<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Artistik tapi kurang menghargai karya seni lokal</title>
	<atom:link href="http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Jan 2013 06:46:39 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>By: ACI</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-2589</link>
		<dc:creator><![CDATA[ACI]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 07:18:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-2589</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu langkah kecil untuk ikut menghargai budaya lokal adalah dengan pendokumentasian digital atau museum virtual mengenai budaya lokal di Indonesia. Namun yang lebih penting sih apakah generasi muda masih memahami, bahkan mau mempelajari berbagai budaya lokal? Jangan sampai berbagai budaya lokal hanya tinggal sejarah dan hanya mendengar dai dongeng orang tua saja. Yuk kita kampanyekan lagi, &quot;aku cinta Indonesia&quot; namun lebih ke arah introspeksi dan kontribusi setiap individu dalam pelestarian dan pengembangan budaya di Indonesia.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu langkah kecil untuk ikut menghargai budaya lokal adalah dengan pendokumentasian digital atau museum virtual mengenai budaya lokal di Indonesia. Namun yang lebih penting sih apakah generasi muda masih memahami, bahkan mau mempelajari berbagai budaya lokal? Jangan sampai berbagai budaya lokal hanya tinggal sejarah dan hanya mendengar dai dongeng orang tua saja. Yuk kita kampanyekan lagi, &#8220;aku cinta Indonesia&#8221; namun lebih ke arah introspeksi dan kontribusi setiap individu dalam pelestarian dan pengembangan budaya di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: John Sihombing</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-2300</link>
		<dc:creator><![CDATA[John Sihombing]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 08:03:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-2300</guid>
		<description><![CDATA[I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future. Thank you]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future. Thank you</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: boneka sigok</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1851</link>
		<dc:creator><![CDATA[boneka sigok]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 09:24:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1851</guid>
		<description><![CDATA[Seniman indonesia kurang dihargai pemerintah kita]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seniman indonesia kurang dihargai pemerintah kita</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Evia</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1642</link>
		<dc:creator><![CDATA[Evia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 15:53:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1642</guid>
		<description><![CDATA[Kreatif? Hehehehe..nggak kali ya. Nyleneh kalau banyak orang bilang. Sedih nggak seh dibilang gitu. Di negeri sendiri belajar batik dibilang nyleneh, kurang gawean. Nelongso ati saya dibilang kayak gitu waktu dulu belajar batik. 

Kira kira mungkin nggak ya menggalakkan kesenian tradisional di sekolah sekolah? Sebelum saya oncat kemari, sempat membicarakan dengan beberapa teman tentang program penggalakan kesenian tradisional buat anak anak. Tenaga ada, waktu juga ada. Tempat yang nggak ada. Nyari di tengah kota, terbentur dengan biaya. Akhirnya ngemper di sebuah gedung kesenian. Nggak bertahan lama mas, selain karena nggak ada yang minat juga disebabkan saya harus pindah. 
Pengennya sih terprogram dengan jelas. 

Gimana kalau mas Toni mempelopori :)?. Asik lho. Menghubungi perajin wayang golek, seniman angklung, seniman gamelan, apa aja deh. Trus bikin planning, trus menghubungi sekolah. Ah...saya semangat buanget. Saya dukung buanget mas. Yuk yuk yuk....daripada nunggu pemerintah bertindak ibarat menunggu Godot]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kreatif? Hehehehe..nggak kali ya. Nyleneh kalau banyak orang bilang. Sedih nggak seh dibilang gitu. Di negeri sendiri belajar batik dibilang nyleneh, kurang gawean. Nelongso ati saya dibilang kayak gitu waktu dulu belajar batik. </p>
<p>Kira kira mungkin nggak ya menggalakkan kesenian tradisional di sekolah sekolah? Sebelum saya oncat kemari, sempat membicarakan dengan beberapa teman tentang program penggalakan kesenian tradisional buat anak anak. Tenaga ada, waktu juga ada. Tempat yang nggak ada. Nyari di tengah kota, terbentur dengan biaya. Akhirnya ngemper di sebuah gedung kesenian. Nggak bertahan lama mas, selain karena nggak ada yang minat juga disebabkan saya harus pindah.<br />
Pengennya sih terprogram dengan jelas. </p>
<p>Gimana kalau mas Toni mempelopori <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ?. Asik lho. Menghubungi perajin wayang golek, seniman angklung, seniman gamelan, apa aja deh. Trus bikin planning, trus menghubungi sekolah. Ah&#8230;saya semangat buanget. Saya dukung buanget mas. Yuk yuk yuk&#8230;.daripada nunggu pemerintah bertindak ibarat menunggu Godot</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Evia</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1633</link>
		<dc:creator><![CDATA[Evia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 15:59:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1633</guid>
		<description><![CDATA[Iyo mas, mesakke tenan ibu Rasinah.  Ibu Rasinah  ini contoh fenomena gunung es. Karena masih banyak ibu Rasinah ibu Rasinah lain yang terlantar di segala penjuru pelosok tanah air. 
Di Lombok ada adat tradisi yang mengharuskan anak gadis untuk pandai menenun. Orang tuanya malu kalau si gadis dah siap nikah tapi nggak bisa menenun. Itu salah satu syarat untuk menikah. Entah sekarang apa masih ada tradisi seperti itu. Mudah2an masih ada. 

Di Sumbar juga ada tradisi menenun yang diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Mudah2an tradisi seperti itu masih terpelihara. 

Yang terjadi di Jawa malah sebaliknya. Saya banyak melihat sentra sentra batik yang tadinya berjaya sedikit demi sedikit mati ngenes, seperti di banyak daerah di Jawa Timur. Generasi mudanya lebih suka merantau keluar daerah bahkan ke luar negeri jadi TKI. Cepet emang dapet duitnya dibanding nguplek di rumah bikin batik. Bukan salah mereka sepenuhnya karena tuntutan kebutuhan hidup yang harus segera dipenuhi, sedangkan batik pengerjaannya lama, nggak langsung dapet duit, dihargai murah pula. Masyarakat juga ikut andil dengan iming2 konsumerismenya. Pemerintah juga bertanggung jawab menjerumuskan keadaan jadi tambah parah. Ah pemerintah lagi pemerintah lagi. Bosen saya.
Maunya sih gerilya sendiri dan persetan dengan pemerintah yang sudah nggak bisa diharapkan.

Ah entahlah, saya sendiri juga bingung gimana membenahi benang kusut yang sudah ruwet banget ini. 

Saya pernah menawarkan untuk mengajar membatik di sebuah sekolah sebagai kegiatan ekskul. Gratis. Ditolak, entah apa alasannya, saya lupa. Yang jelas saya sedih. Suami saya sampai berujar bahwa pihak sekolah tidak bisa melihat hutan dalam sebuah pohon.

Susah nyari murid untuk belajar membatik padahal di negeri sendiri. Sedangkan di Amrik, justru murid yang nyari guru membatik. Bahkan dibayar mahal. Saya malah nggak mau karena nanti makin banyak orang asing yang pinter membatik.


&lt;blockquote&gt;Sama kasusnya dengan sentra kesenian Jawa Barat. Kerajinan pembuatan wayang golek semakin sedikit peminatnya karena dihargai murah oleh para makelar. Contoh2 lain seperti yang disebutkan merupakan refleksi bahwa kita memang tidak menjaga budaya sendiri. Bisa mbatik tho ? Wah, asyik banget, rupanya ibu yang satu ini sangat kreatif . :) &lt;/blockquote&gt;

]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Iyo mas, mesakke tenan ibu Rasinah.  Ibu Rasinah  ini contoh fenomena gunung es. Karena masih banyak ibu Rasinah ibu Rasinah lain yang terlantar di segala penjuru pelosok tanah air.<br />
Di Lombok ada adat tradisi yang mengharuskan anak gadis untuk pandai menenun. Orang tuanya malu kalau si gadis dah siap nikah tapi nggak bisa menenun. Itu salah satu syarat untuk menikah. Entah sekarang apa masih ada tradisi seperti itu. Mudah2an masih ada. </p>
<p>Di Sumbar juga ada tradisi menenun yang diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Mudah2an tradisi seperti itu masih terpelihara. </p>
<p>Yang terjadi di Jawa malah sebaliknya. Saya banyak melihat sentra sentra batik yang tadinya berjaya sedikit demi sedikit mati ngenes, seperti di banyak daerah di Jawa Timur. Generasi mudanya lebih suka merantau keluar daerah bahkan ke luar negeri jadi TKI. Cepet emang dapet duitnya dibanding nguplek di rumah bikin batik. Bukan salah mereka sepenuhnya karena tuntutan kebutuhan hidup yang harus segera dipenuhi, sedangkan batik pengerjaannya lama, nggak langsung dapet duit, dihargai murah pula. Masyarakat juga ikut andil dengan iming2 konsumerismenya. Pemerintah juga bertanggung jawab menjerumuskan keadaan jadi tambah parah. Ah pemerintah lagi pemerintah lagi. Bosen saya.<br />
Maunya sih gerilya sendiri dan persetan dengan pemerintah yang sudah nggak bisa diharapkan.</p>
<p>Ah entahlah, saya sendiri juga bingung gimana membenahi benang kusut yang sudah ruwet banget ini. </p>
<p>Saya pernah menawarkan untuk mengajar membatik di sebuah sekolah sebagai kegiatan ekskul. Gratis. Ditolak, entah apa alasannya, saya lupa. Yang jelas saya sedih. Suami saya sampai berujar bahwa pihak sekolah tidak bisa melihat hutan dalam sebuah pohon.</p>
<p>Susah nyari murid untuk belajar membatik padahal di negeri sendiri. Sedangkan di Amrik, justru murid yang nyari guru membatik. Bahkan dibayar mahal. Saya malah nggak mau karena nanti makin banyak orang asing yang pinter membatik.</p>
<blockquote><p>Sama kasusnya dengan sentra kesenian Jawa Barat. Kerajinan pembuatan wayang golek semakin sedikit peminatnya karena dihargai murah oleh para makelar. Contoh2 lain seperti yang disebutkan merupakan refleksi bahwa kita memang tidak menjaga budaya sendiri. Bisa mbatik tho ? Wah, asyik banget, rupanya ibu yang satu ini sangat kreatif . <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Evia</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1621</link>
		<dc:creator><![CDATA[Evia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 00:02:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1621</guid>
		<description><![CDATA[Lho mas, opo hubungane langganan Northwest karo kesenian? Tangeh yo :)

Wah komiknya beli di jakarta. Dipendem dulu deh niatnya, nunggu mudik dolo.

Mengenai batik, nggak hanya memakainya saja yang penting. Melestarikan dengan cara bikin batik sendiri. Perlu juga tuh digalakkan di sekolah sekolah bagaimana cara membatik. Sebetulnya nggak hanya membatik, tetapi tenun ikat, seni ukir. Indonesia jian sugeh tenan. Jaman saya SMP dulu masih ada ekskul karawitan. Entah sekarang. 

Percaya deh, kalau sejak dini generasi muda akrab dengan kesenian bangsa sendiri Insya ALlah nggak ada ceritanya colong colongan dan caplok caplokan. 

Orang luar aja bisa tersepona dengan kekayaan tanah surgawi, masak kita sendiri yang jadi pemiliknya menelantarkan. Alih alih memelihara kesenian sendiri, yang ada malah mengikuti habis2an budaya asing. Eh sekali lagi bukannya saya antipati lho dengan budaya asing.


&lt;blockquote&gt;Betul Mbak, kalau kesenian kita di pelajari, dirawat, dihargai, dan dibanggakan pasti akan seawet musi klasik atau opera. Kasian ibu Rasinah yang harus menjual topeng Cirebon-nya untuk membayar biaya pengobatan. Tragis ya? &lt;/blockquote&gt;

]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lho mas, opo hubungane langganan Northwest karo kesenian? Tangeh yo <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Wah komiknya beli di jakarta. Dipendem dulu deh niatnya, nunggu mudik dolo.</p>
<p>Mengenai batik, nggak hanya memakainya saja yang penting. Melestarikan dengan cara bikin batik sendiri. Perlu juga tuh digalakkan di sekolah sekolah bagaimana cara membatik. Sebetulnya nggak hanya membatik, tetapi tenun ikat, seni ukir. Indonesia jian sugeh tenan. Jaman saya SMP dulu masih ada ekskul karawitan. Entah sekarang. </p>
<p>Percaya deh, kalau sejak dini generasi muda akrab dengan kesenian bangsa sendiri Insya ALlah nggak ada ceritanya colong colongan dan caplok caplokan. </p>
<p>Orang luar aja bisa tersepona dengan kekayaan tanah surgawi, masak kita sendiri yang jadi pemiliknya menelantarkan. Alih alih memelihara kesenian sendiri, yang ada malah mengikuti habis2an budaya asing. Eh sekali lagi bukannya saya antipati lho dengan budaya asing.</p>
<blockquote><p>Betul Mbak, kalau kesenian kita di pelajari, dirawat, dihargai, dan dibanggakan pasti akan seawet musi klasik atau opera. Kasian ibu Rasinah yang harus menjual topeng Cirebon-nya untuk membayar biaya pengobatan. Tragis ya? </p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Evia</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1609</link>
		<dc:creator><![CDATA[Evia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 17:49:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1609</guid>
		<description><![CDATA[Ngenes memang kalau melihat bangsa ini memperlakukan kebudayaannya. Kesenian ludruk di Surabaya hidupnya kembang kempis kalah gempita dengan kesenian budaya luar. Anak2 juga lebih akrab dengan seni balet daripada tarian Jawa. Bukannya saya antipati dengan balet, mbok yao pelajari dulu seni bangsa sendiri sebelum merambah seni manca dan sebelum seni kita dicolong pihak luar. 
Hal hal remeh kayak gini bisa dimulai dengan diri sendiri. 

Mengenai komik, eh dimana ya bisa mendapatkan buku cerita wayang Mahabarata besutan Kosasih? Itu bacaan saya jaman kecil dulu. Nggak beli tapi nyewa. Bacanya pas musim liburan sekolah. Wah sampe rebutan.


&lt;blockquote&gt;Pantes deh langganan Northwest. :) Komiknya bisa dibeli di Mall Ambassador dan Plaza Semanggi di Jakarta karena ada dua counter komik jaman dulu :) &lt;/blockquote&gt;]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ngenes memang kalau melihat bangsa ini memperlakukan kebudayaannya. Kesenian ludruk di Surabaya hidupnya kembang kempis kalah gempita dengan kesenian budaya luar. Anak2 juga lebih akrab dengan seni balet daripada tarian Jawa. Bukannya saya antipati dengan balet, mbok yao pelajari dulu seni bangsa sendiri sebelum merambah seni manca dan sebelum seni kita dicolong pihak luar.<br />
Hal hal remeh kayak gini bisa dimulai dengan diri sendiri. </p>
<p>Mengenai komik, eh dimana ya bisa mendapatkan buku cerita wayang Mahabarata besutan Kosasih? Itu bacaan saya jaman kecil dulu. Nggak beli tapi nyewa. Bacanya pas musim liburan sekolah. Wah sampe rebutan.</p>
<blockquote><p>Pantes deh langganan Northwest. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Komiknya bisa dibeli di Mall Ambassador dan Plaza Semanggi di Jakarta karena ada dua counter komik jaman dulu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yudha</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1600</link>
		<dc:creator><![CDATA[yudha]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:21:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1600</guid>
		<description><![CDATA[aja cuman seneng tinjauan makro jadi detil per kesenian kurang]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aja cuman seneng tinjauan makro jadi detil per kesenian kurang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yudha</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1599</link>
		<dc:creator><![CDATA[yudha]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:20:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1599</guid>
		<description><![CDATA[bagen mimi rasinah dadi legenda ari pembahasane bli gawa tinjauan tentang tari topenge jadi bli jelas kanggo wong awam konon]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagen mimi rasinah dadi legenda ari pembahasane bli gawa tinjauan tentang tari topenge jadi bli jelas kanggo wong awam konon</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yudha</title>
		<link>http://mypotret.wordpress.com/2008/08/29/artistik-tapi-kurang-menghargai-karya-seni-lokal/#comment-1598</link>
		<dc:creator><![CDATA[yudha]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:16:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mypotret.wordpress.com/?p=1087#comment-1598</guid>
		<description><![CDATA[gambar topeng kang komplit ana tah]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gambar topeng kang komplit ana tah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
