
Foto makanan di atas hanya diambil dengan satu lensa dan teknik pencahayaan seadanya, tidak lebih. Jadi siapa bilang kalau hobi atau profesi ini harus bermodal besar seperti fashion atau wedding? Untuk kesekian kalinya, artikel ini akan berbagi pengalaman pribadi saya dalam bidang food photography yang sangat menyenangkan sekaligus mengenyangkan
Bukankah ada satu pendapat bahwa bila anda menguasai teknik di bidang food photography maka tidak susah untuk masuk ke bidang foto yang lain. Tertarik ?

Bacaan tentang teknik jepret foto makanan sangat jarang kita dapati, setidaknya saya susah menemukannya di berbagai toko buku. Kurangnya informasi mengenai bidang fotografi makanan kemungkinan membuat bidang ini jarang diminati, apalagi oleh para fotografer pemula. Padahal salah satu kelebihannya adalah penggunaan alat yang minim. Hanya berbekal satu kamera DSLR dan satu lensa anda sudah dapat memulai bereksperimen memotret makanan. Di bawah ini beberapa tips praktis berdasarkan pengalaman pribadi dan semoga bisa berguna bagi siapa saja yang tertarik di bidang ini.

The world is but a canvas to the imagination (Henry David Thoreau)
Menekan shutter kamera itu gampang, kreativitas yang sulit. Saya mengembangkan gaya foto makanan saya bukan dengan semedi dan tirakat, tapi melihat hasil foto makanan di berbagai media yang membuat ngiler. Selalu saya perhatikan komposisi, teknik pencahayaan, ruang tajam atau dept of field, sudut pengambilan, aksesoris atau ornamen pendukung dan detail2 lain yang menarik.
Jangan risaukan merek kamera antara Canon, Nikon, Sony, dan masih banyak lagi. Tidak ada kamera khusus untuk foto makanan, pemandangan, atau olah raga. Lucu kalau membaca perdebatan yang tidak berkesudahan antara keunggulan Nikon dan Canon diberbagai forum fotografi. Pada akhirnya hasil akhir yang akan menentukan bukan alatnya. Untuk tulisan ini saya hanya akan membahas merek Canon, karena hanya itu alat yang saya punya dan tidak berarti lebih unggul dari Nikon atau merek lainnya.

Lensa : Mayoritas foto makanan saya diambil dengan lensa Canon EFS 60mm/f2.8 USM Macro. Selain ringan, lensa ini sangat fleksibel karena bisa digunakan untuk makro saat perlu foto dengan detail tinggi dan tentu saja kualitas gambar yang sangat memadai. Selain lensa tersebut, saya merekomendasikan beberapa lensa keluaran Canon seperti lensa sakti 50mm/f1.8 yang kualitas gambarnya bisa mengalahkan lensa L series yang harganya amit2 itu.
Kalau punya anggaran lebih bisa memilih lensa Canon EF 50mm/f1.4 USM yang harganya hampir empat kali lipat dengan keunggulan bodi yang kokoh dan sistem auto fokus yang lebih halus. Lensa Canon EF 100mm/f2.8 USM Macro adalah pilihan lain yang patut dipertimbangkan karena ketajaman gambarnya. Satu lagi beli tripod yang bagus dan kokoh. Tidak wajib hukumnya tapi akan lebih memudahkan dalam mengkomposisi.

Bawa kamera kemanapun anda pergi karena objek foto makanan tersebar di mana2. Setiap makan siang dengan teman kantor atau kapan saja mengunjungi restoran sempatkan untuk memotret makanan yang disajikan. Praktek ini sangat berguna untuk terus mengasah kemampuan kita melihat detail, komposisi, dan pencahayaan. Foto pancake di atas saya ambil saat makan siang di restoran ini.

Beli buku2 resep masakan yang di dalamnya terdapat foto makanan. Pelajari sebagai bahan perbandingan untuk nantinya mengembangkan gaya anda sendiri. Kalau perlu mulai belajar memasak, selain seksi
, anda akan lebih bisa menghayati rasa makanan dan memindahkannya ke dalam hasil foto. Bukankah fotografi adalah seni memindahkan rasa suatu objek ke dalam persepsi orang yang melihatnya ?
Latar belakang atau background dan ornamen itu penting. Untuk lebih menonjolkan objek, belilah berbagai jenis kertas warna atau kertas kado yang motifnya minimalis dengan warna2 lembut, Pilih bahan yang tidak memantulkan sinar. Foto donat di atas saya ambil dengan menggunakan kertas kado.

Aksesoris penunjang. Foto makanan perlu banyak pemanis agar hasilnya lebih dinamis. Untuk tempat makanan itu sendiri biasanya saya menggunakan piring putih agar warna makanan lebih menonjol. Selain piring, alat lain seperti sendok, garpu, tempat lilin aroma therapy, bunga, dan masih banyak lagi bisa digunakan sebagai aksen agar hasil foto lebih romantis
.

Life is “trying things to see if they work.” (Ray Bradbury)
Pencahayaan. Karena ini buat pemula dengan modal seadanya maka anda tidak perlu lampu studio yang mahal itu. Cukup dengan cahaya alam yang akan menjadikan warna makanan lebih natural dibandingkan dengan monolight untuk studio atau flash/speedlite. Saya memotret di pinggir jendela dengan kombinasi penchayaan samping atau dari depan. Tambahkan reflektor berupa styrofoam atau cermin sebagai fill-in. Terus coba dengan posisi pencahayaan dan fill-in yang berbeda dan bandingkan lihat hasilnya.

Pengaturan di kamera. Saya menggunakan AWB=Auto White Balance, ISO 200 maksimal 400 agar mengurangi noise, bukaan atau f/2.8 hingga 4 walau sering juga menggunakan f/1.8. Kamera di atur manual atau sesekali di AV atau aperture priority, kecepatan diusahakan minimal 1/60s untuk menghindari getaran, kecuali menggunakan tripod. JPEG atau RAW ? Saya menggunakan JPEG walau informasi yang dikandungnya lebih sedikit dibandingkan dengan RAW, namun kemajuan teknologi olah digital membuat kualitas JPEG tidak kalah dengan RAW, selain alasan praktis untuk menghemat tempat penyimpanan.

Olah Digital. Foto saya hanya sedikit diedit dengan menggunakan auto color, auto level, curve, dan terakhir sharpenning, selesai. Untuk urusan hardware, saya fans berat komputer Macintosh karena lebih senang dengan kualitas foto yang ditampilkan di layarnya, bening. Bukan artinya anda disuruh membeli komputer ini, tapi untuk investasi jangka panjang tidak salah kalau mulai melirik si Mac di toko tetangga sebelah (manasin setiap orang
)
Untuk sementara sekian dulu bagi2 sedikit pengalaman ini, semoga berguna dan sangat berharap anda akan jadi food photographer yang lebih bagus dari saya. Mengapa tidak ? Salam.
Tags: canon ef 24-70mm/f2.8L USM, Canon EFS 60mm/f2.8 Macro USM, digital camera, food photography, fotografer makanan, kamera canon, lensa canon, lensa food photography, lensa l series, teknik food photography
June 22, 2009 at 11:46 pm |
inspiring post! especially for a young learner like me.
sekarang ini sebetulnya lagi menimbang2 untuk membeli lensa 18-105 milik nikon untuk all-round shot
June 23, 2009 at 9:19 pm |
kalo 18-200 sih bagus, bagus banget tapi ga kuat dompetnya
June 22, 2009 at 11:54 pm |
Salah satu artikel favorit saya. Thanks untuk ilmunya Mas. Mengenai property untuk pemotretan, hal ini kerap bikin saya lapar mata kalau lagi jalan-jalan dan menemukan perabotan makan dan pernik unik. Cukup merepotkan untuk saya yang tempat tinggalnya masih berpindah-pindah dan tidak memiliki tempat penyimpanan yang luas. *curcol deh*
June 23, 2009 at 12:17 am |
gilaaaaaaaa mantap, ini mau saya share ke adik saya…
perkenalkan pak, facebook adik saya : Yohan Gunawan, semoga bisa saling kenal dan sharing ttg food photography
June 23, 2009 at 4:56 am |
menarik sekali tony… thanks for sharing ilmunya
June 23, 2009 at 7:03 am |
thanx alot, pekerjaan saya sekarang ini berhubungan dengan memotret makanan, awalnya lumayan pusing juga, trus saya ingat pernah baca tentang membuat studio box dari kardus mie instant ataupun gabus, alhamdulillah lumayan bagus hasilnya… ditambah artikel dari mas, rasanya makin pede nih ngambil gambar.
June 23, 2009 at 8:34 am |
Sekali lagi……. Top Markotop Pak Wahid!!
bagus artikenya nih, ditunggu dong artikel buat fotografi ‘travelling’…
June 23, 2009 at 10:50 am |
Canon 50mm 1.8, usually the second lens photographers must have, recommended !
I agree, food photography is not that hard and indeed fun !
Cool Post !
June 23, 2009 at 10:44 pm |
as usual, tulisannya om toni bikin saya ngiler…
lagi nabung nih buat beli..nanti kalo gw jadi beli, minta advice dari om toni ya
June 24, 2009 at 2:42 am |
thanks tips-nya Ton, daku belajar banyak dari master Toni soal fotografi! mengenai properti disini lumayan gampang karena ada Dollar Store..kebanyakan barang2 buatan Cina sih, tapi kalo cuma sekedar buat penunjang food photography sih oke2 aja menurutku. Harganya gak persis 1 dollar … sekarang naik jadi 1 dollar 25 sen belum termasuk pajak 17%. Kalo mau ngirit lagi, sering2 aja datengin garaga sale..hampir tiap Sabtu selama musim semu dan musim panas.
June 24, 2009 at 8:55 pm |
Om Toni emang baik hati, udah jago, ngga pelit bagi2 ilmu lagi.. truly an expert photographer
June 24, 2009 at 9:43 pm |
Setuju, karena rejeki & keahlian itu individual banget ya….
Jadi pingin mulai belajar motret yang serius.
June 25, 2009 at 3:28 pm |
Trimakasih ilmunya, saya penggemar foto-foto bagus. Dulu pernah belajar fotografi, sekarang agak terhambat dengan masalah kamera. Jadi pengen belajar dan hunting lagi…dari dulu saya memang suka Canon…agak bingung juga, mau beli kamera antara nikon dan canon, tapi rupanya itu ga masalah ya? yang penting, hasil akhir….
June 26, 2009 at 11:16 am |
thx mas buat infonya
saya juga suka motret
besok saya akan ke bromo mo ambil gambarnya
salam kenal
June 26, 2009 at 11:44 pm |
nambah ilmu lagi makasih bos tulisannya dan di tunggu trik yang berikutnya salam kenal
June 30, 2009 at 5:31 pm |
Dunia Fotografi emang selalu menarik perhatian saya…saya juga hobi banget di fotografi n kalo udah liat hasil jepretan yang bagus gt rasanya jd adem gt hati….aku baisanya lebih sering tangkap obyek panorama,model n arsitektur…sekarang lagi belajar food photography….semangat mas….terus n jangan berhenti buat artikelnya ya….
June 30, 2009 at 11:09 pm |
Love this post! Baru liat. TFS
.
July 1, 2009 at 8:01 am |
Beli buku2 resep masakan, hihi.. tips yang unik.
Harus DSLR ya om? klo pocket camera gimana…
*selama ini moto dari hp, berminat beli kamera dalam 1-2 bulan ini..*
blog dan postingan ini membuat saya tertarik menjepret om..
betapa hal yang sering saya lihat bisa tampak begitu cantik dalam rekaman lensa Om Toni..
July 5, 2009 at 8:58 pm |
Ini yang saya tunggu2! Saya kira, mas Toni membutuhkan banyak lampu untuk food photography ini, ternyata dengan cahaya alam pun bisa, mantab!
Oya, mo tanya nih, kenapa food photography karya mas Toni selalu portrait, jarang yang landscape, apa ada alasan khusus?
Trims, sering2 sharing soal photo ya, mas
July 8, 2009 at 8:49 am |
seneng bisa mendapat ilmu dari sang ahli
thanks for sharing mas..
July 23, 2009 at 1:44 pm |
Food photography kayanya lagi ‘in seiring dengan ramenya foodie blogger. Sayang ilmu masih susah didapet. Untung ada Bang Toni…ulsannya PATEN!! Thanks yah
July 24, 2009 at 1:03 am |
makasih mas atas tipsnya, mumpung lg blajar motret tapi blm tau arahnya. food foto menarik juga nih. hemm 35mm f1.8 cukup gak yah, eh ex flash wajib tidak mas
July 28, 2009 at 1:24 pm |
lensa nya sama tp kok ga sebagus ini ya??
hihiiii
August 4, 2009 at 2:31 pm |
thanx for the tips sir, keren banget, saya pakai nikon d40 dengan lensa standar. so far saya belum bisa dapat komposisi yang seperti foto bapak punya…
August 14, 2009 at 11:21 am |
bro, saya lagi perlu foto2 untuk bkn menu kafe saya. tp kagak punya lensa fix, adanya yg kit 18-55. kira2 gimana tip-n-trick nya kalo food photo pake lensa gini bro? thks.
September 25, 2009 at 5:35 pm |
baru nemu tentang anda dari fn
thanks atas tips2nya, selama ini foto2 makanan saya masih biasa2 aja, salah satu resepnya sepertinya harus lebih dekat ke obyek
silahkan lihat2 di flickr.com/photos/andriansah
November 8, 2009 at 11:08 am |
Pak Toni, sebelumnya saya berterima kasih atas masukannya yg lalu soal food photography. Setelah nabung dan byk melihat review. Akhirnya pilihan jatuh ke 100mm f2.8 ( bkn yg L series ). Pertanyaan nya adalah hasilnya foto utk food photograph ( klo foto macro serangga tetep tajem sih ) tdk setajam yang sy harapkan. Maksudnya pada bukaan 2.8, ruang tajamnya masih sangat kecil ( didominasi dengan blurr ) hehe Apakah bukaan yg terlalu besar ? atau jarak yang terlalu dekat ? soalnya 100 mm… Trima kasih pak… Salam poto
December 21, 2009 at 11:23 am |
walaupun hanya punya kamera saku digitial, artikel dan foto2 pak toni sangat menginspirasi saya untuk mulai memfoto makanan dengan gaya photographer handal..
sudah mulai sabtu lalu, hasilnya..? perlu banyak latihan hehehe.. dan mesti pinter2 ngatur gaya makanan dan aksesorisnya.
trims berat pak toni..