TKI Selalu Dirampok

tk3

Saking geramnya dengan penanganan pemerintah Indonesia mengenai masalah TKI, saya pernah membuat dua tulisan di harian Kompas. Nasib TKI tidak pernah membaik, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada perubahan apapun. Lihat saja di terminal kedatangan ataupun keberangkatan bandara Soekarno Hatta. Mereka diperlakukan sebagai komoditas, tak lebih dan tak kurang.

Dalam sebuah perjalanan dinas dari kantor saya telah menginterview tidak kurang dari 500 orang TKI yang tersebar di Penang hingga Johor Malaysia. Semuanya mendendangkan lagu derita yang sama. Bukan hanya TKI kita, pun dari negara lain seperti Bangladesh atau India.

Dari mulai perekrutan di kantong2 TKI di Jawa dan Medan, mereka sudah diiming-imingi gaji yang besar dan fasilitas beragama.Untuk menjadi TKI mereka harus membayar biaya keberangkatan kepada para sponsor. Karena miskin, biaya biasanya didapatkan dengan cara berhutang atau hasil dari menjual tanah, sawah, dan kebun.

Uang inilah yang kemudian disetorkan dengan harapan akan kembali selama bekerja di negeri orang. Selesai? Belum. Mereka harus menunggu di tempat penampungan dulu sebelum penempatan ke negara tujuan. Waktunya tidak tentu, tergantung lampu hijau dari agen di sana.

Banyak kasus TKI yang melarikan diri dari tempat penampungan karena tidak tahan menunggu dalam ketidakpastian. Atau kasus tempat penampungan TKI digrebek oleh masyarakat sekitar karena curiga akan ketertutupan penghuninya. Biasanya para agen melarang TKi ke luar karena alasan keamanan. Namun sebenarnya mereka hanya tidak ingin para TKI itu melarikan diri dan kehilangan kesempatan mendapatkan fee dari agen lain. Itu saja.

Saat keberangkatan, penderitaan sebenarnya baru dimulai. Beberapa menit sebelum masuk ke boarding, sang agen menyodorkan kertas yang harus ditandatangani oleh mereka. Tidak boleh ada pertanyaan apapun tentang isinya. Berani bertanya, agen langsung mengancam pembatalan keberangkatan. Karena tidak ada pilihan lain, mereka terpaksa menandatangani dengan pasrah.

tk

Di tempat tujuan mereka baru tahu kalau selembar kertas yang baru saja di tandatangani itu adalah semacam surat hutang. Jumlahnya sekitar 5 hingga 10 juta. Fantastis bukan? Para agen mengatakan bahwa mereka harus membayar dengan cara mencicilnya selama mereka bekerja di sana. Pembayaran paling lama 12 bulan.

Perlu diketahui, banyak para TKI yang langsung stress dan bahkan ada yang hilang ingatan akibat ulah para agen ini. Penderitaan selanjutnya adalah masalah paspor. Bagi orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri, paspor merupakan dokumen maha penting yang tidak boleh hilang. Namun tidak bagi TKI. Paspor mereka akan ditahan oleh majikan dengan alasan keamanan. Padahal semuanya tahu, tanpa paspor mereka tidak bisa melarikan diri. Sebuah pelanggaran hak asasi yang sudah menjadi normal di negara seperti Malaysia.

Tanpa paspor TKI menjadi bulan2an para aparat kepolisian dan petugas imigresyen di sana. Siap2 untuk menyogok mereka dan kalau tidak punya uang, lokap (lock-up) sudah menunggu mereka. Alasan bahwa paspor ditahan tidak akan pernah digubris oleh polis Malaysia. Justru dengan itulah mereka punya alasan melakukan penahanan.

Untuk diketahui upah di sektor manufakturing di Malaysia berkisar antara 13 hingga 15 ringgit. Jadi kira2 mereka akan mendapatkan gaji sekitar 350an ringgit atau hampir satu juta. Kalau dengan uang lembur, selama sebulan mungkin mereka masih bisa mendapatkan gaji antara 1 hingga 1.5 juta. Besar? Sangat kecil untuk ukuran Malaysia.

Mari kita ilustrasikan pengeluaran mereka. Dengan gaji katakanlah 1 juta per bulan. Mereka harus membayar pajak penghasilan sekita 100 ringgit (sekitar 270 ribu kurs pada saat tulisan ini dibuat). Lalu cicilan kepada agen yang sekitar 100 ringgit juga. Sehingga gaji bersih yang mereka dapatkan berkisar antara 150 ringgit atau 500 ribu rupiah. Jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan UMR Jakarta yang sudah akan melampaui angka satu juta.

Itulah angka2 real dari hasil investigasi saya selama di sana. Mayoritas dari mereka menyesal pergi ke Malaysia. Seorang ibu yang diwawancara tidak kuat menahan tangis dan teringat keluarganya di kampung.

Seorang bapak hanya sanggup menerawang dengan pandangan kosong saat dilakukan wawancara. Ia sudah kehilangan semangat hidup. Mereka adalah “bondage” kalau tidak mau dikatakan perbudakan jaman modern korban nyata perdaganagan manusia.

Banyak di antara mereka yang kabur tanpa paspor dan bekerja secara ilegal. Dengan bekerja ilegal mereka tidak diharuskan membayar pajak dan lepas dari kejaran debt collector para agen. Opsi cerdik namun tetap berbahaya saat Malaysia melakukan razia besar2an pendatangan haram.

Drama kehidupan TKI masih terus berlanjut saat mereka mendarat di Cengkareng. Oknum2 pemerintah dan preman leluasa memeras mereka. Semua berkomplot layaknya mafia yang suilit diberantas. TKI bagi mereka adalah ladang bisnis yang menggiurkan.Pemerintah seperti biasa hanya bersifat pasif.

tk2

Tidak seperti Filipina, yang walaupun didera banyak masalah TKI, namun mereka punya komitmen yang jauh lebih serius dibandingkan dengan birokrat kita. Kalau tidak sekarang, kapan lagi negeri ini mau membenahi masalah TKI yang menyumbang devisa negara hingga trilyunan rupiah. Merka bukan lagi pahlawan devisa, tapi tidak lebih dari sapi perahan belaka.

Tulisan ini dimuat karena saya sudah bosan dengan cara pengananan TKI yang tidak becus dan harus ada langkah drastis untuk mengurai dan membubarkan mafia perdagangan manusia di depan mata kita.

Foto2 : Toni Wahid

Tags: , , , , ,

3 Responses to “TKI Selalu Dirampok”

  1. rezco Says:

    TKI ohh TKI…
    Malang nian nasibmu

  2. ata Says:

    aduh, semakin tau tentang Indonesia semakin sakit hati!!
    greget bener ih!!
    Rrrrrrrrrrrrrrrrggggggggghhhhhhhhhh………….. benci!

  3. asmayadi Says:

    harusnya tki dilindungi, karena tki penghasil devisa untuk bangsa dan negara, mereka juga termasuk aset negara, dsan juga meringankankan daerah dalam hal tenaga kerja.

Comments are closed.


%d bloggers like this: