Duh Patpong

patpong.jpgJudulnya itu saja. Kawasan lampu merah di Bangkok yang terkenal ke manca negara. Seks apa yang tidak ada di Patpong ? Semuanya ada. Ini pengalaman saya jam 2 malam keluyuran di sana dan disangka polisi yang sedang melakukan penyamaran. Monggo mampir.

Sebenarnya tidak ada niatan ke sana, namun teman saya yang orang Korea sangat bernafsu mengajak saya menjelajahi kawasan lampu merah di Bangkok yang sudah terkenal sebagai pusat industri seks di sana . Maka berangkatlah kami berempat, seorang India, Kamboja, Korea, dan saya dari Indonesia.

Naik taxi dari hotel saya di area Shukumvit ke Patpong hanya memakan waktu kurang dari 20 menit. Jalanan sudah sepi pada dinihari itu yang biasa macet seperti Jakarta.

Tapi setibanya di sana, the true color of Bangkok langsung terasa. Industri seks jenis apapun dipastikan tersedia.

Go Go Bar menyediakan perempuan yang meliuk-liuk di tiang striptease mengundang para lelaki untuk masuk. Buat para gay tersedia bar Thai Boys, dan disebuah sudut saya melihat bar yang dipenuhi turis bule dengan para waria!.

Dua kali saya ditolak masuk ke bar. Penjaganya tidak mengijinkan saya masuk. Teman saya yang orang Kamboja kebetulan fasih berbahasa Thai bertanya mengapa saya tidak dizinkan masuk.

Oh la la, rambut saya yang cepak saat itu membuat mereka khawatir bahwa saya dalah seorang polisi yang langi menyamar.

OK, masuk lagi ke bar yang lainnya. Kejadiannya terulang lagi. Kali ini saya mengeluarkan paspor, tetap tidak berhasil. Mereka malah ketakutan dan mohon maaaf kalau bar mau tutup. Saya baru tahu kalau polisi lagi menggiatkan razia pekerja seks anak.

Akhirnya di tempat yang ketiga saya berhasil masuk merasakan denyut hiburan malam ala Bangkok yang penuh warna.Duduk di depan para penari striptease yang sedang beraksi sambil menikmati minuman yang dipesan teman saya. Sayang, tidak ada satupun perempuan yang mendekati saya. Mereka tetap menyangka saya seorang polisi.Ada untungnya karena saya tidak dimintai uang tip.

Perlu diketahui setiap selesai “atraksi” yang dipertontonkan di panggung seorang perempuan akan berkeliling meminta uang tip kepada para pengunjung. Padahal adegan berubah setiap 10 menit, jadi bersiaplah untuk mengeluarkan tip kalau tidak mau dicibir oleh mereka.

Perempuan yang ada di bar itu selain dari Thailand banyak datang dari negara perbatasan Thailand seperti Myanmar, Laos, Kamboja, atau Vietnam. Besar kemungkinan mereka adalah korban sindikat perdagangan perempuan yang bekerja seperti mafia. Sebuah studi menyebutkan tidak kurang dari 2.8 juta perempuan di bawah umur terpaksa menjadi pekerja seks di Thailand. Angka yang membuat miris.

Saya sudahi jalan2 ke Patpong yang hingar bingar dengan suara musik, bau alkohol yang menyengat, dan lalu lalang perempuan berpakaian mini di sebuah pagi sebelum keberangkatan saya ke Jakarta. Patpong duh Patpong.

Tags: , , ,

2 Responses to “Duh Patpong”

  1. mbelgedez Says:

    Ke…ke…ke…

    Pebruari besok sayah kesana, ah….. 😆

  2. vickydbz Says:

    wedew~~ keren dan ngeri jg ya kehidupan disana klu gitu.. >>.<<

Comments are closed.


%d bloggers like this: