Para engineer yang mendesain mesin komputer Macintosh sudah hampir menyerah saat Steve Jobs, boss-nya Apple tetap bersikukuh untuk merapikan konfigurasi sistem wiring dan bentuk CPU agak terlihat rapi. Kalau mereka gagal, Jobs tidak segan2 untuk memecat mereka. Menurutnya, walaupun bagian dalam komputer tidak terlihat oleh mata telanjang, ia menginginkan konsumen yang puas melihat bagian CPU yang terintegrasi dengan cantik. Itulah Apple kata Jeffrey Cruikshank dalam bukunya Apple Way, sebuah perusahaan inovatif yang menjual produknya lebih mahal, tapi “will serve them for years” kata Jobs dalam buku ini. Satu lagi, Apple selalu memperkerjakan product designer terbaik di dunia, makanya desain produknya seperti IPOD selalu bertengger di urutan pertama penjualan MP3 player dibanding produk lainnya kata koran New York Times.
Desain komputer yang begitu sedap dipandang merupakan alasan utama saya membeli iMac tepat setahun yang lalu selain karena gaptek. Ya, saya tidak punya kesabaran dan “kepintaran” dengan berbagai instruksi dari PC yang sering malah membuat sistem jadi ngaco kalau salah klik. Laptop saya sudah di format ulang dua kali atau hampir setahun sekali dengan berbagai problem terutama virus. Desktop kantor sering jadi bego dan “memohon” untuk segera ditambah RAM-nya karena virtual memory yang IGB tidak kuat untuk mengolah foto sebesar 10MP dalam program Photoshop CS2. Kalau lagi sial ada pesan sponsor “program not responding” alias mati syahid seperti para “syuhada” keblinger itu.
Sebuah desktop komputer yang hanya terdiri dari sebuah layar flat 20 inchi, mouse, dan keyboard tipis tentu jauh lebih menarik dibanding PC saya di kantor yang punya CPU terpisah (maaf yah para pengguna pisi
) . Itulah awal love affair saya dengan iMac. Konon menurut para Mac user, komputer ini tidak ribet karena di desain dengan panduan Apple Human Interface, sebuah konsep agar Mac dapat memahami apa yang dipikirkan penggunanya (saya ceritakan nanti)
Di bawah ini alasan mengapa saya dan mungkin juga jutaan orang yang tidak menyesal memutuskan untuk beralih ke sistem Mac :
- Always ready to use : Sejak pertama dikeluarkan dari kardusnya, colok ke listrik, isi nama pemilik, maka Mac siap digunakan. Prosesnya kurang dari 5 menit dan gak usah sibuk cari driver, instal software2, serta konfigurasi lain. Setelah selesai, banyak pengguna Mac yang membiarkan komputernya menyala terus menerus selama berhari-hari malah berbulan-bulan. Mac mempunyai “sleep mode” atau hibernasi saat tidak digunakan dan tinggal pencet keyboard saat akan digunakan kembali. Tidak perlu reboot, simpel. Ini salah satu aspek dari Apple Human Interface yang dinamakan “The Always On Environment”. Selain itu, banyak software Mac yang tidak perlu restart saat diinstall, klik “finish”, ya selesai.
- Tiga puluh detik maksimal. Kalau dinyalakan ulang, iMac saya hanya perlu waktu kurang dari 30 detik untuk booting dan siap kembali digunakan. Hmmmm ..
- Virus, apaan tuh ? Gak ada, setidaknya belum pernah ada nama virus, spyware, malware yang aneh2 mampir. Saat ada virus yang mencoba mengetuk pintu, Mac cuma bilang begini “eh, ada pengacau tuh mau masuk, tapi gak apa2 koq sistemnya baik2 saja”. Sombong ya si Steve Jobs ?.
- Langsung wireless. Tidak perlu konfigurasi, tinggal klik icon untuk langsung tersambung dengan sistem wireless.
- Update software gratis. Kalau terkoneksi dengan internet, Mac akan langsung memberitahu kalau ada update software untuk sistem operasi yang digunakan. Gratis pula, tidak ada istilah 30 days free trial.
- Anti aliased fonts. Artinya kalau huruf “o” yang bulet itu ya bentuknya bunder gak patah2 dalam layar apapun.
- Kalibrasi warna mudah. Saya mengkalibrasi untuk keperluan editing dan cetak foto dengan Gamma 2.2. Hasilnya, what you see is what you get saat foto di edit dan dicetak, gak beda.
- Pejantan yang tangguh. Mac saya disuruh bekerja keras minimal 8 jam per hari, 7 hari perminggu selama setahun penuh. Kadang berhari-2 tidak dimatikan kalau ada pekerjaan desain dan edit foto dan selama ini tidak sekalipun ada masalah dengan sistemnya pun untuk pekerjaan lainnya. Anak saya menggeber iMac dengan berbagai games, nonton film kesukaanya di You Tube, surfing internet untuk tugas sekolah, dan sudah hafal dengan berbagai fungsi2 yang tersedia.
- Satu sistem operasi untuk semua software (adaptability. Mac saya masih menggunakan sistem Max OS X versi 10.4.11 atau yang dikenal dengan Tiger dan bisa berintegrasi dengan Adobe versi apapun tanpa harus mengupgrade ke Leopard software Mac terbaru. Beda dengan Windows, misalnya Adobe Premiere Pro hanya bisa membuat film minimal di sistem Windows XP, dan akan ngambek kalau dikasih Windows 2000, alias gak mau bekerja.
- Gak perlu ? masukin saja ke Trash. Ini tempat sampahnya Mac tempat membuang semua dokumen termasuk program aplikasi. Tinggal diseret ke trash, selesai, jadi tidak ada proses uninstall.
- Gaptek banget seperti saya ? Pertama kali menggunakan Mac saya harus mengkonfigurasi koneksi internet. Maklum baru pertama, jadi gak tahu harus dimulai dari mana. Ah dasar, Mac nya seperti tahu kalau usernya bego dan memberikan bimbingan, “gini lho mas caranya” dan kurang dari lima menit Yahoo sudah terpampang di browser Safari (internet explorer-nya Mac).
- Ada Jendela juga. Kalau lagi kangen sama Windows atau pengen maen game yang cuma ada di sistem ini tinggal buka jendelanya dengan “boot camp”
- Tampilan aduhai. Dari mulai packaging, desain produk, hingga tampilan interface-nya di layar seperti icon, wallpaper dan keseluruhan kualitas grafik adalah keunggulan Mac yang memanjakan mata para penggunanya.
- Resale value tinggi. Komputer Mac yang sudah berusia 5 tahun seperti Powerbook, iBook, G4, masih diperjualbelikan dengan harga tinggi di forum2 seperti Mac Club Indonesia. iBook G4 yang dirilis tahun 2002 masih bisa dilego dengan harga 5 jutaan. Jangan kaget kalau masih banyak orang yang memburu Mac tersebut walaupun usianya sudah lebih dari 5 tahun karena mereka percaya janji Steve Jobs, “they will serve them for years.” Jual PC pentium ? hhhhmm … gak tahu ah.
- Bagaikan istri kedua. iMac ini telah setia menemani saya tanpa mengeluh dan selalu “siap” saat dibangunkan. Saya bisa memahami mengapa kalau orang yang sudah diberikan “hidayah” untuk mengganti agamanya dengan Mac tidak akan berpaling lagi karena, Mac just simply work.
Untuk iMac yang selalu setia menemani malam2 panjang saya dan teman bermain Nona.
Tags: apple human interface, iMac, kelebihan mac, komputer apple, Mac, mac os x, macintosh, sistem operasi komputer




November 13, 2008 at 2:45 am
oh my, jadi tambah cinta nih, kumpulin duit dulu ah buat beli yang seperti punya mas toni
November 13, 2008 at 3:27 am
Gile, si nona di foto yang ke-3 mantep banget.. ciaaaaat!!! He3x…
Duh om, pengen sih punya mac, abis layarnye itu loh, guedeee… kalo PC kan kudu beli CPU dan layar segala, Mac udah jadi satu. Emang sih pengen banget punya komputer Mac, cuma muahal banget yaaaaa…
Moga2 tahun depan bisa beli si putih yang keren ini..
November 13, 2008 at 12:16 pm
Keren….
November 13, 2008 at 9:30 pm
Duh kok senangnya manas2in sih? tau dollar lagi naik, jangan bikin jeles dong
November 20, 2008 at 8:56 pm
setuju… imac is the best.
saya setuju banget dengan semua poin di atas. tapi poin yang ke 15 diganti suami kedua deh, secara saya kan cewe… hehehe…
November 23, 2008 at 12:32 am
imac’s are the best. best regards to all happy users
November 28, 2008 at 2:34 pm
ah relatif siy…tiap org punya selera berbeda
pc jg bs bgt kan tergantung brand nya
peace…heheh
December 2, 2008 at 9:25 am
Tot of buying mac..contempleting…but after reading ur blog, m positive.
Maz,
Malaysia
May 19, 2010 at 4:20 pm
wah asyik juga … tapi boss , doku belum mencukupi nich . syukur2 kalau di transfer okay dech …..