
Nasi jamblang yang menunya rame khas Cirebon menjadi pembuka makan malam kedatangan saya ke kota pantai Utara Jawa Barat ini. Perjalanan dari Jakarta ditempuh selama 4 jam melalui jalur Pantura yang dipenuhi truk dan bus. Sebelumnya singgah sejenak di sanggar tari Mimi Rasinah, seorang maestro tari topeng Cirebon di desa Pekandangan Kabupaten Indramayu yang akan saya tulis di bagian terpisah. Selanjutnya inilah secuplik travelogue tentang sebuah kota multi kultural yang punya sejarah dan peradaban luhur. Cirebon.

Karena terletak di pinggiran laut Jawa, cuaca Cirebon tak berbeda jauh dengan Jakarta yang panas, namun dengan tingkat polusi yang tentunya jauh lebih rendah. Becak banyak memenuhi sudut kota sebagai sarana transportasi selain angkot biru yang ternyata punya kegemaran yang sama dengan saudaranya mikrolet Jakarta dengan ngetem di sembarang tempat walau tidak membuat kemacetan parah. Untuk pengaturan jalan, mungkin Cirebon lebih berkiblat ke Bandung dengan memberlakukan banyak jalan searah sehingga beberapa kali mobil yang kami tumpangi berputar2 ke jalan yang sama. Di bawah ini adalah jejak2 perjalanan ngubek2 kota ini yang saya mulai dengan apa lagi kalau bukan makanan.

1. Nasi Jamblang
Saya tidak sempat ke warung Mang Doel di jalan Cipto Mangunkusumo 3 untuk mencicipi nasi jamblang-nya yang terkenal itu. Bagusnya, nasi khas Cirebon ini mudah ditemui seperti warung pecel lele yang bertebaran di beberapa sudut kota. Layaknya nasi Padang yang menunya bervariasi, demikian pula dengan nasi Jamblang. Pengunjung bisa memilih menu yang disukainya seperti foto di atas dengan harga di bawah 10 ribu !.

2. Nasi Lengko di Jalan Pagongan
Ini makanan dengan lauk tahu, tempe, timun, dan toge lalu disiram dengan kecap dan bumbu kacang. Rasanya agak manis dan tidak kalah dengan nasi Jamblang walau variasi menunya agak terbatas. Harga masih di bawah 10 ribu. Murah2 kan makanan di Cirebon ?

3. Empal Gentong
Menu ini tidak berbeda jauh dengan soto babat, disajikan dengan nasi atau lontong. Harga berkisar antara 10 ribuan juga. Saya menikmatinya di jalan Lemahwungkuk, pusat kota Cirebon berdekatan dengan toko manisan Shinta.

4. Toko Manisan Shinta.
Toko ini berdiri sejak tahun 80an dan terus berkembang hingga sekarang yang menempati gedung megah di jalan Lemahwungkuk. Selain manisan, mereka juga menjual oleh2 khas Cirebon dari mulaikerupuk udang, emping, terasi, sirup Campolay (sirup manis khas Cirebon), dan masih banyak lagi.

Batik Cirebon
Dulu, mungkin juga hingga sekarang kerajinan batik dikerjakan sebagai pengisi waktu saat suaminya mencari ikan di laut. Motif yang menjadi trade mark adalah “mega mendung” seperti motif di pojok kanan bawah dan banyak digunakan oleh para pegawai istana Kasepuhan Cirebon. Harga berkisar 100-500 ribu tergantung kualitas bahan dan kehalusan pengerjaan dan bisa didaptkan di beberapa toko penjual batik di pusat kota.

Kampung Nelayan
Ini salah satu kampung nelayan di kawasan Gunung Jati yang sempat saya kunjungi. Foto di atas adalah seorang ibu yang sedang mengeringkan ikan laut yang dijemur selama 1.5 hari dalam proses pembuatan ikan asin. Upah mereka sekitar 500/kg dan dalam sehari rata2 bisa mendapatkan 20 ribu rupiah. Ikan asin ini kemudian diantar ke pasar daerah sekitar terutama Majalengka sekitar satu jam perjalanan ke arah Barat.


Nah yang di atas adalah Mas Misnen, yang sedang mengerjakan pembuat perahu tradisional dengan menggunakan kayu jati. Prosesnya bisa berlangsung selama sebulan dengan dua orang tenag kerja. Perahu yang sudah jadi dijual dengan harga 13 jutaan belum termasuk mesin. Perahu buatan pengrajin ini cukup terkenal karena kehalusan dan kekuatannya yang bisa berlayar hingga ke perairan Sumatera Selatan.

Makam Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah salah satu wali sembilan yang mempunyai kedudukan terhormat dalam sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Ia beristrikan Putri Cina bernama Ong Tien yang makamnya juga berada di kawasan bukit Sembung tempat Sunan Gunung Jati dikebumikan. Tak heran bila aroma hio bersatu padu dengan dzikir yang dipanjatkan para penziarah yang berdo’a di sini. Bersiap menyediakan uang receh seribuan bila ingin pergi ke pemakaman ini untuk diberikan kepada para peminta sumbangan yang seringkali mengganggu kenyamanan para pengunjung


Istana Kasepuhan
Pemandu wisata di Istana Kasepuhan yang merupakan abdi dalem Kesultanan Cirebon dengan senang hati akan menemani pengunjung untuk menjelaskan segala sesuatu hal tentang objek wisata ini. Istana yang cukup terawat ini menyimpan berbagai benda pusaka sejak abad ke-15 termasuk senjata, poselen, keramik, furniture, dan kereta kencana Singa Barong.

Kereta kencana ini sudah tidak digunakan lagi sejak tahun 1942 dan diganti dengan duplikatnya. Singa Barong adalah perlambang harmoni masyrakat Cirebon yang plural. Terdapat hiasan naga (Tionghoa), belalai gajah (Hindhu), dan sayap buraq (sebuah kuda bersayap yang digunakan oleh Kanjeng Nabi saat Isra Mi’raj, perlambang Islam). Kereta ini hanya ditumpangi oleh Sultan, dua pengawal di belakang, dan kusir dalam acara2 khusus yang diselenggarakan oleh pihak kesultanan.

Seharian mengelilingi kota ini tentu tidaklah cukup, karena masih banyak objek yang layak untuk dikunjungi seperti Kanoman atau gua Suryanragi. Di sore itu saya meninggalkan kota udang ini dan berjanji untuk kembali datang kalau waktu mengijinkan.
Tags: cirebon
June 12, 2009 at 11:50 pm |
foto makanannya bikin mupeng. huhuhu
June 13, 2009 at 12:30 pm |
bikin ngiler aja nih…..:)
salam kenal
June 13, 2009 at 2:51 pm |
manteb om!!! SHINTA nya jadi ngiler….. apalagi nasi jamblangnya… nitip donk 1 Tjampolay nya… heheehhe!!
June 15, 2009 at 11:44 am |
Ton, seperti biasa liputan-nya lengkap, foto2nya keren, kombinasi yang harmonis…ibarat makan mulai dari makanan pembuka sampai penutup semua ada. Batiknya aku suka banget, biasanya kalo aku beli batik Cirebon selalu yg jreng dan cerah karena itu salah satu ciri khasnya.
June 16, 2009 at 7:42 pm |
Bener, seperti biasa, ok banget. Batiknya Cirebon, makanan khasnya (jadi inget lagu Warung Pojok) dan yang ngga ketinggalan Makam Sunan Gunung Jati.
June 17, 2009 at 8:08 pm |
4 kali deh gitu sempet kesini.