Untuk para perempuan

Pekerjaan saya sedikit banyak berhubungan dengan masalah2 perempuan. Tentunya sangat menarik, tapi ternyata perlu perlu ketahanan dan rasa empati untuk menyelami masalah2 yang mereka hadapi terutama isu trafickking. Saya pernah menghabiskan hampir satu bulan di Malaysia, Brunei, dan Taiwan meneliti illegal trafficking berhadapan dengan para korban perdagangan perempuan yang dijadikan tenaga kerja legal maupun ilegal. Sebagian dari mereka jatuh kedalam lingkaran sexual slavery, salah satu kejahatan terbesar abad ini. Kalau anda jadi bandar narkotik, komoditi yang dijual bisa habis, tapi tidak dengan tubuh manusia. Tulisan ini sepenuhnya pengalaman pribadi dari hasil perjalanan dan wawancara dengan mereka yang jadi korban dan organisasi yang membelanya.

Di Malaysia perjalanan dimulai dari ujung Utara di pulau Penang, Perlis, Kedah, Selangor, hingga ujung Selatan di Djohor. Setiap hari saya melakukan wawancara dengan para perempuan yang datang dari berbagai wilayah Indonesia. Banyak cerita sukses di negeri orang, tapi tak sedikit di antara mereka yang telah kehilangan segalanya. Sebagian terpaksa kabur dan beralih profesi menjadi perempuan penghibur. Yang menyedihkan, akibat tekanan mental yang luar biasa , sebagian harus kehilangan ingatannya. Lagu dan pola yang sama selalu ditemukan di negara2 lain yang saya kunjungi.

Pengalaman menarik lainnya saya temukan di Vietnam. Perempuan penderita AIDS di Ho Chi Minh, Vietnam langsung terkena stigma negatif dari masyarakat. Banyak dari mereka yang dibuang begitu saja oleh keluarganya. Padahal penyakit mereka timbul karena infeksi yang biasanya ditularkan dari suaminya yang gemar “jajan” di luar.

Tanpa tahu harus kemana, seorang pastur Jesuit menyediakan tempat penampungan sementara (Mai Tam Drop In Center) bagi para perempuan tersebut di sebuah gang sempit di kota Ho Chi Minh. Di sini mereka di latih untuk mengembalikan kepercayaan dirinya beserta keterampilan praktis untuk mencari nafkah. Banyak yang berhasil setelah mengalami depresi berat karena bisa menghidupi keluarganya secara mandiri. AIDS adalah penyakit mematikan dan bisa merengut nyawa siapa saja. Saat kami di sana, siapa yang tahan melihat seorang bayi kurus dan lemah sedang menanti ajal di samping ibunya yang sudah pasrah. Itu pengalaman yang membuat saya tidak bisa tidur berhari-hari.

Di dalam negeri saya berusaha memperkenalkan LSM2 yang punya kepedulian terhadap isu2 perempuan kepada kolega saya seorang perempuan dari Pakistan yang kebetulan sedang membuat studi tentang masalah jender. Saya mempertemukannya dengan Maria Ulfah Anshor, ketua Fatayat NU waktu itu. Fatayat adalah sayap organisasi perempuan Nahdlatul Ulama. Tulisan2 Maria Ulfah mengenai kesetaraan jender dari sisi ilmu Fiqh banyak mendobrak status quo karena lebih progresif dan membela kalangan perempuan termasuk ketidaksetujuannya terhadap isu poligami dan UU Pornografi.

Kami juga berdiskusi dengan Komnas HAM Perempuan dan Dita Indah Sari, aktivis buruh yang vokal untuk meminta masukan isu2 aktual perempuan Indonesia. Sebagian dari hasil2 diskusi dan temuan2 di lapangan sudah kami formulasikan dalam program2 khusus dan terus dilaksanakan hingga saat ini.

Saya menikmati profesi ini, minimal bisa memperkaya perspektif dalam memandang isu2 yang dihadapi oleh para perempuan. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah : dunia itu kejam bagi orang yang tidak berpendidikan dan menjadi sumber nestapa berkepanjangan. Itulah sebabnya Dewi Sartika melalui “sakola istri”, R.A. Kartini, Susan B. Anthony, dan para pejuang emansipasi perempuan di dunia selalu menyuarakan betapa penting nya pendidikan terutama bagi perempuan.

“The neglected education of my fellow-creatures is the grand source of the misery I deplore.” (Mary Wollstonecraft A Vindication of the Rights of Women)

Salam.

About these ads

Tags: ,

8 Responses to “Untuk para perempuan”

  1. Elyani Says:

    Kemiskinan dan tidak tersedianya lapangan kerja adalah dua faktor yg menyebabkan banyak perempuan2 di desa nekat menerima tawaran kerja yg tidak jarang malah sering menjerumuskan mereka ke dunia hitam. Celakanya lagi mereka tidak mendapat perlindungan hukum baik itu didalam maupun pada saat berada di luar negeri. Rasanya hampir setiap tahun kita membaca kisah para TKW yg mendapat siksaan, mati tanpa sebab yg jelas, atau diperdagangkan sebagai komoditi sex. Tapi pemerintah adem ayem saja tuh. Banyaknya kasus yg menimpa nasib TKW kita tidak juga menggetarkan hati para petinggi yg mengurus masalah ketenagakerjaan untuk berbuat sesuatu. Entah mereke tuli, pura2 tidak tau atau memang dasarnya bebal ya?

    Dari dulu berbagai peraturan sudah dibuat oleh pemerintah dengan dalih melindungi mereka El. Kenyataan di lapangan tidak semanis isi pasal2nya, Kita kan bangsa yang punya penyakit lupa dan hanya sibuk saat isu nya di sorot di media.

  2. chocoholic Says:

    bless those who are helping these poor women. aku gak kebayang bagaimana rasanya mereka hidup dengan susah seperti itu, tanpa ada yg peduli atas nasibnya..
    semoga gerakan2 yg membantu wanita2 seperti ini akan semakin banyak agar semakin banyak pula wanita yg terbantu..

    Thanks Rima, yes bless them. Kantor saya bekerjasama dengan beberapa organisasi yang benar2 punya komitmen kuat dalam melakukan pembelaaan terhadap nasib perempuan baik di dalam maupun luar negeri. Kontribusi yang tidak seberapa, tapi minimal ada sudah ada keinginan dari pihak korporat untuk turut membantu meringankan penderitaan mereka.

  3. arfi Says:

    Setuju, mas Toni. Saya ikut prihatin dengan nasib-nasib perempuan Indonesia. Kok ya masih banyak yang tidak berpendidikan ya padahal ini sudah 2008 loh. Saya menonton satu program di sebuah stasiun televisi dari sini (saya bertempat tinggal di NZ–kami sengaja memasang parabola supaya masih bisa memantau berita2 dari tanah air) ada kasus trafficking lagi. Entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi. Menurut saya, perlu diadakan sebuah sensus untuk mengumpulkan perempuan2 Indonesia yang tidak berpendidikan dan ‘menyekolahkan’ mereka, minimal yah memberi pengetahuan ketrampilan deh. Stasiun2 TV sudah saatnya tidak terlalu banyak mempertontonkan paronama hidup kelas atas atau romansa remaja tapi justru harus lebih memperbanyak program-program yang mendidik, yang bisa menjadikan acuan bagi mereka yang tidak berpendidikan. Kebanyakan mereka yang tidak berpendidikan itu kan bisa belajar lewat audio visual. Jadi seperti sebuah program distance-learning gitu. Pemerintah kan banyak uang, bisa dong membantu perempuan2 Indonesia ini. Miris saya melihat kasus trafficking ini. Sedih juga melihat nasib perempuan di masa kini masih seperti itu.

    Bukankah di Indonesia sudah ada organisasi2 perempuan yang membela hak2 kaumnya?

    Trafficking itu memang kejahatan yang sangat luar biasa, tapi sering dianggap hal biasa. adahal dari beberapa kasus yang kami temui hampir semua perempuan tersebut sudah kehilangan harga dirinya dan tidak punya semangat untuk hidup.
    Media terutama TV memang punya andil dalam membentuk prilaku ingin kaya dengan jalan pintas karena tontonan yang tidak mendidik.
    Banyak LSM yang berkecimpung dalam pembelaaan hak2 perempuan dan punya dedikasi tinggi. Sebagian dari mereka sudah pernah bekerjasama dengan kami.

    BTW, thank sudah mampir Mbak Arfi. Stay well in NZ and happy cooking :D

  4. katadia Says:

    Mas Toni, bravo untuk berjuang di lapangan demi perempuan Indonesia. Memang masih banyak PR untuk menyejahterakan perempuan di Indonesia walaupun sudah banyak kemajuan dari sisi lapangan kerja dan pendidikan sejak ibu kita Kartini. Mungkin banyaknya PR ini dikarenakan masalah gender di Indonesia juga terkait dengan masalah ketimpangan ekonomi/sosial (seperti dikatakan Mbak Elyani ttg kemiskinan). Anyway, nice blog and great pics. :)

    Terima kasih atas encouragement-nya Mbak. Kontribusi yang tidak seberapa, tapi sekecil apapun saya tetap bersemangat menjalankannya. Beberapa hasil tulisan sudah pernah dipublikasikan di media cetak nasional untuk mengingatkan semua pihak akan masalah besar ini.
    Thanks for the compliment. :D

  5. silly Says:

    Mas Tony, kalo boleh tahu bekerja dilembaga apa?

    saya juga betul2 prihatin sama nasib perempuan Indonesia, tapi disatu sisi, saya melihat sudah semakin tingginya kesadaran kaum perempuan untuk tidak lagi menjadi “sexual slaver” dan kesadaran untuk mencari bantuan jika mereka mengalami penindasan, atau perlakuan tidak adil dan merendahkan martabat mereka.

    Saya juga senang karena organisasi2 pembela perempuan sudah semakin banyak. Mas Tony di LBH apik yach???

  6. elyani Says:

    @silly: tulisan tentang Toni akan dimuat diblogku. Segera tayang, sekarang masih didraft karena banyak pekerjaan :) ayo tebak…pekerjaan-nya apa dan dimana? :P

    Jantung berdebar2, garuk2 kepala ah. :)

  7. indahs Says:

    Masalah perempuan memang tidak ada habisnya. Apalagi dengan ketimpangan ekonomi antar negara. Lahan tetangga selalu lebih hijau dari lahan sendiri ;)

    Trafficking tidak hanya terjadi di Asia, bahkan di Eropa pun terjadi. Di Belanda misalnya, banyak perempuan dari Eropa Timur yang menjadi korban trafficked dan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial secara paksa tanpa bayaran. Kalau di sini, kasusnya, pemerintah Belanda rela memberikan perlindungan bagi korban trafficking dari negara lain dengan memberikan tunjangan sosial dan independent resident permit selama lima tahun hingga mereka dapat hidup mandiri sesuai dengan ketrampilannya. Harus ada kerjasama bilateral bila menyangkut masalah sex-trafficking karena biasanya dapat melibatkan kelompok kriminal yang lumayan besar (mafia).

    Duh, baca blog ini jadi bikin saya kangen dengan masalah-masalah tenagakerja di indonesia ;)

    Selamat berjuang mas, semoga sukses..

    Thanks Indahs. Benar sekali bahwa masalah perempuan tidak akan ada habisnya dan saking banyaknya sudah dianggap masalah “biasa”.
    Terima kasih juga sharing nya ttg trafficking di Eropa. Salam :)

  8. sari Says:

    Pendidikan yang masih menjadi barang mahal dan langka di negeri ini adalah salah satu pemicunya.Krisis ekonomi yang sudah sekian tahun tidak kunjung membaik bahkan semakin parah.Harga kebutuhan yang semakin mencekik tentu terasa berat bagi masyarakat tingkat bawah.Pendidikan terabaikan.Bahkan semakin terabaikan.Para perempuan yang terjebak dalam kasus perbudakan modern ini sebenarnya adalah pahlawan-pahlawan hebat.Mau maju disaat para lelakinya kehilangan pekerjaan atau sengaja menganggur.

    HArus ada penyelesaiannya.Pemerintah jangan diam saja.!!!!!!!

Comments are closed.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers

%d bloggers like this: