Profesi Pertama Saya : Wedding Photographer


wedding.jpg

Selama kuliah saya sering jadi fotografer panggilan untuk mengabadikan upacara pernikahan. Hasilnya lumayan walau dulu belum mampu beli kamera, jadi pinjam sana sini. Kameranya Nikomat salah satu kamera legendaris dari Nikon yang beratnya hampir sekilo dengan lensa Nikkor 50mm/f1.2, jadi hasilnya tajem, jem, dijamin membuat muka yang jerawatan akan semakin jelas jeleknya. He3x.

Saya terjun ke jagat dunia fotografi wedding sejak tahun 90an setelah “sukses” (maksudnya gagal total) mengabadikan foto pernikahan salah satu keluarga dekat. Waktu itu saya menggunakan kamera hasil pijaman, mereknya Yashica FX3 (mohon koreksi kalau salah), semua hasil fotonya setengahnya hitam, setengahnya lagi terang.

Ya, itu kesalahan fatal pertama karena belum paham masalah sinkronisasi antara lampu blitz (flash) dengan kecepatan kamera. Banyak kamera analog jaman dulu yang mematok kecepatan di f60 atau paling banter f125 saat menggunakan lampu kilat. Saya waktu itu memasang kecepatan di f125 dan Yashica mematok angka f60 untuk sinkronisasi lampu kilat. Hasilnya ya tadi itu, gelap sebelah. Malunya, nggak ketulungan.

Itulah awal perkenalan saya dengan dunia fotografi serius setelah sebelumnya cukup puas dengan kamera poket merek Ricoh. Kecelakaan tadi membuat saya semakin tertarik untuk belajar fotografi secara otodidak. Semua buku2 fotografi dan majalah PAF (Persatuan Amatir Foto) saya lahap dan terus merambah hingga mendalami cuci cetak foto hitam putih di lab foto kampus di Bandung. Hobi yang membuat lupa diri sekaligus juga mahalnya minta ampun untuk ukuran saya yang hidup pas2an.

Sejak mulai menguasai ilmu jepret, mulailah berdatangan panggilan untuk mengabadikan pernikahan, tapi banyak juga yang gratisan terutama dari keluarga sendiri. Padahal profesi ini harus mengandalkan stamina yang prima karena durasi nya 8 jam mungkin lebih secara non stop. Coba tanya kepada semua fotografer wedding bagaimana rasanya melakoni pekerjaan ini. Capek.

Tapi harus diakui profesi ini sangat menantang dan marketnya masih terbuka lebar. Jeleknya, tidak ada stadard harga. Lihat saja karena iklan di koran Pos Kota, orang berani pasang tarif dengan fee 1.5 juta untuk paket satu album. Padahal dengan harga tadi, dipastikan hasil foto dan cetakan jauh dari kualitas yang diharapkan karena fotografer akan berusaha menekan harga seminimal mungkin untuk mengambil keuntungan.

Bagaimana dengan peralatan? Saya tidak akan membahas peralatan yang harus dibawa dalam posting ini, sekali lagi itu tergantung market anda. Semakin mahal, semakin lengkap alat yang harus disediakan. Tidak mungkin seorang fotografer hanya membawa satu kamera digital SLR plus satu lampu kilat dipernikahan mewah. Akan dianggap aneh bila membawa peralatan lengkap saat fotografernya hanya dibayar dengan tarif yang sama dengan iklan di Pos Kota.

wedding3.jpg

Tapi saya ingin sekedar berbagi tips bagi para pemula yang punya kamera digital tanpa blitz terpisah, tapi ingin memulai mengabadikan foto pernikahan sebagai arena belajar. Ini semata-mata pengalaman pribadi dan ditujukan hanya bagi pemula, bukan para senior yang sudah malang melintang di arena ini.

  1. Bawa kamera ke setiap pesta pernikahan, bisa pernikahan teman atau mungkin saudara dekat.
  2. Ini list yang wajib didokumentasikan dari awal sampai akhir acara pernikahan. List ini dibuat oleh Widianto H. Didiet di situs Fotografer.net.
  3. Sebisa mungkin tidak gunakan lampu kilat, jadi bawa lensa dengan bukaan besar, minimal f2.8. (misalnya Tamron 17-50/f2.8 atau 28-75/f2.8, Sigma 30mm/f1.4, atau pengguna Canon bisa menggunakan lensa 50mm/F1.8). Gunakan flash di kamera kalau momennya terlalu cepat, kecuali objeknya tidak banyak bergerak sehingga kita bisa memasang kecepatan di f30 atau f/15 sekalian latihan menahan nafas.
  4. Kalau tidak punya lensa di atas, bawa saja lensa yang ada. Kalau tidak punya lensa zoom, pake saja yang fix, paling harus maju mundur.
  5. Kalau moment-nya terlalu cepat, pasang saja di Aperture Priority patok di bukaan terbesar sehingga speed di kamera tidak terlalu “berbahaya” dan hasil foto tetap tajam.
  6. Selalu periksa white balance karena acara pernikahan selalu berpindah dari indoor ke outdoor atau sebaliknya. Supaya safe pasang di “auto”.
  7. Perhatikan juga ISO/ASA, Nikon sudah punya feature “auto ISO” demikian juga Canon yang mulai menerapkannya di seri 40D.
  8. Kalau terpaksa menggunakan lampu kilat, pasang di kecepatan serendah mungkin antara f30 hingga f60 dengan bukaan f5,6 ke bawah sehingga cahaya flash tidak terlalu kasar.
  9. Jangan sering memperhatikan LCD untuk melihat hasil foto terutama momen akad nikah. Cukup sekali-kali untuk memastikan hasilnya sudak OK. Lagipula hal tersebut akan memboroskan batere.
  10. Coba bereksperimen dengan mengubah setting white balance untuk menimbulkan efek tertentu. Misalnya set di “tungsten” agar menimbulkan efek kebiruan. Kalau sudah selesai, jangan lupa kembalikan ke mode “auto” atau yang sesuai dengan kondisi pencahayaan saat itu.
  11. Jangan hanyut dibawa perasaan terutama saat sungkem. Pasti lucu kalau fotografernya ikut terisak-isak saat acara sungkeman.
  12. Pasang ISO serendah mungkin, maksimal di 400. Tapi kalau tidak memungkinkan pasang saja di 800 atau malah 1600. Paling juga noise nya muncul yang kadang malah menjadi efek tersendiri.
  13. Penting, don’t put your egss in one basket. Berdasarkan pengalaman pribadi, mending punya banyak memory card dengan kapasitas kecil2 dibandingkan dengan hanya satu walau kapasitasnya besar. Maksudnya, jaga2 kalau file-nya corrupt, kita masih punya cadangan foto.
  14. Hati2 jangan sampai menyenggol sanggul ibu2, saya pernah punya pengalaman buruk saking semangatnya mengabadikan acara (kasian tuh ibu2nya yang sudah sejak pagi bersolek)
  15. Ikuti semua acara dan enjoy saja sambil lirik kanan kiri, he3x.
  16. Setelah selesai edit dengan photoshop secantik mungkin dengan kolase andalan anda. Hasilnya berikan kepada pihak keluarga pengantin. Kalau mereka puas dan malah mengalahkan hasil fotografer resmi, percayalah berita akan segera tersebar dan bersiap untuk memetik hasil dari hasil kerja gratisan.
  17. Anda bisa melihat sebagian hasilnya di posting saya “Just Enjoy”

Itu semua resep yang saya praktekan bukan hanya di bidang fotografi, tapi juga di bidang desain grafis dan lumayan manjur. Syukur kalau cocok dengan anda.

Happy shooting.

Tags: , , , ,

8 Responses to “Profesi Pertama Saya : Wedding Photographer”

  1. ata Says:

    sekarang jadi fotografer juga?
    tapi tadi nuis juga ya buat kompas ttg TKI itu?
    wuiiihhhhhhhhh………

    salam kenal ya bang!

  2. ton6312 Says:

    Salam kenal juga Mas Ata, sekarang masih jadi tukang jepret koq.

  3. arinova Says:

    ’11. Jangan hanyut dibawa perasaan terutama saat sungkem. Pasti lucu kalau fotografernya ikut terisak-isak saat acara sungkeman.’

    –> pengalaman pribadi mas? hehe

    bener mas, saya sering ke nikahan temen nenteng kamera, just for practice, malah pernah dikira ‘fotografer resmi’, disuruh minta potoin sebuah keluarga, dengan gaya yang heboh, ya jepret aja, karena lama baru saya kirim (lha wong cuma iseng) sampe keluarga temen yang saya poto itu lupa pernah saya poto, haha

  4. andy laver sirait Says:

    hehehe..inspiring! thanks for sharing🙂

    He3x, cerita dong tentang bagaimana bisa terdampar di Jepang dan jadi analis saham dunia.🙂

  5. Widianto H Didiet Says:

    wah wah wah… sukses ya mas🙂

  6. hansgrafiez Says:

    makasih infonya bang…salam dari banjarmasin.

  7. joe Says:

    jangan byk2 buka rahasianya maz, ntr kita2 ini jd tmbh byk sainganya. ha.ha.aha………

  8. Chandra Says:

    Kalo saya pertama kali dapet job motret di acara Khitanan adik temen saya,dengan kamera Asahi Pentax lensa 35mm,lampu blitz buatan Cina,ga tau apa merknya (lupa) kepunyaan mediang kakek saya .Alhamdulillah hasilnya bagus,tajam lagi,ga pake olah2 digital. Tapi pas foto keluarga,eh malah rusak, untunglah temen saya maklum. Memang gitu ya pertama kalinya dapet job,pasti ada aja….kesalahan,tapi buat pembelajran supaya hasil foto lebih baik lagi.
    O,iya trims buat tipsnya

    Kalau saya dulu pake Yashica FX3 (kalo gak salah modelnya), fotonya belang karena flash dan speed gak sinkron. Thanks for dropping by.

Comments are closed.


%d bloggers like this: