
Pesawat yang saya tumpangi mendarat tepat jam dua siang di bandara internasional Sultan Mahmud Badarudin II yang megah dalam perjalanan selama 50 menit dari Cengkareng. Palembang tengah menggeliat dalam semangat pembangunan infrastruktur terutama di daerah sebrang Ilir. Jalan diperluas, flyover di depan Polda Sumbagsel ditegakan untuk mengurangi kemacetan, kawasan kumuh direvitalisasi, komplek perumahan baru bermunculan, preman pun ikut digusur agar warga dan pendatang merasa nyaman di kota yang dulunya terkenal garang ini. Palembang yang pernah dijuluki Venesia dari Asia ini semakin giat bersolek dan rakyatnya tengah menikmati terobosan pengobatan gratis dari Gubernur Alex Noerdin selain sekolah dan bantuan hukum yang juga bebas bea. Ini Palembang, wong kito galo.

Sebagian masa kecil saya dihabiskan di kota ini yang sekarang berpenduduk sekitar 1.5 juta jiwa dengan luas 400km persegi atau setengah kota Jakarta dan hampir 3 kali kota Bandung. Di bawah ini sebagian kecil objek wisata yang sempat saya kunjungi saat berkunjung ke Palembang minggu tadi selain jembatan Ampera yang masyhur itu.


Di atas adalah Mesjid Agung kota Palembang yang bercirikan atap limas, terletak di pusat kota Palembang dan bisa menampung hingga 7000 jemaah. Diresmikan oleh mantan Presiden Megawati di bulan Juni tahun 2003.

Salah satu peniggalan arsitektur Belanda, dikenal dengan nama “Ledeng” yang kini digunakan sebagai kantor Walikota Palembang.

Benteng Kuto Besak, di tepian sungai Musi. Selesai dibangun di tahun 1797 pada pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I untuk melindungi Kesultanan Palembang Darussalam dari serangan musuh.


Salah satu alasan kenapa saya suka klenteng selain arsitekturnya yang indah adalah kenangan masa kecil bertetangga dengan tempat ibadah ini. Soei Goeat Kiong merupakan bangunan adalah Klenteng tertua yang dibangun di tahun 1777. Terletak di kawasan 10 Ulu dan masih digunakan untuk ibadah tiga agama atau Tri Dharma : Budha, Tao, dan Kong Hu Cu. Bangunan klenteng pernah direngsek oleh massa saat kerusuhan tahun 1998, namun berhasil diusir oleh masyarakat sekitar.


Nah yang mandi di sungai Musi adalah kegiatan masa kecil saya di sana walau sekarang airnya sudah banyak tercemar.

Senja sudah tiba, jadi saya harus menghentikan kegiatan memotret dan memandangi hilir mudik kapal2 pengangkut bahan bumi dari dan keluar sungai Musi. Kota ini memang semakin menawan.
bersambung …
April 30, 2009 at 3:06 pm
wew..mantap poto2nya!!
jadi ngiri ama om toni yg jalan2 mulu..hho
May 1, 2009 at 12:07 am
Yang potret anak-anak maen air keren, oom. Itu gimana caranya biar aernya kayak gitu?
May 2, 2009 at 4:39 am
Meski punya ipar wong kito, aku belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Palembang. Kalo kakak-ku sudah beberapa kali kesana. Dia cuma suka makanan-nya tapi gak suka sama cuaca di Palembang yg menurut dia minta ampun panasnya. Foto2nya seperti biasa keren2. Ton katanya mau kopdaran weekend ini ya? duh kok gak ngajak2 :0
May 4, 2009 at 5:00 pm
Cuaca di Palembang lagi bagus ya, kang? Langitnya bisa biru-biru dahsyat gitu. Minta tipsnya juragan
Oya, serius sekarang premannya udah ilang? Konon kabarnya Palembang itu kotanya preman, hehe
August 6, 2009 at 12:40 am
asik banget yach ..qw ingin seperti itu jalan2..kaya om…
September 7, 2009 at 1:24 pm
q_ren mang aku suko pempek palembang nyo po lagi campor cuko
September 7, 2009 at 1:25 pm
memang gilo wong nanyo kritik dio curhat