Lied van een Stomme

pramoedyaanantatoer.jpgSiapa yang tidak kenal karya Pramoedya Anantar Tour “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”? Inilah karya monumental seorang Pram yang berisikan catatan dan permenungannya selama di pembuangan pulau Buru. Buku ini bisa menggetarkan siapapun yang membacanya. Sebuah pengalaman kemanusiaan yang luar biasa, mungkin lebih menyentuh dibandingkan “Gulag” dari Alexander Solzhenitsyn.

Terdiri dari dua jilid dan pertama kali diterbitkan oleh penerbit di Belanda dengan judul Lied van een Stomme di tahun 88-89. Situasi politik saat itu memang kurang mendukung untuk menerbitkan karya Pram.Lalu apa istimewanya karya ini sehingga sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa?

Pertama, karya ini merupakan saksi sejarah rezim Orde Baru akan kehidupan para tahanan politik di Pulau Buru.

Kedua, Pram dengan lugas, menceritakan secara cermat apa yang terjadi selama ia menjadi tahanan di sana. Sebuah drama perjuangan dan semangat survival yang luar biasa.

Ketiga, buku ini merupakan sebuah dokumentasi sejarah dan bukan semata-mata memoar kehidupan di sana sebagaimana review dari koran New York Times.

Diawali oleh nasihat Pram untuk anak perempuannya yang akan menikah dan pesan untuk calon suaminya. “tidak aku ijinkan anakku dipukul atau disakiti” tulis Pram. Selanjutnya Pram bertutur tentang perjalanan panjang dengan kapal laut ke tempat pembuangannya di Buru dan mengalirlah berbagai pengalamnnya yang kadang membuat pembaca merinding.

Buat saya, inilah salah satu fiksi terhebat yang pernah saya baca yang banyak memberikan pesan moral. Sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin secara jernih melihat sosok maestro sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Tour.   

Tags: , , , ,

2 Responses to “Lied van een Stomme”

  1. Sober Says:

    Mengapa banyak orang yang tidak menghargai pribadi seorang wanita. Dan mengapa kita tinggal diam melihat penindasan ini. Jangan-janga kita juga sebagai pelaku ketidakadilan itu…? Aku bukanlah seorang penggiat pembela “gender”, tapi aku seorang pastor yang selalu didatangi para wanita yang terluka akibat kekerasan dalam rumahtangganya. Aku menaruh keprihatina bukan semata-mata mereka itu wanita, tapi yang kubela adalah para korban ketidakadilan dalam rumah tangga.
    Untung aku sempat belajar bagaimana menghargai kehidupan dari Om Pram. Aku mengakais mutiara dalam tiap tulisannya.Dan kadang kukatakan bahwa karya Om Pram merupakan Injil kedua sebagai pegangan hidupku. Kalau Injil pertama menekankan mengasihi musuh, Tulisan Om Pram mengajak aku untuk membumikan (menterjemahkan) pesan Injil pertamaku itu dalam kehidupan keseharian. “Kasihilan sesamamu seperti engkau mengasihi diri sendiri” kata injil pertamaku. “Berkeadilanlah sejak dalam pikiranmu” kata Injil keduaku.
    Tujuan tiap hidup berumahtangga adalah demi kebahagiaan. (Siapa yang ingin keluargannya berantakan…menuai kepedihan dalam rumahtangganya?). Maka syarat utamanya adalah saling berlaku adil antar pasangan.

    Seorang Pramudya memang telah tiada, tapi ia masih tetap hidup melalui kearifannya dan pandangannya terhadap kasih sayang terutama selama ia berada di pulau Buru. Terima kasih atash sharing-nya Pastur. Salam.

  2. Sober Says:

    Kembali kasih kawan. Sekedar Anda juga tahu, bahwa pada saat ini aku sedang menemani pergulatan seorang Ontosoroh Milenium. Dia terjebak dalam kekuatan patriakal yang diciptakan oleh lingkungannya. Aku tahu dia mendamba kebebasan…dari kuk yang dipikulnya selama hampir 20 tahun. Di balik kelembutan wajahnya tersimpan nyeri yang tiada terkira. Namun dia terus berjuang untuk meraih kebebasan yang selama ini terrenggut… Mohon doanya Kawan. TQ

    Sama2 Pastur. Selamat menulis.

Comments are closed.


%d bloggers like this: