Welcome Aboard Singapore Airlines

sq1.jpg

Saya sudah menggunakan penerbangan dari Singapore Airlines (SQ) sejak tahun 1999 dan masih setia hingga sekarang. Loyalitas saya sebagai penumpang SQ semata-mata karena perusahaan yang sebagian besar sahamnya dikuasai oleh Temasek ini selalu menjaga standard kualitas layanannya. Tidak heran walaupun tiketnya tergolong mahal dibandingkan dengan penerbangan lain, pesawat SQ relatif selalu penuh. Tidak percaya? Lihat saja penerbangan Jakarta-Singapura yang berangkat setiap dua jam sekali di bandara kita, kursinya selalu fully book terutama di akhir pekan. Mengapa mereka bisa maju?

SQ adalah penerbangan bintang lima di tahun 2008 menurut hasil survey yang diadakan oleh Skytrax sebuah organisasi yang mengukur layanan kepuasaan penumpang pesawat terbang di seluruh dunia. Hmmm, penerbangan kita Garuda Indonesia cukup diberi bintang tiga, artinya OK-lah (kalau istilah mereka “satisfactory, but poor or less consistent standard … “).

Kalau ditanyakan kepadapenumpang SQ mengapa mereka memilih penerbangan ini saya yakin jawabannya adalah pelayanannya yang prima. Sejak dulu SQ terkenal dengan icon Singapore Girls-nya yang melambangkan quality customer care and service, dan mereka melakukannya dengan branding senyum pramugari dalam iklan2nya di seluruh dunia. Oh ya, seragam pramugari SQ yang dirancang oleh Pierre Balmain di tahun 1968 tidak banyak mengalami perubahan.

Pramugari SQ sudah terlatih memberikan layanan ramah namun tetap profesional. Contohnya, kalau di kelas bisnis mereka diwajibkan memanggil nama penumpang dengan nama keluarganya, jadi saya dipanggil Mr. Wahid. Walaupun sudah diminta untuk menggunakan nama pertama, mereka tetap akan memanggil kita dengan nama keluarga karena aturan formalnya seperti itu.

Saya kadang kagum dengan stamina mereka pada penerbangan antar benua yang memakan waktu lebih dari 10 jam. Saat penumpang tidur lelap dan lampu kabin telah dimatikan selalu saja ada pramugari yang melakukan patroli kalau2 ada penumpang yang kehausan. Maklum dehidrasi adalah musuh utama di pesawat yang udara bertekanan tinggi. Kalau diiklan ada adegan mereka membetulkan selimut penumpang yang terlelap, itu sudah saya alami sendiri. They do what they preach.

Saya pernah terbang dengan Air Canada dari San Francisco ke Toronto yang memakan waktu 5 jam lebih. Awak kabin hanya bertugas sampai dengan mereka menyajikan makan, setelah itu mereka tak acuh dengan penumpang dan sebagian lagi malah terlelap tidur. Duh.

Sekali lagi tentang stamina, tahukah anda berapa berat beban yang harus mereka tanggung saat menutup kompartemen bagasi, 60 kg!. Kadang saya suka prihatin kalau melihat penumpang yang membawa koper melebihi kapasitas tempat penyimpanan di kabin dan setengah memaksa pula menjejalkan barang bawaannya.

Alasan lain mengapa banyak penumpang memilih penerbangan ini karena in-flight entertaintment nya yang lengkap, pun di kelas ekonomi. Selalu saja ada film,musik, atau games terbaru dimana penumpang bisa memilih sesuai dengan seleranya masing2. Penerbangan Garuda pun sudah lama memulainya, tapi terbatas untuk kelas bisnis, yang ekonomi cukup menikmati tayangan Mr. Bean atau Candid Camera yang ditonton berjamaah.

Bagaimana dengan safety record? Memang kecelakaan pernah terjadi, tapi dalam sejarah panjangnya SQ hanya membukukukan dua kecelakaan besar yakni di Taiwan (SQ006) dan Palembang (Silk Air 185). Penerbangan Indonesia ? Tampaknya anda sudah tahu jawabannya, bukan ?

Sejak penumbang boarding atau masuk pesawat, pramugari SQ akan selalu memberikan peringatan tentang safety dan mengontrol dengan ketat setiap penumpang untuk memastikan mereka sudah mentaati stadard keamanan pesawat.

Video presentasi tentang keselamatan penumpang disajikan dengan musik yang menawan, memaparkan 8 aspek penting keselamatan penerbangan : barang bawaan, peralatan elektronik, take off dan landing, sabuk pengaman, masker oksigen, pendaratan darurat, pelampung, dan tata cara evakuasi.

Ketepatan waktu ? Setiap keterlambatan lebih dari dua jam selalu ada kompensasi, entah itu voucher makan, atau semua penumpang dipersilakan masuk ke lounge mereka yang mewah. Saat penumpang boarding, petugas akan meminta maaf seraya membagikan sekedar gift as a token of apology.

Apakah penerbangan Garuda bisa mencapai semua itu? Bisa saja. Orang Indonesia tidak kalah pintarnya dengan Singapura, tapi selama BUMN selalu terkontaminasi oleh kepentingan segilintir penguasa dan partai politik jangan harap kita bisa menyamai mereka. Mungkin tidak pernah. Jadi jangan salahkan orang Indonesia seperti saya yang lebih memilih Singapore Airlines dibandingkan dengan Garuda.

Tags: , , , ,

6 Responses to “Welcome Aboard Singapore Airlines”

  1. VITA Says:

    THANK YOU FOR FLYING WITH US….

  2. Evia Says:

    SQ memang jempolan pelayanannya meskipun harga tiketnya selangit. Kalau saya perhatikan, rata2 perusahaan penerbangan yang dimiliki negara2 di Asia servicenya yahud. Paling tidak yg namanya senyum dan ramah tamah masih ada termasuk Garuda lho. Berbeda dengan perusahaan penerbangan Amerika, banyak yang jutek, es te we serta gembrot lagi. Maaf saya tidak bermasud menghina, tetapi kalau terjadi apa2 bukankah mereka juga harus cekatan membantu penumpang? Lha kalau kondisinya seperti itu, nanti malah penumpang yang membantu mereka, kebalik kan. Di Northwest banyak yang seperti itu. Pramugarinya yg berkebangsaan Asia, masih tersisa keramahannya.

    Kebetulan SQ jadi corporate carrier, jadi sering banget pake penerbangan ini. Safety record-nya bagus, selain keramahan para pramugarinya yang cakep2 itu🙂 . Sering pake Northwest ya? belum pernah sih, tapi kalau Air Canada atau United pernah mencoba dan pengalamannya hampir sama.

  3. Evia Says:

    Iya saya sering pake Northwest karena homebase mereka di Minneapolis, dekat sama daerah tinggal kami. Teman baik saya yg tinggal di Selatan banyak menggunakan United Airlines karena homebase UA di selatan. Dan si teman baik juga punya pengalaman yg sama mengenai para air crew nya, alias gembrot dan jutek. Saya duga, perusahaan tidak bisa semena mena mengeluarkan mereka atau meng-ground-kan mereka karena alasan takut dituntut diskriminasi. Hal ginian sensitif buanget disini. Tapi mbok yao pekerjanya juga tau diri yak. Beda dengan pramugari yg dari Asia yang langsing2 dan hm..hm…cantik🙂
    Meskipun langsing mereka juga cekatan kan? Ini bukan cuma pramugari penerbangan Asia lho. Di Northwest pun juga ada pramugari Asia kok dan mereka langsing serta hm..hm..cakep. Dan satu lagi kelebihan mereka, boros senyum.

  4. Mika'il Yusak Lukmanto Says:

    Kalo awak kabin pesawat Eropa macam KLM, Lufthansa, atau Alitalia gimana sikapnya? Jutek nggak kaya AS?

  5. claire Says:

    saya pernah tuh mas 1x naik SQ waktu bbrp tahun yg lalu sebelum mereka meluncurkan A380 nemenin ortu ke Bangkok kalo gak salah, bener aja pelayanan mereka top banget deh. kayaknya itu pramugari tau aja kalo saya lagi kurang fit, malah ditawarin mau minum obat tidak. baru kali itu saya dpt perlakuan spt itu. coba airlines barat macam Northwest lah atau yg deket deh, Qantas juga, kadang jutek bikin org sebal..

    KLM sama Lufthansa sih menurut saya not bad lah standar tapi denger2 maskapai Tim-Teng macam Emirates Qatar justru sejajar dengan SQ.

  6. tiwi Says:

    Pak, boleh nanya?
    Di kelas ekonomi, baggage allowances emg standarnya kan 20kg, tetapi garuda mengizinkan 30kg utk student. Apakah SQ jg menerapkan hal yg sama?
    Berdasarkan pengalaman Bpk, apakah mereka sgt strict dengan excess baggage ini? (misal lebih brp kilo udah disuruh bayar).
    Maklum ya, Pak, ini pertama kalinya saya naik SQ hehe.. Terimakasih banyak atas infonya🙂

Comments are closed.


%d bloggers like this: