
Saya ingin merasakan atmosfir Jogja sebagaimana yang dialami oleh warganya dan bukan sebagai turis yang asyik belanja di Malioboro. Itu pesan saya kepada teman baik yang saya “paksa” menjadi pemandu wisata dadakan. Jadilah sebuah acara disusun berikut “ritual” yang harus saya laksanakan demi menjadi seorang Jogjager dadakan dengan base camp di guest house panti asuhan Santa Maria di kawasan Ganjuran, Bantul.

Belum ke Jogja kalau tidak merasakang ngangkring begitu kata orang sana. Angkringan pada dasarnya adalah sebuah tempat di mana para pedagang menjual kopi, sego kucing, dan berbagai penganan lainnya. Tempat duduk di depan pedagangnya hanya cukup untuk beberapa orang saja, tapi sepertinya lesehan di atas tikar dengan lampu penerangan seadanya menjadi pilihan banyak pengunjung.

Saat malam semakin larut angkringan Lik Man di jalan Pangeran Mangkubumi justru semakin ramai dengan pengunjung. Sebagian besar anak2 muda, kemungkinan besar para mahasiswa dan pelajar yang datang berombongan menggunakan motor atau mobil. Sebagian pasangan muda mudi yang sedang jatuh cinta, di pojok lain diskusi hangat tentang politik Indonesia tengah berlangsung dengan serius, di samping saya dua orang sedang tepekur khusyuk bermain catur, yang lain cukup dengan menikmati suasana dinginnya Jogja, sendirian.
Kopi jos atau kopi yang dimasukan bara arang merupakan kekhasan yang bisa ditemukan di sini selain sego kucing (nasi bungkus mini dengan lauk pauk sekedarnya). Tidak usah risau dengan harga makanan dan minuman di angkringan yang harganya astagfirullah murahnya dibandingkan dengan lesehan Malioboro. Ke Jogja ? ya harus ngangkring.

Bagi para penggemar kopi, selain di angkringan, kita juga bisa menikmati warung kopi lesehan yang bertebaran di seantero kota ini. Sebagian ada yang buka hingga 24 jam, tapi semuanya menawarkan kesederhanaan, keterbukaan, hubungan pemilik dan pelanggan yang lebih intens, dan tentu saja secangkir kopi nikmat dengan harga 1700 hingga 5 ribuan sudah bisa kita nikmati. Di banding dengan cafe modern, warung kopi yang dipelopori oleh Badrun (nama aslinya Nasrudin) dengan merek dagang kopi Blandongan adalah fenomena yang mulai muncul di tahun 2000 saat ia mengimpor kebiasaan masyarakat Jawa Timur pesisir yang gemar ngopi sambil menikmati rokok ke kota ini. Dengan slogan “selamatkan anak bangsa dari kekurangan kopi” lesehan sambil nyeruput kopi ala Blandongan sudah manjadi bagian dariĀ kultur warga Jogja.

Ngangkring dan ngopi sebagai bagian dari ritual yang Jogjager sudah dilakukan dan sekarang giliran ngegudeg dan Sagan adalah pilihan kami. Berbeda dengan cita rasa manis gudeg khas kuliner Jogja, gudeg Sagan ibu Wati lebih bisa diterima oleh masyarakat yang tidak terbiasa dengan masakan manis. Lokasinya di jalan Sagan dengan harga minimal 10 ribu per porsi bisa kita nikmati sambil dihibur dengan iringan band lokal.

Satu lagi, Waroeng Steak & Shake yang sebenarnya buka di berbagai kota saya kunjungi karena tempat ini merupakan favorit bagi para pelajar atau mahasiswa yang ingin menikmati steak dengan harga murah, 12.500 per porsi + milk shake 5.000. Mana ada harga gila seperti itu, bahkan untuk kota Bandung yang sudah semakin komersial dengan harga relatif tinggi.


Ritual terakhir adalah nongkrong dan menyentuh Tugu Jogja
sebuah landmark yang sering digunakan untuk kumpul2 atau sekedar foto2. Kawasan ini mulai ramai dikunjungi anak2 muda atau turis sejak menjelang dini hari. Akhirnya setelah nongkrong sana sini, Benteng Vredenburg adalah tujuan terakhir sebelum kepulangan saya sambil menikmati wedang ronde dan ngobrol ngalor ngidul dengan pengamen yang juga seorang mahsiswa di kota ini.

Jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari dan dengan terkantuk saya harus kembali ke penginapan agar tidak kesiangan penerbangan esok hari ke Jakarta. Saya akan kembali lagi, pasti.
Jogja, kitho ingkang ngebeki ing katresnan.
Tags: angkringan lik man, benteng vredenburg, gudeg sagan, kopi blandongan, kopi jos jogja, sego kucing, tugu jogja, waroeng steak, wisata jogja
July 26, 2009 at 10:14 pm
hummmm….. top deh pak… saya selalu menunggu blog selanjutnya…
^_^!!!!
July 26, 2009 at 10:18 pm
waaaa jadi kepengen bepergian sperti ini saya
July 26, 2009 at 11:26 pm
Jogja, kutho ingkang berhati nyaman
July 27, 2009 at 12:16 am
nah artikel ini yg saya tunggu… manteb om!!! ^_^
mau ngasih tau “kopi joss” cuman lupa namanya.. hehehe!! (inget review kopi gesang di post yg lalu) sempet mengudap jajanan malam nasi kucing + kopi joss juga gudeg sagan di bulan juni kemarin sama richard… maknyuss!!!
thanks om buat reviewnya… top!
yogya… ku kan kembali…!!!
July 27, 2009 at 1:56 am
thanks ya Ton sudah mengembalikan memori tentang Yogya yg pernah punya tempat khusus buat aku. Oh ternyata angkringan lik Man lokasinya di Jln. Mangkubumi ya .. depan toko atau gimana Ton, karena setauku disana kan deretan toko2. Kopi jos rasanya gimana Ton? aku gak kebayang kopi dikasih bara arang…ada aroma kayu bakarnya ya? Foto2nya seperti biasa top banget…kang Toni tea!
July 27, 2009 at 3:14 pm
Jogja memang berhati nyam-nyam, pak.. hehehe..
July 28, 2009 at 1:15 pm
lam kenal mas,
waduuuh fotonya terlihat menggugah selera…
tampak nyata (ato gara2 laper ya?! hihihi)
July 29, 2009 at 1:59 am
aaah..pokoknya klo “mampir” sini pasti kangen semua.. ini nih cerita yang saya cari2 merasakan menjadi ‘orang jogja’ asli bukan turis
)))
July 29, 2009 at 3:09 am
Bangeten banget deh, kok ndak mampir Solo?
August 3, 2009 at 11:42 am
gudeg Sagan….sluurpp….mau lagi, mas?
February 1, 2010 at 4:34 pm
keren……