
Patung Dewa Guan Gong (Khuan Kong) yang menunggang kuda terlihat gagah tepat di depan pintu gerbang klenteng Satya Budhi seakan memberikan perlindungan bagi siapapun yang masuk ke dalam bangunan ini. Wangi dupa yang di pasang di altar Thien (Tuhan) semerbak segera tercium sejak di pintu masuk. Sebenarnya nama asli klenteng ini adalah Xie Tian Gong, namun akibat kebijakan rejim Orba membuat namanya harus berganti dengan Satya Budhi seperti yang dikenal hingga saat ini.

Di sore yang terik di bulan Desember kemarin saya sedang mengagumi keindahan kelenteng ini, sebuah bangunan bersejarah yang mungkin berusia paling tua di kota Bandung. Klenteng yang didominasi warna merah ini dibangun di abad ke-19 hasil gotong royong masyarakat Cina perantauan baik yang berasal dari Bandung, Batavia, Cianjur, Cirebon, hingga Semarang.

Dari sisi sejarah, jalan Klenteng, lokasi dimana bangunan ini berada merupakan salah satu kawasan Pecinan (Chineezenwijk) di Bandung. Selain jalan Klenteng, kawasan lain yang merupakan area pecinan di Bandung bisa kita temui di jalan : Suniaraja (Soeniaradjaweg), Kebon Jati (Kebonjatiweg), Cibadak (Tjibadakweg), ABC (ABC Straat), Pasar Baru (Residentsweg), Otto Iskandardinata (Pangeran Soemedangweg).

Di kawasan-kawasan inilah tempat diaspora para imigran dari Cina khususnya dari Fujian yang berdialek Hokkian dan kebanyakan berprofesi sebagai pedagang menetap dan menjalankan aktivitas bisnisnya hingga saat ini. Sebuah komunitas yang bukan saja membawa desain arsitektur klenteng, tapi turut juga memperkaya kuliner lokal dengan baso, siomay, capcay, dan telah menjadi bagian dari makanan sehari-hari masyarakat di kota Bandung dan daerah2 lainnya.

Ornamen klenteng Satya Budhi ini dihiasi dengan berbagai mural salah satunya adalah di bagian Timur seperti foto di atas. Keindahan mural ini bukan semata sebagai hiasa tanpa makna, tapi sarat dengan pesan dari keteladanan dari tokoh-tokoh yang didewakan yang dipengaruhi oleh tiga agama penting yakni Konghucu, Tao, dan Budha.
“Datangkan harta dengan melaksanakan kebajikan”, begitu kira-kira makna di salah satu tulisan di salah satu panji yang dibawa oleh dua pria di sebelah kiri. Sebuah pesan yang hampir sama dengan ajaran Calvin dalam teologi Protestan dalam memaknai kerja keras untuk meraih keselamatan atau salvation.

Tidak tampak kalau usia klenteng ini sudah berusia lebih dari satu abad. Menurut prasasti yang terdapat dalam klenteng ini tidak kurang dari lima kali perbaikan atau pembangunan kembali dilaksanakan sejak tahun 1918 hingga 1985. Nama-nama penyumbang dipahatkan di setiap prasasti sebagai penghargaan pengurus klenteng terhadap para donatur yang ikut merawat bangunan bersejarah ini.

Saat ini aktivitas klenteng menunjukan perkembangan yang positif. Banyak generasi muda yang dulunya absen dalam memahami kebudayaan Cina karena situasi politik yang tidak kondusif di era Orde Baru, mulai kembali menggali budaya leluhurnya. Munculnya situs2 internet dan milis merupakan indikasi kegairahan generasi muda untuk bertukar pikiran akan sebuah budaya yang selama tiga dekade lebih dikekang di Indonesia.

Memandangi klenteng selalu mengingat sebagian masa kecil saya di Palembang. Saat itu rumah saya sangat berdekatan dengan Klenteng Chandra Nadi di tepian Sungai Musi yang sudah berusia lebih dari dua abad di kawasan 10 Ulu kota Palembang. Sebuah pejalaran tentang toleransi saya dapatkan di sini. Klenteng dan masyarakat sekelilingnya sudah sangat membaur. Bangunan klenteng bukan semata-mata tempat beribadah, namun selalu siap membuka diri dan bahu membahu dengan masyarakat tanpa pernah memandang warna kulit atau dengan cara apa mereka beribadah. Saat perayaan Imlek, semua bergembira melihat parade barongsay dan menikmati kiriman kue keranjang dari para tetangga yang merayakan tahun baru yang meriah itu.
Selamat Imlek.
(Canon 40D+Canon EF 24-70mm/f2.8L USM)
Tags: bangunan bersejarah bandung, bangunan yang dilindungi di bandung, canon 40d, canon ef 24-70mm/f2.8L USM, jalan klenteng bandung, klenteng bandung, klenteng satya dharma
January 22, 2009 at 4:00 pm
Ton, aku malah gak tau Dewa Guan Gong itu siapa?
Di Bogor juga ada kelenteng yang cukup tua, aku pernah sekali pergi kesana tetapi gak tahan sama bau asapnya…hihihi! Mabok deh nyium asap hio. Foto2nya seperti biasa keren banget. Bikin sirik aja…pergi kesana kok gak ngajak2
January 22, 2009 at 4:48 pm
Malam tahun baru Imlek hunting lagi gak mas?
January 23, 2009 at 11:09 pm
Imlek tahun kemaren hunting di imlek, dapet angpau juga..hehehe..gak tau kalo tahun ini..
February 1, 2009 at 9:27 pm
Aduuh, keren banget fotonya.
Waktu imlek kemarin aku kepingin banget nyoba foto-foto suasana di klenteng, tapi nggak bisa.
Thanks ya sudah sharing foto-foto indahnya .. jadi kepingin ke klenteng yang di petak sembilan deh
February 24, 2009 at 12:10 pm
masih banyak hal-hal yang perlu dikupas secara mendalam mengenai klenteng dan arsitekturnya.
February 25, 2009 at 2:15 pm
Klenteng yg cukup megah.saya suka skali keliling ke klenteng2.termasuk yg di bandung.saya kagum dgn klenteng2 dan rupang dewa dewi yg ada di indonesia.
March 20, 2009 at 2:42 pm
Keren oy…. Thanks atas foto dan artikelnya…..
February 14, 2010 at 10:51 pm
Terimakasih atas artikelnya, membuat kami lebih banyak berteman dengan komunitas vihara, yang juga merupakan salah satu dari mitra bisnis kami….
August 18, 2010 at 6:25 am
hai,owe sih mau konyan saja.ban kamsia.tapi ko dewanya gitu yah?koq gak ada giam lo ong?