Yayasan Galuh : Mereka juga manusia biasa …

galuh1

Di suatu hari seorang pria yang punya gangguan kejiwaan sedang mengamuk di sebuah perempatan jalan di kota Bekasi yang menyebabkan kemacetan panjang. Tidak ada satu orangpun yang berani mendatangi orang tersebut karena ia sedang memegang sebilah samurai panjang dengan posisi siap menyerang. Demikian juga aparat kepolisian yang kebingungan harus melakukan tindakapan apa. Tiba-tiba seorang pemuda berusia 30an mendatangi orang tersebut seraya menyerahkan sebungkus nasi. Orang2 hanya bisa menonton dan menunggu tindakan pria yang sedang mengamuk tersebut. Kegusaran usai karena si pria malang itu akhirnya mengambil nasi bungkus dan langsung makan dengan lahap. Ia melupakan samurai panjang yang ia letakan begitu saja. Insiden yang tidak dinginkan bisa dihindari berkat Haryono, wakil perawat yang sudah punya pengalaman belasan tahun mengurus pasien ganguan kejiwaan di Yayasan Galuh di Bekasi.

galuh5

Yayasan Galuh didirikan oleh Gendu Mulatip yang saat ini usianya sudah 96 tahun. Ia tidak tega melihat seorang gila di arak oleh anak2 di kampungnya di Bekasi. Seorang anak kemudian melempar batu kecil ke arah orang gila tersebut yang kemudian dilempar kembali olehnya hingga mengakibatkan luka. Orang tuanya yang tidak terima anaknya dilukai oleh pesakitan tersebut ingin membalas, tapi niatnya dibatalkan setelah Gendu menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Ia kemudian membawa orang tersebut ke rumah untuk dirawat dan akhirnya bisa disembuhkan.

galuh4

Sejak saat itu Gendu mulai dikenal sebagai orang yang bisa mengobati penyakit mental dan satu persatu pasiennya mulai berdatangan hingga rumahnya tidak tertampung lagi. Itulah awal mula berdirinya Yayasan Galuh, yang artinya “gagasan leluhur” sebuah panti rehabilitasi cacat mental yang bertujuan untuk memerdekakan manusia dari penyakit psikosomatis. Lokasi panti ini berada di daerah Rawa Lumbu, tepatnya di Kampung Sepatan Gg. Bambu Kuning, Sepanjang, Bekasi. Dulunya beralamat di Kampung Poncol Margahayu Bekasi, namun sejak tahun 2007 kemudian dipindahkan ke lokasi yang ditempati sekarang karena tanahnya akan digunakan sebagai gardu listrik oleh PLN.

galuh2

galuh13

Saat ini menampung 279 orang pasien yang terdiri dari 178 lelaki termasuk empat orang anak2 dan sisanya perempuan. Hartono dan para staf dengan sukarela menampung para pasien yang seringkali mereka temukan di jalanan selain titipan dari instansi kepolisian, RS Umum Bekasi, dan orang2 yang membawa anggota keluarga yang terkena gangguan kejiwaan. Tidak semua pasien adalah orang2 terlantar, banyak di antara mereka justru punya penghidupan yang berkecukupan dan beberapa adalah tokoh masyarakat. Pencetus masalah kejiwaan mereka biasanya bersumber dari tekanan hidup seperti PHK, putus cinta, cita2 yang tidak kesampaian dan genetis serta narkoba. Hartono menegaskan bahwa pihak Yayasan sama sekali tidak menentukan tarif berobat, semuanya sukarela, atau lebih tepatnya pasien tetap diterima walau keluarga tidak mampu membayar.

galuh8

Gendu berserta stafnya melakukan lima metode pengobatan para pasiennya yang terdiri dari do’a, pitua (petuah/nasihat), ramuan, urut atau pemijatan. Selain dari meteode tersebut kadang Hartono dan staf lainnya mengajak mereka untuk bernyanyi bersama atau melakukan tugas2 keseharian seperti kerja bakti di lingkungan tempat mereka berada.¬† Dengan¬† metode2 tersebut sudah tidak terhitung pasien yang berhasil disembuhkan dan dikembalikan ke masyarakat. “Adalah kebahagaian yang tak terperi manakala melihat kesembuhan pasien dan bertemu kebali dengan keluarganya. Sesekali ada diantara mereka yang berkunjung ke sini untuk mengucapkan terima kasih” ujar Hartono.

galuh6

Lalu dari mana biaya untu operasional sehari-hari ? Menurutnya, sebagian besar biaya ditanggung oleh para donatur yang datang seperti kelompok ibu2 pengajian hingga para biker. Pemerintah pun memberikan bantuan terutama dari Dinas Sosial Kota Bekasi. Gendu berwanti-wanti agar pengurus tidak meminta-minta bantuan kepada pihak siapapun karena menurutnya kita harus menjalankan prinsip kesabaran, kejujuran, kerendahan hati, dan murah hati dalam menjalankan organisasi ini.

galuh3

Sebagai catatan mereka menanak nasi sebanyak 150kg per hari beserta satu mobil terbuka sayur2an yang semuanya di masak di dapur umum. Yayasan dibantu oleh 60 orang staf, 15 di antaranya adalah mantan pasien, kesemuanya bekerja secara sukarela tanpa pamrih dengan sangu sekedarnya. “Di luar saya mungkin bisa mendapatkan gaji lebih besar dari di sini, tapi kebahagian yang saya rasakan tidak bisa diukur dengan uang” kata salah seorang juru masak dan staf lainnya kalau ditanya alasan mereka berada di tengah para pesakitan.

galuh9

Para staf di sini seperti Hartono mungkin tidak mempunyai gelar akademis dibidang psikiatri, tapi berkat pengalamannya yang panjang ia pernah diminta menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional mengenai masalah kejiwaan yang dihadiri oleh para ahli masalah kejiwaan. Setahun sekali sejumlah pasien dibawa untuk memeriahkan kegiatan Agustusan di tingkat kota Bekasi dalam sebuah pawai. Lain kali para pasien diminta berlatih upacara bendera masih dalam rangka acara Agustusan. Saat berlatih keadaan malah menjadi semrawut, tapi anehnya saat upacara semua berjalan lancar. Beberapa pasien malah sembuh dan mulai mengingat kembali kejadian masa lalu yang sebelumnya tersembunyi dalam alam bawah sadar mereka.

galuh7

Mesjid di atas adalah hasil gotong royong para pasien sebagai salah satu bentuk metode penyembuhan. “Mereka semua dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari karena kami menganggap mereka manusia normal. Petuah Pak gendu selalu kami ingat dan digunakan untuk proses kesembuhan pasien di sini : “Hati yang gembira adalah obat”.

galuh12

Masih banyak kita yang memberikan stigma negatif “orang gila” sebatas yang punya prilaku tanpa busana dan bernampilan kotor di pinggir jalan. “Kegilaan” dekat dengan diri kita tanpa disadari : phobia, insomnia, ketakutan berlebihan, putus asa, stress, kecemasan adalah fenomena2 kejiwaan. Pernah kan mengalaminya ?

So, stay well.

* * * * *

Catatan : Foto anak2 di atas sengaja dipasang atas permintaan Yayasan dengan harapan agar ada yang mengenalinya untuk dikembalikan ke keluarganya masing2. Pihak Yayasan/Haryono bisa dihubungi di nomor : 021-99576604 atau 0878 77392550.

About these ads

Tags: , ,

23 Responses to “Yayasan Galuh : Mereka juga manusia biasa …”

  1. Elyani Says:

    Ton, semasa aku tinggal di Lampung dulu … di kampungku ada dua “orang gila” yang aku masih ingat betul namanya sampai saat ini. Pertama adalah Bi Janah, perempuan setangah baya yang suka dandan coreng moreng (gak tau pakai apa tapi pipinya kayak kue moci ditaburi tepung), rambutnya suka dihias bunga yang dia petik dari jalan, dan dia suka bernyanyi sambil berkeliling. Karena dia baik dan tidak mengganggu dia juga suka diberi kue atau makanan oleh orang2 di pasar termasuk toko keluargaku yang sering disinggahi Bi Janah ini.

    Yang satu lagi “si Buang”…laki2 berusia sekitar 40′an yang pakaian-nya compang camping dan sering tertawa geli sendiri. Dia ini juga tidak mengganggu, malahan sering di-tunggu2 kehadiran-nya oleh pemasang “nalo/togel/SDSB” karena sering menulis angka2 diatas drum minyak.

    Memang repot juga ya, pemerintah belum punya wadah yang menangani masalah sosial seperti ini. Kalaupun ada kebanyakan swadaya dari masyarakat. Mudah2an Pak Gendu memiliki penerus yang seluhur dan semulia beliau hatinya.

    Gak bisa ngomong lagi El, orang2 seperti Pak Gendu luar biasa mulia hatinya …

  2. tere616 Says:

    Ton,
    Foto-fotonya sendiri bercerita tentang diri mereka yang mungkin tidak terungkap lewat kata-kata.
    Kasihan ya .., kapan pergi kesananya Ton ?

    Permintaan agar fotonya dipajang agar keluarganya bisa mengenali dan membawa mereka pulang, luhur sekali niatnya

    Kemarin hari Sabtu cari2 alamat sampe dianter tukan ojek. Anak2 yang malang itu sebagian ditelantarkan begitu saja, padahal mereka … ah sedih ceritanya …

  3. Finally Woken Says:

    Tersentuh sekali, masih ada orang-orang yang perduli atas penderitaan orang lain. Orang-orang seperti ini kadar cintanya luar biasa, dan melakukan semua ini tanpa minta imbalan apa-apa, bahkan tidak mencari ketenaran (seperti pemerintah kita, kalau kasih sumbangan pakai difoto sambil jabat tangan). Salut!

    Foto-fotonya bikin terharu….

    Sedih ya Nit, rasanya kita belum apa2 dibandingkan dengan mereka.

  4. Kaki jenjang Says:

    Kang, makasih yah dah berbagi cerita ttg mereka. Gw sendiri suka takut kalo ketemu orang gila.. makanya waktu diajak kesana, sempat mikir2. Sayang, belum kesampean.. Namun mereka juga manusia.. and bener banget tuy.. “obat paling mujarab adalah hati yang gembira”. So.. mari kita bergembira. He..he..

    Thanks kaki jenjang. Kita memang harus menggembirakan hati ini dengan cara apapun buka :)

  5. Ivy Says:

    Salut dan hormat buat Pak Gendu. Dari 1000 orang belum tentu ada 1 yg semulia beliau hatinya. Aku juga suka kasian liat orang2 yg kadang jadi banyolan orang2 tak bertanggung jawab. Entry ini bener2 bikin hati tersentuh mas. Semoga anak2 diatas ada yg kenalin dan balikin ke orangtuanya…

    Thanks Ivy, you’ve done great job too in orphanage home … :)

  6. Dony Alfan Says:

    Edan, posting ini benar2 menyentuh kalbu! Ah, hatiku jadi pilu (sigh)
    Kita yang ngaku waras ini bisa jadi lebih gila ketimbang mereka…
    Btw, lagi seneng angle miring ya, Om?

    Ternyata kegilaan itu begitu dekat dengan kita bukan ?
    Baru nyadar juga koq angle nya miring. Thanks, btw. :)

  7. wien Says:

    sekilas foto pak Gendu keliatan kaya Gandhi yah om.
    thanks for sharing om…

    Persis banget … Sama2 Wien.

  8. therry Says:

    Salut… orang-orang seperti pak Gendhu lah yang seharusnya kita hargai dan hormati, dan layak dipertimbangkan untuk menjadi orang-orang yang membangun negara ini, bukan para caleg-caleg edan yang bisanya ngotorin lingkungan dengan poster-poster amburadul mereka disana-sini.

    Cinta kasih memang kekuatan yang paling hebat…

    PS: Pak Gendhu ini pernah masuk Kick Andy! kan om?

    Tanpa pamrih, itu baru true love kayak pak Gendu.
    Wah gak tahu tuh apa pernah masuk Om Andy atau belom. :)

  9. Sandy Wijaya Says:

    Set foto yang cakep!! B/W nya bercerita dan ekspresif dalam pengambilannya… thx for sharing om Toni!

    Sedikit terisnpirasi komunitas Klastic nih :)

  10. boy Says:

    jadi pengen baca wiki mahatma gandhi….

    Lanjutannya baca Martin Luther King Jr. another great man :)

  11. Devi Girsang Says:

    Aduh, saya jadi terhenyuh. Makasih ya Kang Toni uda disharing.. Orang2 kayak Pak Gendu ini lah yg mestinya diekspos biar banyak orang lebih sadar klo masih banyak orang2 di sekeliling kita yg butuh bantuan, jangan ngurusin hal2 yg ga penting aja…

    Makasih Dev … Buat Pak Gendu yang bekerja tanpa pamrih.

  12. edratna Says:

    Semoga makin banyak orang yang punya hati mulia seperti pak Gendu

    Semoga Bu Enny, do’a kita layangkan juga ke Seanayan tempat para “wakil” rakyat ituh :)

  13. Arief Says:

    Assalamu’alikum Wr.Wb.
    Perkenalkan nama saya Arief Fianto, bertempat tinggal di Malang – Jawa Timur, pekerjaan : sales
    Saya bertekad menulis surat ini ke bapak-bapak di amilzakat, karena saya sudah tidak tahu harus kemana lagi saya mencari uang untuk bayar hutang ke rintenir,sebesar 3 Juta. Dulu saya pinjam ke rentenir tsb, karena untuk bayar anak saya sakit di rumah sakit. Tapi jiwa anak saya tidak tertolong lagi. Tapi sudah saya ikhlaskan kepergiannya.

    Sekarang saya harus menanggung hutang tersebut, tanpa boleh dicicil. Rintenir tsb terus meneror saya dan keluarga saya. Hutang saya sekarang membengkak menjadi 5 Juta (termasuk bunganya), dari hutang 2,5 Juta, karena sudah 5 bulan saya tidak bisa bayar.

    Untuk itu saya mohon kepada bapak-bapak, untuk membantu saya untuk mengatasi masalah ini. Hidup terasa tersiksa karena terus diteror dan ditekan-tekan. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah mohon bantuan-Nya. Sholat terasa tidak bisa khusyuk, karena dibayang-bayangi hutang tersebut.

    Bapak bapak, tolonglah saya. Mohon dibantu dalambentuk dana tunai. Bisa berbentuk sedekah atau pinjaman. Kalau bapak-bapak berkenan, sudi kiranya bisa dikirim ke rekening BCA : 3310421218 a/n Arief Fianto.

    Demi Allah, saya berkata benar dan saya tidak berbohong, karena saya mencari kemana-mana tidak ada yang membantu. Saudara-saudara saya juga kondisinya pas-pasan, jadi saya hanya berharap kepada para dermawan.

    Tolong dibalas secepatnya.

    Terimakasih atas perhatiannya.

    Arief Fianto

  14. parvita Says:

    Ton, bagus postingnya. Selama ini cuma banyak lihat pasien penyakit kejiwaan di rumah sakit yang konsultasi karena depresi, tapi belum pernah baca dekat orang2 yang punya kelainan jiwa akut alias schizophrenia. Saya punya sepupu yang schizophrenia dan tidak ketebak apa yang akan dia lakukan di detik berikutnya, sehingga lebih sering dikucilkan walaupun oleh keluarga sendiri. Memang menangani orang dengan penyakit seperti ini bukannya gampang (lha ngadepin orang depresi aja bingung bukan?).

    Salut buat Pak Gendhu. Dan untuk anak2 di sana, mudah2an mereka mendapatkan secercah cahaya untuk dapat menikmati kehidupan normal seperti kita (ya hidup gue juga ngga normal2 amat sih…).

    Hi Vita. Sebagai informasi tambahan para petugas disini dibayar sukarela. Seringkali uang sangu mereka cuma sekian puluh ribu, tapi mereka tetap memilih bertahan. Salut gue.

    Di tempat pa Gendhu yang schizophrenia gak terhitung saking banyaknya. Teriak, nangis, hingga ngamuk, adalah makanan sehari-hari para petugas di sana. Pak gendhu memang luar biasa.

  15. w4onecom Says:

    saya tak membaca seluruh artikel di posting ini,,
    hanya sedikit2 saja setiap paragrafnya,,
    karena inti nya dari postingan ini sudah terbaca oleh saya apa dan bagaimana pesan2 moral yg ingin disampaikan,,,

    karena saya sangat menikmati foto2 yg ada di postingan ini

    didukung dengan gallery2 foto yg sangat luar biasa,…
    membuat artikel nya semakin hidup…

    tapi kembali sedikit ke artikel,
    ternyata masi ada orang berhati mulia seperti pak gendhu,,..
    tak semua orang bisa melakukan hal yg sama seperti apa yg di lakukan oleh pak gendhu,,

    saluuut buat pak gendhu.,.

    Matur nuwun Mas. Itu foto2 emang sengaja dibuat b/w supaya kerasa atmosfir yang ingin ditampilkan.
    Salam :)

  16. yunie jusri djalaluddin Says:

    Menyentuh sekali… aku jadi teringat bahwa dalam Islam orang2 yg gugur syariat keagamaannya adalah anak kecil, orang yg belum baligh dan orang gila sampai dia sembuh….

    Sayangnya banya

  17. yunie jusri djalaluddin Says:

    Sayangnya banyak orang yg merasa beragama, tidak mengusahakan mereka sembuh… tidak seperti yg yayasan galuh berikan…ikhlas inside ada disini….

    Salut u/ Bpk Gendu Mulatip & Haryono juga foto2nya…:-)

    *maaf terpotong2, ngga’sengaja*

    Secara fiqh memang mereka tidak terkena kewajiban syariat beragama. jaran kan ada orang seperti Pak gendu ?

  18. Djadame Saragih Says:

    Trima kasih Mas Tom buat informasinya,saya sangat tersentuh.
    Masih aktifkah ke sana?
    Untuk beberapa bulan terkhir ini saya lagi berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk saudara kita di atas. Sering sekali saat berangkat kerja dan plang kerja saya melihat ada beberapa yang baru saudara kita yang sakit jiwa. Ada rencana saya untuk bisa mempublikasikan mereka seperti yang Mas lakukan. Sekarang saya lagi belajar bagaimana memnuat blog. Mas kalau punya artikel atau hal hal yg berhubungan dengan saudara kita yang sakit jiwa mohom kiranya Mas bersedia mengiriminya ke email saya “dameli_saragih@yahoo.com” Makasih Mas

    Terakhir saya ke sana waktu bagi2 makan siang. Siapapun boleh membantu kegiatan mereka dan sekedar ber empati terhadap saudara2 kita. Kalau ada liputan tentang hal serupa tnetu saya kontak2. Salam. :)

  19. tathya Says:

    Halo, nggak sengaja dapet blog ini dari blog temen.

    Saya pernah melihat salah satu liputan berita tentang Yayasan seperti ini dulu, tapu bukan Yayasan Galuh. Saya senang melihat respon ketua dan staf Yayasan, akhirnya ada orang yang juga peduli akan orang-orang yang stres fatal ini karena mereka jadi begini bukan kemauan mereka, tuntutan zaman semakin banyak sementara mereka masih tertekan. Mungkin mereka tidak punya teman dekat untuk berbagi sehingga batin pun tidak kuat menahan pikiran dan akal mereka hilang.

    Terima kasih atas infonya! :)

  20. dani Says:

    edihmelihat kondisi mereka. karena di dalam keluarga saya juga adayang seperti mereka. saya ingin membaw k tempat pengobatan pak gendu..
    semoga sodara saya bisa sembuh ..
    aminn..

    terima kasih sebelumnya untuk yayasan galuh ( pak gendu )

  21. abdh_ie Says:

    saya nda tau mau omong apalagi buat mbah. Gendu….GOD BLEZZ U..tolong sampaikan salam hormat saya buat beliau y…

  22. Suhartono Says:

    Sy sangat Berterima kasih, bwt Pihak2 yg telah Membuat Blog ini…
    That’s Real….Dan ini lah hidup, Karna Memang Hukum Kasih itu sungguh Luar biasa..Dan smuanya itu Karna sy Mengasihi Mreka…

    Just Call Me : 0818693059
    allansuhartono@yahoo.co.id ( facebook )

  23. Chattryn Sonata Says:

    saya sangat salut ma orang2 yang berjuang di yayasan ini….. akhirnya seperti menemukan air di padang gurun…. adik saya penderita stress, saya bingung soalnya perawatannya dah menghabiskan dana puluhan juta dan sekarang gak ada yang tersisa…. semoga saja ini jalan keluarnya…..

Comments are closed.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: