
Pidatonya disiarkan di hampir seluruh penjuru dunia oleh berbagai stasiun radio dan televisi yang meliput pembukaan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Pagi itu, Senin 18 April 1955 di Gedung Merdeka, Soekarno berbicara tentang jahatnya kolonialisme … Colonialism has also its modern dress, in the form of economic control, intellectual control, actual physical control by a small but alien community within a nation. It is a skilful and determined enemy, and it appears in many guises”
Pidato yang luar biasa dari seorang pemimpin terhebat yang pernah dipunyai negeri ini, Ir. Soekarno saat saya berkunjung ke Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung beberapa waktu yang lalu.

Bagi yang belum pernah berkunjung, mueseum bersejarah ini terletak di Jalan Asia Afrika Bandung, berdekatan dengan hotel Savoy Homan. Buka setiap hari, kecuali hari libur dari pagi hingga jam 3 sore. Langsung saja masuk dan mencatatkan data diri kita di buku tamu.

Sebenarnya beberapa bagian dari museum ini tidak boleh di foto. Satpam gedung sudah memperingatkan saya untuk tidak mengambil foto di bagian dalam. Jadi ini hanya sebagian yang berhasil saya foto agar bisa memberikan bayangan atmosfir gedung ini.

Ruang pamer museum terdiri dari diorama yang menggambarkan suasana saat konferensi berlangsung berikut memorabilia (foto, lukisan, dan pernik konferensi seperti mesin tik) juga dipamerkan di ruang yang sama.


Memasuki museum ini seakan mengembalikan sedikit kebanggaan rasa keindonesiaan saat Soekarno berkata dalam pidato pembukaan peristiwa bersejarah ini : “Look, the peoples of Asia raised their voices, and the world listened”. Berita kematian ilmuwan Albert Einstein tepat di hari yang sama pembukaan konferensi tidak bisa mengalahkan momentum jejak sejarah dari Bandung yang menjadi headline berbagai surat kabar dunia saat itu, karena dunia lebih mendengar Soekarno.
Salam.
Tags: ir. soekarno, konferensi asia afrika, museum asia afrika
January 6, 2009 at 7:41 pm
Melihat foto-foto ini menambah rasa kebanggaan saya pada Indonesia Mas.
January 7, 2009 at 7:45 am
Waduhh…lha saya yang berlalu lalang di Bandung, punya rumah di Bandung, suami kerja di Bandung dan si bungsu kuliah di Bandung….ternyata malah belum pernah ke museum ini. Bahkan mencoba lari di Sabuga baru kemarin saat libur akhir tahun.
Selama ini karena sibuk kerja di Jakarta (biasa…excuse…), ke Bandung hanya akhir pekan, dan disibukkan urusan rumah tangga serta urusan sosial (kondangan dsb nya).
January 8, 2009 at 5:44 pm
Ton aku juga seperti Ibu Enni sudah pernah lama tingal di Bandung, tetapi belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di museum AA. Padahal lokasinya mudah dijangkau. Kadang malu sama negara lain ya Ton! Singapura, Thailand dan Malaysia misalnya..mereka rasa nasionalismenya tinggi sekali. Sedangkan kita gak tentu arah dan tujuan.
January 9, 2009 at 2:36 am
sayangnya beliau hidup di era media massa masih milik kalangan tertentu, om.. seandainya beliau hidup di era infotainment ini, mungkin bukan hanya beliau yang di dengar dunia, tapi juga suara-suara rakyatnya.
January 11, 2009 at 1:24 am
Saya kagum pada President Sukarno karena dia punya prinsip yang tegas.
January 11, 2009 at 5:27 am
Pengen nyobain duduk di Ruang Sidang Utama itu, dan merasakan seolah-olah konferensi tengah digelar
January 17, 2009 at 8:16 pm
Seharusnya pengetahuan tentang sejarah, serta warisan sejarah selalu di informasikan lewat media apasaja. Diulang-ulang juga lebih baik. Sebab enerasi harus mengerti dan tahu sejarahnya, hingga kita benar2 akan mencintai bangsa ini sepenuh hati, tiada bergantung pada luar negri. BERDIKARI
February 12, 2009 at 12:54 pm
Hiduppppppppppppppppppppp SOEKARNOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!
February 12, 2009 at 12:55 pm
Om Ton motretnya pake built in flash ato pk flash external kayak SB ato speedlight?