Wong Ndeso Naik Limo

limo2.jpg

Ah pengen juga sekali-kali merasakan naik limousine, mobil panjang hitam yang suka ada di film2. Mohon maklum ini obsesi wong ndeso kayak saya, jauh sebelum membayangkan bisa menginjakan kaki di Amerika. Jadi saat tiba di JFK Airport NY, teman saya langsung memesan limo untuk transport ke hotel Sheraton di 5th Avenue. Cita2 itu akhirnya kesampaian dan 6 orang Asia dengan tubuh mungil keluar dari limo di depan lobi hotel.

Sewa limo di airport tidaklah sulit. Sediakan saja uang 200 dolar belum termasuk tip dan bersiaplah mencicipi american dream layaknya golongan the have. Biaya ini tentu mahal apabila diatanggung sendirian, tapi karena sharing dengan teman yang lain, maka ongkosnya jadi tidak terlalu beda apabila kita menggunakan taxi.

Supir limo yang saya tumpangi kebetulan bule yang berbadan tegap dengan aksen New Yorker yang kental. Sebagaimana yang biasa disaksikan di film, pakaiannya suit lengkap, sangat formal. Wuih. Tentu saja interior mobilnya sangat luas, setidaknya kaki kita bisa selonjor bebas. Di dalamnya tersedia minuman ringan, audio, dan sun roof. Hati kecil pengen mengeluarkan setengah badan di sun roof itu sambil berteriak, NY here I come !. Tapi untung niat itu diurungkan, karena takut disangka orang sinting.

Saya baru tahu bahwa limousine itu ternyata adalah mobil Ford tipe Lincoln. Tipe yang lebih pendek warnanya hitam banyak dipakai sebagai taksi sekelas Silver Bird di Jakarta.

Perjalanan ke hotel di daerah Manhattan hanya ditempuh kurang dari satu jam. Door man hotel membukakan pitu mobil dan keluarlah enam ekor mahluk mungil dari Asia di tengah tatapan para tamu hotel. Lumayan buat show off.

Tags: , ,

4 Responses to “Wong Ndeso Naik Limo”

  1. kakijenjang Says:

    Kang… mau fotonya gak? Gue ada tuh.. !!!πŸ˜›
    My sweet memory of New York… Jadi ingat.. ngubek2 newstand dengan kang TW, di stasiun Subway NY.πŸ™‚
    Ayo… cari apa?πŸ˜›

    Fotonya ada, nanti kita publish bulan September. Uhuch.
    Duh kenangan NY dan gedung World Trade Center itu. Kita mencari … malu ah ketahuan seluruh alam semestaπŸ˜€

  2. aal Says:

    jutawan sehari nih yeeeeee

  3. art Says:

    yang lebih nikmat sebenarnya bukan yang dianter tapi yang nganter, maksud saya supir limo itu pekerjaan yang enak juga. tipnya ok, kenal dengan berbagai orang dan karakternya. dulu, ketika di Denver saya pernah mencoba untuk melamar pekerjaan ini, tapi nunggunya lama jadi saya cari yang tidak kalah enaknya, shuttle bus, salah satu peristiwa yang menarik waktu nganter Marilyn Manson dan grupnya dari Radisson hotel ke Denver Airport, bawaannya banyak tapi tipnya tidak menampakan rocker kelas wahid. Tapi ada teman saya punya pengalaman lain waktu dia nganter Bill Gate, karena Bill nggak bawa uang tunai untuk bayar tip sebagai penggantinya teman saya disuruh memilih satu dari dua special laptop yang seharga $5ribu dollars yang dibawa Bill Gate setelah selesai mengantar ke airport. dan segudang cerita kalau kami2 ngumpul di holding area bersama driver yang datang dari berbagai latar belakang, ada yang pernah prakter sebagai lawyer, veteran perang vietnam, pengajar, polisi dll, kami semua sama nggak ada yang istimewa karena status sosial, disana kami berbagi cerita suka duka. sohib saya yang paling enak untuk ngomong dan berbagai rasa adalah bekas pemilik 3 resto di LA, seorang keturunan Libya garis keras (ceritanya dia dan keluarga jadi target Moamar Khadafi makanya kabur dari Libya), tapi hatinya lembut, ketika kami saling mengenal ada rasa persaudaraan yang dalam walau banyak perbedaan, dia muslim, saya kristen, dia libya saya indonesia dan banyak lagi, kesamaannya dia tidak suka babi saya juga, dia suka juice mangga saya juga, kami suka nongkrong di Starbucks cafe dll. kami sering mendiskusikan perbedaan2 kami dengan pikiran yang terbuka, agree with disagree but agreeable.. saya melihat hubungan baiknya dengan seorang senator wakil dari colorado state pada saat itu, sekalipun si Libya ini keras dalam perilaku tidak sedikit yang menyukainya termasuk saya. kulit tidak salamanya mengindetikan isi.

    Wow ternyata ceritanya so colorful. Mengapa gak buat blog atau buku sekalian buat di share pengalaman yang tidak setiap orang bisa merasakannya. Terima kasih Mas sudah membagi pengalamannya yang sangat menarik.πŸ™‚

  4. art Says:

    terima kasih saran bung Toni, saya kadang nulis untuk wartajazz sehabis nonton pertunjukan jazz disekitar toronto termasuk toronto jazz festival 08, buat saya membagi-bagikan pengalaman merupakan wujud dari amal kita kepada yang lain, bukan paksaan tapi sebagai ungkapan bakti saya sebagai ciptaanNya. saya tunggu berita yang lain dimana saya bisa nimbrung …

Comments are closed.


%d bloggers like this: