia ingin mempertahankan pekerjaannya di Indonesia. Selain karena gajinya yang 15 – 35 juta, dia juga punya fasilitas yang bagus. Apartement, mobil sedan, fasilitas main golp tiap minggu, makan dan minum gratis. Siapa yang tidak mau, padahal di negaranya dia adalah orang-orang tehnisi (pekerja biasa) kaya kawan-kawan saya yang lainnya. Pemodal asing memang tidak pernah berusaha dengan fair koq. Bisa jadi mereka memang membawa missi negaranya, yaitu melakukan penjajahan ekonomi terhadap negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Nah celakanya pejabat negara ini sudah dicucuk hidungnya dengan sejumlah hutang luar negeri, mati deh kite.

  4. yenni Says:

    Wah kalo gitu industri garmen indonesia berjalan lambat dong. Tapi kita harus tetap optimis kan!

  5. tetangga di KBN cakung Says:

    gimana bagus? super visernya aja gak sekolah bisanya cuma ngomong doang dan cuma kejar target tanpa memperdulikan kualitas barang yang dihasilkan. selain itu karyawan juga seperti robot yang jam kerjanya tidak mengenal waktu. ada juga sistim kerja borongan

  6. Syahril Says:

    Alumni KBN Cakung,

    Menurut saya yang paling penting adalah Management sumber daya manusia yang harus diperbaiki, dengan cara menempatkan individu yang mempunyai utilitas, capabilitas dan responsibilitas dalam hal SDM tadi, agar dapat merekrut dan menseleksi orang-orang yang handal untuk bergabung dalam organisasi/perusahaan tsb. Dengan adanya orang-orang handal yg bergabung maka saya yakin perusahaan akan mampu bersaing dalam era globalisasi seperti sekarang ini. tidak ada lagi yg namanya tenaga kerja expatriat. salam untuk semua

Comments are closed.


%d bloggers like this: