Bad officials are elected by good citizen who do not vote

bks2.jpg

Teras rumah saya beberapa hari terakhir ini sering dihujani berbagai media kampanye dari para calon walikota Bekasi. Lumayan dapat koran kampanye gratis dari pasangan yang mau berlaga pada tanggal 27 Januari nanti. Entah mengapa hanya dua calon (pasangan Ahmad Syaikhu dan Awing Asmawi) yang rajin berkirim “surat cinta” ke rumah saya, mungkin calon yang satu lagi (Mochtar Mohammad) sudah yakin akan merebut suara terbesar dan tidak perlu bersusah payah lagi bagi2 kertas gratis. Gak ngerti lah. Tapi ngomong2 di komplek saya gaung pilkada masih sunyi senyap padahal biasanya RT saya sangat aktif dalam beragai masalah lokal seperti demam berdarah dan kebersihan, tapi mengapa tidak dalam isu pilkada?.

Tapi saya suka judul posting di atas yang saya kutip dari kritikus drama Amerika George Jean Nathan yang rasanya sudah mewakili apatisme politik nasional apalagi lokal saya. Pilkada sebagaimana jenis pemilu lainnya adalah masalah representasi partai politik dan sayangnya saya sudah kadung punya misgiving terhadap institusi ini. Satu hal yang pasti, posting ini bukan analisa siapa yang akan memenangkan kursi walikota dan wakilnya, saya mah tidak punya kapasitas untuk itu.

Ini hanya sentimen pribadi sekedar menumpahkan fatalisme yang diakibatkan oleh betapa keringnya kaderisasi parpol di Indonesia setelah sekian tahun reformasi berjalan. Poinnya, saya, mungkin anda juga baru mengenal nama2 mereka setelah baliho-nya banyak bermunculan dalam masa kampenya. Ya sudah itu saja. Jadi kalau namanya juga baru tahu, apalagi kiprah mereka sebelumnya yang punya magnitude besar untuk masyarakat Bekasi. Pokoke ora ngerti.

bks.jpg

Ya sudah, mungkin kehidupan politik dalam kampanye kita baru pada tahap itu. Senyum kiri kanan, tambal jalan, bagi2 sembako, kunjungan rumah panti jompo atau yatim piatu, ngobrol dengan tukan ojek, inspeksi ke pasar, dan berbagai cara tebar pesona saat kampanye berlangsung. Semuanya bagus, namanya juga menggalang dukungan dan itu sah2 saja, tapi lebih bagus lagi kalau aktivitas itu terus berlanjut setelah tiket kursi walikota di pegang. Mari kita lihat, walau anda dan saya sudah tahu jawabannya.

Ngomong2 saya tidak bisa menebak berapa jumlah golput dalam pilkada ini, tapi agak khawatir saja kalau statement dari judul posting di atas menjadi kenyataan. Makanya, walau gak mau ngaku sebagai a good citizen, besok saya cuma mau nanya sama pak RT di komplek “apa kabar pilkada Bekasi, pak?

Salam.

Update : Ternyata benar, yang sudah yakin menang tidak usah susah2 melakukan pengiriman berbagai brosur ke berbagai komplek perumahan. Jadi pasangan Mochtar Mohammad dan Rahmat Efendi sudah dipastikan merebut tiket Walikota dan wakilnya. Hiks. (28 Januari 2008)

Tags: , , , , , , , , , , , ,

One Response to “Bad officials are elected by good citizen who do not vote”

  1. yudika Says:

    hmm… masalahnya barangkali pak, di negeri kita politik hanya menjadi alat segelintir orang untuk meraup “kekuasaan”, jadi masarakat sudah muak (cuek) dengan hal yang berbau politik (termasuk pilkada).
    btw. trimakasih sudah berkunjung ke weblog sy pak🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: